Chapter [7] Putra Mahkota Keras Kepala

2676 Kata
Demi apa dia harus menanggung semua penderitaan ini, menyusui bayi yang entah siapa orangtuanya, namun dia tak punya cara lain selain cara yang menurutnya mengerikan ini namun terbukti cara yang dia gunakan kali ini cukup membuat anak itu diam walaupun dia harus menanggung rasa jijik ingus yang berjatuhan di dadanya, jujur saja Zhenan masih belum bisa menerima keadaan. Dia hanya ingin pergi dengean selamat dari sini, karena itu dia tak berpikir jauh saat balita itu menangis dibawah alam sadarnya dia segera memasukkan balita itu kedalam baju tanpa canggung dan kesulitan seolah hal ini bukan yang baru. Dalam benaknya bertanya-tanya bagaimana dia bisa begitu luwes menggendong bahkan menyusui bayi padahal selama ini saja dia sangat anti dengan hal lembut seperti itu, tetapi yang lebih mengejutkannya adalah saat cairan putih bening benar-benar tersedot keluar saat balita itu menempatkan mulutnya, begitu mudah seolah tubuhnya seperti teko yang akan menumpahkan isinya pada cangkir yang siap menampung kapan saja. Entah dia harus bersyukur atau bagaimana dengan kondisi aneh pada tubuhnya, tapi keadaannya saat ini sangat membantu. Jika saja dia tak bisa menghentikan tangisan bayi itu pasti dia sudah digiring ke aula istana, dia masih waras untuk tidak berkelahi dengan puluhan penjaga, mereka semua membawa senjata sedangkan dia malah membawa buntalan daging di perut dan tangannya. Zhenan melirik bayi didalam bajunya yang seakan tak merasa bersalah sedikitpun malah menggulung tubuhnya seperti bulatan besar didalam hanfu yang dia kenakan, menyandarkan kepalanya untuk mendengar denyut jantung Zhenan yang terasa nyaman dan hangat, irama yang dihasilkan ibarat suara lembut seolah memberikan balita itu perlindungan. Tanpa sadar Zhang Zhenan hanyut dalam pikirannya, melamun sembari memandangi bayi dipelukannya. Balita polos yang menyadari sedang diperhatikan ibunya segera tersenyum murah, lihat! Ibunya sampai tak berkedip saat melihatnya, pasti dia sangat menggemaskan dimata ibunya. Melihat ibunya yang cantik tak kunjung mengalihkan pandangannya membuat balita itu terkikik sembari mengayunkan jemari kecilnya kearah mata sang ibu. Zhang Zhenan buru-buru mengedipkan matanya beberapa kali berusaha mengembalikan kesadarannya, balita yang mengira ibunya mengajaknya bercanda segera tertawa sampai tersedak air s**u. "Apa yang kamu lakukan?! Kenapa sampai tersedak seperti itu." Gerutunya. Melihat balita itu tak menghentikan batuknya membuat Zhang Zhenan panik, dia segera mengeluarkan balita itu dari hanfunya lalu menepuk punggungnya pelan. Beberapa kali dia mengayunkan tangannya akhirnya batuk pangeran kecil berhenti namun tubuhnya tiba-tiba melemas, kepala berambut halus itu jatuh ke lengannya. "Kamu..... Apa yang terjadi?!" Jantungnya berhenti seperkian detik ketika melihat mata balita itu perlahan terpejam. Ketakutan mulai menjalar dari ujung kakinya, dia segera membawa tubuh balita itu kedalam pelukannya mencoba memberinya kehangatan. Jemari tremornya mencari jejak nadi di lapisan kulit tipis itu, berkali-kali dia mencoba merasakan denyut nadi tapi tak ada satupun yang terasa. "Tidak!!" Hehehe Ditengah kepanikan Zhang Zhenan tiba-tiba tubuh kecil di pelukannya bergetar, balita itu tertawa. Zhang Zhenan menjatuhkan tubuhnya yang lemas tak bertulang, jantungnya berdetak cepat seakan ingin keluar dari tempatnya. Jadi seperti ini rasanya dikerjai anak kecil, dia tidak pernah menyangka di 30 tahun kehidupannya dia akan menjumpai hal ini, dimana dia hampir mati. Dia kira balita itu sudah mati, dia sedikit trauma dengan kematian keponakannya yang mati karena tersedak beberapa tahun yang lalu karena itulah dia benar-benar ketakutan setengah mati. Zhang Zhenan pun tidak tahu, apa yang menyebabkan dia begitu ketakutan kehilangan sosok anak kecil ini. Padahal dia sama sekali tak mengenalnya dan baru melihatnya beberapa jam yang lalu tapi kenapa, dia begitu takut kehilangan. Selama 30 tahun dia membenci rasa takut dan semacamnya lalu kenapa hari ini dia merasakan hal baru, rasa yang tidak pernah hinggap didalam hatinya. Dia benar-benar merasa sangat ketakutan seolah nyawanya diseret ke ujung neraka saat melihat mata anak itu terpejam erat. Dia hanya bisa duduk termenung sementara balita itu terus tertawa tanpa merasa bersalah, kabut tebal perlahan menutupi penglihatannya. Zhang Zhenan mengedipkan matanya beberapa kali dan tanpa dirasa satu persatu air mata jatuh tanpa halangan. Mendengar balita yang tak kunjung menghentikan tawanya membuat Zhang Zhenan marah. "Apa yang kamu tertawakan?" Gertaknya. Balita itu tidak berhenti terkekeh walaupun Zhang Zhenan sudah ingin melkanya hidup-hidup wajah bukan main, bisa-bisanya anak itu tertawa disaat dia gugup setengah mati. "Lihat saja! Setelah ini aku akan membuangmu ke kandang buaya." Sungutnya bermaksud menggertak balita itu namun tawanya malah semakin nyaring, kontan saja Zhang Zhenan segera membungkam mulutnya sendiri. Pangeran kecil yang seolah mengerti dengan maksud sang ibu segara mengikuti ibunya, membungkam mulutnya dengan jemari-jemari kecil. Mendesah kasar, Zhang Zhenan menepuk dahinya dan tanpa diduga pangeran kecil mengikuti gerakannya. "Berhentilah mengikutiku!!" Saat ibunya menyalak, pangeran kecil segera membawa tangannya membungkam separuh mulut sang ibu. "Sttt..." "Kurang ajar!!" "Sttt..." Baiklah, Zhenan ingin menangis saat ini. Dia menggigit bibirnya yang ingin sekali mengumpat tapi akhirnya dia memilih menghela nafas, membuang mukanya jauh-jauh dari pangeran kecil. Melihat ibunya mengacuhkannya kembali membuat anak itu memberengut, mata bulatnya berpendar mencari mata sang ibu agar wanita cantik itu memperhatikannya lagi, anak itu benar-benar genit pada ibunya. Mengetahui anak itu berusaha mencari wajahnya membuat Zhang Zhenan semakin membuang jauh-jauh pandangannya, demi apa dia tidak pernah bertemu dengan makhluk hidup yang begitu ingin mendapatkan perhatiannya, 30 tahun kehidupannya hanya disibukkan dengan kesendirian hingga dia lupa untuk memperhatikan orang-orang disekitarnya. "Niāng..." Panggilnya cempreng. Tapi Zhenan tak kunjung melihatnya, balita itu tak menyerah dan kembali memanggil ibunya lagi, namun tiba-tiba rasa gatal menggigit lehernya. "Enghh...." Lenguhan keluar dari bibir kecilnya. "Niāng, ughh..."  Bayi itu menggaruk lehernya dengan brutal, sebenarnya itu lebih ke cakaran kucing karena kuku-kuku kecilnya sangat tajam. Gatal semakin melebar, kini balita itu merasakan gatal di sekujur tubuhnya hingga dia sibuk menggaruk dan melupakan ibunya. "Ughh..." Berkali-kali balita itu melenguh membuat Zhenan penasaran, dan begitu dia menoleh dia langsung memekik tajam, dengan panik menahan lengan kecil yang akan mencakar wajahnya sendiri. "Apa yang kau lakukan?!" Pekiknya terkejut. Matanya melebar melihat leher balita itu penuh goresan bahkan beberapa ada yang mengeluarkan bintik-bintik merah. "Kenapa kamu mencakar badanmu sendiri?" Balita itu tak menggubris ibunya dan tetap memberontak ingin melepaskan lengannya dari genggaman Zhang Zhenan. Namun genggaman ibunya terlalu kuat di lengan kecilnya membuat dia mengerang frustasi mengetahui usahanya tak membuahkan hasil. Kedua lengannya tak bisa digunakan untuk menggaruk sedangkan rasa gatal di badannya semakin menggigit seperti ribuan semut merah. "Niāng!!" Teriak balita itu cempreng. "Berhenti menggaruk badanmu, lihat!! Kulitmu lecet..." Mata bulat itu berkaca-kaca, ibunya tak mengerti sedangkan dia tak bisa membuat ibunya mengerti dengan ucapannya, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan agar ibunya mengerti, akhirnya dia hanya bisa menangis. Air mata sebesar biji jagung berjatuhan membasahi pipi putihnya.  "Hwaaa~"  Melihat balita itu menangis dengan keras membuat Zhenan panik, hingga tanpa sadar melepaskan lengan kecilnya. Namun begitu lengan itu lolos pangeran kecil kembali menggaruk tubuhnya dengan brutal sembari menangis. Zhang Zhenan dibuat kelimpungan, apa yang membuat balita itu kembali menangis? Kenapa balita itu terus menggaruk badannya?. "Apa yang harus aku lakukan." Gumamnya kalut. Untungnya Tuhan memberkati disaat hal seperti ini terjadi rombongan prajurit itu tidak melewati mereka, bahkan satupun tak ada yang berjalan didekat mereka. Dia benar-benar tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika mereka mendengar tangisan kencang anak ini. "Niāng, hu hu~~"  Balita itu menarik-narik kerah hanfunya seolah meminta bantuan, tapi dia benar-benar tidak tahu apa yang terjadi dengan balita ini. Balita itu terlihat tidak nyaman dengan baju tebal yang melekat ditubuhnya, segera saja dia melucuti beberapa helaian kain dengan sembrono, membuat pakaian itu berantakan. Tapi tindakannya cukup mengurangi gerah pangeran kecil, tapi dia tetap merasakan gatal. Balita itu kembali menggaruk bahkan kini semakin kasar karena leluasa tidak ada kain yang menghalangi badannya. Otak Zhenan membeku, dia tak berbuat apa-apa dan hanya melihat pangeran kecil melukai tubuhnya. Timbul dibenak pangeran kecil jika ibunya benar-benar tidak menyukainya lagi, bahkan ibunya tak berusaha membantunya mengusir semut-semut ini. Balita itu secara emosional menangisi tindakan ibunya, lengannya sudah lelah dan kulitnya perih. Dia tak bisa menghilangkan semut ini dan hanya bisa menangis pasrah menjatuhkan muka basahnya ke d**a sang ibu. Zhenan tak bermaksud membiarkan balita itu, hanya saja dia bingung bagaimana harus menyikapinya. Melihat balita itu merintih kesakitan membuat Zhenan khawatir sekaligus cemas, cemas jika tangisan balita itu membuat persembunyiannya ketahuan. Dan benar saja, baru dia membatin rombongan prajurit berjalan kearah mereka. Suara sepatu boot mereka mengiringi detak jantung Zhang Zhenan. "Aku harus bagaimana?" Tanyanya pada balita itu. Pangeran kecil tak mengerti dan terus menangis, sesekali menggosok badannya. Dia tak tahu bagaimana cara menghentikan tangis anak kecil tapi sepupunya selalu meniupkan udara ke kepala anaknya saat anaknya menangis.  Tidak ada salahnya mencoba, siapa tahu cara itu berguna untuk setiap anak kecil. Zhang Zhenan meniupkan udara ke kepala anak itu yang hanya ditumbuhi rambut halus, tangannya menyibak helaian pendek rambut balita itu, dan udara dingin tanpa disengaja mengusir keringat dikepalanya dan tangan satunya menepuk p****t pangeran kecil, tangis balita itu perlahan melemah dan hanya menyisakan isakan kecil tanda balita itu mulai tenang.  Mata besar balita itu bertemu dengan wajah ibunya yang mengerutkan dahi, ibunya terlihat bersusah payah untuk meniupkan udara dingin bahkan beberapa saliva jatuh ke wajahnya. Merasa nyaman balita itu tersenyum kecil, kepala lemahnya bersandar ke d**a sang ibu. Ibunya sudah tidak marah dengannya lagi, batinnya senang. Rasa gatal perlahan hilang tapi dia tak ingin segera kehilangan nafas ibunya, dia tetap menggaruk beberapa tempat dibadan yang belum dia sentuh. Hampir 5 menit Zhenan meniup udara hingga mulutnya terasa kering, tapi dia tak menghentikan tiupan nya. Dia semakin bersemangat ketika mata bulat pangeran kecil perlahan redup dan kehilangan cahayanya. Bibir mungilnya menguap dan tak berapa lama pangeran itu benar-benar terlelap, wajahnya begitu damai dan yang paling menarik bibir itu tetap tersenyum. Zhenan mendesah lega, akhirnya biang onar tertidur. Awaknya dia ingin melihat keadaan sekitar tapi baru dia menoleh wajah bayi itu seolah menahannya. Entah kenapa wajah bulat pangeran kecil terlihat menggemaskan ketika tertidur, tidak seperti awal mereka bertemu wajah anak itu terlihat mengerikan. Tanpa sadar Zhenan ingin mencubit kedua pipi tembam itu, membawa jemarinya keatas buntalan pipi merah kemudian mengelusnya pelan seolah takut si balita akan terbangun, Zhenan tidak mengetahui jika dia sempat menarik kedua sudut bibirnya ketika balita itu mengigau dalam tidurnya, seperti marah kemudian tersenyum kembali. Senyum balita itu mengembang membuat pipinya semakin menggembung, entah apa yang diimpikan pangeran sampai dia tersenyum didalam tidurnya, siapa yang menyangka kemurnian balita itu mampu meluluhkan hati batu seorang Zhang Zhenan. Hingga membuat Zhang Zhenan ingin mencium pipi lembut itu, didalam hidupnya dia tak pernah mengalami hal seperti ini, dia tidak pernah mencium bayi siapapun kecuali keponakannya itupun sebagi bentuk formalitas. Namun berbeda dengan bayi dipelukannya, dia tidak tahu apa yang membuatnya begitu ingin membelai dan menciumnya dengan pelan meresapi setiap pori-pori kecil dan menggigit kecil pipinya karena gemas. Seolah pencuri Zhang Zhehan melihat sekitarnya sebelum akhirnya mendekatkan wajahnya dan mendaratkan ciuman dalam ke pipi besar balita itu, mengecupnya berkali-kali sampai balita itu melenguh karena Zhang Zhenan menggunakan kekuatannya untuk menekan pipi. "Andai saja tabib itu tak membantuku, aku tidak yakin apakah aku bisa mencium mu seperti ini.." gumam lirih takut menggangu tidur nyenyak anaknya.  Kedua orang berbeda generasi itu tenggelam dalam dunia mereka sendiri hingga tak menyadari suara berderak langkah kaki gerombolan penjaga sedang menuju tempat persembunyian mereka. Zhang Zhenan terlena hingga tak menyadari jika salah seorang penjaga dibarisan depan melihat tiba-tiba berhenti melangkah ketika melihat sosok mencurigakan yang duduk dibalik pilar. Walaupun sosok itu bersembunyi disudut gelap warna putih dari hanfu yang dikenakan sosok itu terlihat mencolok, setelah memastikan sosok di kegelapan itu adalah manusia  penjaga itu lantas berteriak. "SIAPA KAMU?!!"  Teriakan mengglegar mengejutkan Zhang Zhenan. Seperti tersambar petir ketika dia melihat puluhan prajurit berdiri tak jauh darinya, dengan susah payah dia bangun kemudian berlari seperti orang kesetanan saat puluhan prajurit dan pengawal mengejarnya. Dia lupa jika pangeran belum memakai pakaian dengan benar sehingga selembar kain jatuh saat dia berlari kencang. Jantungnya berdetak semakin kuat seiring cepatnya dia berlari, balita yang menelungkup didalam hanfunya berulang kali hampir melorot tapi Zhang Zhenan menariknya kembali hal itu tentu saja semakin mempersulit Zhang Zhenan, lihatlah sekarang dia terlihat seperti ibu kanguru yang berlarian menghindari predator. Mencoba mengerahkan ilmu Wushu nya Zhang Zhenan melompat ke beberapa bangunan dan berhasil memberi jarak yang cukup jauh untuk pengawal itu mengejarnya. Dengan nafas tersengal-sengal Zhang Zhenan terus berlari namun anak itu sepertinya terganggu, Zhang Zhenan memikirkan resiko yang akan terjadi jika balita itu menangis lagi membuat dia memutuskan untuk mencari tempat persembunyian terlebih dahulu. Dari jauh dia melihat bangunan gelap yang tidak terjamah manusia, bangunan itu terlihat usang bahkan pintunya nampak reot. Pengawal pasti tak mencurigai tempat seperti rumah hantu itu, tanpa pikir panjang dia masuk dan segera menutup pintu bangunan tua itu. Dia langsung menghempaskan tubuhnya kelantai karena rasa lelah yang luar biasa, keringat mengucur deras dari tubuhnya tapi balita itu tak perduli dan tetap melanjutkan tidurnya, balita itu beberapa kali menggeliat mencari posisi senyaman mungkin di d**a Zhang Zhenan. Namun detak jantung yang menggedor d**a Zhenan membuat balita itu terganggu, balita itu nampak akan merengek. Zhang Zhenan mencoba menepuk p****t balita itu namun cara yang dia gunakan tak membuahkan hasil, balita itu siap akan menangis namun dalam sekejap bayangan pemuda tinggi yang menggendong anak kecil terlintas, Zhenan melihat cara pria itu mengelus punggung si anak hingga membuat anak itu tenang, Zhang Zhenan segera melakukan cara yang sama digunakan pemuda itu. Dan terbukti cara itu  membuahkan hasil, lihat. Apa yang dikatakan temannya selama ini tidak benar, Zhang Zhenan sebenarnya adalah perempuan cerdas dan pintar tapi teman-temannya selalu meragukan otak pintarnya, andai saja teman-temannya disini dan melihat apa yang dia lakukan pasti mereka akan berdecak kagum. Batin Zhang Zhenan percaya diri. Dia memperhatikan anak itu yang kembali damai dalam tidurnya, dia merasakan nafas teratur anak itu yang menerpa dadanya. Mulut kecil balita itu sedikit terbuka dan matanya terpejam rapat menampilkan bulu mata panjang yang jarang dimiliki seorang anak laki-laki, Zhenan saja tak memiliki bulu mata selentik itu lalu dari mana anak itu bisa mengaku-ngaku sebagai anaknya, dari sifat dan perilaku anak itu yang biadab membuat Zhenan semakin yakin anak ini hanya mengarang cerita, mana mungkin dia memiliki anak keras kepala seperti bayi ini, sejak bayi saja sudah bikin onar apalagi kalau sudah dewasa dan lagi pula dari segi wajah anak itu tidak mirip dengannya, hanya mata bulat yang diwariskannya selebihnya tidak ada yang mirip. Zhenan kembali mengingat anak itu yang tadi memanggilnya 'Niāng' sambil menangis memegangi kakinya, jujur saja Zhenan ingin menendang anak itu sejauh mungkin tapi begitu melihat wajah polos nan menggemaskan saat bayi itu terlelap membuat Zhenan tak sampai hati. Dia mengelus pipi bulat itu dan beberapa kali mencubitnya ringan, anak itu bersembunyi dibalik hanfunya seperti bayi kanguru, Zhehan terpesona tanpa sadar memandang bayi itu cukup lama hingga suara dengingan nyamuk memecah lamunan. "Seharusnya kamu tidak ikut bersamaku, lihat!!" Menepuk nyamuk "Karena ikut denganku kau jadi santapan nyamuk, dasar keras kepala. Kenapa kau keras kepala sekali? Pasti orang tuamu sama keras kepalanya sepertimu makanya menurun ke anaknya".  "Bukankah dia mewarisi sifatmu?"  Semerbak bau anyir memenuhi penciuman Zhang Zhenan, tubuhnya memberi sinyal tanda bahaya tanpa sadar dia menyeret tubuhnya kebelakang sebagai tindak waspada terhadap asal bau anyir itu. Dia sudah lelah untuk berlari bahkan dia tak sanggup untuk berdiri, dia hanya mengandalkan tangan kosongnya jika saja sosok dibalik kegelapan itu tiba-tiba menyerang. "Siapa kamu!!" Suaranya terdengar lantang walaupun sedikit bergetar, tidak ada sorot takut dimatanya suaranya malah terkesan menantang, ayolah dia tidak takut pada hal berbau supranatural jika sosok itu adalah hantu maka dia akan pura-pura pingsan tapi jika sosok itu adalah manusia maka dia akan melawannya. Sosok itu tidak menjawab namun terkekeh dengan suara dalam hal itu menarik dengusan Zhenan, dia tidak suka bertele-tele jika sosok itu hanya ingin membuang-buang waktunya untuk menakuti Zhang Zhenan maka orang itu mencari mangsa yang salah. "Apa kau tuli? Tidak mengerti bahasa manusia atau apa?!! Munculah di hadapanku jika berani dan jangan terkekeh seperti orang gila di kegelapan... Kau pikir aku takut? Perlihatkan dirimu sialan!!" Sosok itu mengencangkan suara tawanya dan bau anyir tercium semakin kuat, angin dari awang-awang tiba-tiba berhembus kencang menerbangkan debu dan dedaunan kering dari luar. Zhenan tau muslihat ini, dia sengaja tidak menutup matanya karena jika dia menutup matanya maka sosok itu akan muncul tiba-tiba didepannya seperti di film horor yang sering ditonton saudaranya. Zhang Zhenan tidak semudah itu ditipu, dia cerdik saking cerdiknya dia membiarkan debu memasuki matanya hingga matanya terasa pedih. "Sungguh wanita yang sangat pemberani... Zhang Zhenan, seperti biasa."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN