Chapter [12]

2167 Kata
"Zhenan!! Apa yang kau lakukan?" Saat ini didalam ruangan rawat inap VIP nomer 3 tengah berlangsung ketegangan antara dokter muda dan seorang pasien, kedua orang itu nampak bersinggungan dan berselisih paham namun tidak tau dari mana akar permasalahan yang terjadi, seorang pria dewasa dan dua perawat juga nampak bersitegang ketika melihat kedua orang itu nampak ingin beradu pukulan. Sebelumnya tak ada masalah yang terjadi dokter dan perawat melaksanakan jadwal pemeriksaan seperti biasa, hari ini waktunya pengecekan tekanan darah dan kondisi jantung. Semua berjalan normal, dokter meletakkan diafragma (bagian berupa membran tipis dan datar di ujung kepala stetoskop, yang terbuat dari piringan plastik berbentuk lingkaran) stetoskop kedada pasien namun ketegangan terjadi saat pasien yang sudah 2 hari koma itu tiba-tiba sadar dan langsung menggapai tubing (bagian dari stetoskop yang berbentuk tabung tipis dan panjang menyerupai selang, yang berfungsi untuk menyalurkan suara) yang melingkar dileher sang dokter hingga membuat dokter muda itu hampir tersungkur. Saking kerasnya tarikan pasien itu membuat kaca mata yang bergantung dihidung mancung milik sang dokter jatuh dan pecah, semua memekik terkejut. Tentu saja siapa yang tidak akan kaget jika seorang pasien yang koma tiba-tiba bangun dan langsung ingin membunuh seseorang didepannya. Dokter muda itu juga sama terkejutnya namun dia segera menormalkan raut wajahnya dan menciptakan sikap profesional kembali, senyum profesional ia berikan pada pasien itu seakan memaklumi namun pasien gila itu tak kunjung melepas tarikannya pada leher sang dokter membuat dokter dengan tinggi tak manusiawi itu membungkuk kesusahan, memegang erat pinggiran brankar untuk menahan tubuhnya agar tak menabrakkan wajahnya ke wajah pasien gila itu. "Dokter, dokter tenang ya... Dia hanya sedikit sakit setelah terjatuh kemarin." Xiao Yu memasang wajah terpelintir, senyum diwajahnya tertahan seperti orang ingin buang air besar. Senyum simpul diberikan sang dokter diiringi anggukan kecil seolah paham dengan kondisi pasiennya, tapi dokter itu tak bisa menyembunyikan sorot tidak suka dan bingung dimatanya membuat Xiao Yu memukul tangan itu dengan keras hingga majikannya mengaduh. Rupanya majikannya ini kerasukan, sejak dia sadar perhatiannya hanya tertuju pada sang dokter, dia bahkan tak melirik Xiao Yu sedikitpun walau pria itu memukulnya berkali-kali hingga meninggalkan rasa kebas ditangannya. "Zhenan, lepaskan. Jangan membuatku malu." Geram Xiao Yu dibalik giginya. Dokter rupanya mendengar dan lagi-lagi Dokter menghadiahkan senyum palsu yang membuat Xiao Yu semakin malu, seumur-umur menjadi asisten Zhenan dia tidak pernah dipermalukan sampai seperti ini. "Tenanglah, dia hanya sedikit shock." Suara halus nan tenang dokter sedikitnya mampu menyembunyikan wajah malu Xiao Yu, setidaknya Xiao Yu lega karena dokter itu memaklumi majikannya. "Zhang Zhenan..." Xiao Yu memanggil lewat angin berharap majikannya akan menghentikan hal memalukan ini, dia tak sanggup ketika melihat wajah mereka yang menyisakan jarak sejengkal, saking dekatnya hingga dia bisa melihat nafas mereka menyembur menjadi satu. Tak tahan, Xiao Yu mendekatkan wajahnya ke telinga pasien itu untuk membisikkan sesuatu berharap orang lain tak mendengar.  "Zhenan, jika kamu ingin menciumnya aku benar-benar akan mengajukan pensiun dini. Dokter sudah menikah Zhenan, aku bisa mencarikanmu anjing jalanan kalau kamu ingin berciuman, tolong selamatkan wajahku..." Tapi Xiao Yu mengeluh terlalu kencang hingga kedua perawat wanita yang berdiri didekat nakas mendengarnya dengan jelas, mereka tertawa kecil sembari berjalan kebelakang menyembunyikan pipi mereka yang memerah. Bukan apa-apa tapi memang pemandangan didepan mereka sangat ambigu, pasien itu seolah ingin mencium dokter mereka. Mereka mencoba berpikir dan bersikap se-normal mungkin tapi apalah daya pikiran mereka berlarian kemana-mana. Sebenarnya mereka juga ingin menyelamatkan sang dokter dari keanehan ini tapi apa yang harus mereka lakukan ketika dokter saja hanya diam dan tidak berniat melawan, mereka tau jika dokter muda ini adalah dokter yang professional dan menjadi idola dirumah sakit, mulai dari dokter, perawat, pasien dan anak-anak sangat menyukai dokter satu ini. Dokter ini dikenal ramah dan sangat menyukai anak-anak ditambah wajahnya yang rupawan membuat siapa saja ingin dirawat dokter itu lebih lama. Tapi siapa sangka dokter ini akan terjebak dalam situasi ambigu bersama seorang wanita tua, astaga jika orang lain tahu pasti seisi rumah sakit akan heboh. Dokter mereka yang rupawan nampaknya mampu membelokkan hati wanita dewasa. Sialan, semakin memikirkannya membuat kedua pipi mereka memerah. Dokter kembali mengalihkan perhatiannya pada pasien itu kemudian memberikan beberapa kali tepukan pelan di bahunya, tidak lupa dia juga menunjukkan senyum simpulnya. Namun dokter itu mengambil langkah yang salah, saat satu tangannya terangkat untuk menepuk bahu pasien dia lupa jika satu tangan saja tak mampu menahan beban tubuhnya, untuk se-perkian detik dia mengingat masalah itu dan buru-buru mencari pegangan lain namun terlambat karena pasien itu menariknya terlebih dulu. Mata anak anjing miliknya melebar terkejut, wajah pasien itu terlihat semakin membesar dan dalam beberapa detik dia bisa mencium nafas hangat menerpa wajahnya. Bibir merah namun kering mendadak jadi perhatiannya saat detik-detik wajah mereka akan bertubrukan, otaknya mendadak lambat dan telinganya berdengung tetapi reflek yang dimilikinya cukup bagus, dia tahu kemana wajahnya akan mendarat segera saja dia menghindari letak sensitif dengan cara membungkam bibir pasien itu dengan tangannya, dan... BLAMM AKHH Jidat mereka berbenturan dengan keras hingga menimbulkan bunyi nyaring, tak butuh waktu lama untuk membuat dahi mereka benjol dan memerah. Pasien itu mengumpat keras dan dokter itu menggeram rendah sembari memegang dahinya. Pasien gila itu secara otomatis melepas tarikannya dan dokter segera menjauhkan tangannya pergi dari brankar, kedua perawat itu memejamkan matanya saat adegan tak senonoh hampir terjadi tapi begitu mendengar umpatan pasien membuat mereka sadar dan segera berlari menghampiri sang dokter. "Dokter Huang, anda tidak apa-apa?" Pertanyaan bodoh tapi dokter itu hanya tersenyum kecil sembari mengguncang tangannya memberitahukan bahwa dia tidak kenapa-kenapa untuk saat ini. Ya, wibawa harus dijaga apalagi dia adalah dokter yang memiliki banyak penggemar jadi dia harus memiliki etika yang baik didepan orang banyak walaupun sekonyong-konyong dia ingin membenturkan kepala pasien gila itu ke aspal. Tapi dia menutupi kejengkelannya sebaik mungkin, dia adalah panutan untuk orang banyak tidak mungkin dia melakukan hal sekeji itu kepada pasien walaupun dia sangat ingin. "Apa setelah terjatuh mentalmu bermasalah, Zhang Zhenan coba jawab aku?!" Omelan seorang pria menarik perhatian semua orang di ruangan itu, mereka melihat Xiao Yu memarahi pasien itu dan sesekali memukul pahanya, dia juga ikut menggosok benjolan di dahi itu dengan kasar seolah menumpahkan semua kekesalannya. Dokter muda yang melihat kesalahan penanganan pada pasiennya segera mendekat dan menginterupsi Xiao Yu. "Tuan, jangan menggosoknya terlalu keras itu akan membuat dahinya lecet."  Xiao Yu berkompromi tapi sebelum meninggalkan Zhenan dia menghadiahkan satu pukulan pada benjolan itu membuat pasien diatas ranjang mengerang kesakitan. Sang dokter hanya menggelengkan kepala dengan senyum yang dipaksakan karena masih merasakan sakit. "Tolong maafkan dia dokter." Menahan malu Xiao Yu menyingkir. Sang dokter memberi anggukan kecil kemudian berjalan mendekati Zhang Zhenan, pria itu rupanya belum menyadari kehadiran orang lain disekitarnya dan masih menggerutu sembari menggosok benjolan di dahinya, suara gesekan yang diciptakan tangan Zhenan menimbulkan kernyitan di dahi dokter muda. Karena rasa kemanusiaan sebagai dokter kontan saja dia menghentikan tangan Zhang Zhenan, menarik tangan itu kemudian menggantikan tangannya yang sekarang menyentuh benjolan di dahi Zhang Zhenan. Merasa diganggu pasien gila itu terusik, dia menghadiahkan tatapan tajam ke dokter itu namun sang dokter membalasnya dengan senyum kecil membuat Zhang Zhenan naik pitam. Tangan yang bertengger ringan di dahinya ia tepis hingga menciptakan bunyi 'splash' , dokter itu terkejut memandang Zhang Zhenan tak percaya, kenapa pasien rumah sakit jiwa bisa dibawa ke rumah sakit umum. Mengetahui air mukanya berubah dokter muda segera mengembalikan wajah profesional dan kembali memajang senyum simpul, dengan penuh perhatian dia bertanya. "Tuan, apa anda merasa baik setelah bangun dari koma? Apa yang anda rasakan saat ini?"  "Pahit."  Sontak saja jawaban yang diberikan Zhang Zhenan membuat empat orang disana memasang wajah bodoh, dokter muda ingin menjalankan kewajibannya dan kembali bertanya penuh perhatian. "Emm, apa maksud anda tuan? Apa yang pahit? Apa mulutmu pahit? Itu hal wajar karena anda tak makan selama dua hari." Zhang Zhenan tersenyum culas mendengar penuturan sang dokter, berani sekali dokter ini terus memasang senyum pokernya didepan sang diva. Bertanya ini dan itu ingin terlihat profesional untuk merebut hati pasien? Ah jangan harap dia akan luluh dengan perhatian palsu yang diberikan dokter itu. "Iya mulutku pahit, mulutku pahit karena tanganmu bodoh!!" 'Zhenan, mati saja kamu' Jerit batin Xiao Yu yang tengah menggigit pinggiran sofa. Dokter itu diam dan terlihat bingung tetapi sesaat kemudian dia teringat dengan kejadian beberapa waktu lalu yang membuat dia terpaksa membungkam mulut pasien gila itu. Ah, dia mengingatnya. Sebelum datang kekamar pasien dia harus memakai cairan antiseptik dan rasa pahit di mulut Zhang Zhenan pasti karena cairan antiseptik yang menempel di mulutnya. Agaknya hal itu membuat dokter tersenyum tanpa sadar, tanpa sengaja dia sudah membalas dendamnya. "Ah, maaf sepertinya mulut anda terkena cairan antiseptik. Cairan itu berbahaya jika tertelan, lebih baik anda segera berkumur. Tapi setidaknya cairan antiseptik itu bisa membersihkan mulut kotor anda..." Tersenyum culas. Zhang Zhenan menatap dokter itu tidak percaya begitu pula dengan Xiao Yu dan kedua perawat. Dokter Huang dikenal sebagai pria yang santun tapi hari ini Dokter Huang menampilkan sisi yang berbeda. Tak terima dirinya digertak tentu saja emosi Zhang Zhenan tersulut. "Berani sekali kau berkata tidak sopan padaku!! Saya bisa saja mencopot nametagmu dari sini lalu menendangmu keluar, kau hanya anak muda berani sekali menyuruhku ini dan itu anda pikir saya pembantumu?!" Keadaan semakin runyam saat Zhenan berteriak, untung saja ruang inap Zhang Zhenan ada dilantai paling atas jika tidak orang itu akan memancing kegaduhan. Xiao Yu menyaksikan majikannya kumat, dia pasrah dan memilih menonton Zhang Zhenan sambil menggigit ponselnya. Pasti sebentar lagi ramai, pikir Xiao Yu. Zhang Zhenan adalah wanita dengan sumbu pendek, setitik api bisa membangkitkan mulut beracunnya tapi dokter ini malah menyiramnya dengan bensin, belum saja dokter ini habis dilalap api. "Saya ini artis terkenal, saya bisa mendepakmu dari sini jika saya mau-"  "Kalian pergilah dari sini, berikan saya dan pasien ini privasi sehingga saya bisa merawatnya dengan baik." Dokter Huang berbalik menghadap kedua perawat dan Xiao Yu mengacuhkan cerocos pasiennya, mereka patuh dan segera keluar dari tempat itu begitupun dengan Xiao Yu, dia keluar setelah perawat meyakinkannya jika majikannya butuh pengobatan ekstra, astaga sekarang Zhang Zhenan memiliki penyakit mematikan. Melihat asistennya meninggalkan dia sendirian hanya karena perintah dokter muda membuat Zhenan naik pitam, berani sekali dokter itu menyuruh orangnya seolah tidak menganggap siapa majikan disini, sok mau jadi bos rupanya. "XIAO YU!! Kembali!!" Teriak Zhang Zhenan penuh emosi karena Xiao Yu menuruti begitu saja perintah sang dokter. Tapi asisten tak tahu balas budi itu lari setelah mendengar panggilan Zhenan, sampai diambang pintu asistennya memberikan tatapan penuh penyesalan yang dibuat-buat membuat Zhang Zhenan melempar bantal kearah pintu. Sialan, sekarang dia harus terjebak dengan dokter membosankan ini. Begitu pintu ditutup hanya hening yang tersisa, suara ketukan sepatu pantofel Dokter Huang bergema saat kakinya melangkah mendekati Zhang Zhenan, sampai disamping brankar dia mengecek infus yang berjalan tak normal karena pasien itu terus bergerak seperti orang gila. Selesai dengan infusnya dokter itu mengalihkan perhatiannya pada Zhang Zhenan, menatapnya lamat-lamat seolah berusaha mengingat. Zhang Zhenan yang ditatap se-demian rupa sontak menaikkan salah satu alisnya, melihat dokter itu tak kunjung memutus kontak mata membuat Zhenan tertawa sumbang. Matanya menyipit lalu mendekatkan wajahnya ke dokter itu. "Saya mengerti jika saya cukup cantik, tapi maaf saya tidak tertarik berhubungan dengan makhluk sejenis anda. Jika anda mengajak saya berkencan ditempat ini lebih baik saya pindah rumah sakit." Seperti biasa, Zhang Zhenan yang penuh keajaiban dan kepercayaan diri. Dokter itu tersenyum culas kemudian berdecih, dia tak terkejut seperti yang Zhang Zhenan harapkan. Hampir semua orang asing yang mendengar ucapannya pasti melotot tak percaya atau bahkan mengumpat tapi tidak dengan Dokter Huang, sepertinya dokter muda itu sudah pernah bertemu dengan orang semacam Zhenan. Zhang Zhenan mendengus saat dokter itu bersikap seolah tak tertarik dengan ucapannya, dokter itu mengabaikannya dan memilih menjalankan tugasnya. Mata Zhenan memicing memperhatikan setiap gerak-gerik dokter itu, jari-jari panjang itu terlihat ahli mengoperasikan alat-alat kesehatan yang minim dalam pengetahuan Zhang Zhenan. Dibalik bulu matanya Zhang Zhenan mengintip wajah dokter muda itu, diam-diam dia memperhatikan wajah rupawan milik sang dokter ketika memeriksanya, dokter itu akan menyatukan alisnya saat menemukan atau melihat kesalahan pada pemeriksaan medisnya, dalam hati Zhenan membatin. Siapa sangka dengan rambut pendek pria itu akan terlihat tampan juga, tak ada eyeliner merah dan lainnya hanya wajah natural tapi terlihat lebih tampan berkali-kali lipat. Zhenan mendengus, dia masih ingat dengan jelas bagaimana rupa pria berhanfu merah itu. Menjengkelkan, sejak dia bangun dari komanya dia melihat pemuda yang sama yang ada dalam mimpinya, apakah itu bisa disebut mimpi Zhang Zhenan pun tak tahu karena tidak ada mimpi yang terasa begitu nyata seperti tadi. Zhang Zhenan sibuk dengan pikirannya sendiri hingga tersentak saat jari-jari panjang milik dokter menyentuh kulit dadanya, begitu dingin hingga membuat tubuhnya kaku. Kontan saja matanya langsung memicing waspada, menarik kerah bajunya dan membuat jari dokter tergelincir. Jari itu mengambang di udara, pemiliknya melayangkan protes lewat mata tapi Zhang Zhenan tidak bergeming dan tetap menarik kerah lehernya. "Tuan, saya hanya ingin memeriksa jantung anda tolong ijinkan saya." Suaranya terdengar jengkel. Zhang Zhenan tak kalah jengkel, dia mendelik seperti orang tua yang memarahi anak mereka. "Halah! Cari alasan saja. Kau pria m***m! Bagaimana aku bisa mempercayaimu?!"  Sekilas bayangan wajah m***m Lord Gong terlintas dipikirannya membuat Zhang Zhenan bergidik ngeri, pasti pemuda ini tak jauh berbeda dari Lord Gong di mimpinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN