Mengangguk, Arini menatap nanar ke arah sang ibu. Air matanya belum benar-benar berhenti setelah ia usap kasar. Bekas tangisan panjang sejak pagi masih jelas menghiasi wajah pucatnya. Kelopak matanya membengkak. Bibirnya kering, pucat. Tubuhnya juga terasa makin lemah setelah muntah berulang kali beberapa hari terakhir. Ditambah, beban pikirannya makin berat karena kondisi kedua orang tuanya. Ruang rawat inap itu dipenuhi aroma obat-obatan yang membuat Arini harus menahan mualnya mati-matian. Lampu putih di langit-langit ruangan terasa terlalu terang bagi mata Arini yang sejak tadi terus panas menahan tangis. Matanya perih. Ia duduk di kursi kecil yang berada di tengah dua ranjang rumah sakit. Satu tangannya masih digenggam Narsih, sementara tangan satunya lagi bertengger di atas pe

