Chapter [6] Tabib Liu

2248 Kata
Mata se-gelap arang itu mengedar kesegala penjuru ruangan dengan langkah mantap tidak tergesa-gesa menapakkan kaki dilantai kayu hingga menimbulkan suara dentuman. Dilihatnya beberapa pengawal dan pelayan berdiri dengan kaku seolah-olah kehadirannya begitu mengejutkan, hal itu tentu saja menarik seringai Lord Gong. Dia begitu menyukai tatapan takut dimata mereka yang melihatnya, dia menyukai saat mereka bergetar hingga tidak mampu menjawab pertanyaannya seperti saat ini. "Apa yang terjadi?" Berhenti didepan pemimpin pengawal, dia sama sekali tak menaik atau menurunkan nada bicaranya seolah Lord Gong menanyakan kabar pada teman dekatnya.  Namun pengawal itu malah menunjukkan reaksi yang berbeda, seolah Lord Gong menanyakan apakah dia ingin dihabisi dengan pedang atau panah. Bibir pucatnya bergetar bahkan matanya tak bisa fokus ketika menatap mata tuannya. "I-izin menjawab tuanku, ka-kami menemukan Permaisu-" "Bukankah aku hanya meninggalkannya 8 jam yang lalu? Apa yang bisa dilakukan wanita hamil itu hingga kalian tidak berdaya seperti ini?" Nada mencemooh dan penuh sarkasme membuat suasana semakin hening, beberapa pengawal yang ingin membantu temannya terpaksa menahan kalimat di tenggorokan mereka. Lord Gong menaikkan alisnya, 12 orang berdiri seperti patung yang tak berguna. Lord Gong mengedarkan pandangannya ke orang-orang didalam ruangan, melihat mereka semua terdiam dan hanya berani menundukkan kepala membuat perutnya gatal. HAHAHA Tawa tiba-tiba menggelegar, tawa mengerikan layaknya tawa hantu membuat orang-orang disana tanpa sadar menyusutkan diri. Tawa yang begitu berat seolah terdengar seperti mengungkapkan kebencian dan kejengkelan. "Hahaha, TIDAK BERGUNA!!" Teriak Lord Gong mengejutkan seluruh orang di ruangan itu, Lord Gong menghentakkan lengannya hingga hanfu berat nan panjang memukul lantai menciptakan gelombang debu. Tanpa sadar kaki mereka mundur satu langkah, Lord Gong yang melihat mereka begitu ketakutan kembali tertawa sinis. "Apa kalian bisu?!" Seorang pelayan memberanikan diri untuk membuka mulutnya walaupun badannya bergetar bukan main. "Tuanku Yang Mulia, ampuni kami. Kami tidak bisa menjaga Tuan Zhang hingga membuat Tuan Zhang terluka dan kesakitan. Hamba pantas menerima hukuman..." Pelayan itu tiba-tiba bersimpuh setelah mengakhiri kalimatnya, diikuti dengan dua pelayan lainnya, mereka benar-benar pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Lord Gong hanya terkekeh, mengambil kipas besi dari lengan hanfunya lalu membuka kipas itu. "Kenapa kalian begitu ketakutan? Sejujurnya aku tidak perduli dengan keadaannya, hanya saja kalian tahukan.... Seorang permaisuri harus bersama pemiliknya, apapun yang terjadi. Tapi..... Ahh, kalian membiarkannya pergi dari pemiliknya ini." Orang di seluruh ruang terkejut mendengar pernyataan Lord Gong terutama para pelayan, mereka tidak mengerti dengan maksud ucapan Lord Gong. Siapa yang membiarkan Permaisuri Zhang pergi, pergi kemana Permaisuri Zhang? Apa maksud ucapan Lord Gong, bukankah Permaisuri Zhang ada didalam kamarnya dengan Putra Mahkota. "Otak kalian sangat lamban, membosankan..." Ucap Lord Gong sarkas lalu menutup kipasnya dan kembali memasukanya ke lengan hanfu. Para pelayan yang bersimpuh mendengar derap kaki Lord Gong menghantam lantai, mereka tidak berani membuka mata takut-takut jika kedua kaki panjang itu tiba-tiba berdiri didepan kepala mereka. Namun nafas mereka perlahan mengendur saat dirasa Lord Gong tidak mendekati mereka, suara kaki Lord Gong semakin jauh dari pendengaran mereka dan saat itulah mereka berani mendongak memastikan Lord Gong tak melihat mereka dan segera berdiri dibelakang pengawal. Para prajurit yang mengikuti Lord Gong tidak berani masuk lebih jauh kedalam ruangan permaisuri, mereka hanya berani berdiri didepan kayu pembatas, begitu pula dengan pengawal dan para pelayan. Mereka hanya bisa melihat Lord Gong dibalik kelambu merah tembus pandang, tiba-tiba seorang pelayan diantara mereka memekik. "Ada apa?!" Tanya temannya terkejut. Pelayan itu melebarkan matanya. "Tabib Liu masih ada didalam."  Semua orang menegang, mereka mulai mengkhawatirkan keadaan tabib malang itu. Tapi bukankah seorang petinggi tidak bisa menyakiti seorang tabib, ah... Mereka terlalu berpikir jauh, lagi pula Tabib Liu adalah teman masa kecil Lord Gong sekaligus cinta pertamanya. Masih teringat jelas bagaimana Lord Gong bersikeras untuk menikahi wanita bermarga Liu itu hingga akhirnya Lord Gong mendapat 100 cambukan ditubuhnya. Namun sayang sekali cinta mereka tidak berarti apa-apa didepan perintah Kaisar (ayah Lord Gong), Lord Gong terpaksa berpisah dari cinta pertamanya karena Liu dibawa paksa ke negeri asing dengan tujuan mereka tidak bisa bersatu kembali, dan setelah bertahun-tahun Lord Gong dinikahkan dengan Putri Mahkota Kaisar Negri Timur. Saat itulah Lord Gong benar-benar melupakan wanita bermarga Liu itu, bahkan ketika Liu kembali Lord Gong sama sekali tak meliriknya, seolah hati Lord Gong sudah mati karena tuntutan dan aturan yang mengekang selama hidupnya. "Ini pertemuan mereka setelah sekian lama Lord Gong selalu menghindari Tabib Liu." Seorang pengawal berbisik. Takk Takk Perlahan Hanfu merah menyapu lantai kayu mengikuti gerak tubuh yang menopangnya, sampai akhirnya sepatu boot hitam berhenti. Lord Gong kembali merogoh kipas di lengannya dan membentangkannya didepan hingga menyisakan mata tajam dan alis kokoh. Lord Gong memiringkan kepalanya seolah hal disampingnya begitu menarik, bibirnya menciptakan seringai lebar yang hampir merobek pipi. Seorang wanita dengan hanfu merah muda, begitu bersih dan wajahnya sangat langka dari kecantikan yang biasa dilihatnya. Ah, setelah begitu lama tidak bertemu siapa sangka dia akan terlihat begitu cantik seperti ini. "Sangat cantik, seperti biasa. Tabib Liu..." Wanita yang merasa namanya disebut hanya memberikan senyum simpul, wajahnya begitu datar dan matanya menyorot tanpa takut tidak seperti orang lain ketika melihat Kaisar dari Negri Utara itu.  Badannya berdiri tegap dengan kedua tangan mengepal di sisi-sisi tubuhnya, tubuhnya begitu proporsional. Kaki jenjang dan pinggang kecil, Lord Gong masih begitu hafal dengan bentuk tubuh wanita itu bahkan harum yang menguar dari tubuh wanita itu tetap sama seperti terakhir mereka bertemu. "Saya sangat terhormat bisa bertemu dengan anda, Lord Gong." Jawabnya sinis. Membungkuk merendahkan tubuhnya lalu kembali berdiri tegap. Lord Gong tertawa kecil sementara kakinya berjalan menghampiri Tabib Liu, ketukan langkah kaki mendekat semakin dekat hingga Liu mendadak merasakan kegugupan yang tadinya tidak ada setitik pun.  Dia membenci perasaan ini, dia sudah menguburnya bertahun-tahun yang lalu dan tidak pernah berharap akan merasakan hal yang sama saat dia bertemu dengannya kembali. Tapi hatinya tidak bisa berbohong, sedikit rasa rindu dan cinta masih tertinggal dihatinya walau dia sudah mencoba menguburnya. Jantungnya berdetak kencang seiring hanfu itu yang terseret semakin mendekat, warna merah pekat menyatu bersama lantai yang memiliki warna tak jauh berbeda. Hanfu merah yang tampak begitu indah mencuri mata siapa saja yang melihatnya namun hanfu itu tidak seindah apa yang dia tunjukkan, nyatanya hanfu mewah itulah yang selalu menyerap darah para musuh yang tewas di pertempuran, semakin banyak darah yang tumpah semakin merah pula warna hanfu itu. Liu membenci warna merah, sejak dulu dia tidak menyukai warna merah karena warna itu sama seperti darah begitupun Gong Jun, dulu saat mereka masih bersama Liu selalu memberikan warna biru untuk Gong Jun dan Gong Jun akan memberinya hanfu merah muda. Sangat cantik, tapi tak secantik takdir mereka. Nyatanya sekarang hampir seluruh istana berubah menjadi warna merah, Gong Jun yang dulunya tak pernah menyentuh warna merah kini berbanding terbalik. Semakin kesini semakin terlihat bagaimana pria itu sudah melupakannya, wanita itu menundukkan kepalanya, dia tidak berani menatap mata milik Lord Gong yang sekelam kematian, tidak ada lagi kelembutan dan cinta untuknya. Dia memilih memandang kakinya daripada melihat mata memuakkan itu, sekarang dia hanya bisa melihat kekejaman dimatanya. "Kenapa menunduk?" Suara dalam Lord Gong membuat wanita itu tersentak, dia semakin tidak memiliki keberanian untuk mendongakkan kepalanya, dia tidak ingin jatuh kembali pada pria itu. "Bukankah dulu kamu sangat suka ketika aku menatapmu seperti ini?". Gong Bastard, tak disangka pria itu merendahkan tubuhnya untuk mengintip wanita dibalik bulu mata panjangnya, mendekatkan wajahnya hingga meninggalkan beberapa centi dari wajah wanita itu. Pria itu tersenyum culas memandangi wanita itu yang tetap kekeh menunduk, dia mendengus sebelum kembali menegakkan tubuhnya. "Apa aku se-menakutkan itu? huh?" "Biarkan saya pergi dari sini, Lord Gong.." Salah satu bibirnya terangkat begitu mendengar suara wanita itu untuk pertama kalinya, dia membuang muka dengan main-main seakan merendahkan lawan bicaranya. "Memangnya kenapa kau sangat ingin menjauh dariku?"  Wanita itu tak kunjung menjawab, ketakutan yang menyelimuti tubuhnya membuat d**a wanita itu terasa sesak dan menyakitkan, dia ingin merangkai kata-kata tapi pikirannya buntu. Keringat dingin membasahi dahinya, wanita itu nampak akan pingsan jika saja Lord Gong tak kembali menarik kesadarannya. "Apa begitu sulit menjawab pertanyaan sesederhana ini?" suara Lord Gong terdengar jauh. 'Aku tidak ingin merindukanmu lagi, aku tidak ingin mencintaimu lagi.' Wanita itu memejamkan matanya. Wanita itu mendongak dan menemukan Lord Gong berdiri tak jauh darinya, pria itu seperti hantu. Lord Gong berdiri didepan jendela besar yang menjadi satu-satunya ventilasi di kamar Tuan Zhang. Jendela besar dengan besi ukiran merak begitu menawan siapa saja mata yang melihatnya, mengundang decak kagum karena keelokan seni yang ditorehkan pada sebuah jendela.  Namun siapa sangka jendela besar yang diletakkan disudut kamar Tuan Zhang bukan tanpa sebab, jendela itu tak lain adalah pintu penghubung antara kamar Tuan Zhang dan kamar Lord Gong yang sengaja di desain seunik mungkin untuk menyamarkan dari musuh. Hanya orang kepercayaan Lord Gong yang mengetahui rahasia seluk beluk istana karena hampir setiap sudut istana ini memiliki pintu rahasia yang dibuat khusus oleh Lord Gong. Tangan besar milik pria itu mendarat di lapisan besi bewarna merah, meluncur membelai inci demi inci besi seolah menikmati dinginnya besi yang bergesekan dengan kulitnya. "Apa kamu haus? Aku bisa memberimu air jika kamu kesulitan bicara..." Liu kembali menunduk secepat kilat ketika manik matanya hampir bertubrukan dengan manik kelam Lord Gong, siapa sangka mata yang dulu selalu menatap penuh cinta padanya sekarang mata itu hanya menyisakan sorot hampa untuknya. Senyum culas terukir dibibir Lord Gong, pria itu melebarkan matanya saat tanpa sengaja tatapannya terkunci pada robekan kain yang tersangkut diujung besi dipinggiran jendela. Dia mendengus lirih kemudian menarik robekan kain itu, mengamati kain ditangannya sebelum membawa kain itu ke permukaan hidung kemudian menghirupnya ringan hingga harum vanilla dan mint menyapu penciumannya. Menutup matanya, Lord Gong dibuat mabuk oleh harum yang menguar dari robekan kain itu, dia begitu hafal dengan pemilik bau tubuh ini. Begitu menggoda dan memabukkan, bau keringat yang menempel di kain itu sangat mudah dikenali oleh Lord Gong, belahan jiwanya yang diseret kealtar untuk dipaksa menikah dengannya 4 tahun lalu, Zhang Zhehan. Pria itu tersenyum simpul sebelum akhirnya menjauhkan kain itu dari hidungnya, robekan kain itu ia masukkan dibawah lengannya mengundang tatapan tajam dari wanita yang sedari tadi memperhatikan diam-diam. Benar saja, Lord Gong sudah menemukan pengganjinya. Ingin rasanya dia mutah jika saja urat takutnya sudah putus, melihat pria yang dulu bersamanya selama 7 tahun melakukan hal semurah itu membuat wanita itu tak habis pikir, hanya potongan kain dan pria itu menyimpannya lalu apakabar dengan hanfu yang dia berikan pada laki-laki itu 7 tahun yang lalu. Hanfu yang sengaja dia jahit sendiri dengan susah payah tapi sekarang keberadaannya saja diragukan. Kesedihannya berubah menjadi kekesalan, rasa tak terima akan posisinya yang tergantikan membuat wajah Liu merah padam. "Tabib Liu, kembalilah dan istirahat. Terima kasih telah membantunya pergi dari sini, mungkin dia butuh udara segar..."  Wanita itu mengumpat dalam hatinya sebelum membungkuk dan pergi dari kamar terkutuk itu sedangkan Lord Gong, pria itu menarik salah satu sudut bibirnya ketika melihat tatapan penuh kebencian yang dilempar wanita itu padanya. [Red Thread] Sesosok bayangan hitam melintas secepat kilat melewati ruang demi ruang, langkahnya yang ringan dan tidak meninggalkan suara membuat prajurit dan pengawal disana lengah hingga tak menyadari seseorang temgah menyusup. Penyusup itu bersembunyi dibalik pilar besar kala segerombolan pengawal melintas, umpatan kasar keluar dari mulutnya saat pengawal yang jumlahnya lebih dari sepuluh itu berpencar, penjagaan cukup ketat hingga membuat dia kesulitan. Ditambah lagi sosok bulat besar yang ada digendongannya membuat geraknya semakin terbatas. Bulatan besar itu tak mau menjauh darinya membuat dia mau tak mau harus membawa bulatan besar itu kabur bersamanya, sekarang bulatan besar itu dengan tak tahu diri tertelungkup dengan nyaman di bahunya. Dia berdecak ketika beban balita itu mulai terasa berat, ayolah terlalu lama menggendong balita gemuk seperti ini pasti akan menyakiti pinggang, dia tidak setua itu namun ukuran balita ini terlalu gemuk dari balita biasanya membuat pinggangnya terasa mau patah. "Jangan menggelitik ku sialan!!!" Ya, penyusup itu tak lain adalah Zhang Zhenan. Dia memukul ringan tangan balita itu yang menggerayangi dadanya, balita itu sangat m***m batinnya. Sejak awal dia menggendongnya bayi itu tidak mau menjauhkan tangannya dari kerah hanfu, berulang kali dia memekik karena tangan kecil itu menyentuh bagian sensitif tubuhnya. Melihat penolakan yang sekali lagi ditunjukkan ibunya bulatan besar itu nampak kecewa, mata bulatnya menatap Zhenan dengan sorot penuh kekecewaan, dia lapar tapi ibunya yang tak beradab malah memukulnya. Kedua tangan kecil itu kembali berulah dengan menarik kerah hanfu yang dikenakan Zhenan bermaksud mencuri perhatiannya tapi wanita itu keras kepala dan tak berpengaruh, menyadari usahanya sia-sia bibir balita itu menukik tajam dengan mata merah berkaca-kaca siap memuntahkan air mata kapan saja. Setetes air mata jatuh tapi ibunya tak melihat, bagaimana ibunya akan iba. Tak kurang akal balita itu memegang kedua pipi ibunya memaksa wajah ibunya untuk menghadapnya. Zhenan kembali menghadiahkan pukulan ringan pada tangan kecil itu yang menggerayangi wajahnya namun tak berapa lama dia menyesal karena bayi itu menimbulkan masalah dengan suara tangisannya. Balita itu sakit hati. Zhenan mengerang frustasi, dia membungkam mulut balita itu dengan telapak tangannya kemudian meletakkan telunjuk di bibirnya memberi istilah untuk diam. "Sttt, jangan berisik!!"  Tapi bayi itu sama keras kepalanya, sejak awal dia berulang kali dikecewakan oleh ibunya membuat dia marah dan emosi. Tentu saja hal itu membuat Zhenan kelimpungan, dia khawatir suara cempreng balita itu mengundang perhatian para penjaga, tangis balita itu semakin keras membuat pikirannya buntu dengan panik dia membuka kerah hanfunya lebar-lebar kemudian memasukkan balita itu kedalamnya, mendekapnya di sumber makan si balita , tujuannya untuk meredam suara tangisan balita itu tapi siapa sangka anak itu begitu gembira, menggigit dan memasukkan sumber makanan kedalam mulut kecilnya. "Sialan!!" Umpatnya sekali lagi ketika merasakan lendir dingin menetes di dadanya, namun balita itu masa bodoh, dia begitu senang hingga tanpa sadar berdengung dan menyedotnya dengan kuat hingga mengundang lirikan tajam Zhang Zhenan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN