Chapter [8] Hanfu Merah

2515 Kata
Kerutan semakin dalam ketika mendengar namanya disebut dengan suara mendayu berlebihan, Zhang Zhenan tak habis pikir ditempat seperti apa tuhan melemparnya saat ini, semua orang yang dia lihat nampak aneh dan aneh begitupun dengan orang-orang disini yang tau dengan namanya. Didalam kepungan debu mata Zhenan masih bisa menangkap warna merah darah yang terseret-seret keluar dari bayangan kegelapan, suara langkah sepatu yang ringan terdengar tidak mengancam tapi suaranya mengungkapkan suatu keinginan aneh kepadanya membuat Zhang Zhenan tetap waspada. "Seorang putri dari Timur, Gong Zhenan...." Celetuk pria itu menyeret setiap kata yang keluar dari bibirnya dengan penekanan. Menjijikkan, Zhena memutar matanya, pria itu dengan seenak jidat mengubah marganya memang sejak kapan dia berganti marga menjadi Gong. Dia tidak akan pernah menggunakan marga menjijikkan itu didepan namanya, meludah kesamping berusaha menunjukkan kebenciannya pada sosok itu. "Cuih!! Jangan berkata seolah kau mengenalku." Seringai menjijikkan dilemparkan Zhang Zhenan. Tanpa diduga sosok itu malah tertawa seolah meremehkannya, suaranya yang lebih dalam dari pria pada umumnya membuat nyali Zhang Zhenan sedikit menyusut. "S-siapa kamu?!!" Menggigit lidahnya, dia menyesal karena suara nya terdengar bergetar. Dan benar saja, pria itu kembali menertawakannya. Sosok itu berjalan lambat dengan setiap ketukan kaki seperti diperhitungkan, setiap langkah yang dihasilkan terdengar elegan belum lagi suara yang dihasilkan dari hanfu panjang yang menyeret disepanjang jalan. Melihat dari cara berjalannya Zhang Zhenan merasa jika sosok ini pasti bukanlah orang biasa, dia bukan kasim, prajurit ataupun pelayan, lalu siapa dia?. Perlahan sosok di balik hanfu merah menampakkan wujudnya, bayangan perlahan merambat naik dan menghilang setelah melewati kepala sosok itu. Entah secara kebetulan debu yang tadinya berterbangan sekarang hilang tersapu angin membuat merah yang dia lihat terlihat semakin jelas dimatanya. Ternyata itu bukan hanya kain merah biasa, matanya terkunci pada tenunan rumit disepanjang hanfu, benang emas dan batu-batu permata kecil bertebaran membentuk pola yang indah. Zhang Zhenan bukanlah pecinta pakaian mewah tapi keindahan satu ini tidak bisa dilewatkan begitu saja. Zhang Zhenan terpaku hingga tak sadar jika sosok itu sudah berdiri didepannya, melihat Zhang Zhenan hampir menjatuhkan rahangnya pria itu menarik salah satu sudut bibirnya. Permaisuri Zhang memang tidak pernah berubah, kecintaannya pada barang-barang mewah masih sama. Lihatlah mata bulat itu yang tidak berkedip, sangat cantik dan lucu diwaktu bersamaan. Dia sangat jarang mendapat tatapan penuh puja yang diberikan Permaisuri Zhang dengan terang-terangan, Permaisuri Zhang selalu membuang muka saat bertemu dengannya jadi hal ini sedikit mengejutkannya. Zhang Zhenan tidak tahu jika dia sedang diperhatikan, dia hanya fokus menelusuri keindahan hanfu merah yang berdiri menjulang beberapa meter didepannya, matanya merambat naik hingga menemukan kerah hanfu yang dibordir emas tebal, benang emas dan merah dibentuk seperti burung merak. Diam-diam bergumam, dari sekian orang aneh yang dia temui di alam ini hanya sosok ini yang memiliki pakaian paling bagus, bahkan dia yang dipanggil permaisuri saja tidak memakai hanfu sebagus itu. Baiklah, sejak kapan dia mengiri.  Dia tidak pernah iri dengan siapapun selama hidupnya, tapi sebentar.... rahangnya lumayan bagus cukup tajam tapi tidak terlalu. Ah mungkin banyak yang mempunyai rahang lebih bagus dari dia, tapi..... siapa yang memiliki bentuk bibir seindah itu. Bahkan saat bibir itu membentuk seringai tampak begitu indah dan kejam, lalu hidungnya..... Tidak kecil dan tidak pula besar, runcing namun kokoh. Em, baiklah dia mengaku. Dia tidak pernah melihat kombinasi yang cukup sempurna ini selama dia mengenal pria, dan pria itu nampaknya lebih muda dari dirinya.  "Apa sudah puas?" Ejekan sosok itu membuat Zhenan sadar jika dia sudah melamun hampir 6 menit.  Tersentak, dia ingin menghindar begitu tahu sosok itu berdiri dengan jarak yang sempit. Mundur selangkah, dia merasa kecewa pada dirinya sekaligus malu. Seharusnya dia tak begitu memperlihatkan kekagumannya pada sosok didepannya ini. "Siapa kamu?!" Sengaja menggertak untuk menutupi malunya. Sosok itu adalah pria tampan dan tinggi, memiliki mata sehitam arang yang dalam seakan ingin menelan Zhang Zhenan tanpa ampun kedalamnya, terlalu gelap hingga tanpa sadar Zhenan gagal bernafas dan jantungnya mendadak berhenti berdetak. Sial, dia sangat tampan ternyata, siapa sangka sosok yang begitu menyebalkan bisa terlihat mendominasi seperti ini. Tapi sepertinya rupa pria itu tak asing dimatanya, dia pernah menerima mata yang sama, mata yang menatapnya rendah bibir yang sama, bibir yang cetus tapi dimana?. "Kenapa begitu ingin tahu?" Sosok itu melontarkan balik pertanyaan. Raut penuh kesombongan yang di tunjukkan Zhang Zhenan kini berubah memucat tak teraliri darah, dia tak pernah merasa didominasi oleh orang lain tapi sosok pria jangkung itu mampu mematahkan kesombongan Zhang Zhenan hanya dengan tatapan matanya saja, Zhenan membenci perasaan kalah dan direndahkan, dia membenci rasa didominasi dan dipimpin oleh orang lain, dia membenci rasa takut apalagi hanya lewat tatapan mata dengan seseorang yang baru dia jumpai.  Dia ingin membentuk seringainya lagi tapi otaknya gagal berproses dan tidak menuruti perintahnya, Zhang Zhenan sadar dia menatap mata itu cukup lama seperti terkunci dan dia tak bisa mengalihkan pandangannya. Sosok jangkung itu hanya menunjukkan wajah datar dan tidak tertarik, tapi saat melihat Zhang Zhenan kehilangan nafasnya dia terkekeh.  Gigi putih tertata rapi itu mengintip dibalik bibir tipis, lesung pipi tercetak di pipi tirus milik sosok jangkung itu dan manik yang sebelumnya menenggelamkan Zhang Zhenan kini hilang karena sosok itu menyipitkan matanya. Gema yang dipantulkan dari tawa pria jangkung itu membuat Zhenan kesal, reflek memejamkan matanya beberapa kali sebelum akhirnya kembali memberikan mata tajamnya pada pria itu. "Bukankah kamu yang bersikap sok tahu?!" Cetusnya tajam Namun pria itu malah tertawa. "Hahaha.... Aku memang tidak mengenalmu tapi aku sangat mengenalmu dengan baik ketika diatas ranjang." Pria itu mengubah wajahnya se-perkian detik menjadi senyum penuh c***l dan kerlingan kurang ajar. Zhang Zhenan mengumpat, meludah ke sembarang tempat seolah yang diucapkan pria itu sangat menjijikkan. "Dasar c***l!! Jangan sembarangan bicara, siapa yang mau tidur dengan hantu sepertimu..." umpatnya tersulut emosi. Tapi pria itu malah merasa terhibur dengan raut wajah yang ditunjukkan Zhang Zhenan, setiap Permaisuri Zhang marah mata bulat itu akan melebar dan alis hitam rapi itu menukik tajam, bibir ranum itu akan berkerut setiap dia mengumpat padanya. Entah kenapa ada kecantikan tersendiri yang dihasilkan ketika Zhang Zhenan marah, jadi bukanlah hal yang aneh jika setiap mereka bertemu dia akan sengaja memancing pertengkaran, wajah kesal Zhenan menjadi candu untuknya. "Lalu siapa yang setiap malam merengek memanggilku?!... Lao Gong terlalu-."  "Kamu menjijikkan!!"  Pria jangkung itu terbahak mendengar makian yang ditujukan Zhang Zhenan untuknya, memang tidak pernah berubah. Zhang Zhenan dikamar dan di luar adalah orang yang berbeda, dia sangat suka menggodanya hingga wanita yang lebih tua itu mutah darah karena emosi. Zhang Zhenan berdiri dan tanpa sadar menghentakkan kakinya kelantai, dia menyibak poni di dahinya hingga memperlihatkan dahi putihnya yang mengkilat terkena keringat, tempramen dan keras kepala itu memang tidak terbantahkan. Jika orang lain memilih lari dari pada adu mulut dengan Zhang Zhenan maka berbeda lagi dengannya, dimatanya wanita itu terlihat semakin menarik saat marah. "Apa yang kamu inginkan? apa kamu mau mengadukanku pada pengawal diluar?!" Pria jangkung itu mengetukkan jari di dagunya seperti menimang perkataan Zhenan, pria itu berlagak dan tak kunjung menjawab membuat Zhang Zhenan semakin terpancing emosi, dia merasa dipermainkan. "Jika tidak ada urusan segera pergi dari sini, aku tidak berminat berurusan dengan setan sepertimu.." Zhenan mendengus. Mata pria jangkung itu kembali mengerling nakal sembari mengelus ujung dagunya dia berjalan mendekat kearah Zhenan. "Benarkah? Kau tidak mau berurusan dengan hantu tampan sepertiku? Sayang sekali tsk, tsk...." Pria itu menggeleng ironis. Lihatlah, Permaisuri Zhang pura-pura tidak mengenal suaminya sendiri. "Omong kosong mu membuatku ingin muntah, Tuan... Jika kamu tidak segera pergi maka aku yang akan pergi dari sini."  Zhang Zhenan yakin hantu itu tidak akan mendengarkan perkataannya jadi dia mengambil inisiatif untuk segera pergi dari tempat itu sebelum energi jahat hantu itu berdampak buruk pada anaknya. Saat tangannya bersiap membuka pintu angin yang entah dari mana datangnya tiba-tiba berhembus kencang mendorong Zhang Zhenan mundur hingga hampir terjengkang jika saja sebuah tangan besar tidak menahan pinggangnya, saat matanya terbuka dia melihat pria jangkung berhanfu merah itu tiba-tiba sudah berdiri beberapa jengkal darinya. "Kamu..." Zhang Zhenan terkejut dan menatap penuh kebingungan kearah pria muda itu. Mendorong tangan pria itu dari pinggangnya lalu berjalan jauh memberi jarak pada mereka. "Apa kau tidak takut pengawal itu mengejarmu?" Pemuda itu angkat bicara, alisnya menukik seolah mengasihani nasib Zhang Zhenan. Melihat itu tentu saja Zhang Zhenan semakin tersulit emosi, Mata bulatnya melebar dan mulutnya kembali meludahkan kata-kata tajam. "Kau kira aku wanita lemah? Aku bahkan bisa melompati bangunan dengan bayi di gendonganku." ucapnya menyombongkan diri, menunjukkan gundukan besar yang ada didalam hanfunya dengan bangga. Pemuda itu melongokkan kepalanya ke tubuh Zhenan, dan betapa terkejutnya saat dia mendapati gumpalan itu ternyata adalah daging putih gemuk. Anaknya, putra mahkota yang dia cari sekarang berada didalam hanfu Zhang Zhenan, tertidur pulas dan bahkan sesekali mendengkur. "Berhentilah menatapnya seperti itu, kau membawa aura jahat padanya." Zhenan menghindar, berusaha memutus mata pria itu dari bayinya. Air muka di wajah pria jangkung itu berubah memucat, alis setajam pedang miliknya menukik.  'Melompati bangunan? Kenapa dia tidak kesulitan?' Batinnya berkecambuk. Zhang Zhenan tidak ingin membuang waktunya dengan hantu ini, dia ingin keluar tapi begitu dia berjalan pria jangkung itu menghadang jalannya. "Sebenarnya apa yang kau mau?!" Teriak Zhenan kesal. "Berikan anak itu padaku."  Sahut pria itu tiba-tiba membuat Zhenan terkejut bukan main, benar dugaannya jika pria ini adalah orang jahat. Dia mengeratkan pelukan ditubuh balita itu, berusaha melindunginya jika tiba-tiba pria itu berusaha merebutnya.  "Apa maksud ucapan mu?!" Zhang Zhenan berlari ke sudut ruangan, menghindari pria jangkung yang ternyata berniat jahat pada balita tak berdosa ini. Apa yang diinginkan pria itu pada anaknya, kenapa dia ingin mengambilnya. Pria itu melemparkan tatapan tajamnya membuat kaki Zhang Zhenan gemetar, pria itu terlihat marah entah apa yang membuat pria itu tersulut emosi tapi Zhang Zhenan merasakan perubahan mencekam keadaan disekitarnya.  Tiba-tiba bau amis seperti darah kental menyerang indra penciuman Zhang Zhenan, perutnya seperti diaduk tapi dia tidak bisa memuntahkan isi perutnya. Kepalanya berat, kakinya tidak bisa memijak dengan benar dia ingin jatuh tapi dia buru-buru mencari tumpuan. Saat kepalanya mulai jernih pria itu sudah berjalan kearahnya dengan cepat sehingga dia tak sempat menghindar dan saat tangan panjang milik pria itu terjulur kearahnya Zhang Zhenan dengan secepat kilat menepisnya. Seluruh tubuhnya tremor ketakutan, dengan langkah terseok-seok dia berusaha menjauh dari pria itu tapi kekuatannya bukanlah tandingan pria itu. Dia merasa sudah berjalan jauh tapi pria itu masih bisa menjangkau tubuhnya, memeluknya paksa dari belakang. "Apa yang kau lakukan?! Apa yang kau inginkan dari anakku?!" Teriaknya ketakutan . Gerakan pria itu sangat cepat membuat Zhenan panik bukan main, walaupun beberapa kali tergoncang balita itu sama sekali tidak berniat membuka matanya, balita itu meringkuk memperlihatkan kepalanya yang bersandar di d**a Zhenan.  Zhenan menarik hanfunya untuk menutup kepala balita itu seolah tidak membiarkan mata jahat pria itu mengganggunya. "Menjauh lah dan jangan mengganggu kami, kami hanya ingin pergi dari sini dan kami bukan ancaman..." Pria jangkung itu memandang Zhang Zhenan dengan raut sulit ditebak, kerlingan c***l dimatanya berubah penuh keseriusan. "Kemana kau ingin membawa pergi anakku?" Pria itu menyipitkan matanya curiga. Kini giliran Zhang Zhenan yang memasang muka jelek seperti ditonjok beberapa pukulan, otaknya mendadak kosong setelah mendengar ucapan pria itu. "Anakmu?" ulangnya sekali lagi. Dia memandang wajah balita yang meringkuk di dadanya kemudian kembali melihat wajah pria jangkung itu, Zhang Zhenan cukup terkejut ketika dia menemukan beberapa kesamaan bentuk wajah balita itu yang sangat mirip dengan pria didepannya, mungkin orang lain akan percaya dengan ucapan pria itu tapi tidak dengannya, dia tak semudah itu dibohongi bisa saja ini hanya sebuah kebetulan walaupun kemungkinan mereka memang ayah dan anak lebih condong. "Bagaimana hantu bisa memiliki anak sepolos ini?! Jangan berbohong padaku... Kau hanya menghabiskan waktuku saja." Zhenan mengakhiri kalimatnya dengan menghempas lengan hanfunya, dia mendorong pria jangkung itu karena tidak mau menyingkir dari hadapannya. ARGHH Zhang Zhenan memekik tajam ketika pria itu tiba-tiba menariknya berusaha merebut balita yang tertidur didalam hanfunya, tarik menarik tak bisa terhindarkan hingga hanfu yang dikenakan Zhenan melorot sampai ke bahu.  "Berikan anak itu padaku..." "Tidak, aku tidak akan memberikan anakku pada hantu sepertimu." "Kau sangat keras kepala, biarkan aku yang menggendongnya... Kamu tidak bisa menggendongnya terlalu lama!!" "Apa urusanmu? Memang apa hubunganmu dengan anakku?" "Aku ayahnya..." Ucapan pria itu membuat Zhang Zhenan tanpa sadar mengendorkan pelukannya dan pria itu memanfaatkan kelengahan Zhenan untuk merebut balita itu, saat balita itu sudah berpindah tangan barulah Zhang Zhenan sadar anaknya tak lagi ada di pelukannya. "Kembalikan anakku!!" Gertak Zhang Zhenan. "Ada apa denganmu? Aku ayahnya apa yang salah dengan aku menggendongnya?! Kita sudah membicarakan ini Zhenan, walaupun kita tidak saling mencintai tapi anak ini milik kita bersama." "Omong kosong apa lagi ini?" Emosi Zhang Zhenan semakin tak terkendali, dia mulai menggunakan kekerasan untuk merebut anak itu kembali. Hatinya bergetar penuh ketakutan melihat balita polos itu ada ditangan orang lain, dia takut jika pria itu tiba-tiba menghilang sembari membawa anaknya. "Zhang Zhenan!!" Suara pria itu penuh penekanan. Pria itu mengeraskan rahangnya saat Zhang Zhenan melakukan perlawanan, Zhenan menggunakan ilmu bela dirinya yang seharusnya tidak boleh dia lakukan disaat seperti ini. "Hentikan, Zhang Zhenan!!"  Si keras kepala tidak menggubris dan terus menyerang kearahnya, dia berusaha menghindar dari serangan Zhang Zhenan dan sama sekali tak berusaha melakukan perlawanan. Zhang Zhenan meloncat, berputar dan maju menyerang. Zhang Zhenan yang jongkok saja dilarang keras kini malah melakukan bela diri yang sudah beberapa bulan ini dilarangnya, dia mencium kejanggalan dari cara Zhenan menyerangnya. Pria itu sama sekali tak kesulitan membawa tubuhnya, bergerak dengan lincah kesana kemari tak memperlihatkan seperti orang berbadan dua pada umumnya. "Hentikan!! Atau aku terpaksa menggunakan kekerasan untuk menghentikanmu.."  Tapi Zhang Zhenan tidak menggubris dan tak berniat menghentikan serangannya membuat dia terpaksa mengunci beberapa titik akupuntur ditubuh Zhang Zhenan hingga pria itu roboh. Zhang Zhenan kebingungan setengah mati saat tubuhnya tak bisa di gerakkan, dia hanya bisa menggerakkan mulutnya tapi tidak dengan bagian tubuh lain. "Apa yang kau lakukan kepadaku!!" Mata bulat itu melebar sebagai bentuk protes. Pria jangkung itu hanya diam yang dilakukannya hanya memperhatikan Zhenan dengan tatapan sulit diartikan. Dia mengambil lengan Zhang Zhenan lalu menelusuri nadinya. Keduanya tenggelam dalam keheningan, pria itu sibuk memeriksa denyut nadinya dan Zhenan diam memperhatikan gerak gerik pria itu. Zhenan melihat pria yang tiba-tiba mengangkat kepalanya dengan wajah pucat pasi, mata tajam itu melebar dan manik hitam didalamnya bergetar. Hal itu membuat Zhenan ikut memucat tanpa alasan, apa yang sebenarnya terjadi hingga wajah c***l pria itu berubah kesakitan. Takk Suara itu menarik perhatian keduanya, sebuah botol keramik kecil menggelinding disebelah Zhang Zhenan, pria itu tahu siapa pemiliknya. Zhenan melihat botol itu yang sudah berpindah ke tangan pria itu, entah kenapa perasaannya tak enak. Botol itu hanyalah berisi obat yang diberikan tabib padanya tapi kenapa seolah dia menyimpan racun, jantungnya berdegup kencang saat pria itu membuka tutup botol dan mengeluarkan isinya. Plopp Butiran hitam sebesar biji kapas jatuh ke tangan pria itu, pria itu mengamati cukup lama dan membawa botol itu kehidungnya. Bau menyengat langsung tercium dan pria itu segera menjauhkan botolnya, matanya melebar pria itu segera menutup botolnya lalu menggenggamnya erat.  Pria itu tiba-tiba mengalihkan tatapannya ke Zhang Zhenan lalu menghadiahinya tatapan tajam seolah menusuk tepat ke jantung Zhang Zhenan, Zhenan mengeryit dalam karena tatapan pria itu seolah menghakiminya. "Apa yang kau lakukan?!" Pria itu tiba-tiba membentaknya. Zhang Zhenan tersentak dia berkedip beberapa kali untuk menunjukkan rasa terkejutnya, dia kebingungan dan ketakutan karena pria itu tiba-tiba membentak. "Apa yang aku lakukan?" Tanyanya tak mengerti. "KAMU MEMBUNUHNYA!!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN