Bunyi menyeramkan itu membuat seseorang yang setia duduk di samping ranjang tersebut menarik napas panjang. Kedua tangannya menggenggam erat sebelah tangan si pasien yang masih saja menutup kedua matanya entah sejak kapan itu. Orang itu sendiri saja lupa, kapan tepatnya dia berada di sini, menemani si pasien, menunggu dengan harapan yang begitu besar agar pasien tersebut membuka kedua matanya. Dia benar-benar tidak tega dan tidak sanggup melihat berbagai macam alat penyokong kehidupan melekat pada tubuh pasien itu. Seandainya waktu bisa diputar kembali, tetapi dia tahu semua itu tidak akan pernah terjadi. Kata pepatah, semua kejadian pasti ada hikmahnya. Everything happens for a reason. Tapi, kenapa dia justru tidak bisa menemukan alasan dibalik kejadian menyeramkan ini? Ken

