Chapter [11]

3341 Kata
Tamparan Lord Gong hanya membuat wanita itu berhenti menjerit sejenak sebelum akhirnya wanita itu kembali menangis. Permaisuri Zhang menangis pilu memohon bantuan pada pris itu tapi pria itu hanya diam dan menatapnya dingin seperti melihat Permaisuri Zhang layaknya pengemis yang meminta-minta, pengemis itu merangkak mendekati Lord Gong dengan tubuh berlumuran darah. "Kumohon padamu, mereka tidak boleh mati!!" Pria itu hanya memandangnya tanpa ekspresi, tidak berusaha menjauh ataupun mendekati Permaisuri Zhang yang tengah berjuang menggapainya. "Mereka sudah mati." Bisiknya bengis. Lord Gong benar-benar kehilangan cinta untuknya. Permaisuri Zhang mengelak, berusaha tak mendengar kata yang diucapkan pria itu. Dengan susah payah Permaisuri Zhang menggapai pria itu sampai akhirnya tangan kotor berhasil menarik lapisan hanfu merah di lengan suaminya, Lord Gong melihatnya tanpa ekspresi saat darah di jemari mengalir dan menetes ditangannya yang pucat.  Darah ditangan Zhenan sangat kontras dengan kulit pucat milik Lord Gong, tangan itu mengguncang lengan kokohnya berharap mendapatkan perhatian Lord Gong. Lord Gong akhirnya mau melihatnya tapi hati Zhenan semakin mengecil ketika Lord Gong melihatnya seperti sampah, tak berharga dan tak lama lagi akan dibuang.  Tangis Permaisuri Zhang semakin kuat saat menyadari tak ada lagi jalannya untuk kembali, kesalahan yang telah dia lakukan tak bisa diampuni, percobaan pembunuhan kepada calon pangeran mahkota dan pembunuhan kepada dua keturunan kaisar. Zhang Zhenan tak ubahnya penjahat yang lebih kejam dari pada pengkhianat kerajaan, hukuman mati rasanya tak pantas untuk seorang pembunuh keturunan kaisar, Zhang Zhenan harusnya diarak keliling kota dan disiksa sampai mati. Permaisuri Zhang tak mampu membayangkan hukuman apa yang akan diterimanya, tapi daripada memikirkan hukuman Zhang Zhenan lebih memikirkan nasib dirinya yang tak bisa lagi melihat Gong Ling, putra kecilnya yang manis. Walaupun dia pernah tak menginginkannya tapi semua berubah begitu saja saat bayi itu lahir, dia seolah menaruh nyawanya pada bayi itu, dia sangat mencintainya dan sama sekali tak mau jauh darinya begitupun Gong Ling. Putra kecilnya itu tak mau jauh darinya, hampir 24 jam Gong Ling selalu ada disampingnya entah Zhang Zhenan tidur ataupun Zhang Zhenan mengurus keperluan istana Gong Ling selalu ada bersamanya, dia tidak pernah mau menjauh kecuali ibunya memaksa. Gong Ling akan uring-uringan jika seharian saja tak melihat ibunya, lalu bagaimana jika Gong Ling tak akan pernah bisa melihatnya lagi. Gong Ling tak akan bisa menemukannya dikamar saat dia mencarinya, Gong Ling tak akan bisa menemukannya di aula istana, di singgasana ataupun di seluruh penjuru istana. Lalu apa yang akan terjadi pada balita sekecil itu, Zhang Zhenan tak sanggup membayangkan Gong Ling menangis seraya memanggilnya. Siapa yang akan merawat Gong Ling saat dia sakit, siapa yang akan menyusuinya saat dia tak ada. "Xiaoling, maafkan ibu...." Lord Gong membuang muka mendengar gumaman Permaisuri Zhang, saat ini kata maaf tak ada gunanya, kata maaf tak akan bisa mengembalikan nyawa kedua anaknya ataupun luka dihatinya terutama luka di hati Gong Ling saat balita itu dewasa nanti. Zhang Zhenan tak layak jadi permaisuri yang seharusnya menjadi panutan bagi rakyat maupun warga istana, Zhang Zhenan tak seharusnya memimpin istana belakang karena dosanya terlalu besar. Dia akan menerima semua hukuman, tapi yang memberatkan hatinya saat dia memikirkan..... "Tolong, jangan jauhkan aku darinya. Aku akan menerima semua hukumanmu tapi tolong jangan jauhkan aku darinya...... Dia nanti akan menangis jika tak menemukanku dimana-mana, dia nanti akan kelaparan karena dia tak mau memakan masakan istana, dia nanti-" "Bukankah lebih baik jika dia tak melihatmu sejak dini? Dia akan terbiasa dan jika nanti sudah dewasa dia akan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan dia benar-benar akan melupakanmu." "Tidak!! Jangan lakukan itu!" Hati Permaisuri Zhang hancur mendengar apa yang dikatakan pria itu, dia tak mampu dibenci putranya sendiri. "Bukankah lebih baik menderita sejak dini daripada saat dia besar nanti, disaat dia terlalu menyayangimu tapi kau malah melukai hatinya. Xiaozhe apa yang akan kau katakan nanti padanya? Apa kau akan mengatakan jika kau berusaha membunuhnya saat didalam kandungan?!"  "Cukup! Hentikan!" Permaisuri Zhang menutup telinganya, tangisnya semakin pecah. Menyandarkan kepalanya pada kaki Lord Gong, dia tak kuat lagi menopang tubuhnya. "Kau bisa melakukan apa saja, kau bisa menceraikan ku..... Aku tak akan menghalangi, kau pun bisa menikah dengan wanita yang kau cintai kau bisa menikahi siapa saja kau bisa memiliki istri sebanyak mungkin.... Aku tak akan melarang mu, tapi kumohon..... Jangan biarkan dia membenciku, aku tak akan bisa menatap matanya nanti...." Permaisuri Zhang hampir kehilangan suaranya. Dia berusaha membujuk dengan halus, mengatakan apapun yang sekiranya bisa meluluhkan hati beku suaminya. Tapi siapa sangka setiap kata yang diucapkan Zhang Zhenan ternyata menggores luka baru di hati Lord Gong.  Pria itu menendang Zhenan sampai terlepas dari kakinya, Zhang Zhenan tak bisa berbuat banyak dia terbaring lemah karena emosi menggerogotinya. Belum sampai dia memproses apa yang dilakukan Lord Gong padanya, tiba-tiba sebuah tangan besar menggapai rahangnya menariknya, memaksa dia duduk dan Zhang Zhenan yang tak punya kekuatan hanya bisa mengikuti arah Lord Gong seperti boneka kayu. "Katakan sekali lagi dan aku benar-benar meremukkan rahangmu Zhang Zhenan!!"  Permaisuri Zhang ketakutan karena Lord Gong mengeraskan wajahnya, wajah tampan itu berubah bengis dan siap menghancurkannya kapan saja. Rintihan keluar dari bibir tipis Zhang Zhenan saat tangan Lord Gong menekan kekuatannya di rahang kecil Zhenan, jemari panjang yang menekan mulai menimbulkan lebam kemerahan disekitar rahang. Mata basah Permaisuri Zhang melebar saat dia merasakan tulangnya sedikit bergeser, dengan panik dia memukul-mukul tangan Lord Gong, mencoba kabur. Jeritan pilu Permaisuri Zhang menggema hingga keluar gudang, beberapa pelayan dan prajurit disekitar tempat itu menelan ludah. Mereka hafal pemilik suara itu, Zhang Zhenan Permaisuri mereka. Sejak puluhan prajurit tumbang dan menciptakan keramaian dikalangan prajurit istana dan pelayan mereka berbondong-bondong datang ke sekitar gudang walaupun mereka mengambil jarak lumayan jauh. Mendengar jeritan Permaisuri Zhang barusan mereka yakin jika sesuatu yang mengerti tengah terjadi, tangan mereka berkeringat dingin membayangkan apa yang dilakukan Lord Gong pada istrinya didalam sana. Kali ini apa yang dilakukan Permaisuri Zhang hingga membuat Lord Gong meradang, sore tadi Permaisuri Zhang membuat gempar dikalangan istana maupun rakyat. Akibat Zhang Zhehan kepala prajurit yang tak bersalah dipenggal dan di gantung di alun-alun istana, lalu apa lagi yang dilakukan Permaisuri Zhang sekarang. "Aku benar-benar mengkhawatirkan Permaisuri, aku takut Lord Gong kalap dan melukainya." Salah satu pelayan disana bersuara, lainnya mengangguk cemas. "Kamu menyakitiku!!" Mereka melompat ditempat, benar dugaan mereka kekerasan sedang terjadi didalam sana. Lord Gong dengan kejam menekan rahangnya, bisa dipastikan sebentar lagi rahang Zhang Zhenan remuk jika saja Lord Gong tak mengendurkannya pada detik itu. Air liur mengalir mengotori tangan Lord Gong. Zhang Zhenan tak bisa menelan salivanya karena rahangnya ngilu luar biasa. Mata Permaisuri Zhang terkulai sendu saat Lord Gong menariknya hingga mempertemukan matanya dengan wajah bengis suaminya. Belum cukup, Lord Gong kembali meraup wajahnya hingga kedua hidup mereka bertabrakan. "Beraninya!! Beraninya kau menyuruhku menikah! Beraninya kau menyuruhku memiliki banyak wanita! Beraninya kau meragukan kesetiaan Kaisar Utara Zhang Zhenan!.... Aku sengaja hanya menikahi satu wanita, aku sengaja tidak menciptakan harem di istanaku agar kau yang menjadi satu-satunya Zhang Zhenan! Aku menolak setiap gadis yang diberikan para penguasa untukku agar kau tahu hanya kau satu-satunya yang menjadi jantung Kaisar Utara, tapi..... Kau malah menyuruhku menikah dengan banyak wanita, kau benar-benar tak menghargai perasaanku Permaisuri Zhang." Setiap kata yang keluar dari mulut bergetar Lord Gong menarik jiwa Zhang Zhenan dari kewarasannya. Zhang Zhenan bisa merasakan rasa sakit di setiap kata Lord Gong, dia baru menyadari jika dia juga sudah menghancurkan orang ini, Permaisuri Zhang sungguh tak berguna. Zhenan menutup matanya, tersedu menyedihkan sembari menjatuhkan wajahnya disisi wajah suaminya. Terasa dingin saat Permaisuri Zhang menempelkan hidungnya di pipi suaminya yang lebih muda, menggores pipinya pelan dan mencium ringan sisi kanan wajah Lord Gong. Zhang Zhenan merasakan asin di mulutnya, dia membuka matanya dan melihat cairan bening jatuh dari sudut mata suaminya. Suaminya menangis, Lord Gong yang dikenal tegas dan bengis di medan tempur kini menangis dihadapan istrinya, betapa jahatnya Zhang Zhenan pada suaminya. Kali ini Lord Gong menunduk membuat setetes air mata jatuh di pipi Zhang Zhenan, matanya sayu menunjukkan kata-kata yang diucapkan Zhang Zhenan benar-benar melukainya.  Permaisuri Zhang memejamkan matanya membawa bibirnya untuk membelai pipi suaminya, mencoba mengobati luka hati sang suami. Zhang Zhenan tidak tahu jika ulahnya membuat Lord Gong hampir menjatuhkan bola mata, selama menikah Permaisuri Zhang tidak pernah berinisiatif untuk menciumnya, setiap bertemu hanya ada umpatan dan makian yang diberikan bibir itu padanya. Lord Gong tidak pernah menyangka bibir itu akan digunakan untuk mencium wajahnya, menenangkannya layaknya anak kecil. Lord Gong hampir jatuh hati sampai dia teringat kesalahan Zhang Zhenan. "Maafkan aku, suami...." Bisik Zhang Zhenan sembari terus menyapukan bibirnya. Lord Gong seperti berdiri di seutas tali, dia mencintai Zhang Zhenan tapi dia juga tak sanggup untuk membencinya namun keadaan memaksanya untuk membenci. Lord Gong tak bisa berbuat apapun selain diam, memandang Zhang Zhenan dan sesekali air mata masih jatuh di wajah cantik istrinya. Zhang Zhenan sama sekali tak keberatan, melihat tangis suaminya tak kunjung berhenti Permaisuri Zhang membawa bibirnya untuk mencium mata suaminya. Lord Gong menurut dan memejamkan mata, dia akan merenggut kebahagiaannya dari diri Zhenan sebanyak mungkin sebelum mereka berpisah, biarkan dia merasakan cinta istrinya walau itu hanya tipuan, dia akan menikmati waktunya bersama istri tercintanya walau sebentar. Saat kehangatan menenggelamkan mereka tiba-tiba suara langkah kaki mendekati gudang, satu persatu langkah kaki meyakinkan Lord Gong jika ada banyak orang yang menuju kemari, dalam kegelapan dia bisa melihat hanfu emas terseret di tanah. Ibu Permaisuri, ibunya. Lord Gong memandang Zhang Zhenan yang masih memejamkan matanya, ini saatnya tak ada waktu lagi. Tangannya membelai pelipis sang istri pelan hingga mata Zhang Zhenan terbuka, senyum istrinya begitu lembut membuat Lord Gong tak sampai hati tapi tak ada jalan lain jika dia ingin melindungi istrinya dari Ibu Permaisuri.  Permaisuri Zhang tersenyum menyambut ciuman suaminya disudut matanya, Zhang Zhenan tentu saja memejamkan matanya menikmati kehangatan yang diberikan sang suami. Tapi keadaan berubah mencekam saat Gong Jun berbisik di telinganya.  "Berjanjilah padaku, apapun yang terjadi jangan berteriak. Terus pejamkan matamu, jangan sesekali membukanya." Nafas bergetar Lord Gong membuat perasaan runyam. Senyum Permaisuri Zhang perlahan luntur, wajahnya menyiratkan kebingungan tapi dia menuruti ucapan Lord Gong. Dia belum sempat memproses ucapan pria itu ketika tangan besarnya membelai pelan puncak perutnya yang bulat. Kulit Zhang Zhenan meremang merasakan sensasi dingin menusuk kulitnya tapi dia tidak berniat membuka mata. Tangan itu berputar diatas perutnya kemudian menjalar turun hingga ke pahanya. "Gong Jun...." Panggilan cemas. Permaisuri Zhang tidak tahu apa yang akan dilakukan pria itu, cemas dengan cepat menggenggam pergelangan tangan pria itu sebelum turun semakin jauh  Tunggu sebentar, sejak kapan dia mengetahui nama pemuda itu?. "Gong Jun...." Panggilnya lagi. "Apapun yang terjadi, jangan membuka matamu." Suara dalam Lord Gong membuat Zhang Zhenan tak betah memejamkan mata, dia memutuskan membuka matanya saat tangan besar itu menyibak hanfu di betisnya. Tangan Zhenan terlepas, dia kebingungan mencari pegangan sampai tangan Gong Jun menggapainya, membawanya ke sisi pinggang Gong Jun menggenggam hanfunya. Tubuh Permaisuri Zhang kaku saat tubuhnya dijatuhkan ke paha Lord Gong, pikirannya berkecamuk cemas menanti apa yang akan terjadi selanjutnya. Gong Jun menempatkan tubuh Zhang Zhenan ke posisi yang nyaman. "Jangan mengeluarkan suara, biarkan dia berbaring di tubuhmu..." Gong Jun terus berbisik membuat Zhang Zhenan ketakutan, dari siapa mereka bersembunyi. Zhang Zhenan menerima berat badan Gong Ling di dadanya, memeluk balita itu dengan salah satu tangannya. "Pejamkan matamu." "Kenapa?"  Gong Jun tak menjawab, Zhang Zhenan mau tak mau mengikuti kata Lord Gong. Tubuh Zhenan kejang setiap kulit dingin Lord Gong menyentuh kakinya, angin dingin membelai telapak kakinya yang telanjang. "Akhh..." Kakinya reflek menendang karena tangan asing menyentuh paha dalamnya, riak darah terciprat kemana-mana. "Tahan, jangan mengeluarkan suara."  Kepalanya mengangguk patuh. Kedua kakinya reflek merapat saat Gong Jun berusaha masuk semakin ke dalam, tapi Gong menahan kakinya. Menekuk kedua kakinya hingga kaki Zhenan terbuka lebar, seketika angin malam menusuk. Zhehan berusaha melawan tapi kekuatannya terkuras sejak awal. "Gong Jun..." Panggilnya cemas. Lord Gong bisu melihat linangan darah keluar semakin deras saat dia membuka kedua kaki Zhang Zhenan, nafasnya mendesah kasar melihat darah itu keluar seperti air yang keluar dari selang. "Gong Jun...." Lord Gong merasakan tangan Zhenan mengerat dipinggangnya. Kali ini pemuda itu kehilangan kata-kata, dia melihat kubangan darah merendam Zhang Zhenan tapi anehnya wanita itu tak merasa kesakitan. Obat itu pasti dirancang dengan efek bius agar korbannya tak merasakan sakit sehingga pertolongan lambat. Ragu-ragu Lord Gong membawa tangannya ke celana basah ingin melepasnya, walaupun beberapa kali dia pernah melihat kupasan daging dibalik kain itu dia tetap canggung. Terlebih Zhang Zhenan pasti menolaknya mentah-mentah, dan benar saja baru dia menyentuh pinggiran kain wanita itu sudah menendang. "Gong Jun..." Wanita itu memasang wajah tak nyaman, ingin menangis sekaligus malu. "Jangan melawan, aku akan menyelesaikannya dengan cepat." Zhang Zhenan tidak mengerti maksud pria itu, apa yang akan dia lakukan. Lord Gong berhasil melepas tali celana basah itu dan begitu kainnya terbuka dia melihat hal mengejutkan disana, Lord Gong mendengus seraya membuang wajahnya. Emosi kembali bergetar, gumpalan daging merah menyala yang hampir membentuk struktur tubuh tersangkut disana. Jabang bayinya, calon penerusnya, keturunannya terlihat mengenaskan didepan matanya sendiri. Lord Gong kesusahan menelan saliva nya sendiri karena emosi didalam d**a. Dia kembali melihat wanita itu yang sudah bergetar diatas pangkuannya, wanita itu terlihat sangat ketakutan sampai-sampai keringat dingin menetes. Tangannya menyentuh pelipisnya lembut, Permaisuri Zhang mendengar suara robekan kain dan tak berapa lama pemuda itu menyodorkan kain tebal kedalam mulutnya seraya berbisik. "Jika merasa sakit, gigit kainnya. Jangan berteriak."  'Apanya yang sakit?' Permaisuri Zhang ingin bertanya tapi kain ini menghalangi suaranya. Dia tidak tahu apa yang akan dilakukan pemuda itu padanya, Zhang Zhenan bernafas kasar setiap tangan pemuda itu menyentuh kakinya, kedua kakinya dilebarkan dengan posisi memalukan tapi dia tak bisa berbuat banyak karena Gong Ling. Lord Gong menghela nafas berkali-kali sebelum membawa tangannya ke gumpalan daging itu tapi baru beberapa jengkal tangannya sudah bergetar tak karuan, Lord Gong mendesah frustasi kemudian mendaratkan pukulan lemah pada paha Zhang Zhenan, wanita itu memekik kecil terdengar ketakutan. "Pejamkan matamu!"  Zhang Zhenan buru-buru memejamkan matanya, kondisinya yang tak bisa melihat membuat Indra nya semakin peka, dia seolah tahu dimana tangan Lord Gong bergerak, dia tak bisa melakukan apapun kecuali mengeratkan tangannya. "Ingat! Jangan berteriak!" Zhang Zhenan belum sempat merespon sampai tangan Lord Gong berulah, awalnya tak terasa apapun hanya risih namun perlahan rasa pedih menyengat. Apa yang akan dia lakukan, apa yang akan dilakukan pemuda itu pada bayinya?. Pikirannya berkecambuk sampai akhirnya Lord Gong benar-benar menunjukkan maksudnya, menekan perutnya hingga Zhang Zhenan terpaksa membuka matanya, tak bisa menahannya lagi Permaisuri Zhang menjerit kesakitan, suaranya teredam kain di mulutnya tapi Permaisuri Zhang mendorong lidahnya hingga kain itu keluar. "Kau gila!" Mendengar teriakan Zhang Zhenan, Lord Gong buru-buru membungkamnya dengan tangan. Memaksa Permaisuri mengatupkan mulutnya. Permaisuri memberontak, Lord Gong membentak, keduanya benar-benar berantakan sampai Zhenan menggigit telapak tangan Lord Gong hingga robek. "Jangan berteriak!" "Itu menyakitkan! Sebenarnya apa yang coba kau lakukan!" "Aku akan mengeluarkan mereka...."  Zhang Zhenan berhenti memberontak, kepalanya berdengung memproses ucapan Lord Gong cukup lama. "Kamu! Jangan lakukan apapun pada mereka!" Zhang Zhenan ketakutan setengah mati, dia mengerti maksud Gong Jun. Gong Jun ingin mengeluarkan anaknya dari perutnya, Gong Jun sudah tak waras. Dia ingin membunuh anaknya, Zhang Zhenan berusaha melarikan diri tapi Lord Gong dengan cepat menangkap tubuhnya. Gong Ling merengek dalam tidurnya, mendengar kedua orang tuanya berseteru membuat bayi itu kesal. "Tidak! Biarkan mereka didalam perutku." Zhang Zhenan menendang, mengigit dan mencakar membuat Lord Gong terpaksa memukulnya. "Mereka sudah mati Xiaozhe!"  Keduanya terdiam, nafas saling beradu. Zhang Zhenan termenung sembari mengelus perut besarnya kemudian matanya turun melihat kubangan darah dibawahnya. "Tidak..." "Ya, mereka mati.... Mereka sudah mati, kau tak akan bisa melihat mereka lagi." Ucap Gong Jun menekan setiap kalimat yang keluar dari mulutnya. Mata Permaisuri Zhang memperlihatkan kekecewaannya, bibirnya bergetar dan air mata tumpah kembali. Tangis Permaisuri Zhang tak terdengar, terlalu sering menangis membuat tenggorokannya sakit. Lord Gong membawa Permaisuri Zhang kedalam pelukannya, membawa kedua orang yang dicintai dalam perlindungan, biarkan dia melindungi mereka sebelum melepasnya pergi. Tubuh Zhang Zhenan merosot, kehilangan tenaga dan banyak darah. Lord Gong dengan cepat mengambil alih Gong Ling, membalut putranya dalam sutra magis merah lembut kemudian menidurkannya di lantai gudang. Dia kembali kesebelah Zhang zhenan melihat kondisinya yang semakin memperihatinkan, pemuda itu tak bisa menolong karena efek racun yang mematikan bisa dilihat dari pembuluh darah ditangan Zhang Zhenan berubah hitam. Pemuda itu hanya bisa menetralisir racun agar tak menyebar ke tubuh Zhang Zhenan tapi dia tak bisa mencegah kematian kedua anaknya. Pemuda itu tak sanggup lagi menahan tangisnya ketika darah ikut merendamnya, Pemuda itu tak bisa berbuat lebih tidak ada pengobatan yang bisa mengembalikan nyawa orang yang sudah meninggal. "Maafkan aku..." Zhang Zhenan berbisik di dadanya, dia sangat ketakutan karena darah itu tak mau berhenti. Tangannya menggenggam dengan kuat saat tiba-tiba pandangannya mengabur namun kelegaan sedikit diarasakan Zhenan karena pria itu membalas genggaman tangannya, tangan besar itu melingkupi jari-jarinya. Kini keduanya terendam dalam kubangan darah, warna hanfu yang biasanya bersinar ketika menyentuh darah lawannya kini hanfu itu meredup, nampak kusam dan kehitaman. "Xiaozhe, setelah ini pergilah sejauh mungkin. Jangan biarkan ibu permaisuri menemukanmu, lupakan semua yang pernah terjadi anggap kau tak mengenal saya..." Pria itu tersedak air matanya sendiri, membayangkan dalam sisa hidupnya berpura-pura tak pernah mengenal sosok Zhang Zhenan, melepaskan wanita itu pergi dan mereka tak akan pernah bertemu satu sama lain. Mungkin setelah ini dia akan membuat ramuan penghilang ingatan agar dia tak terpuruk dalam sisa hidupnya karena mengingat wanita yang pernah jadi istrinya ini. Zhang Zhenan tak jauh berbeda, dia mengerang dalam tangisnya. Sosok didalam raganya hancur ketika mendengar suaminya bermaksud mengusirnya dari kerajaan, dia benar-benar akan berpisah dengan suaminya dan dia tak akan bisa bertemu dengan anaknya lagi. Belahan jiwanya, darah dagingnya dia akan kehilangan semuanya, sosok dalam dirinya memberontak tak terima. Dengan sisa kekuatan dia mengerahkan suaranya walau serak yang keluar. "Aku mencintaimu, Junjun!! Saya tidak akan pergi..." Itu bukan Zhang Zhenan, dia tak merasa mengatakan apapun, ini sosok lain dalam dirinya. "Kamu tak mungkin bisa mencintaiku. Aku akan segera membawamu pergi dari sini." "TAPI AKU MENCINTAIMU." "Jangan berlindung dibalik cintamu, Zhang Zhenan. Jangan menggunakannya sebagai tameng, kerajaan akan tetap membunuhmu walaupun kamu mengatakannya seribu kali." Tangan besar pria itu menelusuri wajah Zhang Zhenan, mengusap air matanya lembut walau meninggalkan jejak darah tapi Zhang Zhenan menepisnya, dia marah. Suaminya tak bisa mempercayai cinta istrinya lalu untuk apa dia berusaha menyembunyikan kesalahan sang istri dengan membuangnya. Dia kasihan dengan sosok didalam raganya, walaupun sosok Permaisuri Zhang tak mengatakan apapun padanya tapi Zhenan bisa merasakan apa yang sudah dialami sosok itu. Pernikahan mereka yang tidak bahagia terlintas seperti klise kehidupan, dia bisa melihat sosok ini juga menyimpan rasa pria berhanfu merah namun tak ada kesempatan untuk mengutarakan perasaannya. Sosok ini mengatakan cintanya disaat yang tidak tepat hingga membuat pria itu salah paham. Kakinya ingin lari tapi pria itu memegangnya dengan kuat, memaksa kepala Zhang Zhenan untuk terbaring di pangkuannya, tangan pia itu bersarang diatas perutnya dan terus memberi belaian lembut hingga membuat mata Zhenan terasa berat. 'Tidak, ini tipu muslihat.' Batinnya berteriak melawan tapi matanya semakin berat dan berat. "Aku akan mengeluarkannya sebelum kamu pergi." Suara berat pria itu membuat jantungnya berdetak tak karuan. Tubuhnya mengejang saat tangan besar pria itu tiba-tiba meluncur ke pangkal pahanya. AKHH "Jangan, biarkan dia didalam perutku." Suaranya lirih dan hampir tak terdengar. Tetapi pria itu tak menggubrisnya, tangan pria itu terus bekerja membuat tubuhnya mengejang beberapa kali merasakan sakit yang seolah menarik jiwanya. "Maafkan aku..." Pemuda itu menitikkan air matanya, mungkin ini adalah saat-saat terakhir Zhang Zhenan bisa melihatnya. Permaisuri Zhang hampir terpejam tapi dia masih bisa mendengar ucapan pria itu dengan jelas. Wajah pria itu mendekat dan mencium dahinya dengan lembut, di separuh kesadarannya Zhang Zhenan bisa merasakan air mata pria itu yang jatuh ke pipinya. Pria itu menangis membuat Zhang Zhenan diterpa rasa bersalah, pria itu sangat mencintai keluarga kecilnya tapi pria itu terpaksa harus berpisah untuk melindungi nyawa istrinya dari kekejaman Ibu Permaisuri. Perpisahan yang tak diinginkan keduanya.  Akankah tuhan mempertemukan mereka kembali? Akankah tuhan membiarkan dia melihat wajah suaminya lagi. Cinta mulai tumbuh disaat yang tidak tepat, tak ada yang tersisa penyesalan pun tak bisa mengembalikan semuanya. "Aku mencintaimu, Jun..." Bisik Zhang Zhenan sebelum kegelapan menelannya.  Air mata meluncur saat mata aprikot itu menutup, Lord Gong mengusapnya, menjatuhkan ciuman lembut di dahi istrinya tak perduli air mata jatuh di pipi sang istri, dia memandang sendu wajah pucat itu. "S-saya.... Juga sangat mencintaimu...... Selamanya." 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN