Bab 2

2531 Kata
2016 Matahari pagi telah terbit bersamaan dengan kicauan burung di atas langit setelah bulan telah pergi ke tempat peraduannya sepanjang malam. Pagi hari yang sangat cerah di desa asing ini, yang tentu cukup berbeda jika berada di kota besar di dibangunkan oleh suara ayam berkokok atau suara jam weker. Di sana, terdapat Rama yang membuka pintunya dengan hati-hati, setelah membuka pintu, dia pun berjalan di jembatan rumah apung bersama dengan seluruh perkakas yang di tenteng di tangannya yang berada di dalam kardus. Ia berjalan dengan senyum pagi cerianya. Ia sangat senang bisa menikmati pagi hari ditemani dengan kicauan burung. Ia menaruh kardus berisi perkakas di bawah tanah kemudian mengambil palu dan membenamkan sebuah sebuah papan yang bertuliskan "home sweet home." Rama berkacak pinggang melihat rumah apungnya sambil berjalan mundur untuk melihat bentuk rumah itu dari jauh. Rama sangat bersyukur, karena dengan tinggal di rumah ini dirinya pasti akan tenang dan damai tanpa ada gangguan sedikitpun dari orang luar. Rama sempat berpikir, tidak ada salahnya tinggal di rumah apung ini selama-lamanya jika tidak ada rumah paling murah di kota, ia akan beralih tinggal di rumah yang di buatnya ini. Kini, Rama tinggal menyelesaikan seluruh tugas dan skripsinya sambil bersantai dengan segala kehidupan yang akan terjadi di desa yang sepi ini. *** "Halo, apakah ini dengan Rama? Apakah kamu sudah datang ke rumah apungmu?" ucap seorang wanita paruh baya di seberang sana yang sedang menelepon sambil duduk di luar memperhatikan rumah apung milik Rama yang ternyata cukup dekat itu. Wanita itu ternyata adalah bibinya Rama, bibi Sim yang bekerja sebagai seorang penulis dan merupakan orang yang cukup kaya dengan rumah besarnya ketimbang 6 penduduk lainnya yang tinggal di desa yang asing ini. Maklum pekerjaannya adalah sebagai penulis novel terkenal di sebuah platform. "Halo juga. Ya, bi. Ini aku keponakan bibi yang sangat tampan ini sudah sampai dengan selamat di rumah apung ini," ucap Rama dengan wajah tersenyumnya sambil mengeluarkan piringan hitam yang baru saja akan di keluarkannya dari kardus miliknya yang akan segera dia rapikan di atas meja di sambung gramaphone miliknya. "Bagaimana dengan keadaaan di dalam rumah apungmu itu? Sudah tertata rapi dengan indahnya? Asal kamu tahu aja, satu hari sebelum kamu datang, bibi sudah membersihkan rumah apungmu dengan segenap hati bibi," ucap bibi Sim dengan suara kerasnya yang sepertinya sedang menggangu paman Rum yang sedang sibuk membaca novel yang tentu membuat dirinya menggeleng-geleng kepalanya. Rama yang mendengar semua itu di seberang sana , hanya bisa tertawa kecil mendengar suara bibinya yang cukup bersemangat itu. Tentu saja dia merasa bersyukur mempunyai bibi yang begitu mempedulikannya. "Tentu aku sangat berterimakasih karena bibi sudah membersihkan tempat ini sebelum aku datang. Kapan-kapan aku akan datang ke rumah bibi untuk menikmati masakan bibi," ucap Rama sambil menyalakan salah satu piringan hitam di atas gramaphone miliknya. "Jika bukan karena bibi, mungkin aku akan membersihkan rumah ini sepanjang harinya. Sehingga, aku tinggal menyusun seluruh barang-barangku di rumah ini. Tapi, bukan Rama namanya kalau dia membersihkan rumah ini untuk kedua kalinya," ucap Rama lagi sambil menggoyangkan kepalanya mendengar irama musik. Dia pun mengambil sapu di samping pintu rumahnya kemudian membersihkan lantai rumahnya yang sebenarnya sudah bersih. "Astaga! Keponakan bibi yang sangat tampan. Kamu ini memang pria yang sangat cinta akan kebersihan. "Biasa aja, Bi. Biasa semua ini adalah turunan dari ibuku." Setelah berjam-jam menelpon Bibinya, Rama pun melanjutkan pekerjaannya membereskan rumah. Setelah menyelesaikan pekerjaannya yang cukup membuat badannya pegal linu, Rama berjalan keluar menikmati keindahan Tuhan yang sudah berada di depan matanya. Rama pun merasakan semilir angin sore, cahaya matahari sore yang akan tenggelam di gantikan oleh bulan, serta suara laut di sekitaran rumahnya. Semuanya menjadi kebahagian tersendiri bagi Rama. "Permisi, apakah kamu Rama penghuni baru di rumah apung ini," sapa seorang wanita tua sambil menepuk bahu Rama yang sedang menikmati keindahan hari ini sambil berkacak pinggang. Rama yang merasakan hal itu tersentak sehingga dia pun menoleh kearah orang ini sambil memegang dadanya karena kaget. Dan, karena yang memanggilnya adalah orang asing, Rama pun memberikan kesan santun kepada orang itu dengan cara tersenyum. "Iya, saya penghuni baru di rumah apung ini salam kenal," ucap Rama dengan sopan sambil mengulurkan tangan kepadanya. Setidaknya itu yang sering ibunya Rama ajarkan bila bertemu dengan orang asing. Wanita tua itu membetulkan kacamatanya. "Kamu, keponakannya Bibi Soraya, ya. Wow, kamu pria yang sangat tampan. Wanita tua yang akhirnya mengetahui itu, langsung mencubit pipi Rama dengan gemasnya sehingga membuat wajah Rama memerah. Rama yang pipinya sudah merah, langsung melepaskan tangan wanita tua itu dengan lembut. Wanita tuayang merasakan kelembutan tangan Rama langsung tersipu malu. Dia pun membuka totebag dan mengambil sesuatu dari dalamnya yang merupakan sebuah kotak bekal bergambar Doraemon. " "Saya dengar kamu pecinta makanan pedas serta sup rumput laut yang sering kamu nikmati sebagai awal kamu membuka hari baru yang bakalan sibuk untukmu jalani. Semoga kamu suka dengan masakan yang sudah saya buat ini," ucap wanita itu sambil memberikan makanan itu kepada Rama sambil menunjukan giginya yang sekarang sudah ompong. Rama sama sekali tidak menyangka akan mendapat hadiah pertamanya dari seorang penduduk. Rama yang mendapatkan makanan itu merasa bersyukur karena kebetulan pria ini sangat lapar dan ingin makan sesuatu setelah menyelesaikan pekerjanya ini. Dia pun membungkukkan badannya kemudian memeluk tubuh renta wanita tua itu dengan erat. "Bagaimana Bibi bisa mengetahui makanan kesukaanku?" tanya Rama. "Aku tentu mengetahui dirimu dari cerita bibimu. Bukannya kamu sering menikmati makanan ini sewaktu kamu tinggal di rumah bibimu yang di kota itu," ucap wanita itu sambil kegirangan karena masih merasakan bau parfum yang ada di tubuh Rama. Rama hanya mengangguk-angguk kepala saja, memang betul Bibinya sering membuatkan masakan enak untuknya sewaktu Bibinya masih tinggal di kota, tapi yang sering memasakan makanan kesukaannya itu untuknya adalah sosok ibunya. Hampir setiap pagi dan setiap malam ibunya selalu menghidangkan makanan itu khusus untuknya tetapi semenjak ibunya sakit, ayahnya menitipkan Rama kepada Bibi soraya dan tak lupa ibunya menitipkan resep makanan kesukaan Rama agar merasakan masakan ibunya melalui bibinya. Tapi, karena Rama sudah besar dan mandiri dia pun mencoba memasak makanan itu di waktu luangnya sewaktu dia tinggal bersama Fan tapi tidak ada salahnya dia mencoba memakan masakan khas bibinya itu. "Oh ya, sepertinya sudah sore. Sudah waktunya bibi pulang, maklum kuda peliharaan bibi bisa ngambek kalau belum di beri makan," ucap bibi itu sambil menepuk bahu Rama kemudian kembali mencubit pipi Rama lagi sebelum dia pulang. Setelah mencubit pipi Rama barulah dia pergi menuju rumahnya yang jaraknya rumahnya cukup lurus dengan jalur rumahnya Rama. Baru beberapa langkah perjalanan, tiba-tiba wanita itu kembali memundurkan langkahnya lagi menuju posisi Rama yang tentu membuat Rama sedikit bingung. Setelah sampai di depan Rama lagi, wanita itu memberi kecupan pipinya kepada Rama sebagai ungkapan rasa sayangnya kepada Rama yang sudah seperti cucunya sendiri. Setelah mendapatkan kecupan itu, Rama pun terlihat bingung dengan kejadian barusan sehingga membuat dirinya bengong sampai dirinya tak sadar bahwa matahari sekarang sudah tak menampakan dirinya dan telah digantikan oleh bulan. Setelah bengong beberapa saat Rama pun akhirnya tersadar dan langsung masuk ke rumahnya. Hari pertama di rumah apung berjalan sedikit lancar walaupun kenalan di desa ini baru seorang wanita paruh baya yang dengan baik hati memberikannya makan malam yang cukup enak. *** Setelah rutinitas pagi pertamanya yang sudah di lakukan oleh Rama untuk hari ini. Setelah menikmati makanan serta sup rumput laut yang diberikan oleh wanita tua itu, sudah di lahap habis oleh Rama sehingga membuat dirinya kekenyangan serta perasaan terbakar yang membuat tubuhnya berkeringat. Setelah menikmati makan malamnya, Rama pun langsung membasuh serta membersihkan dirinya dengan shower setelah pekerjaannya hari ini. Setelah membasuh dirinya di kamar mandi serta menggosok giginya dari sisa makanan, Rama pun sudah memakai piyama dan sudah bersiap-siap untuk tidur malamnya. Malam hari pertama di rumah apung cukup berbeda ketimbang tidur malam yang biasa di lakukan, justru ritual malam yang sering Rama dan Fan lakukan adalah menjadi seorang penyanyi dadakan serta satria bergetar yang membuat para penghuni merasa terganggu dan akhirnya di lempar sandal oleh ibu kos. Rama yang tiba-tiba memikirkan hal itu langsung tertawa cekikikan dengan hal itu sehingga untuk pertama kali dalam hidupnya dia bisa tidur lebih awal di bawah jam sepuluh malam. Rama yang belum merasa untuk mengantuk akhirnya menunda tidur malamnya dan membangkitkan tubuhnya pergi dari ranjang tidurnya. Rama merasa kurang enak hati jika dia tidur lebih awal dari biasanya, tiba-tiba saja dia rindu keadaan hidupnya yang lama. Tapi, Rama harus terbiasa dengan keadaan rumah apung buatannya sendiri yang sudah dia jadikan sebagai persinggahan. Lagi pula, niat Rama untuk hidup mandiri dan mengasingkan dirinya itu sudah bijak, karena selain dia bisa hidup mandiri dan bisa menyelesaikan tiga kuliahnya, dia bisa menghindar dari ayahnya yang super protektif. Langkah kaki Rama kian mendayu ke arah dapur. Dia mengambil s**u bubuk serta sekantong roti tawar yang menjadi snack malamnya yang bisa mengisi perut Rama yang keroncongan lagi. Rama cukup bingung dengan hal ini, padahal dia sudah menikmati makanan pedas serta sup rumput laut tadi sebelum mandi. Sepertinya, perut Rama sekeras batu sehingga apapun yang masuk ke perutnya semunya bisa dia makan walaupun dia sudah kenyang sekalipun. Rama memang pria yang suka makan, tapi walaupun banyak makan, tubuhnya masih tetap berisi. Rama yang sedang duduk di meja makan yang terletak di dapurnya tampaknya sedang menikmati snack malamnya. Entah kenapa dia sangat menikmati udara dingin desa ini yang sekarang sedang menemani santapan makan malamnya yang jendelanya pintu dapurnya baru saja di bukanya tanpa sebab yang jelas. Rama sepertinya akan suka dengan tempat ini, udara dingin desa ini ternyata berbeda dengan udara dingin di kotanya. Hal ini tentu membuat Rama rindu dengan segala kekocakan yang dia lakukan bersama Fan di kosnya. Flashback on "Sudah aku duga, kamu akan membawa semua barangmu," ucap Fan saat Rama sedang memasukkan semua barangnya di dalam kardus. "Sudah tahu, tapi masih banyak tanya, mendingan bantuin saja aku." "Kapan kamu akan pergi ke rumah apungmu itu? Aku sangat tidak yakin jika kau akan nyaman tinggal di rumah buatanmu itu. Kabari aku jika rumahmu itu pada akhirnya membuatmu tidak nyaman, aku akan siap sedia menjemputmu." "Kamu meragukan rancangan arsitektur yang ku bangun di sela-sela kesibukan belajar kita. Astaga! Kamu benar-benar tak mau jika aku menjadi pria yang mandiri, ya," ucap Rama menyederkan tangannya di bahu Fan. Dia pun membalikan tubuh Fan, Setelah itu menyuruh temannya itu untuk membantunya memasukkan barangnya di dalam kardus. "Bukannya aku meragukanmu atau menghalangi niat baikmu itu. Tapi aku takutnya kamu malah putus komunikasi atau lebih parahnya lagi hilang di telan bumi," gerutu Fan sambil memeluk Rama dengan erat. Rama pun berdehem serta menghela napasnya dengan keras kemudian melepaskan pelukan kuat temannya itu. Fan memang teman terbaik, pernah sewaktu Rama melaksanakannya seminar yang jaraknya lokasinya dekat dengan kos mereka, Fan sampai berlari ke arah Rama dan memeluknya sekuat tenaga. "Fan, Fan, Fan, Fan! Aku pergi enggak jauh kok. 'Kan kita masih bisa bertemu di kampus Atau kamu takut karena uang kos kamu malah membludak karena kamu itu sudah terbiasa dengan kongsi." "Betulkah? Sepertinya aku merasa cukup sendirian berada di kos ini. Tapi, mengenai biaya sewa kos, sepertinya aku akan mencari pekerjaan sambilan atau di depan dari rumah ini oleh ibu kos," ucap Fan menepuk jidatnya. Rama terkekeh geli mendengar pernyataan temannya yang sudah seperti aktor komedi ini. Sungguh, Fan memang teman terbaik Rama yang pernah dia miliki. Susah senang sama-sama sudah mereka lewati bersama-sama, kongsi dalam membayar biaya sewa, makan di piring yang sama, jalan-jalan di malam minggu dan lain sebagainya kecuali mandi bareng. Jam sudah menunjukan pukul 12 dan masih ada beberapa jam lagi untuk mengemas barang-barang milik Rama walaupun diantara sebagian barang ada yang harus di tinggalkan atau di titipkan. Sepertinya akan ada beberapa barang yang wajib di tinggalkan oleh Rama atau mungkin bisa dia berikan kepada Fan, seperti contoh cetak biru dan miniatur rumah yang diberikan ayahnya setiap hari melalui Fan walaupun Rama tahu semuanya itu penting, tapi dia lebih suka mengandalkan kemampuannya sendiri ketimbang menerima bantuan ayahnya. "Kurasa beberapa barang yang ada di atas mejaku ini bisa kuberikan kepadamu. Karena sepertinya kamu merasa sangat tertarik melihat hal ini," tawar Rama kepada Fan yang sedang mengambil sekotak s**u sapi di dalam lemari pendingin. Fan melotot bingung melihat hal itu hingga membuatnya kacamata yang di pakainya hampir saja jatuh. "Serius? Kamu ingin memberikan semua ini kepadaku, Rama. Tampaknya, aku tak bisa menerima barang yang bukan miliku lagi pula semua barang yang kamu punya ini adalah pemberian ayahmu. Aku tidak yakin jika aku mendapatkan semua ini sebagai perpisahan," Fan bingung dengan tindakan Rama. Fan sama sekali tidak habis pikir kenapa Rama ingin sekali membuang barang pemberian ayahnya itu. "Oke, kalau itu keputusanmu untuk menolaknya. Aku pun juga tak memaksa. Tapi ini akan aku tinggalkan karena beberapa barang di dalam kardus sudah kepenuhan dan aku juga tak sanggup membayar biaya mobil pengantaran yang harus melakukan perjalanan cukup jauh untuk sampai ke lokasi tujuan," ucap Rama sambil memikirkan hitungan di dalam kepalanya dengan bantuan jarinya. Sepertinya, Rama harus membayar biaya yang cukup mahal untuk itu. Rama pun melanjutkan pengecekan barang-barang di dalam kardusnya sambil menghitung semuanya itu dengan tunjukan jari untuk mengetahui apakah semua barang yang sudah dia siapkan untuk di bawah tidak akan ketinggalan nantinya. Setelah di rasanya lengkap, dia pun mulai mengambil kertas serta memberi tanda di kardus untuk menandai barang yang mudah pecah serta barang penting agar di saat Rama sudah sampai di sana, dia tak perlu bingung lagi untuk meletakan semua barangnya di dalam rumah apung. "Fan, sebelum aku lupa, barang yang aku belum labeli ini akan aku titipkan di sini dan jika kamu ada mungkin kamu bisa mengantarnya ke lokasi rumah apungku," ucap Rama mengingatkan Fan yang sedang menikmati segelas s**u sapi dinginnya. Fan yang mendengar hal itu langsung menganguk-anggukan kepalanya pelan yang menunjukan tanda kesetujuanya. Kini semua barang akan di bawa semuanya sudah siap dan tinggal menunggu mobil pengantarnya yang akan menjemputnya besok ke rumah apung. Tapi sebelum itu, Rama harus melakukan perhitungan jarak antara tempat ini dengan rumah apungnya agar pengeluarannya tidak semakin membludak hanya untuk pindahan. Setelah melakukan perhitungan yang cukup matang, sepertinya uang Rama hanya habis untuk pindahan serta pengantaran semua barangnya itu. Kini, dan hanya punya satu pilihan, yaitu menggunakan mobilnya yang agak sedikit butut untuk menghemat biaya. *** Sungguh, memikirkan semua hal tadi membuat dirinya merindukan keadaan kosnya dan juga sahabat terbaiknya itu. Beruntunglah sebelum dia pindah, dia sudah memberikan alamat rumah apungnya kepada Fan agar sewaktu-waktu dia bisa berkunjung sekaligus mengirim beberapa barangnya yang sudah doa titipkan kepada Fan untuk diantar. Rama yang sudah mengisi perutnya kini sudah berada di kamarnya lagi sembari melihat jam dinding. Sungguh, jam di dinding sudah menunjukan pukul 10 malam, malam yang cukup larut bagi seorang Rama karena ini merupakan jam tidurnya yang dia inginkan. Sempurna! Itulah sebuah kata yang di katakan oleh Rama oleh Rama setelah dia melihat ke jendela. Angin baru saja bergerak memasuki jendela rumah apung yang terbuka, dan istimewanya lagi ini adalah angin pertama sewaktu Rama datang kesini. Dia tersenyum girang karena daerah ini bukan hanya menerimanya tapi alam disini juga menyambutnya dengan riang gembira. Dan, malam sudah semakin larut. Berkat semilir angin pertama yang turun dari sini, Rama bisa tidur dengan nyenyak setelah rutinitas hari pertamanya yang cukup melelahkan. Dan kini, ranjang tidur yang sudah ada di depan matanya sudah menyambutnya untuk memberikan kehangatan yang sangat nyaman. Rama yang bersiap tidur berlari ke arah sembari melompat membantingkan tubuhnya untuk segera tidur lelap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN