2016
Pagi hari yang sangat cerah untuk Rama setelah tidur pulasnya semalam. Rama sekarang berada di sebuah lokasi kontruksi tempat semua orang berlalu lalang menyelesaikan tugas mereka dengan debu yang bercampur keringat.
Suara-suara alat berat yang membisingkan telinga itu seolah menjadi menjadi alunan musik yang menghibur para pekerja di lokasi ini. Tak terkecuali Rama, Rama yang kemarin tidak sempat datang ke lokasi kerjanya karena acara pindahan dadakan itu akhirnya datang kembali. Dia memperhatikan keadaan sekitarnya memastikan bahwa temannya tahu bahwa dia sedang berada di lokasi kontruksi. Rama menghirup napasnya dalam-dalam dan tersenyum bahagia karena ini. Semangat paginya untuk bekerja sudah memancar dari dalam raganya. Dia merasa mungkin sepanjang hari ini doa akan bekerja lembur bagai kuda di lokasi kontruksi ini sampai malam. Yang penting, Rama bisa mendapatkan uang saku tambahan untuk membiayai hidupnya dan juga membayar biaya kuliah. Beruntunglah pada saat ini Rama sudah meminta cuti ke pihak kampus untuk penelitian mengenai tugas akhirnya, kalau tidak mungkin jika ada orang yang berasal dari kampusnya mengenalnya bisa saja dia mendapatkan teguran karena bolos kampus. Rama pun melangkah dengan semangat menuju balok-balok kayu yang akan di dorongnya bersama pekerja lainnya menuju ke tempat penyimpanan barang konstruksi. Rama pun mengalihkan pandangan dan mengedarkan senyuman manis ke arah para pekerja yang berpapasan dengannya dengan sikapnya yang ramah. Walaupun dia berjalan dengan percaya diri seperti itu, Rama berhenti dan menunduk untuk mengikat tali sepatunya yang entah sejak kapan sudah terlepas akibat dirinya yang pergi terburu-buru ke tempat ini.
***
"Senior! Akhirnya setelah sekian purnama aku bisa berjumpa denganmu dan bisa melihat wajahmu. Hei! Senior! Selama ini kamu dimana? Aku sangat merindukannya dan ingin sekali memelukmu," teriak seorang wanita di ujung sana. Wanita itu terlihat melompat-lompat dengan girangnya setelah melihat Rama yang akhirnya sudah menampakan batang hidungnya di depan wajah wanita itu. Dia semakin girang, saking girangnya ia berlari juniot ke arah Rama. Rama yang sekarang sedang mengendalikan alat berat terlihat cekikikan melihat cara wanita itu berlari. Rama pun hanya mendongakan kepalanya dan memicingkan matanya. Dia pun mematikan kendaraan beratnya kemudian langsung turun dan menuju ke arah gadis itu. Wanita yang melihat Rama akan melangkah ke arah dirinya mencoba mengambil cermin di dalam tasnya untuk merapikan rambutnya yang mungkin berantakan.
"Kamu kira tempat ini tempat karaoke, ya. Sempat-sempatnya berteriak di tempat yang ramai seperti ini. Kamu merindukankukah, padahal aku baru hilang kabar selama beberapa hari," ucap Rama sambil mengacak-acak rambut wanita itu. Wanita itu bernama Sarah, dia adalah junior di kampusnya dan merupakan sahabat terbaiknya setelah Fan, yang mana di kampus mereka sering di juluki trio.
Sarah memukul bahu Rama dengan pelan dan manja. "Wajar aku teriak, habisnya kamu hilang kabar bagaikan di telan bumi. Jadi, sudah sepatutnya aku berteriak," ucapnya sambil memeluk Rama dengan perasaan bahagia.
Entah karena sangat kangen berlebihan atau apa, yang jelas Sarah tak mau melepaskan tubuh Rama yang di peluknya bahkan dia semakin erat memeluk Rama sampai membuat dirinya hampir tak bernapas. Cuma di tinggal sebentar tapi cara Sarah melepaskan rindu begitu ekstrim. Sungguh, ingin rasanya Sarah memeluk Rama selama sehari.
"Bisakah kamu melepaskan pelukanmu ini, seseorang bisa saja mari jika kamu mencengkeram mereka dengan tanganmu yang sekuat batu ini," ucap Rama dengan suara terbata-bata, berusaha melepaskan pelukan Sarah yang sekeras batu ini. Malahan semakin Rama memohon semakin kuat pelukan Sarah sampai-sampai Rama bisa mendengar suara tulangnya.
Beruntunglah, Sarah melepaskan pelukannya itu dari tubuh ramah yang hampir saja remuk setelah seseorang pekerja menegur Rama untuk melanjutkan pekerjaannya mengambil beberapa kardus berisi barang mudah pecah ke mobil pengangkut.
Rama yang berhasil terlepas dari pelukannya itu, menghela napasnya yang tersengal-sengal sambil menghela dadanya. Jika orang itu tidak sempat memanggilnya maka napas Rama akan habis dan tulangnya bakalan remuk. Sarah yang tampak tak bersalah itu hanya bisa tertawa kecil melihat ekspresi wajah Rama yang begitu lucu itu. Beruntunglah Rama hanya memakluminya saja dan menganggap pelukan itu sebagai Sarah yang melepas kangennya walaupun cuma beberapa hari. Kini Rama mulai melaksanakan tugasnya dan mulai melanjutkan pekerjaan bersama dengan Sarah yang mengekor di belakangnya sembari memeriksa jam. Rama tidak terganggu dia hanya mangut-mangut saja.
"Rama aku mempunyai pertanyaan yang mungkin jawabannya bisa membuatku tenang. Rama, apa betul kamu sudah tak tinggal lagi bersama Fan dan lebih memilih mengasingkan diri ke sebuah tempat asing yang sama sekali belum aku tahu?" tanya Sarah kepada Rama yang masih sibuk dengan pekerjaannya. Sungguh, mendengar berita dari Fan membuatnya menjadi pusing akibat hilangnya Rama yang tiba-tiba.
"Kamu memang wanita yang sangat kepo. Bahkan, di saat aku pergi di telan bumi pun kamu masih tetap mencariku. Apa kamu tidak capai mencari dan menanyakan keberadaanku. Fan sudah menceritakan semua itu melalui pesan fax yang dikirimnya kepadaku," ucap Rama sembari menoleh ke Sarah yang mulutnya tampak mengerucut sembari melipat tangannya karena dirinya sedikit kesal akibat Rama yang menyuruhnya untuk berhati-hati dalam melangkah.
"Berkat pertanyaanku yang terus aku bicarakan kepada Fan sampai membuat dirinya bosan dia pun menceritakan di mana selama ini kamu tinggal. Fan berkata kamu tinggal di sebuah rumah apung yang lokasinya berada di ujung kota yang penduduknya hanya di hitung dengan jari," Sarah mengatakan itu dengan ekspresi yang cukup kaget dan terperangkap dengan dua tangan di wajahnya. Memang, ingin rasanya dia punya mesin waktu dan pergi di mana Rama akan pindah supaya Rama tidak melakukan hal yang dinilainya cukup membosankan ini.
Rama yang mendengar pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh Sarah justru membuatnya semakin kesal karena pertanyaannya Sarah ini sudah seperti seorang polisi yang suka menginterogasi. Matahari sudah berada di atas kepala mereka dan Rama juga sudah menyelesaikan tugasnya kini dia pergi beristirahat membeli minuman tapi sayangnya Sarah masih mengekor di belakangnya sambil mengipas-ngipas tangannya dan Sarah yang sedari tadi mengikutinya juga masih mengoceh dengannya.
"Apa alasan pergi mengasingkan diri ke rumah apung itu? Kau tahu, tinggal di rumah itu dan berbaur dengan orang-orang asing di saja apakah tidak membuatmu betah. Oh, dan satu lagi, apakah tempat itu mempunyai privasi yang aman. Karena aku yakin, tempat yang kamu datangi itu adalah tempat berhantu atau tempat p*********n. Kamu bahkan setuju-setuju saja tinggal di rumah itu. Pasti, harga sewa di rumah itu sangatlah murah makanya kamu menerimanya saja kan," ucap Sarah panjang lebar di saat Rama sedang menikmati berusaha mengambil minuman dingin dari vending machine ini hanya bisa mendengus pasrah mendengar kata-kata dari teman wanitanya ini.
Dari pada menggubris banyak pertanyaan yang di lontarkan oleh Sarah kepada Rama, Rama pun berhasil mengambil minuman dingin dari tempatnya berada. Setelah minumannya dia ambil dia pun meletakan botol dingin ke arah wajahnya yang sontak membuatnya merasa sangat segar. Itulah kebiasaan Rama, sebelum minum sebuah minuman dingin, dia sering meletakan botol dingin ke arah wajahnya untuk mendapatkan kesegaran maksimal sebelum meminumnya. Sarah mendengus kesal karena Rama sama sekali tidak mau mendengar pertanyaanya yang membuat mulutnya mengerucut dan sontak membuat Sarah mencubit-cubit Rama pelan. Rama yang botol dingin masih menempel di wajahnya, tampak tidak mempedulikan temannya yang sedari tadi mencubit dirinya bahkan dengan cubit yang menyakitkan tak membuat Rama merasakannya.
Rama yang kini sudah menempelkan botol air dingin kewajahnya mulai membuka tutup botol air dingin sehingga terdengar bunyi air gemericik tang terdengar di telinganya. Dia pun mulai meminumnya dengan nikmat dan mulai menikmati kesegaran air dingin yang sekarang sudah menghancurkan dahaga dan kehausan akibat penatnya pekerjaanya hari ini dan Sarah yang juga mengikutinya dengan seribu macam pertanyaan. Sarah yang melihat itu pun langsung itu tersentak kaget dan mulai menghentikan ocehannya karena kini dia akan menyaksikan iklan gratis yang begitu memabukan itu. Dia pun mulai menyaksikan keringat yang mengucur deras Rama yang keluar dari dahi hingga ke dagu belahnya yang merupakan hasil dari pekerjaan beratnya hari ini kemudian dia mulai menyaksikan air dingin yang diminum Rama yang dimasukannya ke dalam bibir manis Rama yang turun hingga ke lehernya, lehernya yang merupakan tempat air dingin mengalir yang melepas dahaga itu menunjukan jakun Rama yang bergerak naim turun dengan begitu seksi. Sungguh, ingin rasanya dia melonjak kaget dan kegirangan setelah mata kakaknya mengubah Rama yang sedang memakai sehelai kain berubah menjadi Rama dari iklan s**u protein yang menunjukan bentuk tubuh Rama yang begitu menggairahkan yang penuh dengan peluh yang ingin si lapnya serta boxer coklat polos yang dikenakan membuat Sarah memukul-mukul kepalanya sendiri karena matanya yang begitu tidak sopan itu. Rama sudah menghabiskan satu botol air minum yang sekarang sudah melepaskan dahaganya. Kini dia berdiri di hadapan Sarah yang melamun setelah membuang botol air air. Dia pun menatap Sarah yang sedang tak bergerak bagaikan patung, dia menatap matanya Sarah ke arah kiri dan ke kanan sehinga membuatnya menggeleng kepala. Agar Sarah tak melamun dia pun menjentikan jarinya dengan keras yang berhasil membuat Sarah tersadar dari dunia fantasi miliknya.
Setelah Sarah tersadar, Rama pun menarik tangannya yang pergi ke arah lokasi tempat istirahat para pekerja. Wow, Rama menarik tangan Sarah ke arah tempat sepi di mana hanya ada mereka berdua dan sepertinya dia merasa Rama membaca pikiran liarnya yang dibalasnya dengan jeritan manja yang sudah biasa Rama lihat.
Setelah sampai di tempat istirahat para pekerja yang sibuk memakan bekal mereka, Darah pun merapikan rambutnya lagi dengan sisir di satu tangan dan cermin di satu tangannya lagi untuk memastikan dia sudah cantik. Dia pun sudah siap, dia menatap Rama dengan tatapan mengoda sementara Rama menunjukan ekspresi bingung melihat tingkah laku temannya.
"Jadi, karena kamu sudah di sini, dan sudah beres lamanya kamu menginterogasi seperti seorang polisi sepanjang aku bekerja, sekarang giliran aku yang akan melontarkan banyak pertanyaan penting mengenaimu," ucap Rama kepada Sarah sambil melipat tangannya, Sarah yang berpikir akan ada sesuatu yang ingin dibicarakan malah di baut terperangah oleh Rama karena senior kampusnya ini malah balas bertanya banyak.
Sarah pun mendengus kesal dan sedikit kecewa tentang hal ini. Rama yang belum menanyakan sesuatu kepada Sarah hanya bisa mengerutkan dahinya dan sedikit tertawa kecil melihat ekspresinya Sarah. Sarah yang sudah menantikan kejadian terbaik malah mendapatkan pertanyaan membosankan Rama dan sudah pasti dia harus mendengar pertanyan itu dan menjawab jujur semua itu karena hal itu sangat penting bagi dirinya berkat Rama. "Apakah kamu sudah mendengar kelulusan seleksi beasiswa di Amerika, aku dengar mereka menunda pengumuman itu akibat kelebihan kuota. Walaupun begitu, aku yakin kamu akan langsing lolos saja berkat kepintaranmu itu, jadi tak perlu khawatir," ucap Rama sambil mengepalkan satu tangan ke atas untuk menjadi tanda penyemangat Sarah.
Sarah mengangguk-anggukan kepalanya saja, Sarah memang salah satu pendaftar yang mengikuti beasiswa arsitektur di Amerika berkat bantuan Rama yang sudah banyak sekali membantunya, dalam membantunya belajar, memberikannya latihan tugas, serta latihan wawancara susah diberikan oleh Rama.
Tadinya, dia menggunakan kesempatan iu sebagai modus belaka untuk lebih dekat dengan Rama dan memacarinya, tetapi setelah melihat kesabaran dan bantuan tulis yang Rama berikan padanya membuat dirinya mengalami dilema karena dia merasa bisa menyia-nyiakan bantuan Rama yang tulus itu jika dia mengkhianati kepercayaan dengan mengungkapkan cinta, itulah sebabnya mengapa dia sering menunggu Rama untuk membaca pikirannya. Tetapi, mengingat tali persahabatan yang sudah mereka jalin justru membuat Sarah menundanya dan untuk membalas jasanya dia harus lulus seleksi beasiswa dan bisa melupakan cintanya dan menganggap Rama sebagai teman seutuhnya. Dia juga berpikir, mungkin dengan mengikuti semua ini penyakit malasnya bisa pergi dan dia bisa belajar tekun berkat semua bantuan Rama.
"Menunggu itu tidak enak juga, ya. Sama persis seperi aku menunggu kabarmu. Tapi kamu tenang saja, aku tidak akan membuat segala bantuamu terbuang dengan sia-sia, aku akan berusaha keras untuk lulus segera seleksi nanti dan mendapatkan nilai yang bagus demi mendapatkan beasiswa itu," ucap Sarah sembari melihat senyum mansi Rama yang menunjukan kebanggaan dirinya terhadap Sarah yang sudah belajar keras.
"Tentu, aku yakin itu," ucap Rama sambil mengacak rambut Sarah.
Jam istirahat sekarang susah berakhir, para pekerja sudah kembali ke tempat kerja mereka masing-masing sampai sore hari. Rama yang sudah tidak sabar pergi untuk melanjutkan pekerjaanmu langsung berdiri dengan semangatnya. Dia pun berpamitan dengan Sarah begitu juga dengan Sarah yang juga berpamitan kepada Rama untuk pulang karena di jam begini dia harus datang ke kampus untuk melaksanakan piket mingguannya.
Sesaat Sarah ingin pergi, dia pun menoleh ke arah kota sampah yang baru di lihatnya, dia pun mengeluarkan sesuatu dari tasnya yang merupakan sebuah kotak bekal. Setelah melihat kotak bekal itu, dia pun langsung membuang kotak bekal itu dan langsung meninggalkan tempat itu seraya sedikit tersenyum karena dia merasa ada sebuah hal yang sudah dia lepaskan dengan baik. Sementara itu, Rama juga sempat menoleh ke belakang Sarah yang sedang berdiri di samping kotak sampah dengan perasaan gugup atas pertanyaan darinya tadi.