Chapter 7

2237 Kata
Heechul menarik kursi untuk Kyuhyun duduk, selepas sang atasan menjatuhkan p****t ke atasnya, barulah Heechul duduk tepat di samping Kyuhyun. Di depan mereka sudah ada dua orang lelaki berusia lanjut yang nampak tersenyum ke arah Kyuhyun dan Kyuhyun tak mau sombong, iapun membalas senyuman mereka berdua. "Bagaimana kabarmu, Cho Kyuhyun-ssi?" Pria beruban paling banyak itu menyodorkan tangannya ke arah Kyuhyun. "Baik, Anda sendiri?" Kyuhyun membalas jabat tangan pria yang akan menjadi rekan bisnisnya. "Selalu baik." Semuanya tersenyum dilanjutkan dengan obrolan santai sampai akhirnya pelayan di rumah makan itu mendatangi meja mereka. "Pesan apa?" Tanya pelayan yang berusia masih lima belas sambil menyiapkan buku kecil dan bolpoin. Heechul menatap ke arah anak itu lalu kembali fokus pada Kyuhyun. "Mau pesan apa, Kyuhyun-ssi?" Tanya Heechul. Kyuhyun memandangi anak itu sekilas sebelum membaca buku menu. "Apa ya...??" Gumam Kyuhyun. "Silahkan pesan, Kyuhyun-ssi, biar kami yang bayar." Ucap salah satu dari dua orang tua di depan Kyuhyun dan Heechul. "Ah, Kamsahamnida." Balas Kyuhyun ramah dan kembali fokus melihat-lihat isi buku menu. Sementara anak yang sedaritadi diam di samping meja yang berisikan empat laki-laki itu, tatapannya tak lepas dari Kyuhyun. Kebencian menyeruak di dadanya. Meski ini sudah 10 tahun namun ia ingat betul akan sosok yang tanpa ampun menyodok dirinya. Sosok yang ingin sekali ia masukkan ke penjara namun selalu gagal. "Apa kau mengenalku?" Suara dingin Kyuhyun menarik Lee Sungmin kembali pada dunianya, dunia dimana semuanya terasa tak adil. Sungmin tidak menjawab pertanyaan Kyuhyun. "Empat sup ayam dan teh ginseng." Heechul bersuara yang refleks Sungmin mencatatnya, setelah itu Sungmin berlalu. "Kenapa Kyuhyun-ssi?" Tanya Mr. Jung, Kyuhyun menggeleng seraya tersenyum. XXX 'Jawab Cho Siwon! Apa benar kau berada di tempat kejadian?' Siwon kecil menundukkan kepalanya mendengar bentakan dari polisi berbadan besar sementara Ayahnya hanya duduk diam dengan tangan disilangkan ke d**a dan kaki kanan berada di atas kaki kiri. Tidak jauh dari ia duduk sekarang, ada Lee Sungmin dan sang nenek yang terus-terusan menatap benci padanya dan Kyuhyun. Ruangan introgasi itu terasa dua kali lipat lebih dingin namun entah kenapa peluh menetes dari dagu Siwon. 'Cho Siwon! Ku tanya sekali lagi! Apa kau berada di sana!?' Siwon menggeleng tegas sambil menatap polisi yang sedaritadi membentaknya dengan pertanyaan. 'Tidak. Aku tidak ada di sana. Aku dan Appa pulang jam tujuh dari panti asuhan.' Harapan yang awalnya begitu besar dari Lee Sungmin yang ingin memenjarakan pemerkosanya kini harus ia kubur dalam-dalam. Jelas-jelas kala itu Cho Siwon berada di sana dan menyaksikan adegan ia diperkosa, tapi? Lelaki itu bohong. 'Jangan pernah menuduhku yang tidak-tidak jika kalian tak punya bukti.' Kyuhyun berdiri dari duduknya. 'Ayo pulang, Siwon-ah.' Kyuhyun menggendong Siwon. 'Dasar b******k!' Sungmin berseru tidak terima. Ia dan neneknya kembali melaporkan Kyuhyun ke kantor polisi yang berbeda berharap menemukan keadilan disana namun nyatanya? Siwon berbohong dan Sungmin yakin satu di antara dua polisi yang mengintrogasi mereka sudah disogok Kyuhyun terlebih dahulu. 'Aku akan membalasmu, b******k!' Kyuhyun tidak peduli, ia tetap keluar ruang introgasi bersama Siwon dalam gendongan. 'Good boy.' Bisiknya pada Siwon. Siwon hanya diam, hatinya terus merasa tidak enak teringat Lee Sungmin dan nenek bocah itu. XXX BYUR Cho Kyuhyun menyapu wajahnya dengan tangan. Air yang syukurnya tidak panas itu sedetik yang lalu menyiram wajah hingga jas mahalnya ikut terbasahi. Heechul yang melihat itu segera membersihkan Kyuhyun dengan sapu tangan. Si pelaku penyiraman tak lain dan tak bukan adalah Sungmin. Remaja itu berdiri di samping Kyuyun dan nampak puas mempermalukan Kyuhyun, tak peduli dirinya di anggap kurang ajar atau apa. Kyuhyun menarik sudut bibirnya membentuk seringaian. Ia jelas ingat siapa yang berani menyiramnya sekarang. Ia menganggap mereka sudah tidak punya hubungan apapun lagi dan semua impas saat ia memberikan cek uang. Kyuhyun kira cek itu akan di tulis sejumlah uang dan nenek Sungmin menghubunginya untuk menagih, namun yang ia dapat malah beberapa polisi membawanya untuk di introgasi. Kyuhyun tertawa ingat kejadian itu. "Ah, aku basah." Ucap Kyuhyun sambil menatap Sungmin. "Seharusnya kau lebih hati-hati," Kyuhyun berdiri. "Untung saja bukan air panas." Kyuhyun tertawa dan memberi aba-aba pada Heechul. "Maaf Jung Yong Hwa-ssi, pertemuannya bisa ditunda saja?" Kyuhyun tersenyum begitu tulus. "Baiklah, Kyuhyun-ssi." Terpaksa ia mengiyakan. "Heechul-ssi, tolong beri anak ini uang." Heechul menurut, ia mengambil setumpuk uang dari dalam tas lalu menyerahkannya ke tangan anak itu. Sungmin hanya bisa membatu dengan uang dalam pegangan. XXX Malam terasa begitu dingin membuat Yesung menarik selimut sampai menutupi semua tubuhnya. Ia bergerak resah merasa sakit di kepala. Saat ia membuka mata yang dilihatnya adalah langit-langit kamar. Seingatnya tadi ia berada di sekolah. "Yesung makanlah." Ternyata ia tidak sendiri melainkan ada Siwon. "Makan lalu minum obatmu, ya." Siwon berdiri dan keluar kamar, berpapasan dengan Kyuhyun yang hendak masuk. "Dia sakit, Appa. Ku harap Appa tidak membuatnya lebih sakit lagi." Setelah mengatakan itu Siwon benar-benar keluar. Kyuhyun tidak peduli, ia masuk dan duduk di samping Yesung berbaring. "Kenapa sampai sakit, hm?" Kyuhyun meletakkan telapak tangan ke atas dahi Yesung, terasa sedikit panas. Yesung tidak menjawab, ia kembali menutup mata merasa tidak ingin bertemu pandang dengan Kyuhyun. "Sayang, kau marah padaku?" Kyuhyun ikut berbaring dan memeluk Yesung. "Sayang, jawab aku..." Kyuhyun menghadapkan wajah Yesung padanya membuat mata Yesung terbuka. "Tidak, Kyu. Aku hanya mengantuk." Bohongnya. "Baiklah sayang, tidur yang nyanyak ya. Aku akan menjagamu." Pelukan Kyuhyun mengerat. Seharusnya itu terasa nyaman seperti dulu, namun sekarang pelukan Kyuhyun terasa berbeda. "Hm." Balas Yesung seadanya sambil menutup mata. XXX Setelah upacara bendera usai Siwon masuk ke kelas bersama kelima temannya. "Siwon, Yesung tidak masuk?" Tanya Kangin yang sedari dulu begitu mengagumi Yesung dan sekarang ia tidak menemukan keberadaan namja manis itu. "Sakit." Siwon mendudukan diri di bangku kemudian mengeluarkan buku bersiap menerima ilmu. "Siwon, bisa bicara sebentar?" Changmin yang duduk di belakang Siwon berujar. "Bicaralah." Tanpa berbalik menatap Changmin, Siwon menyahut. "Ini penting Siwon, aku tak bisa membicarakannya disini." Kali ini Changmin mencondongkan tubuhnya pada Siwon agar percakapannya tak ada yang mendengar kecuali mereka berdua. "Memangnya ada apa, Shim Changmin?" "Ini tentang Yesung." Siwon berbalik dan mendapati wajah Changmin hanya beberapa senti dari wajahnya, Changmin menjauh. "Tentang Yesung dan Ayahmu." Ekspresi Siwon berubah. "Aku tak mau dengar apapun." Ketus Siwon dan kembali menghadap depan, ternyata sudah ada Guru. "Aku hanya khawatir pada Yesung, Siwon-ah." Siwon tidak menjawab. "Ayahmu p*****l dan Yesung..." "Diam Changmin-ah! Ini urusan keluargaku dan kau orang luar tak perlu mencampurinya!" Sambil mengatakan itu Siwon berdiri, semua mata tertuju padanya. "Siwon, tapi..." Siwon memasukkan semua buku ke dalam ransel lalu keluar kelas begitu saja, tak peduli Guru matematika mereka berteriak dan menyuruhnya kembali. XXX Hari ini Kim Ryeowook ke rumah Cho Siwon, tujuannya jelas ingin main bersama teman sekelasnya itu karena ia suka bermain di rumah Siwon yang dipenuhi banyak mainan impian anak seusia dirinya. Sesampainya di depan pintu utama rumah, Ryeowook ingin menekan bel namun sayang tubuh pendeknya tak sampai. 'Eh, Wookie.' Tiba-tiba seorang wanita muda nan begitu cantik berdiri di belakang Ryeowook sambil kedua tangannya memegang dua kantung belanjaan. 'Siwon ada?' Tanya Ryeowook semangat. 'Iya ada, ayo masuk.' Tae Yeon membuka pintu rumah, setibanya di ruang tengah, ia melihat sofa sudah diduduki sang suami dan sang anak yang lagi seru-serunya nonton pertandingan bola. 'Eh Ryeowook.' Kaget Siwon melihat Ryeowook bersama Tae Yeon. Ryeowook tinggal jauh dari kediamannya, tepatnya di panti asuhan dekat taman kanak-kanak tempat Siwon bersekolah dan itu berjarak puluhan kilometer dari rumahnya. Dan, apa yang membawa Ryeowook kesini dihari libur? 'Maaf aku tidak menghubungimu, Siwon-ah.' Siwon menghampiri Ryeowook. 'Tidak apa, ayo kita main.' Siwon tentu tahu maksud dan tujuan Ryeowook ke rumahnya. Tinggal di panti asuhan tidaklah semenyenangkan itu, memang benar punya banyak teman dengan nasib hampir serupa namun di sana tidak ada satupun mainan seperti mobil-mobilan bahkan bola sepakpun tak diijinkan. Ryeowook dan Siwon menaiki tangga menuju lantai atas. 'Kenapa hm?' Tae Yeon bertanya pada Kyuhyun yang sedaritadi menatap Ryeowook, bahkan suaminya itu tak sadar klub sepak bola kebanggaannya mencetak gol. 'E-eh... T-tidak...' Jawabnya tergugu. Senja bergelayut menjadi malam dan sehabis makan malam di kediaman Siwon, Kyuhyun menawarkan tumpangan pada Ryeowook. Jelas Ryeowook menerima tawaran Kyuhyun dengan senang hati. 'Hati-hati, ya.' Bisik Siwon pada Ryeowook yang hendak memasuki mobil. 'Aku akan selamat ko, Siwon, kan Appamu pengemudi yang handal.' Ryeowook tersenyum sambil mengatakan itu. 'Bukan itu maksudku...' 'Kim Ryeowook.' Panggil Kyuhyun dari dalam mobil. Ryeowook melambaikan tangan ke arah Siwon lalu masuk dan duduk di jok sebelah Kyuhyun. 'Sampai besok, Siwon!' Ucapnya ceria. Siwon hanya memandang ke arah perginya mobil. 'Siwon tak mau bantu Eomma cuci piring?' Kemudian suara Tae Yeon membuyarkan lamunannya. Ryeowook nampak sangat senang bisa naik mobil terbukti ia yang sedaritadi tidak bisa duduk diam, sesekali ia menaik-turunkan kaca mobil dan memainkan lampu di dalam sana. 'Wookie mau dibelikan apa?' Kyuhyun bertanya sambil menatap Ryeowook sekilas. 'Hmmm... apa ya...' Ryeowook memasang pose berpikir. 'Mau coklat, ahjussi!' Ucapnya riang. 'Panggil Kyuhyun saja.' Tegas sang namja tampan dibalas anggukan dari si bocah. 'Baiklah Kyuhyun.' Mobil Kyuhyun terparkir di depan sebuah toko permen yang juga menjual coklat. Kyuhyun turun duluan kemudian membukakan pintu untuk Ryeowook, lalu ia menggendong bocah itu masuk ke dalam toko. Ryeowook terlihat sangat gembira. XXX Dua hari kemudian keadaan Yesung normal kembali. Ia sudah bisa memasak dan wajah manisnya tak lagi pucat. Pagi ini seperti biasa Yesung masak sarapan, ia nampak sibuk memotong telur gulung sebelum kegiatannya terhenti merasa sepasang tangan memeluk dari belakang. "Pagi sayang." Ia tahu siapa pemilik lengan besar ini. "Pagi, Kyu." Balas Yesung singkat seraya meletakkan telur ke atas piring, kemudian ia mengaduk-aduk sup di dalam panci. Kyuhyun masih enggan melepaskan pelukan pada remaja bertinggi 165 ini, ia masih betah dengan posisinya, ia malah mengeratkan peluknya membuat punggung Yesung menempel sempurna di dadanya. "Kyu..." Tegur Yesung merasa Kyuhyun semakin menjadi. Terpaksa Kyuhyun melepas pelukan saat mendengar langkah kaki menuju dapur. Ia duduk tepat setelah Siwon masuk. Anaknya itu datang sambil menguap lebar, walau rambut Siwon nampak basah yang menandakan ia sudah mandi, tapi entah kenapa hari ini Siwon terlihat berantakan. "Kau begadang?" Kyuhyun menghadapkan tubuhnya pada Siwon yang duduk tepat di sebrang. "Iya." Siwon meminum s**u yang di sediakan untuknya. "Kalau tidak ada tugas sebaiknya jangan tidur kemalaman, Cho Siwon." Peringat Kyuhyun. Yesung meletakkan segelas kopi hitam ke depan Kyuhyun kemudian menata semua masakannya di atas meja, lalu ia duduk. "Terima kasih, sayang." Kyuhyun tersenyum pada Yesung. "Aku ada tugas, Appa..." Siwon mulai makan diikuti Yesung. "Tugas apa?" Siwon tidak menjawab melainkan melirik ke arah Yesung. "Tak perlu tahu." Ucapnya kemudian. XXX "Yesung, kenapa tidak ganti baju?" Salah seorang teman sekelas Yesung bertanya ketika mendapati hanya Yesung seorang yang tidak memakai baju olahraga padahal sebentar lagi mereka harus turun ke lapangan. Yesung menggeleng, kelas penuh dengan anak laki-laki yang berganti baju dan ia memutuskan tidak ikut dan menunggu mereka keluar saja. "Aku nanti." Balasnya mendapat anggukan dari temannya. "Jangan sampai telat ke lapangan ya, nanti seonsaengnim marah." Peringat teman Yesung sebelum kelas benar-benar kosong. Yesung menghela napas, ia mengeluarkan baju olahraga dari ranselnya kemudian melepas kemeja, dipandanginya tubuhnya yang terdapat semakin banyak kissmark. Rasanya kemarin tubuhnya baik-baik saja, dan sekarang? Ia yakin sesuatu tadi malam telah terjadi padanya. Buru-buru Yesung berganti baju dan keluar kelas, di tengah koridor menuju lapangan tak sengaja Yesung berpapasan dengan Siwon yang sepertinya disuruh guru membawa buku paket ke kantor. "Siwon..." Panggil Yesung ketika Siwon melewatinya. Siwon menghentikan langkah dan berbalik, ia mendapati Yesung menatap ke arahnya. Yesung mendekat. "Jangan masuk ke kamarku lagi." Ucapnya tegas, Siwon hanya diam. "Jangan menyentuhku." Lanjut Yesung. "Siapa suruh tidak kunci pintu." Siwon hanya membalas demikian lalu melanjutkan jalan menuju kantor guru, tidak peduli Yesung yang meneriakkan namanya. XXX Ryeowook semakin sering ke rumah Siwon. Kali ini tujuannya bukan untuk main dengan bocah tampan itu melainkan ingin bertemu Kyuhyun. Sama halnya dengan minggu ini, Kim Ryeowook diantar taksi tiba di rumah Kyuhyun dan di sambut baik oleh Tae Yeon yang mengira Ryeowook mencari Siwon. 'Masuk saja Ryeowook-ah,' Ucap Tae Yeon ramah. 'Ahjumma mau kemana?' Tanya Ryeowook melihat Tae Yeon berpakaian tidak biasa dan wajah cantiknya ditutupi make up natural. 'Mau ke rumah teman.' Balas Tae Yeon sambil mengusap kepala Ryeowook. Ryeowook hanya mengangguk dan membiarkan Tae Yeon menuju garasi untuk mengambil mobil. 'Kyuhyun!' Seru Ryeowook dan menghambur ke pelukan Kyuhyun yang tengah sibuk dengan laptop di sofa ruang tengah. Kyuhyun meletakkan laptopnya ke atas meja setelah men-shut down, ia memeluk Ryeowook dan mencium pipi bocah manis itu. Ryeowook senang diperlakukan begini, ia merasa memiliki Ayah yang teramat sayang padanya. Kebetulan Ayah-Ibunya meninggal sedari ia kecil dan ia dimasukkan ke panti asuhan oleh kakek-neneknya yang tinggal di panti jompo. Ia tak punya keluarga di Seoul, paman-bibinya tinggal di luar negeri, jadilah semenjak kepergian orang tua, Kim Ryeowook terbiasa di panti asuhan. Dan setelah bertemu Kyuhyun, ia serasa memiliki sosok Ayah kembali. 'Aku buatkan minum dulu, ya.' Kyuhyun mendudukan Ryeowook di sofa kemudian pergi ke dapur. Tidak lama setelah kepergian Kyuhyun, Siwon datang. 'Ryeowook.' Panggilnya tak suka. 'Ku mohon jangan ke rumahku lagi.' Siwon mengusir Ryeowook secara terang-terangan dan jelas Ryeowook dibuat marah mendengarnya. 'Kau cemburu karena Appamu lebih sayang padaku kan!?' Suara Ryeowook tetrdengar sinis. 'Bukan begitu Ryeowook-ah...' Kyuhyun datang dengan dua gelas minuman cokelat di tangan. Siwon tidak melanjutkan ucapannya dan lebih memilih pergi. 'Apa dia mengatakan sesuatu padamu?' Kyuhyun meletakkan dua gelas itu ke atas meja. 'Siwon bilang, jangan ke sini lagi.' Kyuhyun tertawa. 'Tak usah pedulikan dia, Ryeowook-ah. Datanglah kapanpun kau mau. Bahkan kau bisa meminta apapun padaku.' Kyuhyun memangku Ryeowook. 'Baiklah Kyuhyun.' Ucapnya riang. Siwon menatap kejadian itu dari lantai atas, ia masuk ke kamarnya. '...bukan begitu maksudku, Kim Ryeowook, aku hanya tak ingin kejadian yang sama terulang...' Lirihnya sambil menutup pintu. To Be Continue
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN