Chapter [5] Niāng?

2089 Kata
"Hah?!" "Sejak kapan aku mempunyai anak sepertimu? Kamu jangan sembarangan bicara ya. Dasar bocah tidak tahu diri!!" Sontak saja sarkastik yang dilemparkan Zhang Zhenan pada balita itu membuat orang-orang disana terkejut bukan main, mereka saling bertukar pandang dan memasang raut tak percaya. Apa yang diucapkan Zhenan sungguh keterlaluan, bagaimana bisa wanita itu mengumpat pada anak kecil terlebih itu anaknya sendiri, batin mereka. Apalagi Zhenan adalah seorang permaisuri, jika orang luar sampai mendengar bisa dipastikan hari ini adalah hari terakhir Tuan Zhang hidup, kaisar tidak pernah mengampuni siapapun berkata kasar di dalam wilayahnya apalagi sampai mengumpat seperti yang dilakukan Permaisuri Zhenan, terlebih lagi bagi siapapun berani berlaku kasar pada putra mahkota. Bisa dipastikan besok pagi orang itu hanya menyisakan kepala yang dipajang di alun-alun istana. Tetapi jika pelakunya adalah istri sang Kaisar apa Kaisar juga akan menjatuhkan hukuman yang sama? Apa kaisar akan menebas kepala ibu dari Putra Mahkota?, Lord Gong dikenal dengan kekejamannya saat memimpin, dia tak segan untuk menjatuhi hukuman kepada siapapun yang telah melanggar aturannya, bahkan kejadian 3 tahun lalu masih sangat membekas dipikiran mereka saat Lord Gong menjatuhi hukuman mati kepada saudara se-sumpah ayahnya karena memberikan air minum kepada tahanan perang. Jika memberi air minum saja sudah dijatuhi hukuman mati lalu bagaimana dengan orang yang berlaku kasar pada putranya. Apakah pelakunya akan dikuliti atau bagaimana, memikirkannya saja sudah membuat bulu kuduk mereka meremang, bayangan Permaisuri Zhang Zhenan digantung di alun-alun istana seketika menghantui mereka. Permaisuri Zhang memang dikenal kasar dan suka melanggar aturan, sejak dia menikah dan tinggal di istana ini entah sudah berapa pelanggaran yang dia buat namun entah kenapa permaisuri selalu lolos dari hukuman. Hal itu sempat menjadi topik hangat dikalangan penghuni istana, apakah Lord Gong bertindak tidak adil dan pilih kasih karena Zhang Zhenan Permaisuri? Topik itu sempat terdengar sampai ke telinga petinggi istana, namun Lord Gong tak bertindak apapun pada topik yang hampir merusak citranya sebagai pemimpin adil, namun seiring berjalannya waktu warga istana mulai mengerti bagaimana Lord Gong bersikap pada istrinya. Semua terkuak saat suatu malam Lord Gong memerintah seorang pelayan untuk memandikan Permaisuri, padahal hampir 3 bulan Permaisuri Zhang tidak terlihat batang hidungnya, baik pelayan dan kasim dilarang masuk ke area tempat tinggal Permaisuri Zhang sejak berbagai pelanggaran yang sengaja dibuat Zhang Zhenan. Dengan cemas pelayan itu berusaha bersikap setenang mungkin saat memasuki kamar permaisuri yang sudah lama tidak tersentuh orang lain selain Lord Gong, semua tidak tampak mencurigakan hanya saja wajah permaisuri nampak pucat dan tubuhnya kurus, pelayan itu baru menyadari jika kamar sangat kotor dengan sisa-sisa makanan yang bertebaran dilantai. Pelayan itu tidak ingin melihatnya lebih lama karena Lord Gong hanya memberinya satu jam, selama di pemandian Tuan Zhang tak mengatakan sepatah katapun, matanya terlihat kosong bahkan saat memasuki air panas. Permaisuri Zhang biasanya tidak ingin dimandikan orang lain tapi entah kenapa hari itu dia membiarkan pelayan menyentuh hanfunya, melepas kain tebal di punggungnya hingga warna daging merah berdarah mengejutkan pelayan itu. Baju kebesaran permaisuri jatuh dan memperlihatkan luka sayatan menganga dan memar di sekujur tubuhnya dan hanya menyisakan bagian perut tanpa luka sedikitpun. Pelayan itu hampir pingsan karena tidak tau bagaimana dia harus bersikap sedangkan luka itu pasti perih jika terkena air, namun Tuan Zhang masuk begitu saja kedalam air seolah tak merasakan sakit dari lukanya. Hampir 10 menit pelayan itu memandikan permaisuri dengan sangat hati-hati, keduanya terdiam dan hanya menyisakan ruang hening. Sampai akhirnya pelayan itu mendengar isakan dari mulut permaisuri, pelayan itu sangat khawatir dan yang bisa dia lakukan hanya menepuk pelan bahu permaisuri. Namun siapa sangka Permaisuri yang selalu bersikap tak acuh bisa menangis dengan menyedihkan, pelayan itu tak menyangka jika Permaisuri berani menumpahkan keluh kesah padanya yang hanya seorang pelayan, namun sejak itulah citra adil dan kejam Lord Gong makin kuat terdengar. Pelayan itu mengatakan apa yang semua dia dengar dari mulut permaisuri, ternyata selama ini Lord Gong tidak melepaskan istrinya begitu saja namun Lord Gong memberi hukuman yang setimpal. Dulu setiap pelanggaran kecil yang dilakukan Zhang Zhenan hanya akan berakhir dengan pengurungan, tetapi kali ini yang dilakukan permaisuri sangat fatal. Bukan lagi pelanggaran tapi sudah menjadi kasus percobaan pembunuhan, Permaisuri dan Lord Gong menikah karena perjodohan dimana Zhang Zhenan menolak bahkan kabur saat hari pernikahan, itulah kenapa Zhang Zhenan selalu melanggar apapun peraturan yang dibuat Lord Gong, jadi wajar jika Permaisuri Zhang berusaha menggugurkan bayinya sendiri. Namun nasib malang menimpanya saat Lord Gong mengetahui percobaan pembunuhannya, Lord Gong tak pernah membiarkannya tidur tenang, setiap harinya 20 pukulan mendarat di tubuhnya, kekerasan baik verbal maupun non verbal yang diterima Zhang Zhenan membuat permaisuri itu hampir direnggut frustasi, dia selalu mengeluarkan makanan dari dalam perutnya berapa banyak makanan yang dia keluarkan sebanyak itulah Lord Gong akan memaksanya menelan makanan, walaupun berujung Permaisuri Zhang memuntahkannya.  Zhang Zhenan tidak pernah lagi melihat matahari sejak itu, dia dijauhkan dari dunia luar. Permaisuri Zhang baru bisa keluar dari kamarnya setelah pangeran pertama lahir, keadaan Permaisuri Zhang mulai membaik sejak itu walaupun kecanggungan dan jarak antara Lord Gong dan Permaisuri Zhang begitu kentara.  "Niāng...." Suara renyah memecah lamunan mereka. Anak itulah yang coba Permaisuri Zhang gugurkan, namun siapa sangka anak ini akan menjadi balita gemuk yang menggemaskan. Tetapi sejak pangeran kecil lahir Tuan Zhang mulai sedikit berubah menjadi sedikit keibuan, siapa sangka jika anak yang dulunya ingin ia gugurkan ternyata setelah bayi itu lahir Tuan Zhang begitu mencintainya, karena itulah mereka kebingungan dengan apa yang terjadi saat ini. Kenapa Tuan Zhang tak mengenali bayinya.  "Sudah kubilang, aku bukan ibumu." Balita itu terlalu polos untuk mengerti maksud Zhang Zhenan, selama ini dia terbiasa dirawat dengan ibunya yang lembut dan tidak banyak kosakata kasar yang keluar dari mulut ibunya (kecuali saat bersama ayahnya), ibunya selalu menggigit hidung kecilnya saat dia berbuat kesalahan dan dia akan tertawa kegelian. Tapi saat ini dia benar-benar tidak mengerti ucapan ibunya, kosakata yang dipakai ibu terlalu asing sehingga dia hanya bisa menatap polos ibunya. Mengedipkan mata besarnya berpura-pura lucu berharap ibunya mengambilnya kedalam pangkuan lalu mendapatkan makanan favoritnya, jujur saja tujuan dia datang kemari karena dia lapar, dia bahkan sampai meninggalkan bibi-bibi cantik hanya karena mendengar ibunya sudah bangun tidur. Tetapi kenapa ibu hanya diam saja dan mata ibunya seperti menatapnya dengan aneh, tidak seperti biasanya.  Kenapa ibunya menatapnya dengan mata jahat seperti itu, apa dia melakukan kesalahan lagi? Bayi itu mendadak gelisah, manik bulatnya bergetar lucu karena ketakutan tidak diizinkan makanan. Bibir kecilnya bergetar dan ingus perlahan keluar dari dua lubang hidungnya. "Kamu, menjijikkan.... Bagaimana kamu membiarkan ingus mu keluar seperti itu?!" Mendengar intonasi tinggi ibunya, seolah meyakinkan bayi itu jika ibunya memang tak menyukainya, dia melakukan kesalahan dan ibunya membencinya. Dia ketakutan setengah mati, bagaimana jika ibunya meninggalkan dia seperti beberapa minggu yang lalu ketika dia menjatuhkan tusuk rambut favorit ibunya hingga pecah, sampai membuat ibunya itu marah dan pergi meninggalkannya seharian penuh tanpa makan dan minum favoritnya. Tidak, cukup kemarin dan tidak kali ini. Dia tidak mau makan bubur putih menjijikkan itu, dia hanya ingin makan dari ibunya. Bayi itu berteriak, "Niāng... Niāng, endong (gendong)..." Merentangkan kedua tangannya kearah Zhang Zhenan.  Rengekan anak itu membuat keadaan semakin rancu, Zhenan ingin pergi dari sini. "Niāng nenen...." Bayi itu semakin keras. Turun dari ranjang, tidak perduli berapa banyak pelayan yang mencegahnya dia kan tetap pergi dari sini tapi baru melangkah beberapa kali balita itu tiba-tiba berlari dengan cepat menubruk dan melingkari kakinya seperti kucing. Balita itu masuk kedalam hanfu Zhang Zhenan lalu bersembunyi diantara kakinya. "Bukankah dia baru bisa berjalan, kenapa giliran mengejarku dia begitu cepat?"Batin Zhenan kesal "Hey, anak kecil... Keluarlah dari bajuku!!" Gertak Zhenan, dia masih cukup waras untuk tidak menendang anak itu. Anak itu keras kepala, dia memeluk kaki Zhenan dengan erat, perlu diingat jika kesabaran yang dimiliki Zhenan hanya sebatas sumbu lilin, sangat pendek. Dia menyibak hanfunya dan menemukan anak itu melilit erat kakinya, dia menarik tangan kecil itu agar terlepas dari kakinya tapi anak itu tetap tidak berkutik, tetap menempel seperti lintah. "Aku akan menendangmu jika kamu tetap keras kepala..." Zhang Zhenan mengeraskan wajahnya membuat takut balita itu. Pelayan disana mendadak iba dengan putra mahkota, mereka ingin mengambil anak itu andai saja Zhenan tidak memasang muka segalak singa. Mereka hanya bisa meringis dan terkadang menyerukan nama Zhenan jika tuan mereka bertindak keterlaluan, tapi keberanian mereka hanya tertinggal di tenggorokan, leher mereka tercekik saat akan meneriakkan nama wanita itu. "Sebenarnya siapa kamu? Kenapa terus memanggilku ibu? Aku bukan ibumu!!" Zhenan secara tidak sadar menaikkan nada bicaranya, pelayan disana sampai tersentak.  Baru kali ini Tuan Zhang membentak putranya dengan berlebihan, tuan mereka memang bertemperamen buruk tapi dia tidak pernah sampai membentak anaknya sendiri, jika dengan Lord Gong memang tidak mengherankan tapi ini anaknya sendiri, bahkan Tuan Zhenan tidak mau mengakui putranya. "Niāng, niāng, niāng hueee..." Balita itu terus memanggil Tuan Zhang dengan mata bulatnya yang berair, anak itu sampai mengguncang kaki Zhenan mencari perhatian. "Aku bukan ibumu!!"  Seorang pelayan menjatuhkan mangkuk tembaga saking terkejutnya, mereka panik bukan main melihat Permaisuri Zhang kalut dalam emosi, khawatir jika tangan sekeras baja itu akan menyakiti tuan kecil mereka. Zhang Zhenan terus melakukan penolakan dan beberapa kali hampir menginjak tubuh balita itu, celananya sampai melorot karena anak itu terus mengguncang tubuh buntalnya. "Pergilah, menyingkir dariku.." Semburat merah menghiasi pipi gemuk bocah itu sebelum akhirnya suara tangis pecah, bocah itu dengan sekuat tenaga mengerahkan suaranya untuk memperlihatkan rasa sakit hati setelah dibentak ibunya. Tangisnya mengadu pada orang-orang disekitar tempat itu namun yang dia lihat mereka hanya menunduk tidak memperdulikannya, melihat bibi-bibi itu tidak berguna balita mendongak mengalihkan pandangannya pada ibunya lagi. "Niāng endong... Hueee"  Zhang Zhenan berdecak sembari membuang wajahnya, tidak perduli dengan anak itu yang menangis dengan kuat hingga sesenggukan parah, Zhenan hanya diam melipat tangannya didepan d**a, kita lihat berapa lama kekuatan bayi itu untuk menahannya. "Niāng!!" Otaknya tersumbat dengan teriakan balita itu yang tidak ada hentinya, kekesalannya memuncak menunggu bayi itu berteriak lagi dan dia akan memakannya bulat-bulat. "Niāng-" "Sudah berapa kali kubilang, jangan panggil aku ibu!!"  BRAKK Pintu didobrak dengan keras, semua orang disana membeku termasuk Zhang Zhehan. Pelayan disana segera bersiap didepan Permaisuri Zhang, yang baru saja mendobrak pintu bukanlah orang biasa, orang biasa dengan meridian lemah tidak akan bisa membuka pintu kayu bertameng baja itu dengan keras layaknya petir yang menyambar pepohonan. Saking kerasnya suara yang ditimbulkan orang-orang didalam pavilium sampai menutup buku mereka dan segera berlari keluar ruangan mencari sumber suara. "Apa yang terjadi?" "Suara dari mana itu?" Semua bergidik ngeri ketika dirasa lantai didalam kamar Zhenan ikut bergetar, para pelayan berlari ke depan garis pembatas berusaha melindungi Tuan Zhang jikalau musuh menyerang. "Kurang ajar, siapa yang berani mendobrak pintu kamar Permaisuri Zhang?" Sungut salah satu pelayan. Mereka menarik belati dari balik sabuk dan memasang posisi siaga, mereka siapa menyerang ketika sesosok pria tinggi dengan hanfu merah berada diambang pintu berjalan dengan langkah lebar menghampiri mereka. Belati jatuh berdenting, keempat pelayan itu menjatuhkan belati mereka tanpa sadar karena tubuh mereka bergetar hebat.  Perhatian mereka teralihkan pada pintu besar yang tadi menyebabkan kegaduhan, baja yang melapisi pintu itu penyok dibeberapa sisi mencetak tangan besar dan jari panjang. Suasana mencekam mendadak menyelimuti penjuru ruangan, hanya tersisa suara tangisan bayi yang berasal dari dalam kamar sang tuan. Hanfu semerah darah menari diterpa angin, kabut merah mengelilingi sosok agung yang berjalan dengan beberapa pengawal dibelakangnya. Semerbak bau darah perlahan tercium pekat, meninggalkan jejak sang agung. Kebengisan terukir jelas di wajah tampannya, bibirnya mengatup erat dengan rahang mengeras, matanya tajam dan mematikan.  Raut yang biasa ditunjukkan sosok itu dimedan tempur kini mereka melihatnya kembali tetapi kali ini sosok itu membawa kebengisannya kedalam kamar Tuan Zhang. Apa yang akan terjadi? apa yang akan dilakukan orang itu kepada Permaisuri Zhang, apakah kejadian setahun lalu akan terulang, apakah ini akhir dari Tuan Zhang melihat matahari lagi? Mereka sangat berharap Permaisuri Zhang menarik kata-katanya. Lord Gong sangat protektif pada putranya dan tidak akan mengampuni seorangpun yang berani menyakiti putranya, bahkan ibu dari putranya. Masih segar dipikiran mereka cerita dari pelayan itu, bagaimana darah mengucur setiap Permaisuri Zhang bergerak. Apakah Lord Gong akan melakukan hal yang sana.... Ah, mereka tak bisa membayangkan Lord Gong ketika menghukum pujaan hatinya untuk yang kesekian kali, apalagi kondisi Tuan Zhang yang berbadan dua menambah kekhawatiran mereka. Whushh Darah mereka berdesir ketika sosok itu berjalan melewati mereka, meninggalkan bau anyir dan kabut merah sebelum melangkah masuk kedalam kamar sang tuan. 'Ampuni tuan kami, yang agung.' Raung mereka putus asa. Sejahat-jahatnya Permaisuri Zhang, mereka tetap mencintainya dan ingin melindunginya dengan segenap jiwa raga (sejujurnya Permaisuri Zhang tidak pernah berlaku kasar pada mereka, bisa digaris bawahi jika Permaisuri Zhang hanya akan berlaku kasar pada suaminya), mereka bisa menusuk dan menghabisi siapapun yang berusaha mencelakai Tuan Zhang. Tapi bagaimana jika yang mencelakai adalah Lord Gong, pemilik mereka sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN