Chapter [10]

2082 Kata
Perlahan Zhang Zhenan bisa memahami keadaan yang tengah dialami keduanya, kesalahpahaman Permaisuri Zhang kepada suaminya mulai terungkap. Semua pikiran buruk yang ditanamkan sejak bertahun-tahun lalu mulai menemui kebenaran, Lord Gong tidak pernah membenci kehamilannya, Lord Gong mencintai anaknya, Lord Gong menginginkan anaknya lahir. Melihat betapa hancurnya pimpinan negara itu membuat Zhang Zhenan sadar jika Lord Gong bukanlah orang yang patut disalahkan disini, Permaisuri Zhang lah yang menyimpan kebencian kepadanya.  Musuh dalam selimut sukses menghancurkan keduanya, sekarang nasi sudah menjadi bubur, kata penyesalan tak ada gunanya. Hanya saja melihat seorang pria dewasa menangis membuat relung hatinya penuh sesak, baru kali ini dia melihat seorang pemuda yang memiliki tanggungjawab besar untuk anaknya, pemuda itu lebih muda dari usia Permaisuri Zhang ataupun Zhang Zhehan tapi cara dia memperlakukan anaknya seolah pemuda itulah yang melahirkannya. Hancurnya pemuda itu sama seperti hancurnya seorang ibu yang melihat anaknya mati didepan mata kepala mereka sendiri. "Kembalilah..." Lord Gong tak ada hentinya bergumam, memohon seperti orang frustasi sembari menggendong balita di dekapannya. Zhang Zhenan tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang, dia yakin pemuda itu pasti membencinya, dia tidak bisa melakukan apapun untuk menghentikan tangis pemuda itu hanya rasa kasihan dari Zhang Zhenan dan penyesalan mendalam Permaisuri Zhang dapat dia rasakan dihatinya. "Maaf..."  Memandang langit-langit gudang yang dipenuhi sarang laba-laba, pria itu menghentikan tangisnya ketika mendengar suara lembut Zhang Zhenan. Pria itu mengangkat kepalanya dan menatap Zhehan dengan mata bengkak. Bibir pemuda itu gemetar dan air mata kembali berjatuhan ketika melihat wajah pucat istrinya, dia tak tahu lagi apa yang harus dia lakukan setelah ini. Semua angan-angan untuk memiliki keluarga kecil yang bahagia pupus sudah, keinginannya untuk memiliki satu istri yang setia kepadanya dan anak-anak gemuk yang cantik dan tampan, kini dia bahkan tak bisa membayangkan kedepannya seperti apa hidupnya. Kehilangan dua anak diwaktu yang bersamaan sudah menghancurkan hatinya apalagi kedua anaknya sengaja dihabisi oleh ibunya sendiri saat masih berada di dalam kandungan. "Harapan terbesarku kini hanya mimpi semata, aku harap saat aku bangun aku melihatmu dengan perut besar dan Xiaoling berbaring di sampingku. Aku harap kita bisa membangun rumah sederhana dengan keluarga kecil didekat gunung dan menghabiskan masa tuaku dengan bahagia walau diantara kita hanya memiliki sedikit cinta. Tapi kenapa tuhan tidak pernah mewujudkan mimpi sesederhana itu? Aku sangat bahagia ketika tuhan memberikanmu sebagai istriku, aku menerima semua sifat keras kepalamu. Tapi tuhan tidak membiarkan kebahagiaanku berlangsung lama, saat sangat senang saat membaca surat yang dikirim ibuku dia mengatakan jika sebentar lagi aku akan segera menjadi ayah. Saat itulah pertama kalinya aku ingin pulang ditengah medan perang, aku menahan rindu berbulan-bulan sampai akhirnya perang selesai dan aku langsung memacu kudaku dimalam hari. Baju zirah masih melekat ditubuhku dan luka basah masih meneteskan darah, kau tahu? Saat ibu dan ayah melihatku digerbang istana mereka memarahiku, seharusnya aku menunggu matahari terbit tapi rasa rinduku sudah dipuncak. Aku mengabaikan mereka, setelah mengganti baju zirahku aku segera berlari kehalaman istanamu. Mencarimu disetiap sudut istana tapi yang kutemukan kau malah terkapar berulumuran darah dilantai kamarmu. Aku sangat khawatir, aku menangis sepanjang malam karena kamu tak kunjung membuka matamu. Tapi kekhawatiran ku berubah menjadi kemarahan saat tabib mengatakan kau sengaja meminum pil pelebur janin, kau berusaha membunuhnya!!" Tangis Zhenan pecah, melihat ingatan Lord Gong muda dengan mata sembab tertidur pulas disampingnya. Dia tak tahu jika pemuda itu menemaninya selama 3 hari tak sadarkan diri, pemuda itu menolak makan dan tidak mau beranjak dari ranjangnya. "Kau tahu betapa hancurnya perasaanku?! Aku buru-buru pulang ke istana hanya untuk melihatmu berusaha membunuh anakku, aku pulang mengendarai kuda sendiri tanpa perlindungan prajurit, aku bisa mati kapan saja jika musuh menyerang. Tapi aku tak menghiraukannya....... Beruntung tuhan melindungi Xiaoling dari ibunya yang kejam." Pelukannya pada balita itu mengerat, seolah membayangkan jika dia tak segera pulang mungkin dia tak akan bisa menyelamatkan bayi selucu ini. Jemari lentiknya menelusuri pipi bulat putranya, mengingat balita inilah yang akan mati membuat kenangan peliknya terungkap lagi. Balita itu bahkan lahir prematur karena usaha menggugurkannya diwaktu masih janin, tapi bersyukur putranya kini tumbuh sehat dan gemuk, alasan itulah yang membuat Lord Gong begitu memanjakan putra sulungnya, karena dia hampir kehilangannya. "Lalu kini kau mengulanginya lagi, tak hanya satu kau membunuh keduanya." Balita itu menggeliat ketika air mata sang ayah berjatuhan diwajahnya, hangat pikirnya. Sampai dia merasakan sapuan bibir ayahnya di sekujur wajahnya yang anehnya balita itu tak terganggu malah semakin mendekatkan tubuhnya ke sang ayah, memaksakan lengan kecilnya agar bisa mengurung sang ayah, balita itu nampak sekali tak ingin dijauhkan dari ayahnya, pahlawannya. Kasih sayang begitu besar diantara mereka bisa dirasakan Zhang Zhenan, membuatnya semakin sesak, tak hanya mencoba menghabisi nyawa anak pertamanya kini dia juga menghabisi nyawa kedua bayi kembarnya. Zhang Zhenan merasakan otot-ototnya mengendur, rupanya Lord Gong melepas kuncian akupuntur namun dia tak punya kekuatan. Membiarkan kepalanya berbaring dipangkuan sang suami, menatap langit-langit berhias sarang laba-laba. Melihat takdir yang seolah mempermainkan mereka. Keduanya tak ada yang bersuara keheningan menenggelamkan keduanya dalam pikiran masing-masing. Sorot matanya menilik langit-langit gudang sampai matanya bertemu dengan rambut panjang suaminya, rambut panjang berjatuhan diperutnya karena pria itu menunduk. Jemari Zhang Zhenan mencoba meraih helaian rambut halus itu tapi belum sampai menyentuh sehelai jemarinya ditangkap lebih dulu oleh pria itu. Anehnya Zhang Zhenan tidak berusaha menarik jemarinya, dia malah menautkan jemarinya dengan jemari lentik sang suami. Merasakan dinginnya telapak tangan Lord Gong, memasukkan jemarinya ke sela-sela jemari yang kosong hingga dentingan cincin giok bertabrakan. Giok putih berserat merah berkilau dibawah sinar rembulan, telunjuknya menyapu giok yang terasa licin di kulitnya. Turun membelai garis tangan milik pria itu tapi pria itu menarik tangannya, melepas tautan jari mereka membiarkan tangan Zhenan jatuh diatas perutnya. Zhang Zhenan sedikit kecewa, mendongak dan menemukan pria itu tengah memandangnya. Mata merah dan sembab menghapus kesan c***l yang sebelumnya ditampilkan pria itu, kedunya cukup lama bertukar pandang dan tak ada seorangpun yang berniat memutusnya. Lord Gong mengatupkan mulutnya, "Putri Zhang, bukankah lebih baik kita berpisah?" Wajah pria itu tak berubah sedikitpun, mengucapkannya tanpa emosi. Sedangkan Zhang Zhenan seperti tersambar petir, tubuhnya mengejang setelah mendengar ucapan pria itu. Bukankah pria itu mengatakan jika dia mencintainya lalu kenapa sekarang pria itu berniat menceraikannya, Zhenan menggigit bibirnya tak bisa mengatakan apa-apa. Pria itu berucap tanpa beban seolah menawarkan pakaian padanya, Zhang Zhenan reflek memiringkan wajahnya. Semua indranya terasa sakit, matanya berkabut seiring air mata yang menumpuk. Mulutnya mengatup rapat tak berniat mengatakan apapun tapi wajahnya menjawab semuanya. Zhang Zhenan membiarkan pria itu berbicara dan tak berniat menyela sepatah katapun, dia ingin mendengar apa yang akan keluar dari mulut pria itu selanjutnya. "Bukankah kamu senang mendengarnya, Permaisuri Zhang? Ini yang kau inginkan sejak awal pernikahan. Pernikahan kita hanya dilandaskan tanggungjawab dan bukan cinta lalu untuk apa kita meneruskannya?! Kamu tak bisa menerimaku dan anak-anakku, bahkan kau menyingkirkan anak yang ada didalam perutmu. Bukankah perpisahan adalah keputusan yang tepat?!" Bibir Zhang Zhenan bergetar, giginya bergemelatuk dan matanya tak bisa fokus. Dia memejamkan matanya rapat-rapat dan air mata langsung meluncur deras, Zhang Zhenan begitu kesakitan tapi pria itu tak mengerti apa yang membuat Zhang Zhenan menitikkan air matanya. "Kenapa menangis? Apa kau senang?" Sarkas pria itu. Zhang Zhenan membenci ini, mati-matian dia menyembunyikan air matanya agar pria itu tak melihatnya menangis tapi tetap saja dia kesulitan membendungnya.  Tangis Zhenan semakin keras karena pria itu memaksanya mendongak, Zhang Zhenan mendorong tangan pria itu yang menggenggam rahangnya tapi tangan kokoh itu tak bergeming. Pria itu berhasil mematahkan lehernya, sekarang Zhenan tak bisa menyembunyikan tangisnya. Dia benci terlihat rapuh tapi pria itu menggertaknya membuat Permaisuri Zhang merasa dipojokkan. "Kenapa menangis?" Tangan besar pria itu menepuk pipinya, menyeka air mata yang meleleh dilehernya. Zhang Zhenan tidak tahu kenapa emosinya begitu terguncang setelah pria itu mengatakan perceraian. "Jika, jika aku mengatakan aku tidak bersalah, aku tidak membunuh siapapun... Apa kau akan percaya? Apa kau akan tetap menceraikanku?" Suaranya putus-putus dan terdengar mengerikan. Lord Gong sedikit terkejut dengan apa yang dikatakan Zhenan, seolah istrinya berusaha menghalang-halangi perpisahan mereka. Apakah Zhang Zhenan tidak ingin mereka berpisah? Lord Gong baru akan merasa bahagia tapi saat merasakan dinginnya botol digenggamannya membuat pria itu yakin akan keputusannya untuk berpisah. Mengangkat botol keramik didepan wajah Zhenan kemudian pria itu membantingnya kelantai, botol keramik itu pecah dan isinya berhamburan, butiran kecil bewarna hitam seperti biji kapas menggelinding di kaki Zhang Zhenan seperti mengejeknya. Zhang Zhenan memandang nanar butiran hitam itu, jadi yang diberikan tabib itu adalah racun. Bodoh sekali dia mempercayainya, seharusnya dia tak mempercayai wanita itu begitu saja. "Bukankah racun itu membuktikan segalanya?" "Jadi kau tak percaya?" "Bukankah kau juga pernah melakukan hal yang sama pada putramu ini?" Pria itu mengencangkan pelukannya pada balita digendongannya hal itu menarik perhatian Zhenan, hatinya mencelos melihat wajah balita yang nampak tenang dalam tidurnya, balita yang beberapa jam lalu memanggilnya ibu tapi apa yang dia lakukan, dia pernah berusaha membunuh balita itu juga. "Jadi apa yang kamu inginkan? Perpisahan?" Zhang Zhenan menarik kesimpulan. "Bukankah kamu senang? Kamu tidak pernah mencintai saya dan tidak ada ruginya jika kita berpisah.." suara pria itu sedikit bergetar diakhir kalimat perpisahan. "Untuk apa pernikahan berlangsung jika hanya saya yang mencintai tapi orang lain tidak?"  Pria itu terlihat teguh ketika mendeklarasikan perpisahan tapi matanya tak bisa berbohong, pria itu nampak sakit dan hancur. Dari semua yang dikatakan pria itu hanya satu yang bisa Zhang Zhenan simpulkan. "Apa kamu tidak mencintai saya?"  Nampak keterkejutan terlihat jelas di wajah pria itu, siapa yang menyangka seorang Zhang Zhenan yang tak pernah luluh dengan kata cinta kini menagih perasaannya. "Apa yang selama ini kulakukan tidak cukup untuk membuktikan cintaku? Tapi bukankah semua sia-sia? Jikapun hari ini kamu menyatakan cintamu padaku aku tak akan luluh Zhenan, hatiku sudah mati bersama kedua anakku." Pria itu berkata dingin. Zhang Zhenan mencoba menguatkan hatinya yang tiba-tiba seperti disiram air panas, puluhan belati dihujam ke hatinya bersamaan. Darah tak terlihat mengucur tapi menggambarkan betapa sakit yang dirasakan Zhang Zhenan saat ini. Mungkin ini hanya ilusi tapi Zhang Zhenan membiarkan hatinya yang mengambil alih. Rasanya begitu sesak di d**a, dia merasa kehilangan tapi dia tidak tau mengapa, dia tak mengenal pria ini tapi perpisahan adalah hal yang sulit, matanya beralih pada perut buncit yang baru dia sadari beberapa saat lalu, dia benar-benar mengandung. Mengelus perut buncit itu dengan pelan dan perlahan kasih sayang tumbuh dihatinya, dia tak lagi perduli dengan semua keanehan ini karena sebentar lagi anak-anak itu akan kehilangan ayah dan ibu mereka. Perut itu tak ubahnya bola yang membesar namun tidak ada isi didalamnya, hanya membentuk bulatan namun diisi dua mayat suci yang terbunuh dengan cara tak manusiawi. "Sebesar apa penyesalanmu, itu tidak akan mengubah fakta jika bayi itu telah meninggal di tanganmu sendiri." Tangis Zhenan pecah, fakta yang diucapkan pria itu sangat menyakitkan. Menghakimi Zhang Zhenan yang tak sengaja melakukan kesalahan yang tidak diketahuinya, Zhang Zhenan menggigil dalam tangisnya rasanya hancur dan menyakitkan, semua tinggal penyesalan dan tak bisa kembali, bayi kembar malang itu meregang nyawa di usianya yang masih 5 bulan. Dengan tak acuh pria itu mengangkat kepala Permaisuri Zhang dari pahanya lalu membaringkannya ke tanah yang kotor. Zhang Zhenan panik, takut jika pria itu meninggalkan sendirian.  Menggapai kaki pria itu menjadikannya tumpuan, saat dia berusaha duduk sebuah daging lembut terasa keluar dari dalam tubuhnya namun berhenti diantara selangkangannya. Tubuhnya menegang, Zhang Zhehan mengeratkan tangannya ke kaki panjang Lord Gong, ketakutan begitu merasakan cairan dingin perlahan mengalir dari pangkal pahanya lalu menembus kain.  Warna merah gelap seketika menghentikan tangisan Zhenan, racun itu bereaksi. Matanya melebar saat cairan kental bewarna merah berlomba-lomba keluar membasahi hanfunya. Zhenan menangis ketakutan karena darah itu tidak bisa berhenti dan lama-lama menciptakan kubangan disekelilingnya, kakinya terasa lengket dan kubangan dibawah pantatnya semakin meluas seperti ingin menenggelamkan Zhang Zhenan, anehnya dia tidak ada merasakan sakit sama sekali seperti mengeluarkan air kencing membuat Zhang Zhenan kebingungan. Melepaskan salah satu tangannya dari kaki Lord Gong, dengan bodoh berusaha menghentikan darah dengan menekan pangkal pahanya tapi usahanya sia-sia darah itu terus mengalir hingga gudang itu dipenuhi bau anyir. Zhang Zhenan menjerit melihat banyaknya darah yang keluar, tangan di pangkal pahanya berusaha mendorong daging lembut itu kedalam perutnya lagi. Tapi begitu tangannya menyentuh gumpalan daging tubuhnya membeku, dia memegang bagian tubuh dari calon bayinya yang belum sempurna. Tiba-tiba Permaisuri Zhang menjerit hingga mengejutkan pria disampingnya, Zhang Zhenan menggoncang kaki pria itu, memohon pertolongan. "TOLONG AKU TOLONG DIA LAOGONG!! Mereka tidak boleh mati, kembalikan mereka kedalam perutku..."  Zhang Zhenan melolong menyedihkan ketika pria itu hanya menatapnya datar, mengacuhkan permintaan tolong nya. "Tolong aku laogong.... Aku mohon, tabib pasti bisa menyembuhkannya. Bawa aku ke tabib terhebat di kota ini suamiku, laogongku.... Bukankah kau mencintai mereka, lalu kenapa kau hanya diam?!!" Zhang Zhenan terus menjerit sembari menangis hingga Lord Gong terpaksa menampar wajahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN