Bab 1

1027 Kata
2018 Sebuah pemandangan indah menyeruak menyambut Luna. Sudah hampir setengah jam Luna melakukan perjalanan. Ternyata tempat tujuan Luna itu masih memilki jarak yang dekat dari kota kecilnya. Tempat tujuan Luna sekarang adalah sebuah rumah apung yang yang berada disekitar bibir sungai. Rumah yang dilihat oleh Luna jika diperhatikan dari jauh terlihat kecil. Tapi, jika diperhatikan dari dekat, rumah itu memiliki arsitektur kayu yang cukup indah. Walau berada disekitar bibir sungai, ada jembatan kayu yang menghubungi rumah apung itu dan terdapat sebuah kotak surat berbentuk rumah burung yang indah. Jika diperhatikan rumah ini mirip sekali dengan salah satu rumah yang dia tonton bersama dengan tunangannya dua tahun lalu. Kalau tidak salah judul film thailand itu adalah The Teachers Diary. Hari ini begitu sangat melelahkan bagi Luna, tentu, karena dia harus mengemas banyak sekali barang di rumahnya dari semalam. Beberapa barang sudah dia kemas dan sudah di depan rumah apung, hanya saja masih beberapa barang lagi yang masih ada di rumahnya. Oleh karena itu, Luna lebih memilih untuk segera beristirahat. Di saat Luna mau memasuki rumah itu. Tiba-tiba, sebuah daun pintu rumah apung itu sedikit rusak dan retak. Luna hanya menghela napasnya panjang, sepertinya rumah ini dibutuhkan sebuah pemugaran agar orang selanjutnya yang tinggal disini tidak akan bernasib s**l. Luna pun segera masuk dan melihat keadaan di dalam rumah apung itu. Ternyata rumah ini dirawat dengan cukup baik nyaris tanpa cela seperti rumah yang masih baru. Rawatlah rumah apung ini layaknya rumah mu sendiri. Itulah sebuah memo singkat yang menyapa kedatangan Luna pada hari ini. Luna pun segera membuka pintu belakang dan melihat sebuah teras yang ternyata berada di depan sungai. Itulah pemandangan indah kedua yang telah menyambut Luna untuk hari ini. Luna mengambil kamera kecilnya, kemudian memotret pemandangan laut yang berwarna biru itu. Sungguh, suara semilir angin yang begitu indah di dengar membuat telinganya seperti mendengar alunan musik dan ombak pantai yang begitu indah karena mengingatkannya akan sebuah sebuah memori samar. "Sepertinya aku akan betah tinggal di rumah yang cukup sederhana ini. Sudah tenang, damai, dan menenangkan," gumam Luna sambil mengagumi keindahan Tuhan yang patut disyukuri. Tiba-tiba, di saat Luna masih mensyukuri keindahan Tuhan sebuah telepon rumah berdering. Luna pun memasuki rumah itu kemudian langsung mengangkat telepon rumah itu yang berada di bawah sebuah lukisan. "Halo, siapa ini? Ada yang bisa dibantu?" "Astaga, kamu pikir aku ini orang asing sampai kamu bertanya seperti itu. Ini aku temanmu, Lia," ujar Lia di seberang telepon itu. Luna terkekeh kecil sambil menutup mulutnya dengan dengan satu tangannya. "Akhirnya, kamu meneleponku juga. Beruntunglah aku memberikan nomor rumah ini." Di seberang sana tampak Lia yang yang sedang memakan cemilannya sambil duduk mengangkat kakinya di sofa dan membaca salah satu novel online kesukaannya disebuah platform. Sepertinya, Lia sangat depresi karena ditinggal pergi oleh temannya yang satu itu. "Luna, baru saja sehari aku sangat merindukanmu," ucap Lia lirih sambil meneguk habis s**u sapi segar di samping mejanya. Di seberang sana Luna hanya menepuk jidatnya kemudian tertawa kecil. "Baru sehari saja kamu merindukanku, nantilah kalau hari libur kamu bisa berkunjung disini. "Aku tidak mau!" Lia berteriak dan menangis dikarenakan Lia sangat fokus membaca salah satu halaman buku kesukaannya di saat tokoh utamanya tidak mengingat kekasihnya yang menghilang cuma beberapa hari. "Lia? Kenapa kamu berteriak seperti itu." "Maaf, Luna. Sepertinya aku terlalu menghayati novel ini. Aku sedih di saat Dave tidak mengingat Lina, pacarnya. Aku benci mengatakan ini! Tapi, penulis buku benar keterlaluan," ucap Lia sambil mengusap air matanya dengan tisu akibat membaca novel itu. "Sepertinya kamu meneleponku di saat yang tidak tepat. Sepertinya aku akan menutup telepon ini," ucap Luna sambil mengigit bagian bawah bibirnya. "Luna, seharusnya kamu menjawab teleponmu dengan ponsel buka dengan telepon rumah, aku ingin ...." Tut ... tut ... tut .... Belum sempat Lia melanjutkan obrolannya, dari sana Luna menutup teleponnya. "Sudah aku duga, sepertinya dia meneleponku untuk melampiaskan kebaperannya akibat kecanduannya terhadap novel," ucap Luna sambil beranjak pergi ke kamarnya. Kamar yang dimasuki oleh Luna tampaknya begitu sangat sederhana dan memikat itu. Sepertinya pengelola tempat ini merawat tempat ini dengan baik. Sampai-sanpai kasur kamarnya terlihat masih baru dan tempat tidurnya terlihat elegan karena di rancang gaya eropa dengan tembok kamarnya di hias oleh berbagai macam lukisan. "Sempurna." Itulah satu kata yang dikeluarkan oleh bibir indahnya Luna. Sepertinya dia sudah tidak sabar untuk segera tinggal di dalam rumah ini. *** Luna sekarang sedang duduk di kursi di depan teras rumahnya dan sepertinya sedang menulis sesuatu. Sepertinya Luna menulis sebuah surat yang entah untuk apa dia tuliskan. 13 Januari 2018. Untuk penghuni rumah selanjutnya. Hai, perkenalkan namaku Luna, aku penghuni pertama yang tinggal di dalam rumah ini. Aku harap kalian tahu senang bisa menyewa rumah ini. Sama sepertiku, aku sangat senang bisa menyewa rumah ini dan mengasingkan diriku di tempat ini. Oh ya, berhati-hatilah karena karena daun pintu rumah ini seperti sudah rusak jadi dimaklumi saja jika ada celah yang rusak. Tapi, tenang rumah ini seratus persen penuh dengan keindahan. Dan jangan lupa meneruskan pesan ini kepada penghuni lainnya jika ada sebuah kecacatan rumah ini yang aku tinggalkan. Luna. Setelah Luna menulis surat itu. Sepertinya, terdengar suara klakson mobil yang merupakan sopir yang baru saja mengantarnya itu. Tak disangka, karena terlena dengan keindahan rumah ini. Dia sampai tak peduli dengan keadaan sekitarnya dan membuat sopir yang mengantarnya menunggu sangat lama. Dia pun langsung bergegas melipat surat itu dan memasukannya ke saku jaketnya lalu bergegas pergi untuk keluar. Astaga, sepertinya aku membuat sopir itu menunggu lama. Lagi pula masih banyak barang di rumah yang harus aku bawa. Gumam Luna dalam hati. Luna pun keluar dari rumahnya sementara keadaan di luar rumah apung itu sedikit berkabut. Beruntung sopir itu langsung menghampirinya dan menanyakan sesuatu yang langsung disetujui oleh Luna dengan anggukan. Luna pun mengekor dibelakang sopir itu di jembatan rumah apung itu. Sepertinya jika ada kabut disekitar rumah apung ini menambah kesan yang sedikit menakutkan tetapi menurutnya ini hanya pikirannya saja karena terlalu bersemangat untuk bisa menikmati malam pertamanya di rumah apung ini. Setelah itu tak lupa, Luna menoleh ke arah kotak surat itu dengan senyuman yang paling indah itu kemudian memasukan surat yang dia tulis itu di dalam kotak kemudian beranjak pergi dari tempat itu untuk mengambil barang sisanya yang masih berada di rumah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN