Chapter 6

4222 Kata
~Italic is a Flashback~ ‘Annyeong ahjussi.’ Bocah berusia 6 tahun itu membungkuk hormat pada seorang lelaki dewasa yang kini terlihat sibuk dengan beberapa lembar berkas. Lelaki itu menoleh dan menemukan sosok anak kecil berparas manis tersenyum cerah ke arahnya membuat dirinya mau tak mau ikut tersenyum. ‘Appa, kami main dulu ya.’ Anak kandung dari lelaki itu berucap membuyarkan fokusnya dari sosok nan begitu manis tersebut. ‘E-eh, iya silahkan.’ Cho Kyuhyun berucap terbata. Kim Ryeowook membungkuk sekali lagi sebelum benar-benar pergi mengekor Siwon menuju lantai atas kediaman Kyuhyun. ‘Apa yang kau lihat, hm?’ Perempuan yang merupakan istri sah Cho Kyuhyun meletakkan segelas kopi hitam ke atas meja di mana sang suami sedang berkutat dengan kerjaan. Tae Yeon mengikuti arah pandang Kyuhyun namun tak mendapati apapun selain pintu kamar Siwon –anaknya- di atas sana yang tertutup. ‘Baru kali ini Siwon bawa teman ke rumah.’ Ucap Kyuhyun sambil menatap Tae Yeon. ‘Bukankah itu bagus? Artinya anak kita pintar bersosialisasi.’ ‘…dan…dia sangat manis…’ Bukannya membalas ucapan Tae Yeon, Kyuhyun justru berujar sendiri seraya menatap kosong pintu kamar Siwon. Tae Yeon menaikkan alis kanannya. ‘Minumlah selagi panas. Jangan memaksakan diri, jika lelah tidurlah.’ Tae Yeon mencium pipi Kyuhyun sebelum meninggalkan suaminya untuk masuk ke dalam kamar. ‘Ya…’ Gumam Kyuhyun. XXX “Siwon, mau kemana?” Yunho bertanya saat Siwon hendak masuk ke dalam taksi. “Suatu tempat.” Yunho, Changmin, Donghae, Leeteuk dan Kangin hanya mengangguk lalu membiarkan anggota gengnya pergi meninggalkan pekarangan sekolah menggunakan taksi. Padahal Siwon sudah janji ikut pergi karaoke sepulang sekolah tapi mendadak Siwon membatalkannya setelah mengangkat telpon. Mungkin lelaki tampan itu punya urusan lebih penting dari sekedar karaoke-an. Handphone Siwon kembali berdering dan saat akan mengangkatnya ia terdiam sejenak melihat nama si penelpon, Appa. “Ya, kenapa?” Tanya Siwon datar. “Tak perlu. Aku tidak langsung pulang. Mau main sama teman.” Ucapnya ketika Kyuhyun bertanya apakah perlu jemputan atau tidak. “Iya, kuusahakan tidak kemalaman.” Setelah itu panggilan diputus, Siwon memasukkan benda persegi berwarna jet black itu ke dalam saku celana. “Seoul Psychiatric Hospital.” Ucapnya pada sopir. Taksi itu melesat bergabung di tengah jalanan padat, Siwon menatap keluar kaca mobil sambil melamunkan sesuatu. “Sudah satu bulan. Maaf aku lupa mengunjungimu.” Gumamnya kemudian menutup mata. XXX “Sayang makanlah…” Kyuhyun menyodorkan sendok berisi bubur ke depan mulut Yesung namun Yesung tidak merespon sama sekali, matanya terarah ke luar jendela menatap hamparan langit biru berlukiskan awan. “Sayang, dari pagi kau belum makan…” Kyuhyun kembali menyuruh Yesung membuka mulut. “Aku tidak lapar.” Balas Yesung tanpa ekspresi. “Kim Yesung.” Intonasi Kyuhyun meninggi ketika mengucapkan nama itu, Yesung menoleh dan menemukan Kyuhyun menatapnya, tak suka. “Aku tak sesabar itu, sayang…” Kyuhyun membuka paksa mulut Yesung dan memasukkan bubur ke dalamnya membuat Yesung tersedak. “Tolong jangan membuatku marah.” Tanpa ampun Kyuhyun memaksa Yesung makan tak peduli si manis berontak menyuruhnya berhenti. Kekesalan sudah membutakan matanya, dari pagi ia menyuruh Yesung makan tapi Yesung terus menolak. Kyuhyun tahu Yesung mungkin marah padanya karena ia menampar dan tidak memperbolehkan masuk sekolah hari ini. Tapi tak tahukah Yesung kalau ia takut remaja itu akan meninggalkan dirinya? Salahkan Kim Yesung yang tadi malam dengan bodoh berniat kabur namun sayangnya Cho Kyuhyun melihat hal itu dan menggagalkan rencana Yesung. “Kyu… uhuk… aku bisa sendiri…” Yesung menyeka sudut bibir menggunakan punggung tangan. “Jangan membuatku marah lagi sayang.” Kyuhyun menyerahkan mangkuk di tangannya pada Yesung dan sesuai ucapan Yesung, ia makan sendiri. “Maaf.” Hanya itu yang keluar dari bibir pucatnya. “Habiskan, ya.” Kyuhyun mencium puncak kepala Yesung. “Kemana?” Tanya Yesung melihat Kyuhyun berdiri turun dari ranjang. “Ke kantor sebentar, mau ikut hm?” Yesung menggeleng. “Jangan berpikiran kabur lagi, Kim Yesung.” Setelah mengatakan itu Kyuhyun hilang di balik pintu kamar. Yesung meletakkan mangkuk ke meja kecil samping ranjangnya lalu kembali berbaring, melanjutkan aktivitas menatap langit siang merangkak sore. XXX Heechul menghentikan langkahnya saat akan masuk ke dalam ruang kerja, beberapa karyawan yang juga merupakan temannya di perusahaan ini nampak berkumpul sambil membicarakan sesuatu. Heechul mendekat untuk menguping apa yang mereka perdebatkan. “Heechul.” Panggilan pada namanya membuat Heechul terpaksa menoleh ke belakang. Disana Eunhyuk berdiri sambil menyerahkan cup kopi. “Kenapa berdiri di sana?” Heechul mengambil cup dari tangan Eunhyuk sambil menggeleng. “Sepertinya mereka membicarakan sesuatu tentang Kyuhyun.” Tunjuknya pada sekelompok karyawan yang terdiri dari 2 perempuan dan 3 laki-laki yang duduk di kursi meja panjang yang biasa digunakan untuk membahas masalah kerjaan. “Sebaiknya jangan ikut campur.” Tegur Eunhyuk lalu masuk ke dalam ruang kerja disusul Heechul. “Tidak biasa sekali Kyuhyun absen kerja.” Heechul meminum kopi s**u pemberian Eunhyuk lalu meletakan cup ke atas meja. “Ku dengar Yesung sakit dan Kyuhyun menjaganya.” “Hyuk, apa kau tidak menaruh curiga pada boss kita?” “Kenapa harus?” Eunhyuk menatap Heechul kesal. “Jangan mencampuri urusan pribadi orang, Kim Heechul. Bahkan polisi sekalipun tidak berhak mencampuri urusan orang, apalagi kita yang hanya karyawan.” Eunhyuk memasang earphone ke telinga dan memutar lagu, menandakan ia tak ingin lagi bicara dengan Heechul. XXX “AARRRGH!!” Lelaki itu berteriak histeris setiap kali Cho Siwon mengunjunginya. Beberapa perawat segera mengikat tangan dan kaki lelaki itu dan berniat menyuntikkan obat penenang tapi tangan Siwon terangkat memberi isyarat pada perawat agar tak perlu menyuntiknya. “Keluar.” Ucap Siwon yang segera dilaksanakan perawat di sana. “Bagaimana kabarmu?” Siwon menatap miris pada lelaki kurus yang sekarang terbaring di ranjang sudut ruangan dengan kondisi tangan serta kaki terikat. Kantung mata lelaki manis itu terlihat sangat tebal dan wajah yang dulunya selalu memancarkan keceriaan nampak lelah serta frustasi dan Siwon yakin Kim Ryeowook sangat stress hingga menjadikannya depresi diusia muda. “Maaf bulan lalu aku lupa mengunjungimu, kau tahu? Aku sangat sibuk.” Siwon terkekeh sementara Ryeowook berusaha lepas dari kekangan di alat geraknya, sudut mata Ryeowook meneteskan airmata. “Maaf Ryeowook-ah, maaf… maafkan aku…” Siwon memegang tangan Ryeowook dan menjatuhkan kepalanya di sana, airmata tak bisa ia pendam. Cho Siwon menangis. “Maaf Kim Ryeowook.” Gumamnya lagi terdengar sumbang. Siwon semakin menangis saat pergerakan Ryeowook tak terasa. “Aku sudah berusaha menyembuhkan depresimu, dan ini sudah delapan tahun, tapi…” Ryeowook merasakan tetesan air hangat mengenai tangannya. Ia diam sambil menatap kosong langit-langit kamar putih yang hanya diisi ranjang tanpa jendela maupun benda yang dirasa dapat dijadikan alat untuk bunuh diri. Siwon kembali duduk tegak namun airmata tetap setia mengaliri pipinya. Hatinya terasa sakit melihat kondisi si manis temannya ini, selama 8 tahun terakhir dihitung sejak umur Kim Ryeowook 7 tahun, waktunya dihabiskan dalam ruangan yang lebih mirip sel, hanya saja seluruh dinding maupun lantainya dilapisi matras yang tujuannya jaga-jaga kalau Ryeowook membenturkan kepala ke tembok. “Ryeowook-ah, bicaralah…jebal…” Siwon memandang tepat ke mata Ryeowook tapi Ryeowook tak pernah membalasnya dan tak akan sudi melakukannya. “Aku pulang dulu.” Seperti biasa, waktu Siwon hanya sekitar 10 sampai 20 menit untuk mengunjungi Ryeowook, selepas itu ia keluar, dan sebelum keluar sekali lagi ia menoleh berharap Ryeowook mengucapkan sepatah kata namun nihil, bibir kering nan pucat itu tetap terkantup rapat. Siwon menutup pintu sambil menghapus airmata. XXX “Apa Abeoji tahu sesuatu tentang Cho Kyuhyun?” Shim Changmin duduk bergabung dengan sang Ayah yang sedaritadi sendirian di pinggir kolam ikan taman belakang rumah. Sesekali Ayah Changmin melempar makanan ikan yang disambut baik oleh ikan-ikan di dalam air. “Untuk apa menanyakan itu?” Ayah Changmin menjawab tanpa menoleh pada sang anak. “Tempo hari lalu aku ke rumah Siwon, dan aku baru tahu Cho Kyuhyun punya anak selain temanku itu.” Kini Ayah Changmin menatap anaknya. “Setahuku anak Kyuhyun cuma Siwon.” Ayah Changmin menerawang. Dulu, dulu sekali ia memang pernah bekerja untuk Cho Kyuhyun dan lumayan mengenal seluk-beluk kehidupan pria yang sekarang tak pernah menghubunginya maupun ia hubungi. Sejak memilih keluar dari KY.Corp, Ayah Changmin memutuskan segala kontak dengan Cho Kyuhyun. “Saat dia masih muda, terdengar gosip.” Changmin nampak menyimak perkataan Ayahnya. “Kalau tidak salah saat itu, Tae Yeon istirnya masih hidup dan usia Siwon masih 5 tahun…” Changmin diam mendengarkan dengan seksama. “Ketika itu Aboeji masih bekerja sebagai tangan kanan Kyuhyun.” Changmin terlihat tak sabar menunggu kelanjutan cerita. “Gosip apa, Aboeji?” Tekannya tak sabaran. “Dia memperkosa anak di bawah umur.” Mata Changmin membulat, suaranya tertahan di tenggorokan. “Setelah gosip itu terdengar, polisi mendatangi kantor dan membawa Kyuhyun, sepertinya ada yang membuat laporan tentang kejadian itu. Tapi tidak lama di kantor polisi, Kyuhyun kembali lagi ke perusahaan.” Shim Changmin nampak tak mengerti dengan apa yang terjadi namun ia memutuskan diam. Tiba-tiba ia teringat Yesung, yang tinggal bersama Kyuhyun. XXX Taksi yang ditumpangi Cho Siwon berhenti di depan sebuah rumah kecil nan kumuh. Setelah membayar Siwon turun dan menarik napas panjang sebelum memantapkan langkahnya mendekati pintu rumah dengan penerangan seadanya. Tangannya bergerak mengetuk pintu, dapat ia dengar derap langkah menuju dirinya kemudian pintu terbuka menampakkan sesosok wanita tua bungkuk. “Masuklah, Siwon-ssi.” Siwon menggeleng sambil tersenyum. “Tidak ahjumma, saya di sini saja.” Wanita tua itu membalas senyuman Siwon. “Aku buatkan minum dulu.” Seperginya wanita tua itu, Siwon duduk di salah satu dari dua bangku yang ada di sana. Sambil mengambil handphonenya, ia menatap ke sekeliling lingkungan tempat rumah ini berada. Rumah ini jauh dari keramaian dan terletak dekat dengan tempat pembuangan sampah akhir hingga Siwon dapat mencium bau tak sedap. Tidak lama kemudian wanita tua tadi kembali membawa segelas teh lalu menyerahkannya pada Siwon. Dengan senang hati Siwon menerimanya. “Maaf bulan lalu saya lupa mengunjungi ahjumma.” Wanita 60 tahunan itu hanya tersenyum. “Mana Sungmin?” Wanita itu duduk di sebelah Siwon. “Kerja.” “Kan sudah saya bilang jangan kerja.” Siwon menatap layar handphonenya, ada 2 email masuk dan 4 missed call. “Tidak Siwon-ssi, kami tidak bisa menerima uangmu lagi.” Semua panggilan tak terjawab dan pesan singkat itu dari Kyuhyun, terakhir Kyuhyun menghubungi dirinya tepat 1 menit yang lalu. Siwon tak sadar karena handphonenya berada dalam mode silent. “Jangan buat saya merasa bersalah, ahjumma. Setidaknya biarkan saya membantu kalian.” Siwon mengambil amplop tebal dari dalam tasnya kemudian memaksa wanita itu menerimanya. “Siwon-ssi, ini sudah sepuluh tahun dan Sungmin juga tidak memikirkannya lagi, anggap saja sudah impas.” Wanita itu jelas tidak enak pada Siwon yang setiap bulan datang ke rumah kumuhnya hanya untuk memberikan jatah bulanan yang seharusnya tak perlu. Siwon mulai mendatangi rumah mereka sejak usia remaja tampan itu 9 tahun, padahal ia dan Sungmin –cucunya- tidak pernah mempermasalahkan apa yang sudah lewat. Namun sepertinya Cho Siwon masih memikirkan dan merasa bersalah, maka dari itu selama 6 tahun terakhir Siwon selalu membantu masalah keuangan mereka. “Mana bisa saya membiarkan kalian seperti ini, masa depan Sungmin hancur karena Ayah saya.” Ujung mata wanita itu berair dan Siwon jelas melihatnya meski pencahayaan di sana sangat minim. “Baiklah Siwon-ssi, saya terima uang ini tapi dengan syarat, mulai bulan depan dan bulan seterusnya, jangan kesini lagi.” Lee Sungmin berdiri mematung tepat beberapa meter dari Cho Siwon duduk. Remaja 15 tahun yang tingginya tak seberapa itu menatap Cho Siwon antara kaget dan marah. “Untuk apa kau kesini?” Siwon berdiri. “Sungmin-ah…” Sungmin berjalan menuju neneknya kemudian merampas amplop berisikan uang lalu melemparkan tepat ke wajah Siwon, uang dalam amplop berceceran ke lantai. “Sudah berkali-kali ku bilang jangan tampakkan wajahmu lagi!” Sungmin berseru kesal dengan wajah memerah. “Niatku baik, Lee Sungmin.” Gumam Siwon, Sungmin mendecih. “Kami bisa hidup tanpa bantuanmu, Cho Siwon!” Namun nyatanya tidak. Sungmin bahkan kesusahan harus banting tulang sendirian untuk mencari uang diusianya yang baru menginjak 15. Dan tidak bisa disangkal bahwa sebelum ia dapat kerjaan, bantuan dari Cho Siwonlah yang membuat ia dan sang nenek masih bisa bernapas dan makan. “Aku tahu gajimu yang bekerja di rumah makan itu tak seberapa, Lee Sungmin.” Sungmin tersenyum hambar, kebencian tak lepas dari kedua matanya saat menatap Cho Siwon. “Biarkan aku membantumu…” Suara Siwon terdengar penuh penyesalan, matanya terus memandang Sungmin. “Mulai sekarang aku tak perlu bantuanmu.” Ucapnya ketus. Siwon terdiam. XXX ‘Appa, kau dimana?’ Cho Siwon kecil berkeliling dari dalam panti asuhan sampai taman belakang hanya untuk menuruti perintah Tae Yeon –Ibunya- mencari keberadaan sang Ayah yang sudah menghilang sejak beberapa jam lalu. Namun sejauh ini Siwon belum mendapati keberadaan Kyuhyun hingga membuatnya agak frustasi. Matahari semakin turun dan langit mulai gelap, Siwon maupun Tae Yeon ingin segera pulang tapi hilangnya sang kepala keluarga membuat mereka mau tak mau harus mencari lelaki itu kesetiap ruangan yang ada di panti asuhan. Hari ini mereka melakukan kunjungan ke panti asuhan yang rutin keluarga Cho lakukan setiap tiga bulan sekali untuk memberikan bantuan dana. Betapa dermawannya Cho Kyuhyun dan itu membuat cinta Tae Yeon pada suaminya semakin besar. ‘Belum ketemu. Aku harus cari kemana lagi, Eomma?’ Cho Siwon yang kala itu berusia lima tahun mergelayut manja di dekapan Ibunya yang teramat cantik. ‘Kau cari di taman belakang, Eomma akan ke lantai atas.’ Siwon menatap Ibunya sambil memasang wajah masam. ‘Tadi aku sudah cari ke sana, tapi Appa tidak ada.’ Lelah sebenarnya mencari keberadaan satu manusia di luasnya panti asuhan ini dan tentu Cho Siwon malas mencarinya hanya saja karena ia anak yang patuh pada orang tua, walau agak terpaksa tapi nyatanya ia tetap menurut pada Tae Yeon. Siwon kembali menuju taman belakang panti asuhan sambil meneriakkan ‘Appa’ Ia tetap berjalan sampai akhirnya diam tepat beberapa meter dari pintu keluar yang terdapat di sana. Berbekal rasa ingin cepat pulangnya, meski takut tapi Siwon tetap keluar lewat pintu itu namun tidak mendapati apa-apa. Siwon terus berjalan meski penerangan di jalan setapak yang akan membawanya entah kemana ini sangatlah temaram, hanya ada beberapa lampu jalan yang masih hidup dan kebanyakannya mati. Siwon terus berjalan dan mendapati tempat pembuangan sampah akhir, ia menutup hidung dengan tangan mencium bau menyengat dari sana. Awalnya Siwon ingin berbalik namun suara samar memaksa kaki-kaki kecilnya tetap melangkah. ‘…hiks… ahhh…’ Suara itu semakin jelas saat Siwon mendekati sebuah rumah kumuh yang tak layak huni. Pintu rumah itu sedikit terbuka dan ia memutuskan mengintip. ‘…ahjusshhii…ahh… ber..hen…thii…’ Mata Siwon membulat melihat pemandangan di depannya. Anak kecil yang seusia dirinya berada dalam tindihan sang Ayah dan yang lebih parah anak itu telanjang, kemaluan Kyuhyun menancap di a**s si bocah, Siwon melihat itu dengan sangat jelas. ‘…uuuhhh…’ Kyuhyun melenguh merasa dirinya sudah mencapai klimaks. Anak di bawahnya terus menangis sambil berusaha lepas. Mata anak itu tertuju pada pintu keluar, tangannya terulur dan bibirnya nampak mengucapkan sesuatu. Siwon menatap kejadian itu dalam hening, matanya membulat tak percaya. Anak yang tengah diperkosa Ayahnya itu menatap tepat menusuk matanya, tangan anak itu seperti ingin menggapai dirinya dan bibirnya terus mengucapkan, ‘Tolong…’ XXX Pagi harinya Siwon sudah berada di ruang makan untuk sarapan, karena perutnya yang sangat lapar Siwon memutuskan memasak mie merasa Yesung maupun Kyuhyun tak kunjung turun. “Pulang jam berapa tadi malam?” Suara Kyuhyun menghentikan gerakan Siwon mengaduk mie dalam panci. “Lewat tengah malam.” Balas Siwon seadanya lalu mengambil mangkuk untuk meletakkan mie yang sudah jadi. “Kemana?” Kyuhyun duduk di salah satu kursi sambil tatapannya tak lepas dari sang anak. “Apa pedulimu?” Siwon membawa sarapannya ke atas meja makan, ia duduk dan tak mempedulikan Ayahnya yang sedaritadi seakan mempelototinya. “Kau anakku, Cho Siwon. Katakan kau kemana?” Mendadak Siwon merasa kehilangan nafsu makan hingga ia tak jadi memasukkan mie ke dalam mulut. “Ke rumah korban pertamamu.” Wajah Kyuhyun mengeras sementara Siwon tetap memasang ekspresi datar. Yesung masuk ruang makan dan mendapati Kyuhyun sudah berpakaian rapi dan Siwon sedang makan mie, mereka berdua menatap bersamaan ke arahnya. “Pagi sayang.” Sapa Kyuhyun dapat balasan senyum dari Yesung. Siwon berdiri. “Yesung, mau berangkat ke sekolah bersamaku?” Tawar Siwon tidak biasanya. Yesung menatap Kyuhyun yang seakan menyuruhnya menolak. “T-tidak, aku sama Kyuhyun saja,” Siwon tersenyum hambar kemudian berjalan. “Hati-hati, ya.” Bisik Siwon saat melewati Yesung. Seperginya Siwon, Yesung menghampiri kulkas mencari bahan untuk sarapan. “Yesung.” Panggil Kyuhyun membuat pergerakan Yesung terhenti. “Tidak usah masak.” Kyuhyun memberi isyarat agar mendekat, Yesung menurut dan kini pria manis itu berdiri di samping Kyuhyun. “Apa kau sayang padaku?” Yesung diam. Apa ia menyayangi Kyuhyun? Iapun tidak tahu, lima tahun hidup bersama Kyuhyun memang benar ia merasa nyaman dan aman bersama laki-laki itu, hanya saja saat ditanya seperti ini? Ia bahkan tak tahu harus menjawab apa karena ia sendiri tak tahu apakah ia sayang Kyuhyun atau tidak. “Jawab sayang.” Paksa Kyuhyun sambil menarik Yesung duduk ke pangkuannya. “Kau sudah seperti Ayah bagiku.” Kyuhyun terkekeh. “Kau tentu menyayangi Ayahmu, kan? Apa itu artinya kau juga menyayangiku?” Lagi-lagi Yesung terdiam. Kyuhyun memeluk Yesung dan menenggelamkan kepalanya di ceruk leher lelaki itu, menikmati aroma sabun di tubuh Yesung yang begitu memabukkan. Yesung mulai risih dan melakukan perlawanan kecil. “Sudah jam 7, Kyu.” Peringat Yesung. “Iya, sudah jam 7.” Yesung merasa lehernya dijilat dan itu membuatnya geli. “Kyu…” Suara Yesung bergetar. “Ada apa sayang?” Kyuhyun menghadapkan Yesung padanya dan melihat wajah Yesung merah dan, agak ketakutan. “Aku sekolah…” Kyuhyun mengabaikan Yesung, tangannya membuka kancing seragam namun Yesung menahannya. “Kyu…” Lirihnya semakin ketakutan, Kyuhyun menatap mata Yesung. “Puaskan aku, sayang.” Mata Yesung membulat, ia bahkan tak bisa mencegah ketika tangan itu melepas lalu membuang kemejanya ke atas lantai. Kyuhyun menyambar leher Yesung, mulai dari menjilatinya sampai mengigitnya. Tentu Yesung berontak, ia mendorong kepala Kyuhyun namun pergerakannya ditahan lelaki itu. “Kyuhh…” Desahan terdengar di ruang makan. “Hmm??” Gigitan Kyuhyun semakin ganas sementara tubuh Yesung memanas merasakan sentuhan Kyuhyun di bagian sensitif dadanya. Kyuhyun mendudukan Yesung di lantai sambil ia menurunkan celana. Lagi-lagi mata Yesung melebar melihat alat kelamin Kyuhyun berdiri, Yesung hampir lari jika saja Kyuhyun tidak menarik tangannya. “Mana balas budimu, sayang?” Yesung terus berontak tapi Kyuhyun memaksa ia duduk di lantai. Wajah Yesung tepat menghadap alat Kyuhyun dan ia terus menggeleng ketika Kyuhyun berusaha membuka mulutnya. “Ayolah sayang… aku sedang ‘ingin’…” Yesung terisak keras dan Kyuhyun terus menyodorkan alatnya ke depan mulut Yesung. “Kim Yesung!” Bentak Kyuhyun membuat Yesung mendongak menatapnya, wajah Yesung sudah basah dan memerah. “Cepatlah sayang, atau kau terlambat sekolah.” Kedua tangan Yesung mengepal. Tidak Siwon tidak Kyuhyun, keduanya sama saja, sama jahatnya. Ia tidak tahu apa salahnya hingga Kyuhyun memperlakukan dirinya sampai begini. JLEB Tanpa sadar kini alat Kyuhyun memenuhi mulut Yesung, kepala Yesung ditahan tangan Kyuhyun dan rambut remaja itu di jambak. “…uuhhh… seperti itu sayang…” Kyuhyun menaik-turunkan kepala Yesung menyuruh mengoral alatnya yang sangat besar itu. Yesung terbatuk keras merasa ujung kelamin Kyuhyun menyentuh tenggorokannya. Ia meracau tak jelas. Airmata terus menetes dari kedua matanya. XXX “Kau lihat Yesung tadi?” Yunho bergabung di meja panjang kantin sambil meletakkan nampan makan siangnya. Ia menatap Siwon yang duduk di depan. “Kenapa Yesung?” Changmin nampak penasaran sementara Siwon tidak peduli, ia terus makan tanpa niatan menatap teman-temannya. “Ku lihat dia terlambat dan dihukum.” Yunho melirik sebentar ke arah lapangan di mana Yesung berdiri dekat tiang bendera sambil hormat. Cuaca sangat panas dan tentu berdiri di lapangan bukanlah hal mudah. “Yesung tidak bersamamu, Siwon?” Leeteuk berujar dengan mulut penuh nasi. “Aku berangkat duluan.” Jawabnya masih tak mau menatap satupun di antara lima temannya. “Hei… hei… Yesung pingsan!” Kali ini Siwon berdiri dan mendapati Yesung sudah jatuh di lapangan sana. XXX ‘Tolong…’ Siwon kecil melihat jelas bibir bocah itu berucap demikian. Ia masih saja mematung tak tahu harus berbuat apa. ‘Siapa?’ Tiba-tiba suara terdengar di belakangnya membuat Siwon menoleh dan mendapati wanita tua membawa tumpukan kardus. Siwon masih terdiam sampai akhirnya perempuan itu membuka pintu dan terjatuh lemas melihat pemandangan di dalam rumahnya. Kyuhyun menoleh ke arah pintu dan mendapati sang anak berdiri mematung bersama wanita tua yang duduk lemas di lantai. Segera Kyuhyun mencabut alat kelaminnya dari a**s bocah itu, darah beserta s****a meluber keluar dari dalam sana. Anak itu terus terisak keras sementara Kyuhyun menaikkan kembali celana. ‘Sejak kapan kau lihat?’ Kyuhyun menghampiri Siwon. Siwon tidak menjawab, matanya menampakkan keterkejutan yang sangat. ‘Tolong lupakan kejadian hari ini.’ Kyuhyun mengambil sesuatu dalam saku jasnya. ‘Tulis saja berapa banyak uang yang kau butuhkan di sana.’ Kertas yang merupakan cek itu terjatuh ke lantai tepat di depan wanita tua. ‘Setelah itu hubungi aku.’ Kyuhyun melempar kartu nama lalu menarik Siwon pergi. ‘Appa!’ Seru Siwon ketika mereka sudah menjauhi rumah kumuh tadi. ‘Diam saja Cho Siwon, atau kau tidak akan pernah melihat Appa bersama Eomma lagi.’ Kyuhyun menarik tangan Siwon, membawanya kembali ke panti asuhan di mana Tae Yeon sudah menunggu. ‘Kenapa tidak telpon saja hm?’ Siwon tidak menjawab. XXX “Meetingnya di mana?” Kyuhyun bertanya pada Heechul yang kini sibuk mengemudikan mobil. “Dekat panti asuhan Kasih Ibu.” Mata itu menatap nyalang pada mobil di luaran sana, mendengar nama tempat tersebut membuat Cho Kyuhyun terpaksa mengingat kejadian beberapa tahun silam yang masih membekas diingatannya. “Kenapa harus dekat sana?” Intonasi Kyuhyun tak bisa dijelaskan namun satu yang Heechul yakin, lelaki itu nampak tak suka. “Disana ada rumah makan dan klien kita ingin membahas masalah kerja sambil makan siang.” Jelas Heechul sambil melirik Kyuhyun melalui spion dalam mobil. Sosok bossnya itu terlihat melamunkan sesuatu. “Memangnya ada apa, Kyuhyun-ssi?” Yang ditanya tidak menjawab membuahkan helaan napas dari sang penanya. Kyuhyun masih menatap keluar kaca mobil dimana sekarang mereka melewati flyover. Ini sudah sepuluh tahun semenjak kejadian itu. Sebenarnya ia tidak merasa bersalah maupun merasa tidak enak, hanya saja seperti membuka sesuatu yang tak ingin ia buka. Kyuhyun tentu ingat jelas bagaimana suara tangisan bocah seusia Siwon saat itu, ingat betul bagaimana shocknya wanita tua yang memergoki mereka dan ingat bagaimana ekspresi Siwon melihat dirinya berbuat setercela itu pada anak yang bahkan tak sengaja ia temui kala itu. Namun sekali lagi, Cho Kyuhyun tidak peduli. Selama ia merasa puas apa saja akan ia lakukan tak peduli jika yang ia lakukan itu menghancurkan hidup orang yang tak seharusnya ia hancurkan. XXX Siwon menatap Yesung yang terbaring lemah di atas ranjang UKS, setelah membawa anak itu dari lapangan, ia memutuskan menemani Yesung meski sekarang pelajaran di kelasnya mungkin sudah di mulai. Wajah Yesung sangat pucat dengan peluh dingin nampak di dahi, sudut bibir Yesung berdarah yang diyakini bekas tamparan atau bahkan pukulan dari seseorang, di antara semua itu yang paling membuat hati Siwon miris adalah, menemukan leher Yesung terdapat beberapa kissmark. Ia yakin sebelum Yesung pergi sekolah, tepatnya setelah ia meninggalkan remaja itu bersama Ayahnya di rumah, Cho Kyuhyun sudah melakukan sesuatu pada namja manis ini. Siwon mengusap kepala Yesung. “Ku tinggal dulu ya.” Ucapnya sebelum keluar UKS. XXX Kantor Cho Kyuhyun kedatangan beberapa polisi yang memaksa lelaki tampan itu ikut mereka. Kyuhyun mau-mau saja dan sesampainya di kantor polisi ia melihat Lee Sungmin duduk di kursi menghadap seorang polisi dan wanita tua yang Kyuhyun yakin nenek dari bocah itu juga berada di sana. Wanita itu berdiri lalu menampar Kyuhyun membuat berpasang-pasang mata yang ada di sana menatap ke arah yang sama. Wanita tua itu hendak menampar Kyuhyun untuk kedua kalinya namun tangannya tertahan di udara karena Kyuhyun bersuara. ‘Ada apa?’ Wajah Kyuhyun nampak polos yang sumpah membuat wanita tua itu semakin geram. Ia hendak mencakar Kyuhyun tapi polisi menahan tubuh rentanya. ‘Masuklah ke ruang introgasi.’ Kyuhyun mengekor salah satu polisi masuk ke dalam ruangan yang jauh dari keramaian. Ia di dudukkan di kursi, tepat di sebrangnya ada seseorang berpakaian serba hitam menatap ke arahnya sambil memegang pena dan buku kecil. ‘Kami dapat laporan.’ Mula polisi itu. ‘Cho Kyuhyun, CEO KY.Corp memperkosa bocah di bawah umur.’ Kyuhyun terkekeh, suaranya menggema di ruangan tanpa jendela maupun ventelasi, satu-satunya akses keluar hanyalah pintu yang berada jauh dari jangkauannya. ‘Kau percaya pada wanita tua itu?’ Kyuhyun menyilangkah kaki dan menyamankan posisi duduk. ‘Lee Sungmin beserta neneknya membuat laporan pagi ini. Kemarin malam kau memperkosa Lee Sungmin. Apa benar?’ Kyuhyun tertawa lagi. ‘Mana buktinya?’ Polisi itu mengambil kartu nama beserta cek lalu menyodorkannya ke arah Kyuhyun. Lelaki tampan itu tetap tenang. ‘Ini milikmu, kan?’ Kyuhyun menaikkan satu alisnya. ‘Kau mau berapa?’ Polisi itu terdiam. ‘Tulis saja di cek.’ Jelas polisi itu mengerti. ‘Baiklah Cho Kyuhyun,’ Polisi itu menyerahkan kartu nama Kyuhyun kembali pada pemiliknya. ‘Sepulang dari sini ku transfer.’ Kyuhyun berdiri seraya mengambil cek dari tangan polisi. Dengan santai ia keluar ruang introgasi, namun sebelum benar-benar pergi, ia menoleh ke arah polisi itu. ‘Tolong hapus rekaman introgasinya ya.’ ‘Tentu, senang bekerja sama denganmu, Kyuhyun-ssi.’ To Be Continue
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN