"KAMU MEMBUNUHNYA!!"
Pria itu berteriak menakutkan hingga bibir merahnya bergetar, gemeletuk gigi sampai terdengar ke telinga Zhang Zhenan. Matanya melebar dengan warna merah menjalar di sudut-sudut matanya, pria itu terlihat begitu emosi seakan ingin memuntahkan seteguk darah dari mulutnya.
Amarah yang meluap-luap membuat tubuhnya tak bisa menahan gejolak didalam d**a, dia ingin berteriak dan menghancurkan apapun disekitarnya ketika tak mendapati denyut nadi lain selain milik istrinya, rahang kokohnya mengeras, mata setajam belati itu menyala.
Zhang Zhenan ketakutan karena pria itu terus menelusuri lengannya, menekan setiap titik nadinya dengan keras hingga meninggalkan jejak merah keunguan. Tak berhenti disitu saja pria itu juga menarik perutnya, menempelkan kepalanya ke perut buncit Zhang Zhehan.
"Dimana dia? Kenapa, kenapa aku tidak mendengar suaranya...."
Monolog pria itu seperti orang tak waras. Pria itu menarik kepalanya menjauh dari perut Zhang Zhenan, Zhenan melihat wajah pria itu yang menunjukkan jejak emosional berlebihan hingga membuat Zhenan merasa sedikit khawatir. Pria itu seperti hilang akal, bahkan dia memukul lantai yang tak berdosa untuk melampiaskan kekecewaannya.
"Kenapa?" Erangnya serak, tangan besarnya menggenggam bahu Zhang Zhehan kemudian mengguncangnya pelan.
Kedua sudut mata pria itu berair seperti tanggul, perasaan sedih, takut dan khawatir campur aduk dia rasakan begitu melihat satu persatu air mata sebesar biji jagung meluncur turun tak terkendali dari mata pria itu.
Zhang Zhenan merasakan sesak didadanya.
Selama 30 tahun kehidupan dia tidak pernah melihat orang lain menatapnya begitu putus asa dan menyedihkan. Zhang Zhenan selalu mendapat tatapan angkuh dan segan dari orang-orang yang dia temukan, dia tak pernah mendapat tatapan menyedihkan dari orang-orang disekitarnya.
Seperti yang dikatakan, Zhang Zhenan tidak menyukai kelembutan seumur hidupnya. Dia membenci rasa iba, sedih dan merendah. Dia membenci kasih sayang, bayi dan hal menyentuh hati lainnya. Karena itulah dia merasa tak nyaman ketika melihat tatapan penuh kesedihan ditujukan untuknya, Zhang Zhenan mencoba menyingkirkan perasaan aneh ini, dia membuang pandangannya kearah lain mencoba memutus kontak mata basah pria itu.
Dia ingin menjauh dan menghilangkan rasa iba yang tiba-tiba muncul tapi dia lupa jika tubuhnya saat ini mati rasa dan kaku layaknya batang pohon, Zhang Zhenan hanya bisa menutup matanya membiarkan kegelapan menenggelamkannya daripada dia harus merasakan hal menjijikkan ini, dia membenci rasa iba dan kasihan karena dia merasa tidak diciptakan untuk itu. Dia membenci ketika dirinya menangis, dan itulah yang terjadi dengannya saat ini. Tapi dia tak membiarkan air mata meluncur begitu saja, dia menahannya sekuat mungkin.
Rasa asin muncul di tenggorokannya, awalnya ringan kemudian pekat. Dia mungkin berhasil menahan air mata membanjiri wajahnya tapi dia tak akan bisa menanggung apa yang dirasakan hati kecilnya karena hati kecilnya lebih jujur.
Zhang Zhenan mengumpat dalam hati, dia membenci perasaan iba dan mengasihani. Dia tidak pernah menangis lagi sejak usia 7 tahun tapi kenapa saat ini dia menangis pada hal yang tidak pernah dia ketahui, dia tak tahu apa yang dia tangisi tapi melihat pria didepannya menangis putus asa membuat d**a Zhenan seperti disiram air es.
Mata dalam itu menatapnya rumit, amarah, kerinduan dan kehilangan membuat Zhenan bertanya-tanya, siapa yang membuat pria angkuh menjadi hancur seperti ini.
Pria itu menggoncang bahunya.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau mengulangi hal sekeji ini terhadap anakmu sendiri!!" Teriaknya didepan wajah Zhang Zhenan.
Apa yang telah dia lakukan? Apa yang dikatakan pria itu? Siapa yang berbuat keji?.
Melihat Permaisuri Zhang diam saja membuat pria itu tersulut emosi, mendorong tubuh istrinya kelantai hingga berdebam keras.
"b*****h!! Jadi selama ini kau berusaha menyingkirkannya tanpa sepengetahuanku?"
Permaisuri Zhang terpaksa membuka matanya ketika rahangnya dicengkeram dengan kekuatan seolah ingin meremukkannya. Wanita itu hanya mampu terkulai lemah di tanah tanpa bisa menghindar ataupun melakukan perlawanan.
"Apakah aku harus menggantung mu di alun-alun lalu memukulmu? Mencambukmu? Apa sebenarnya yang kau minta, Zhang Zhenan!!"
Lagi-lagi pria itu berteriak didepan wajahnya membuat emosi Permaisuri Zhang tersulut, seumur hidupnya tidak pernah diperlakukan biadab seperti ini, tidak ada seorangpun yang berani menggertaknya apalagi sampai berbuat kasar seperti ini.
"b******n!! Kau berbicara seperti orang tak waras, aku tidak mengerti apa maksudmu dan aku juga tidak mengenalmu. Aku tidak mengerti apapun yang kau bicarakan tapi kenapa kau terus memojokkanku?!! AKU BUKAN PEMBUNUH DAN AKU TIDAK MEMBUNUH SIAPAPUN."
Plakk
Sebuah tamparan keras melayang di pipi kanannya sangat keras seperti memecah kulitnya, Permaisuri Zhang hanya bisa mengerjab terkejut, seseorang menamparnya.
"BERANINYA KAMU MENGUMPAT PADA KAISAR, BERANINYA KAMU MENGUMPAT PADA SUAMI SENDIRI!!" Teriakan pria itu meledak, tak bisa mengendalikan emosinya.
Bau darah kembali tercium kali ini sangat pekat hingga membuat Zhang Zhenan kesulitan bernafas, bau jejak kematian menyebar dari dalam gudang gelap itu. Suara derap kaki rombongan prajurit berhenti begitu mereka sampai didepan pintu gudang, dari sekian tempat yang mereka cari hanya gudang utama yang belum digeledah. Mereka berniat mendorong pintu gudang namun urung karena kabut merah tiba-tiba keluar dari bawah lubang pintu, kabut merah semakin tebal hingga menghalangi pandangan mereka. Barisan prajurit itu terdorong mundur seolah ada kekuatan magis yang mendorong mereka menjauh dari gudang.
"Tetap ditempat!! Jangan berpencar!!" Ujar Salah satu pimpinan prajurit begitu melihat barisan prajuritnya porak poranda.
Dia berhasil menggapai salah satu lengan prajurit dan menariknya. Prajurit yang awalnya ingin melawan batal dia lakukan ketika melihat sosok itu adalah ketuanya sendiri, dengan muka penuh ketakutan prajurit itu mengadu padanya.
"Ketua, itu... Itu Lord Gong." Suaranya tercekik karena mulai kehabisan nafas.
Ketua mengangguk paham, buru-buru mendorong prajurit itu keluar dari kabut. Satu persatu prajurit ditariknya keluar kabut sampai dirasa tidak ada yang terlewat dia segera berlari kearah mereka. Semua prajurit bergelimpangan seperti ikan mati karena kesulitan bernafas, segera dia berteriak memanggil pelayan istana untuk membawa puluhan prajurit itu ke ruang pemulihan.
Semua prajurit sudah ditangani, seorang pelayan menanyakan keadaannya bermaksud untuk membawanya ke ruang pemulihan tapi dia menolak. Dia mengusir pelayan itu pergi dan memintanya untuk mengatakan pada seluruh pelayan agar tak mendekati arah gudang utama.
Pelayan mengangguk lalu pergi, ketua membalikkan tubuhnya melihat gudang besar dan gelap itu dari kejauhan. Kabut merah masih mengitari gudang itu seolah melarang semua orang mendekatinya, ataukah kabut merah itu sengaja diciptakan agar seseorang didalamnya tak bisa keluar?.
Pikirannya berkecamuk tapi dia masih sadar diri untuk tak ikut campur dengan urusan pribadi Kaisar Gong, dia tak tahu apa yang terjadi di dalam gudang itu namun Lord Gong sudah memberi peringatan lewat kabut darahnya, artinya Lord Gong tak membutuhkan seseorang sama sekali dalam masalah ini, jelaskan jika itu masalah pribadi Lord Gong.
Batuk, dia lupa jika racun masih bersarang ditubuhnya. Ketua memutar kakinya lalu pergi dari tempatnya semula, dia tak ingin Lord Gong mengetahui kelancangan nya karena berusaha menginjakkan kakinya di daerah pribadi Lord Gong.
"Aku harap, tidak ada masalah besar yang terjadi karena sebentar lagi pangeran kedua akan segera lahir"
[Red Thread]
Mulutnya penuh rasa ingin muntah yang sudah tak tertahankan, tak kuat menahan ketika perutnya terpelintir dan seketika darah menyembur dari dalam mulutnya. Terbatuk batuk saat darah segar kembali masuk ke tenggorokannya, Zhang Zhenan mengerang dibawah siksaan suaminya.
Zhang Zhenan sebisa mungkin memiringkan tubuhnya agar darah tak kembali masuk, tubuhnya yang semula kaku seperti dahan kayu perlahan melemas sendi-sendi nya berubah menjadi bubur. Rupanya kuncian di titik akupuntur sudah dilepas.
Wanita itu memaksakan tangannya untuk memukul d**a, berusaha menghilangkan sesak dan sakit di tenggorokannya. Tapi darah makin deras keluar melalui mulutnya.
"Bastard!!" Umpatnya melotot tajam.
Ucapan sembrono Permaisuri Zhang membawa bencana untuknya sendiri, darah tak henti-hentinya menyembur hingga dia tersedak beberapa kali. Permaisuri Zhang ingin duduk tapi tubuhnya lumpuh lagi-lagi dia tumbang setiap mencoba bangkit.
Kabut merah membuatnya semakin kesulitan dia tak bisa melihat apapun didepannya, tangannya menggapai sosok merah itu tapi dia hanya menggapai angin. Permaisuri Zhang menyeret tubuhnya sendiri berusaha setengah mati untuk mencari sosok yang membawa anaknya tadi, dia ketakutan akan kondisi bayi itu saat ini.
Sampai dia bernafas lega ketika tangannya menabrak kain tebal didepannya, buru-buru dia menggapainya. Memeluknya erat tak membiarkan orang itu pergi dari pandangannya, walaupun kabut itu belum sepenuhnya hilang tapi hanfu merah mencolok yang dipakai sosok itu meyakinkannya.
"Kembalikan anakku!!" Sepenuh tenaga berteriak.
"Aku tidak akan membiarkan monster sepertimu menyentuh anakku." Pria itu berkata dingin.
Zhang Zhenan memberontak, menarik hanfu dengan kencang sembari menggoncang tubuh pria itu.
"Kaulah monster nya!!"
"Monster bahkan melindungi anaknya Permaisuri Zhang, lalu mahkluk macam apa kamu?!" Pria itu menyentak kakinya hingga tangan Permaisuri Zhang terlepas.
Saat Permaisuri Zhang bermaksud ingin memeluk kaki panjang itu lagi tiba-tiba sebuah tangan besar menarik rambutnya ke belakang, reflek tangannya berpindah haluan berusaha melindungi kepalanya. Dia memegang tangan besar itu dengan kedua tangannya, memberontak tapi sia-sia pria itu bahkan tak mengendurkan tangannya.
Permaisuri Zhang berteriak frustasi, dia tertekan sejak awal hingga membuatnya putus asa. Dia tak lagi memberontak, dia benar-benar lelah, Zhang Zhenan ingin bangun dari mimpi buruknya biarkan dia kembali ke dunianya lagi.
Pria itu menyentak kepalanya kebelakang hingga Permaisuri Zhang menunjukkan wajah menyedihkannya yang beruraian air mata. Sedikit keterkejutan terlihat dari wajah pria itu, selama bersama Zhang Zhenan dia tak pernah melihat sisi rapuh wanita itu bahkan ketika berkali-kali wanita itu mendapat hukuman dia tak pernah menampilkan wajah putus asanya seperti ini.
Air mata itu beranak sungai, sorot matanya menatap penuh permohonan. Mulutnya bungkam walau sesekali darah segar masih keluar dari sela mulutnya.
"Apa yang kau tangisi permaisuriku?" Sarkasnya.
Zhang Zhenan diam tak membalas, matanya kosong menangkap bayi gemuk yang berada didalam gendongan pria itu. Bayi itu bahkan tak merasa terganggu sedikitpun dalam tidurnya, Zhang Zhenan bernafas lega setidaknya pria itu tidak menyakiti anaknya.
"Kembalikan dia padaku..."
"Lalu kamu akan menghabisinya juga? Mulai sekarang aku tidak mengizinkanmu untuk bertemu dengannya lagi."
Mendengar ancaman itu entah kenapa membuat Zhang Zhenan ketakutan, dia tidak tahu kenapa dia takut jika tak melihat bayi itu lagi padahal awal dia melihatnya dia sangat membenci bayi itu.
"Tidak." Kata itu spontan keluar dari bibirnya, memanfaatkan kelengahan Lord Gong Permaisuri Zhang sekuat tenaga berdiri menerjang tubuhnya kearah balita itu.
Dia melihat balita itu hampir ada digenggamnya sebelum akhirnya kekuatan besar mendorongnya hingga terjengkang kebelakang.
AKHH
"Jangan pernah menyentuhnya!! Dia tidak membutuhkan ibu kejam sepertimu."
Zhang Zhenan tersulut emosi, dengan tubuh terbaring di tanah dia mengatakan.
"Jika aku ibu yang kejam, lalu apa dengan dirimu? Kau bahkan tak bisa memperlakukan istrimu dengan baik lalu apa yang bisa kau lakukan dengan anak itu?!."
Mata pria itu melebar seolah yang dikatakan Permaisuri Zhang begitu menamparnya.
Belum cukup sampai disana Permaisuri Zhang kembali mengatakan.
"Apa kau pikir kau adalah orangtua yang baik?! Kau sama saja denganku, kau bersikap seolah kau layak menjadi ayah. Kaulah yang paling kejam disini laogong!! Kau meninggalkanku selama 7 bulan, terus menyiksaku dan mengurungku. Bahkan disaat aku mengandungnya saja kau tak pernah melihatku, kau tak pernah menyentuhnya ataupun melihatnya saat didalam kandungan. Apa kau pikir aku sebodoh itu? Kau bersenang-senang dengan wanita diluar sana dan pulang dimalam hari hanya untuk menyiksaku lalu pergi. Katakan padaku laogong, berapa wanita yang sudah kau tiduri selama kau mengurungku!!" (¹ Laogong: suami)
Tangis Permaisuri Zhang pecah begitu mengingat masa lalu kelam yang selalu ingin dia kubur, selama ini dia diam mati-matian mengunci mulutnya agar tak mengeluh pada siapapun walaupun pada akhirnya dia tak bisa menahan, mungkin ini adalah puncaknya saat beberapa minggu yang lalu dia menemukan surat cinta sang suami untuk tabib istana.
Lord Gong terlihat terkejut begitupula dengan Zhang Zhenan, satu persatu bayangan Permaisuri Zhang melintas dipikirkannya seperti serpihan klise, dia juga melihat surat dari serat kayu yang nampaknya sudah disimpan cukup lama sampai berdebu.
"Siapa yang membuatmu berpikiran seperti itu?! Menuduh kaisar adalah suatu kejahatan besar Permaisuri Zhang."
Zhang Zhenan diam tapi orang lain ditubuhnya memberontak seolah ingin menumpahkan semua beban hidupnya.
"Apa kau pikir aku bodoh!! Kau menunjukkan ke setiaanmu didepan orang lain tapi di belakangku kau b******u dengan wanita lain disaat aku mati-matian menjaga nyawaku agar bisa menumbuhkan nyawa lain dalam diriku, disaat kau sendiri bahkan tak menginginkannya."
"Apa kau sedang membalikkan cerita Permaisuri Zhang?! Kau mengatakannya dengan begitu menjijikkan, kau sendiri yang berusaha menggugurkan Gong Ling."
Permaisuri Zhang tertawa sebelum Lord Gong mengakhiri ucapannya, meludahkan darah yang masih bersemayam didalam mulutnya lalu menyipitkan matanya kearah Lord Gong.
"Lalu kenapa jika aku menggugurkannya? Bukankah ayahnya sendiri tak menginginkannya lalu untuk apa aku membuatnya tetap hidup, bukankah begitu laogong?" Menarik sudut bibirnya menyeringai menjijikkan.
Lord Gong semakin tersulut amarah ketika mendengar ucapan istrinya, dengan kecepatan angin dia berdiri disamping istrinya, menarik lengannya dengan kasar hingga wanita itu berdiri tepat menghadap wajahnya.
"Jadi selama ini kau hidup dalam racun Putri Zhang Zhenan? Kau membiarkan seseorang meracuni pikiranmu untuk membenci suamimu sendiri, apa kau tak paham Permaisuri Zhang? Aku tidak pernah mengatakan pada siapapun jika aku tidak menginginkan Gong Ling."
"Jadi apa sekarang kau akan mengkambinghitamkan orang lain? Bagaimana aku tidak percaya jika yang mengatakan adalah wanita yang begitu kau cintai dan begitu kau percaya Lord Gong!!" Teriak Permaisuri Zhang didepan wajah suaminya.
Lord Gong terdiam sejenak, matanya melebar beberapa kali seolah semua yang dikatakan istrinya begitu mengguncang dirinya.
"Jadi, jadi kau lebih mempercayai ucapan orang lain daripada suamimu sendiri?!"
Tawa Permaisuri Zhang menggelegar hingga membuat balita didalam gendongan pria itu menggeliat terganggu.
"Untuk apa aku mempercayaimu? Kita bahkan tak menyimpan perasaan satu sama lain lalu untuk apa menaruh kepercayaan padamu."
"Jadi kau tak pernah melihatku? Apa kau buta Xiaozhe!!"
Mata serigala itu terkulai, menatap Permaisurinya dengan mata terluka.
Lord Gong dikenal sebagai pria yang setia pada keluarganya, mencintai istrinya dan memujanya didepan setiap mata tapi siapa sangka istri yang dimaksud malah buta. Sama sekali tak melihat cinta dimatanya, walaupun selama menikah Lord Gong tertekan, lelah menghadapi istri keras kepalanya tapi dia tak pernah mengeluh, menyimpan semua kekesalan dan kemarahannya didalam hatinya.
Empat tahun mereka menikah selama itu pula Lord Gong menahan egonya berharap Zhang Zhenan merubah sifat keras kepala dan egoisnya yang dibawa sejak kecil. Berharap suatu hari dia bisa hidup saling mengasihi bersama istri dan keluar kecilnya.
Tapi semua kejadian malam ini menampar wajah Lord Gong, kenyataan seperti pil pahit yang harus dia telan. Bermaksud membangun sedikit demi sedikit rumahtangga berharap tak akan ada perpisahan tapi perbuatan Zhenan kali ini sangatlah fatal, dia membunuh penerusnya, darah dagingnya sendiri untuk yang kesekian kalinya.
Zhang Zhenan kembali meminum racun yang telah disembunyikan oleh kerajaan tiga tahun yang lalu saat Tuan Zhang berusaha menggugurkan bayi pertama mereka, dan wanita itu mengulanginya kembali. Namun sangat disayangkan kali ini Lord Gong gagal melindungi anak kembar mereka, kedua anaknya mati dengan mengenaskan diracun oleh ibunya sendiri.
Pria itu menatap nanar pada wajah Zhang Zhenan, haruskah dia memutuskannya setelah melihat tidak ada alasan yang membuat mereka hidup bersama lagi. Haruskah Lord Gong menyerah untuk mempertahankan rumahtangganya apakah dia harus mendeklarasikan perpisahan mereka, apakah ini waktu yang tepat untuk memutus pernikahan mereka yang tak pernah bahagia? Alasan mereka untuk berpisah sangatlah cukup, tidak ada cinta, tidak ada kepedulian, tidak ada kasih sayang lalu untuk apa mereka terus melanjutkan drama ini.
Mungkin ini sudah waktunya bagi Lord Gong untuk memutuskan, menceraikan Permaisuri Zhang lalu mengembalikannya ke Negeri Timur dengan status janda Kaisar ataukah menyimpan Zhang Zhenan didalam Harem istana lalu dia menikah lagi dan mengangkat istri barunya sebagi permaisuri pengganti. Tapi rasa-rasanya Lord Gong tak sanggup untuk berpisah dengan istri tercintanya, tapi dia juga tak sanggup harus menjalani lamanya pernikahan dengan cinta sepihak.
(Sejak awal diangkat menjadi Kaisar Lord Gong menolak adanya Harem di istananya, dia hanya akan menikahi satu istri yang akan dijadikan permaisuri, dia menolak banyak selir yang diberikan untuknya.)
Saat kata perpisahan membayangi pikirannya muncul wajah balita kecil yang selalu memeluknya sepanjang malam, dia meneguk ludah getir, mereka masih punya satu alasan untuk bersama. Melirik balita digendongannya yang tengah tertidur pulas apakah dia tega menceraikan ibunya disaat anaknya nyaman bergelung dalam mimpi, apakah di tega ketika anaknya membuka mata dan mencari-cari keberadaan ibunya tapi tak menemukannya. Gong Ling sangat mencintai ibunya, dia akan merajuk jika sehari saja tak melihat wajah ibunya, Gong Ling tak bisa tidur jika hanya ayahnya saja yang menemani. Gong Ling tidak suka nasi atau makanan lainnya seenak apapun itu Gong Ling lebih memilih ASI Zhang Zhenan.
Lalu jika Zhang Zhenan tak ada bagaimana Gong Ling bisa bertahan.
Tapi bukankah lebih baik membiasakan tanpa ibu sejak dini, daripada suatu hari putranya mengetahui jika ibunya adalah pembunuh berdarah dingin, bukankah lebih baik untuk berpisah dan menjauhkan putranya dari sang ibu.
Tapi, tidak semudah itu.
"Xiaozhe, kamu begitu kejam..." Bisik pria itu dengan suara bergetar, hanya itu yang bisa dia katakan ketika melihat apa yang telah dilakukan istrinya.
Dia menatap Zhenan dengan wajah penuh air mata, sorot matanya penuh akan kekecewaan. Pria itu bingung, sedih dan kecewa menjadi satu, pikirannya seperti benang kusut. Dia lelah dan berharap semua ini hanya mimpi, tapi ketika melihat Zhang Zhenan yang berdiri dengan hanfu penuh bercak darah membuat dia tak bisa berpikir jika ini hanya mimpi, kenyataan menamparnya. Anak kembarnya mati ditangan ibu mereka sendiri.
Semakin memikirkannya semakin menghancurkan hati, tubuh pria itu jatuh terduduk disamping Zhang Zhenan. Tubuh jangkung itu sekarang terlihat ringkih, tubuhnya bergetar seiring air mata yang jatuh membasahi pipinya. Sesekali kepalanya menggeleng ironis sembari memejamkan matanya rapat hingga menciptakan kerutan. Menengadahkan wajahnya kelangit seolah mengadu pada Tuhan, dia tak pernah mengeluh dengan urusan negeri tapi dia rela menitikkan air matanya untuk istri yang tak pernah mencintainya.
Lama dia menangis menghadap langit tapi hanya angin sepoi-sepoi yang menampar wajahnya, malam ini begitu berat Lord Gong tak sanggup.
"Apa yang kau lakukan padaku?" Protes Zhang Zhenan saat sendi ditubuhnya melebur lagi, Zhang Zhehan kembali jatuh ke tanah dengan tubuh lemas.
Segera Lord Gong menangkapnya, menaruh kepala Zhang Zhenan kepangkuannya, memandang wajah cantik yang selalu dia puja diam-diam setiap harinya dengan sendu. Memetakan wajahnya menyimpan dalam memori ingatan agar dia tak melupakan wajah orang yang paling dia cintai itu.
Tangannya membingkai wajah cantik istrinya, jemari panjangnya menjepit helaian rambut lalu menyelipkan ke telinga istrinya. Jemarinya turun ke bibir ranum yang setiap hari mengomel, dia akan merindukannya. Begitu banyak kenangan yang ingin dia simpan didalam memori.
Lord Gong menjatuhkan kepalanya diatas perut buncit Zhang Zhenan, mengelusnya beberapa kali berharap mendapat respon tendangan seperti biasanya tapi lagi-lagi dia harus menelan pil pahit ketika hanya kekosongan yang dia temukan.
Satu persatu air mata keluar dari sudut matanya hingga akhirnya tangisan semakin keras terdengar hingga sesenggukan, tak ada lagi kata malu untuk seorang ayah yang baru saja kehilangan kedua anaknya. Lord Gong menenggelamkan wajahnya ke perut Zhehan hingga suaranya tangisnya teredam menyisakan dengungan.
"Anakku kembalilah.... Baba sudah lama menunggumu." (² Baba=ayah)
Diciuminya perut buncit itu dengan lembut dan sesekali mengelusnya pelan, perut buncit Zhang Zhenan adalah tempat favoritnya ketika malam hari disaat Zhenan tidur dia akan menyelinap untuk menyapa kedua anaknya, Zhenan tidak suka Lord Gong ada disekitarnya ketika malam hari sehingga dia harus mencuri-curi waktu menunggu Zhang Zhehan tertidur pulas barulah dia bisa memeluknya erat, tapi mulai sekarang dia tak akan bisa melakukan momen manis itu lagi.
Menciumnya lebih dalam sebelum akhirnya mengubur wajah itu lagi kedalam perut Zhang Zhenan.
Zhang Zhenan kembali pada dirinya sendiri, dan saat dia sadar dia menemukan pria itu bersemayam diatas perut besarnya, pria itu menangis? Kenapa? Apa yang terjadi pada pria itu.
Rasa sakit dan kehilangan menjadi satu, tapi dia bodoh karena dia tak mengerti pada perasaannya sendiri. Rasa sakit itu datang menghantam hatinya tanpa dia tahu apa sebabnya, dia hanya merasa sakit ketika mendengar setiap perkataan yang keluar dari mulut pria itu. Zhang Zhenan membenci rasa iba, tapi kali ini dia merasa iba pada dirinya sendiri, dia merasa sangat bodoh pada suatu hal tapi dia tidak tahu apa kebodohan yang sudah ia lakukan.
'Apa yang terjadi padaku?' Batinnya berkecambuk.
Dadanya sesak seperti ditimpa ribuan ton gandum, dia ingin memukul dadanya tapi pria sialan itu belum melepas kunciannya. Dadanya naik turun dengan cepat seolah kehilangan nafasnya, Zhang Zhenan membenci perasaan ini. Dia tidak ingin menjatuhkan air mata didepan orang lain, dia tidak ingin terlihat mengenaskan tapi air mata itu terus membentuk memenuhi matanya hingga mengaburkan pandangan, sekuat apapun dia menahan air mata itu tetap jatuh disaat rasa sakit dan sedih mencapai batasannya.
Apa yang telah hilang darinya? Siapa yang pergi darinya? Kenapa dia merasa kehilangan yang begitu dalam. Dia tak mengerti tapi seolah hatinya sangat mengerti apa yang tengah terjadi, air mata terus bergulir dari sudut matanya membasahi rambutnya.
'Kenapa sangat sakit?' Hatinya menjerit kesakitan.
Kedua pemimpin negara itu menangis bersama didalam gudang yang gelap.