Tidak terasa waktu mereka untuk makan all you can eat telah usai.
Mereka berdua sangat mensyukuri dengan kehidupan mereka yang sekarang.
“Mau kemana kita hari ini?” Tanya Rey kepada Sekar yang mulai bersiap-siap untuk pergi meninggalkan resto tersebut.
“Beli baju lah Rey, apa lagi.”
“Oalah aku kira, kita langsung pulang dan melanjutkan babak kita.” Goda Rey kepada Sekar.
“Rey!” Sambil memanyungkan bibirnya, Sekar menjawab Rey.
Rey hanya tertawa terbahak-bahak melihat tingkah lucu kekasihnya itu. Akhirnya tanpa menunggu waktu yang lama, mereka berdua pun lantas meninggalkan resto dan segera meluncur ke tempat store baju wanita.
Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, Sekar langsung memilih pakaian yang di pajang oleh pihak store tersebut.
Rey yang melihat Sekar asyik memilih pakaian dan terlihat sedikit kebingungan, akhirnya membuatnya lantas langsung ikut memilihkan pakaian untuk kekasihnya itu.
Rey melihat dengan begitu seksama pakaian-pakaian tersebut, dan akhirnya pilihannya pun jatuh pada sebuah baju terusan berwarna navy dengan v-neck.
“Sekar.”
“Ya.” Jawab Sekar sembari ia memalingkan tubuhnya menghadap ke kekasihnya itu.
“Kamu coba gih pakaian ini.”
Mata Sekar langsung melotot dengan begitu sempurna ketika Rey menunjukan pakaian yang terlihat begitu cantik kepada dirinya.
“Wah … Rey ini bagus sekali.”
Rey hanya tersenyum dengan begitu manis kepada Sekar.
“Kamu memang pacar idaman sekali Rey.” Sanjung Sekar kepada Rey yang trampil dalam memilihkan outfit untuk dirinya.
“Iya dong … pacarnya siapa dulu?”
“Pacarku lah ….” Jawab Sekar sembari ia berlalu meninggalkan Rey berdiri di depan kamar pas.
Di dalam kamar pas Sekar melihat pantulan dirinya di cermin. Ia merasa bahwa ia adalah wanita yang paling beruntung di dunia ini. ia terlahir di keluarga yang cukup berada, bergelimangan kasih sayang dan tentu saja ia juga memiliki seorang kekasih yang begitu baik dan perhatian kepadanya.
Walaupun ia sempat berada di lingkungan pertemanan yang toxic yang membuatnya depresi. Tetapi untung saja ia memiliki support system yang begitu baik.
Sehingga membuatnya bisa melewati masa-masa sulitnya itu.
“Wah … baju ini cantik sekali.” Puji Sekar kepada dirinya sendiri yang terlihat begitu angun dan cantik dengan pakaian terusan yang di pilihkan Rey kepadanya.
Perlahan Sekar mulai membuka pintu kamar pas, dan ia mulai memperlihatkan penampilannya kepada Rey.
Rey yang melihat Sekar yang terlihat begitu cantik dan mempesona dengan pakaian tersebut lantas langsung membuatnya terkagum-kagum.
“Waow … kamu terlihat begitu cantik Sekar dengan pakaian itu.” Puji Rey kepada Sekar.
“Serius? Aku cocok dengan pakaian ini?”
“Ya. Aku serius Sekar. Kamu terlihat begitu cantik dengan pakaian ini.”
“Jadi maksud kamu, aku jelek gitu dengan pakaianku yang biasanya itu?” Goda Sekar.
“Tentu saja tidak Sekar. Kamu adalah wanita yang selalu cantik di hadapanku, apapun pakaian yang kamu kenakan, kamu adalah wanita yang sangat cantik di mata siapapun.”
Perkataan yang terlontar dari mulut Rey, lantas membuat Sekar langsung tersipu malu. Dan membuat pipi chubynya langsung memerah seketika dan membuatnya merasa di atas awan.
“Jadi aku cocok kan mengenakan pakaian ini?”
“Tentu saja Sekar.”
“Oke, kalau begitu kita beli pakaian ini ya Rey.”
“Ya.” Jawab Rey dengan begitu singkat dengan senyuman yang begitu mengembang.
Tak menunggu waktu yang lama untuk Sekar berganti pakaian, akhirnya mereka pun langsung pergi ke kasir untuk membayar pakaian yang telah di pilih oleh Sekar.
“Sekar, kita ke toko kosmetik yuk. Kita beli skincare buat kamu, tadi aku lihat skincare punya kamu sudah mau habis itu.” Ajak Rey kepada Sekar setelah mereka selesai berbelanja pakaian.
“Serius?”
“Iya lah serius, kamu itu lho pasti tanyanya gitu.”
“Ya, habisnya kamu itu terlihat begitu sempurna gitu lho jadi laki-laki. Kamu itu tahu betul dengan apa yang di ingginkan oleh kaum wanita.”
“Ya udah deh kalau gitu kita langsung pulang saja.”
“Tu kan bohongi aku.”
Rey langsung tertawa terbahak-bahak ketika melihat tingkah lucu yang Sekar tunjukan kepadanya.
Tidak tega melihat Sekar yang terlihat begitu memelas akhirnya membuat Rey langsung menarik tangan Sekar dan langsung membawanya pergi ke toko kosmetik yang ada di mall tersebut.
Sesampainya di toko kosmetik, Rey lantas langsung menyuruh Sekar untuk memilih skincare yang ia butuhkan.
Hati Rey terasa begitu bahagia bisa melihat Sekar kembali menjadi Sekar yang dulu yang selalu ceria dan pantang menyerah.
Rey tidak pernah memikirkan berapa jumlah uang yang harus ia keluarkan untuk Sekar, karena menurut Rey inilah cara dia untuk membuat pacarnya itu bahagia, dan cara Rey untuk membalas semua ketulusan yang di berikan Sekar kepada Rey sewaktu mereka susah.
“Rey … sini ….” Sekar melambaikan tangannya kepada Rey yang sedari tadi hanya berdiri di depan toko dan melihat Sekar yang asyik memilih skincare.
“Ya ….” Jawab Rey dengan singkat.
“Rey, bagus yang mana?” Tanya Sekar kepada Rey sembari ia menunjukan beberapa warna lipstick kepada Rey.
“Mmm … menurutku semuanya bagus Sekar. Lagi pula warnanya juga sama.”
“Rey … ini itu warnanya berbeda.”
“Berbeda apanya? Ini kan sama-sama coklat jadi sama dong.” Sambil mengaruk-garuk kulit kepalanya yang terasa tidak gatal.
Rey merasa sedikit kebingungan dengan warna yang di pilih oleh Sekar. Karena menurutnya warnanya itu sama.
“Mbuhlah Rey, kamu itu malesi banget.” Jawab Sekar dengan judesnya.
“Ya udah kamu ambil aja semuanya, toh menurutku kamu itu selalu cantik Sekar.”
Mood belanja Sekar akhirnya kembali lagi ketika, ia mendengar perkataan yang di lontarkan oleh Rey kepadanya.
Wajahnya yang tadi terlihat begitu lesu kini kembali berseri-seri lagi bak sinar mentari di pagi hari yang terlihat begitu menghangatkan.
“Memangnya boleh aku ambil semuanya?” Tanya Sekar kepada Rey yang bermaksud hanya untuk berbasa-basi saja.
“Tentu saja boleh dong. Aku bekerja kan untuk kamu Sekar.” Jawab Rey dengan begitu mantap sembari ia mulai mengusap-ngusap rambut milik Sekar.
“Terima kasih Rey.”
“Iya sayangku … udah sana ambil semua skincare yang kamu butuhin.”
“Siap bossku!”
“Sini aku bawakan keranjang belanjaanmu.” Rey mengambil keranjang belanjaan milik Sekar, karena ia melihat kekasihnya itu seperti kesusahan membawanya.
Genap tujuh puluh lima menit Sekar memilih-milih skincare yang ia butuhkan akhirnya selesai juga.
Kini tangan kanan kiri milik Rey dan Sekar penuh dengan tas-tas belanjaan miliki mereka berdua. Walaupun Sembilan puluh persen belanjaan yang mereka bawa itu adalah belanjaan milik Sekar.
“Sekar, habis ini kita mau makan lagi atau gimana?” Tanya Rey kepada Sekar, sembari mereka berdua berjalan beriringan menuju pakiran mobil.
“Kamu sudah lapar lagi?”
“Iya ee aku sudah lapar lagi ini.”
“Mmm … ya sudah kalau begitu nanti kita makan dulu ya.”
“Oke siap tuan putriku.”
“Mau makan dimana?” tanya Sekar kepada Deri.
“Terserah kamu aja mau makan dimana”
“Ihh kok terserah sih? Gak suka ya aku kalau jawabannya Cuma terserah kaya gitu,” jawab Sekar sambil ia menggerutu.