Bab 5

1508 Kata
2018 Hari ini merupakan hari tersial seorang Luna, di hari pertamanya sebagai penduduk baru. Di hari pertamanya yang seharusnya bisa dia lakukan dengan lancar, justru membuat orang segan berkenalan dan menganggap Luna sebagai orang aneh. Jika di biarkan seperti ini terus Luna tidak bisa berkomunikasi dan selamanya menjadi gadis yang anti sosial. Pada waktu keluar dari dalam rumah apung, dia memakai pakaian santai yang dibawa dari rumahnya tak lupa dia juga menyisir rambut dan cermin untuk mengantisipasi kalau wajah yang akan mereka ini sangatlah cantik dan segar. Untuk percobaan pertama, Luna ingin berkenalan dengan penduduk yang rumahnya berada dekat dengan rumahnya walau pun rumah mereka semaunya jarak-jarak dan tentunya masih harmonis dan rukun. Luna melangkahkan kakinya ke arah rumah seberang yang atap rumahnya membumbung tinggi asap yang keluar dari atas sebuah cerobong. Dia pun pergi melangkah dengan kepastian dan percaya diri saja untuk bisa mengenal mereka. Tapi kalau boleh tahu, Luna sebenarnya jika berkenalan agak asal, asalan, tiba-tiba, atau agak kaku karena memang waktu dulu Luna lebih mengutamakan integritasnya sebagai dokter yang hanya merawat pasien dam tidak peduli dengan latar belakangnya miskin atau kaya. Luna melihat ada seorang wanita tua renta yang sedang menanak nasi dengan periuk sambil di temani oleh seekor ayam yang mungkin adalah peliharaan wanita nenek ini. Dia menduga bahwa ayam ini adalah ayam terbaik yang suaranya bisa terdengar sampai jauh di ujung rumah. Luna pun melangkah demi langkah ingin memperkenalkan dirinya. Luna melangkah pasti ke arah nenek itu sembari berbicara. "Halo, nek, saya Luna saya penduduk baru yang tinggal di rumah apung semberang sana," ucap Luna agak terbata ke arah nenek itu yang tampak sama sekali tidak menggubrisnya bahkan untuk menoleh melihat Luna pun tidak. Wanita tua itu pun tampak tak membalas dan masa bodoh karena dengan Luna yang sedari tadi berdiri di belakangnya, Luna mengigit bagian bawah bibirnya dan memastikan bahwa nenek ini sangat sibuk dam tidak bisa mau di ajak berkenalan dulu, karena nenek ini bukan hanya sibuk menanak nasi, tapi juga mengurus kandang domba yang kelaparan, menyiram tomat, dan menggiling makanan menjadi dedak, dan sepertinya hanya ini saja mata pencaharian nenek yang dia gunakan untuk mengais rezeki dan akan mengantarkan semua hasilnya itu di kota kecil yang ada di sebarang sana yang tentu untuk mengantarnya di perlukan transportasi agar dia tak kecapaian nantinya. Sebuah ide brilian muncul dari dalam pikiran Luna, wanita tua itu sama sekali tidak punya kendaraan yang bisa dia pakai untuk ke seberang kota, maka dia akan menawarkan bantuan ke arah wanita tua itu, mengajaknya berkenalan untuk saling mengenal, dan begitu dia bisa menjalin komunikasi serta makhluk sosial yang baik. Ketika Luna mau mengatakan hal itu dan menawarinya, wanita tua itu menyambut pembicaraannya karena sepertinya wanita tua ini membaca pikirannya. "kamu tidak perlu menawariku, aku sering meminta bantuan pada kakek tua di seberang sana, jadi terima kasih sudah menawariku," ucap wanita tua itu tanpa menoleh ke arah Luna. Luna sedikit terperangah wanita tua ini sepertinya sedang membaca pikirkan atau mengetahui dari gelagat Luna yang melihat wanita tua ini bekerja, walaupun begitu, Luna sangat bingung karena dia datang di saat yang tidak tepat pada saat wanita tua ini sibuk dengan segala hal yang ada disini. Luna memejamkan matanya sekaligus mendelik karena atas cara pengenalannya yang tidak tepat, dia pun melangkah mundur dan langsung pergi dari rumah wanita tua itu dan pergi ke rumah kakek tua yang baru di tunjukan olehnya, jika kakek tua ini sibuk, dia akan mencari waktu untuk berkenalan dengan orang-orang di sini, maka dia akan memutuskan untuk mencari penghiburan diri di kota kecil seberang sana. Dia pun melangkah dengan penuh kemalasan dan berharap semoga dia tak sia-sia datang ke rumah kakek tua itu yang rumahnya agak besar dan ada sebuah peternakan kecil yang cukup menjanjikan di tempat terpencil ini dan mungkin kakek tua ini juga sama sibuknya dengan dengan wanita tua itu.Ia memukul-mukul kepalanya karena ternyata benar orang itu sibuk dengan hewan ternaknya yang walaupun sedikit bisa membuat orang itu kewalahan saking laparnya. Dia ingin membantu, tapi kakek tua itu malah tak menggubris Luna, ia sibuk mondar-mandir kesana kemari melihat semuanya bagaikan hiburan tv kabel. *** Luna yang sama sekali tidak tahu harus berbuat apa memutuskan untuk melakukan penghiburan diri untuk pergi ke kota kecil sana dengan menggunakan mobilnya yang sepertinya bensinnya akan segera habis, daerah ini saja sama sekali tidak punya tempat pengisian bensin jika seandainya dia mogok di tengah jalan, bisa-bisa Luna akan menjadi gelandangan dan harus menunggu mobil lewat yang mungkin bisa membantunya, tapi masalahnya hanya akan mobil kecil kakek itu yang bisa membantunya itupun jika dia pergi ke kota kecil untuk menjual hasil ternaknya yang tidak tahu kapan di kirimnya. Tiba-tiba seorang wanita paruh baya lewat ke arahnya dengan menggunakan sepedanya sempat menoleh ke arahnya setelah itu berhenti dan pergi mengarah ke arah Luna yang sedang melamun memikirkan mobilnya yang sudah habis bensin. "Apakah kamu sedang membutuhkan sesuatu, karena nampaknya kamu sedang membutuhkan sesuatu," tanya gadis paruh baya itu sambil memegang bahunya setelah menghampirinya. "Betul sekali, aku sedang membutuhkan sesuatu, aku membutuhkan bensin untuk mobilku untuk ku gunakan pergi keseberang kota," ucap Luna sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Aku akan membantumu, kamu bisa mengambil bensin yang ada padaku kebetulan bensin ini ini kelebihan satu karena aku ingin memberikannya kepada kakek tua sana, kamu bisa mengambilnya," tawa wanita itu kemudian mengambil bensin untuk di berikan kepada Luna. "Kamu baik sekali, aku akan sangat berterima kasih untuk ini," ucap Luna sembari menerima bensin itu. "Sama-sama lagi pula pemberian ini cukup berarti buatmu," ucap wanita itu dengan senyum di wajahnya. "Oh, ya. Kamu penduduk baru yang tinggal di rumah apung ini, ya. Perkenalkan aku Milla, aku tinggal di rumah yang berada di bawah rumahmu yang jaraknya agak jauh dari sini, rumahku agak besar dan ada wifi di sana karena adalah seorang penulis novel," ucap wanita itu memperkenalkan dirinya dengan sopan sambil mengulurkan tangannya ke arah Luna. "Oh, ya. Betul, namaku Luna aku baru saja pindah ke rumah ini kemarin salam kenal, ya," ucap Luna senang sambil mengulurkan tangannya karena senang bisa berkenalan dengan orang walaupun baru satu. *** Ternyata untuk datang ke seberang kota ini cukup berbeda sama yang kemarin, jika dia melakukan pindahan dadakan dari rumah asalnya untuk datang kesini agak cepat menurut Luna, tetapi untuk datang ke kota ini dia merasa jaraknya sangat jauh seperti pergi ke atas gunung akibat jalanan berbatu yang kemarin tidak sempat dia rasakan, pantas saja tempat itu agak terpencil, karena jalanan di sini berbatu dan agak tandus sehingga banyak yang pindah ke rumah untuk tinggal di kota yang agak terpencil ini, walaupun begitu ia akan tetap mengganggap ini sebagai penghiburan diri dan pengasingan diri. Seorang Luna sudah sampai ke kota yang walaupun kecil ternyata agak ramai di siang hari, dia pun memarkirkan kendaraannya dan mulia berjalan kaki ke arah kelas melukisnya. Tujuan Luna untuk masuk ke kelas melukis adalah untuk melampiaskan serta mengeluarkan segala pikirannya melalui sebuah lukisan walaupun nantinya hasil akhirnya agak buruk dari pada yang biasanya. Beruntung karena Luna datang tiga menit pada saat kelas sudah mulai, Luna duduk di samping seorang wanita gothic yang terlihat sedang merapikan kukunya dengan pengkikis kuku. Luna menghela napas sembari menunggu kelas melukis sudah akan di mulai. Beberapa menit kemudian.Ternyata mengikuti kelas melukis di nilai oleh Luna tidak cukup efektif, dia berpikir mengikuti kelas melukis akan lebih banyak praktek dari pada teori tapi ternyata sebaliknya. Luna memejamkan matanya memikirkan semua penjelasan membingungkan yang membuat otaknya memanas akibat banyaknya teori yang tidak bisa di tampungnya, sehingga mungkin dia akan kabur atau sesekali membolos dari pada mengikuti semua materi seni, dia bukan anak seni tapi dia lebih suka melukis dari pada mendengar teori. Karena sudah jam teori sudah berakhir, sekarang sudah saatnya orang-orang disini, mereka semua melukis apa yang bisa mereka lukisan di dalam pikiran mereka, tak terkecuali Luna yang juga mulai tampak serius untuk melukis. Sudah beberapa menit Luna berkonsentrasi untuk melukis, tetapi dia sendiri terhenti setelah menatap lukisannya, dia menatap lukisan itu dalam-dalam dan melihat sebuah kekuatan dalam lukisan itu. Luna melukis sebuah figur setengah kepa yang hanya sampai di pangkal hidung, mata yang dia lukis adalah mata orang yang meninggal dua tahun lalu, mata berwarna biru yang menatapnya sangat dalam yang membuat Luna berpikir bahwa itu adalah mata orang yang akan memohon untuk di selamatkan, dia menjadi teringat, kegagalan yang sudah dilakukan sekuat tenaga yang membuatnya seperti ini. Sungguh, Rasanya Luna ingin segera menitikan air mata atas semuanya yang terjadi, setidaknya hanya ini saja yang bisa dia lukis, potret lukisan itu belum selesai karena Luna hanya bisa fokus pada matanya. Coba waktu itu ada Sam yang membantunya, tapi waktu itu tidak ada Sam karena dia sedang mengikuti konferensi di luar kota selama beberapa hari, hanya dia dan ibunya saja waktu itu. Oleh karena itu dia tidak bisa berbuat banyak untuk menyelamatkan nyawa pria malang itu. Luna berusaha tegar melupakannya, tapi semuanya sia-sia, karena mata orang itu sering kali terbayang di pikirannya bersama dengan bayangan Sam yang dia rindukan setengah mati. Luna pun meminta izin ke toilet kepada guru lukisnya untuk pergi sebentar karena sepertinya kepalanya sangat pusing. Mungkin, sedikit lagi dia akan segera bolos dari kelas melukis itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN