Bab 4

1501 Kata
2018 Pagi hari yang sangat cerah, Luna sedang berbaring di tas ranjang tempat tidurnya bersama dengan selimut yang menyelimuti seluruh tubuhnya, dia sama sekali belum sadar bahwa cahaya matahari yang sudah berusaha membangunkan dengan cahaya paginya yang terpancar dari jendelanya, Luna yang tampaknya lelah membuka matanya sedikit bangun sebentar dan melihat cahaya matahari yang masuk ke kamarnya, tetapi matahari tetap kalah karena gadis itu tertidur lagi akibat aura kemalasannya yang bertumpuk, setelah sinar matahari pagi masih ada suara ayam jantan berkokok yang tetap tak bisa mengalahkan kemalasan tubuhnya yang sepertinya sangat capai. Tiba-tiba tanpa ada aba-aba sedikitpun suara iam weker yang berada di samping ranjang tidurnya berbunyi dengan keras aehingga memekikan telinganya dengan sangat keras. Entah karena dia sedang bermimpi atau apalah itu, yang jelas Luna yang mendengar suara keras itu langsung tersentak kaget dan langsung jatuh dari kasur tidurnya dengan b****g yang menyentuh ke lantainya membuat wanita ini berteriak. Wajahnya seketika berubah menjadi ngilu dan mulai mengusap bokongnya yang sekarang sangat panas dan dia merasa tulang ekornya akan mencuat keluar. Sekarang Luna sudah bangun dengan rasa ngilu yang begitu hebat di bokongnya membuat dia marah ke arah matahari yang seharusnya tak bersinar seperti ini. Luna mendengus dengan kesal karena matahari sedang mempermainkan karena di luar walaupun sudah ada cahaya matahari tetapi di luar sana terlihat masih subuh. Wanita itu menatap ke arah jam weker miliknya yang sudah membangunkannya di jam yang kurang tepat, ingin rasanya dia melempar jam weker miliknya dari arah jendela atau menghancurkan benda itu walaupun cuma benda Luna pun akhirnya mengambil jam weker miliknya dan membuang jam weker tak berdosa itu di tempat sampah. Jika jam weker ini memiliki ia pasti akan menangis. Luna merasa sangat jengkel atas pagi harinya yang membuat dirinya bangun seperti zombie. Tentu, lagi pula Luna sedang bermimpi bahwa dia sedang menjadi seorang putri yang direbut oleh pangeran yang sangat tampan bak negeri dongeng. Padahal, diujung mimpinya dia segara akan menikah dengan pangeran tampan yang berubah menjadi pria buruk rupa gara-gara jam weker itu. Di karenakan Luna sudah bangun dan tak tahu harus berbuat apa, dia pun membereskan kamar tidurnya yang berantakan, menyapunya bahkan mengepel dan di akhiri dengan kata sempurna yang dikeluarkan dari bibirnya. Luna sebenarnya masih agak capai, hal itu di karenakan acara pindahan Luna membuat badannya hampir remuk karena dia sama sekali tidak menyangka berapa banyak benda yang di rumahnya telah dia bawah kesini walaupun Luna tahu tujuannya itu hanya untuk mengisi seluruh isi ruangan. Karena Luna adalah makhluk sosial yang membutuhkan bantuan orang di tengah pengasingan di sebuah desa yang penduduknya di hitung dengan jari, dia pun pergi ke arah cermin dengan pakaian tidur yang belum di gantinya, dia pun menatap ke arah cermin melihat wajah dirinya yang baru saja bangun. Dia pun menghela anaknya dan bernapas dengan irama untuk memastikan bahwa cara dia untuk berbaur di sini adalah menjadi penduduk yang sangat ramah. "Hai, perkenalkan, namaku Luna, aku adalah penduduk baru di sini yang baru saja pindah dan tinggal di rumah apung itu Maaf, aku harap kita bisa akrab dan saling membantu di tempat yang terpencil ini." Luna melompat-lompat dengan kesal di atas lantai di depan cerminnya lantaran cara dia melakukan berkenalan itu terlalu kaku dan terkesan agak secara tiba-tiba yang tentu membuat orang tidak segan atau merasa sangsi bila bertemu dengannya yang baru saja sampai disini. "Halo tuan dan nyonya, perkenalkan aku penduduk baru yang baru pindah ke rumah apung yang ada di sebelah sana, aku harap kita semua akrab, ini ada hadiah kecil berupa makanan sebagai tanda aku ingin berbaur dengan kalian, kalau bisa kalian boleh datang ke rumahku untuk merayakan pesta kecil-kecilan di sana. Luna mendengus dengan kesal, sepertinya cara perkenalan ini justru sangat tidak ampuh dan membuat orang akan mengira dia adalah orang sombong yang pindah kesini untuk peninjauan lokasi strategis untuk perluasan kota kecil yang ada di seberang kilometer dari tempat ini. Ia bahwa cara dia melakukan perkenalan ini hanya akan membuatnya gila dan stres. Luna memukul-mukul kepalanya karena dia sama sekali tidak sanggup untuk melakukannya, mungkin dia harus mengikuti kelas attitude untuk mendapatkan relasi pergaulan. Tentunya, dia merasa harus melakukan itu karena dia sudah menjadi anti sosial semenjak kejadian dua tahun lalu, beruntung dia sempat singgah dan mendaftar di kelas melukis yang berada di kota kecil yang letaknya berada pada jalan sebelum masuk desa terpencil ini di mungkin dengan mengikuti kelas melukis dia bisa sedikit melupakan kejadian itu. "Bagaimana caranya aku bisa bertahan di tempat ini, kalau aku sama sekali tidak bisa membuka diriku, coba ada Sam disini mungkin dia bisa menemaniku diriku di tengah keputusanku," ucap Luna di depan dirinya yang berada di dalam cermin, kemudian berbalik dan mengambil salah buku novel fantasi yang ada di atas mejanya kemudian mulai membuka buka itu asal hanya untuk mencari pembatas buku yang mempunyai tulisan di dalamnya, tulisan yang merupakan kata-kata paling romantis yang pernah Fan berikan padanya. Flashback Seorang pria baru saja membuka pintu dan masuk ke kamarnya Luna yang sekarang masih tidur cantik di atas kasur tidurnya, ia berjalan mengendap-endap sembari tertawa kecil melihat Luna yang masih ngorok besar. s**l, pria itu justru merekam semuanya melalui ponselnya. Dia melihat jam weker yang akan segera berbunyi tiga menit lagi dan karena sudah ada ide untuk membangunkan Luna, dia pun mengambil jam weker itu kemudian mematikan jam tepat waktu sebelum berbunyi. Setelah itu dengan sedikit aba-aba dia pun mulai mengagetkan Luna dengan cara meneriakinya serta memukul-mukul meja di samping Luna dengan keras yang pada akhirnya menjadikan semuanya menjadi alarm hidup. "Bangun! Sudah siang, matahari sudah naik, bangun sekarang juga atau ada gempa bumi yang akan membuatmu bangun seketika," teriak pria yang tidak lain dan tidak bukan adalah Sam yang meneriaki dirinya tepat di telinganya sambil memukul meja berulang kali. Sontak, Luna yang sebelumnya tertidur pulas, membuka matanya tiba-tiba dan bangun dengan cara yang ekstrim, akibat suara dari alarm hidup itu, membuatnya terlampau sangat kaget sehingga membuatnya jatuh dari tempat tidur dengan b****g yang mendarat di bawah lantai, ia tidak peduli dia jatuh ke bawah lantai atau apa, yang jelas gara-gara suara Sam yang sudah seperti tiupan terompet membuat ia bangun dan lari terbirit-b***t dan berteriak sangat histeris. Sungguh, mungkin di dalan tidurnya ia bermimpi sedang di kejar p****************g atau ada serangan bom yang jatuh ke atas rumahnya dan dia sama sekali tidak menyadari bahwa Sam sedang merekamnya sambil menahan tawa. Sesaat kemudian, Luna berhenti lari terbirit-b***t, dia berdiri sejenak dan menoleh ke arah Sam yang berpura-pura bersiul dengan raut wajah yang tak berdosa dengan ponsel miliknya ia sembunyikan di belakang. Merasa sangat kesal dengan tingkah laku Sam yang membuatnya sangat geram dan hampir jantungan ini, membuatnya meremas-remas tangannya dan mulai menyiapkan kuda-kuda untuk membalas Sam. Luna pun mengambil bantal gulingnya dan memukul Sam sehingga membuat keadaan ini menjadi aksi kejar-kejaran antara kucing dan anjing. Setelah aksi kejar-kejaran yang begitu melelahkan itu akhirnya membuat mereka menjadi capai sendiri atau bisa di bilang sebagai olahraga dadakan yang membuat napas mereka tersengal-sengal. "Bagaimana kamu bisa masuk ke rumahku bahkan mengagetkan dengan cara yang seperti itu. Kamu tahu, kamu membuat jantungku hampir saja copot," ujar Luna tersengal-senggal karena masih harus mengatur napasnya akibat mereka berdua yang berlarian itu. Sam bukannya menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Luna, Rama malah tertawa ngakak karena menonton video rekaman tadi berulang-ulang kali seperi sebuah film komedi, Luna yang melihat itu langsung menendang lutut Sam dengan keras sehingga membuatnya meringis kesakitan dan ponsel miliknya pun jatuh ke lantai. "Wow, tidak aku sangka cara kamu mengigau ini lucu banget," ejek Sam sembari tersenyum dan mengacak rambut Luna dengan penuh cinta. Luna menepis tangannya pelan dari Sam, ia pun berdiri sambil mengibas-ngibas debu dari piyamanya kemudian merapikan rambutnya yang berantakan lalu membantu Sam yang sedang menopang dagu sambil melihat wajah Luna yang penuh dengan kekesalan. *** Luna baru saja keluar dari kamar mandinya setelah baru saja mengganti piyamanya dengan baju biasa. Sungguh, dia sangat kesal dengan Sam yang sudah membuatnya bangun dengan cara yang ekstrim seperti itu dan sekarang dia masih merasakan nyut-nyut di bokongnya. Padahal, Luna berniat untuk bangun kesiangan dan tidur lebih lama lagi setelah sekian lama bisa mendapatkan liburan atas pencapaian yang luar biasa atas kerja kerasnya dan pengabdiannya sebagai seorang dokter. Luna sekarang sedang berdiri di depan Sam yang tampak asik sedang membawa buku yang tak menyadari sedang ada Luna yang ingin memukulnya dan ingin bertanya, tetapi sebelum Luna mau meninjunya, Sam menunjukan isyarat tangan untuk berhenti, kemudian berdiri di depan Luna dengan tatapan serta senyuman yang penuh cinta, kemudian menyuruh Luna untuk membuka buku mencari pembatas buku miliknya yang dia terima dengan wajah yang masih kesal. Setelah mendapatkan pembatas buku itu, Luna pun terperangah dan hampir tak bisa berkata apa-apa lagi karena dia baru saja memberikan buku yang berisi pembatas buku yang berisi kata-kata romantis dari seorang pujangga dam dibawanya tertulis 'mari kita menikmati liburan ini'. Luna yang membaca itu sangat terharu dan langsung memeluk Sam kemudian langsung menciumi pipinya dengan perasaan penuh kasih sayang. Dan kalau di pikir-pikir lagi itu adalah kenangan terindah Luna mengenai Sam karena pada waktu itu Sam mengajaknya liburan ke tempat yang sangat romantis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN