“Sekar?” panggil Rey sembari ia menepuk punggung Sekar dengan begitu lembut.
“Hah? Ada apa?” tanya Sekar dengan raut wajah yang terlihat sedikit kebingungan.
“Kamu kenapa?” tanya Rey sambil ia duduk di samping Sekar.
“Aku gak kenapa-kenapa kok Rey,” jelas Sekar sambil ia tersenyum kecut.
Namun bukan Rey namanya jika ia tidak mengetahui isi hati Sekar yang sesungguhnya. walaupun Sekar mengatakan ia tidak kenapa-kenapa tetapi sorot matanya tidak bisa menipu Rey. Sorot mata yang akan selalu mengakatakan yang sesungguhnya.
“Sekar … ayo to bilang sama aku, kamu itu sebenarnya kenapa? Ayo ingat janji kita untuk saling terbuka,” bujuk Rey kepada Sekar yang sedari tadi menekuk wajahnya.
Sambil menghela nafas, Sekar menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi, “Rey ….”
“Iya Sayangku … ada apa? Ayo cerita sama aku.”
“Aku capek,”
“Oalah, ya udah kalau begitu ayo aku antarkan kamu untuk spa. Aku jamin nanti tubuhmu akan bugar lagi.”
“Bukan itu Rey yang aku maksud!” bentak Sekar sambil pergi meninggalkan Rey.
Bukan capek fisik yang Sekar maksud, melainkan ia benar-benar merasa capek secara batin. Ya, batinnya benar-benar tersiksa dengan status hubungannya dengan Rey.
Sekat pembatas antara Sekar dan Rey begitu dalam. Sehingga membuat Rey maupun Sekar akan merasa kesakitan dalam menjalani hubungan ini. Hubungan yang berjalan bertahun-tahun tanpa restu kedua orang tua membuat Sekar benar-benar merasa lelah.
“Sekar …” panggil Rey dengan begitu lembut sambil ia memeluk Sekar dari belakang. Sejujurnya Rey paham betul dengan apa yang sedang Sekar alami, tetapi Rey juga tidak bisa melakukan apapun, karena banyak hal yang harus Rey pertimbangkan.
“Aku tahu Sekar. Aku tahu perasaanmu saat ini.”
“Kalau kamu tahu bagaimana perasaanku saat ini, kenapa kamu tidak segera memberikan aku kepastian?” tanya Sekar untuk kesekian kalinya.
“Sekar … tidak semudah itu untuk memberikan kamu kepastian.”
“Mudah saja. kamu tinggal pergi menemui kedua orang tuaku dan mengatakan niatanmu untuk meminangku dah selesai. Apanya yang susah?”
“Sekar aku mohon pahami aku. Aku belum punya apa-apa dan …”
“Dan apa? Hah! Dan apa!” bentak Sekar sambil ia memutar tubuhnya menghadap Rey.
“Apakah kedua orang tuamu mau menerima aku yang masih seperti ini? dan kamu tahu sendiri kan bagaimana kondisi keluargaku.”
“Tentu saja kedua orang tuaku akan menerima kamu. Toh kamu juga bukanlah penganguran, kamu punya pekerjaan dan kamu juga pekerja keras. Lalu alesan apa lagi yang akan kamu katakan kepadaku Rey?”
“Tapi aku memiliki adik-adik yang harus aku biayai Sekar, dan semua itu membutuhkan biaya yang cukup besar.”
“Ya udah kamu tidak perlu membiayai adikmu sekolah, lagi pula orang tuamu juga mempunyai uang bukan untuk membiayai adikmu. Terus kenapa semua beban keluargamu harus kamu yang tanggung? Toh kamu juga tidak di biayai orang tuamu sejak kecil, terus kenapa mereka sekarang memanfaatkanmu setelah kamu bekerja?”
“Sekar … aku mohon berikan aku waktu, aku berjanji aku akan segera menikahimu.”
“Terserah! Aku capek, dari dulu cuma itu yang kamu katakan kepadaku,” bentak Sekar sambil ia berlalu meninggalkan Rey dengan pikiran yang bermacam-macam.
Rey hanya memandangi kepergian Sekar dengan nanar, ia berusaha sekuat tenaga untuk menahan diri agar tidak menangis tetapi usahanya ternyata sia-sia. Benteng pertahanan yang ia bangun sedemikian rupa harus hancur oleh pertengkaran yang seharusnya bisa diselesaikan dengan baik-baik.
Setelah pertengkaran itu membuat Sekar mendiamkan Rey untuk beberapa saat sampai Rey mengatakan bahwa ia harus segera kembali ke tempatnya bekerja.
“Sekar, besok pagi aku harus balik lagi ke proyek.”
“Secepat itu kamu mau balik ke proyek?”
“Iya Sekar, aku sudah terlalu lama mengambil jatah liburku yang seharusnya aku Cuma mengambil empat hari tapi ini sudah hampir satu minggu aku tidak balik ke proyek lagi,” jelas Rey kepada Sekar yang terlihat tidak begitu suka dengan perkataan Rey yang ingin kembali bekerja.
“Lalu kamu bakal ke sini lagi kapan?”
“Bulan depan aku akan ke sini lagi Sekar,” jawab Rey sambil ia memberantakan rambut Sekar.
“Mmmm baiklah,” jawab Sekar dengan begitu malasnya. Ia sangat membenci perpisahan dengan Rey, ia benar-benar sudah merasa jenuh dengan LDR.
“Semangat dong, kan aku kerja juga buat kita, biar tahun depan kita bisa segera menikah.”
“Halah, dari dulu kamu Cuma bisa mengatakan hal seperti itu kepadaku Rey. Tahun depan aku akan menikahimu tapi nyatanya sampai sekarang kamu juga belum menikahi aku,” gerutu Sekar sambil ia memeluk tubuh Rey. Tidak bisa di pungkiri bahwa Sekar terlalu bucin kepada Rey, otaknya mengatakan untuk pergi meninggalkan Rey tetapi hatinya mengatakan untuk tetap stay dengan Rey sampai kapan pun.
“Maafkan aku ya Sekar belum bisa mewujudkan impian kita untuk bisa segera menikah.”
“Ya udah kalau gitu, nikahin aja aku sekarang. kan selesai tu permasalahan kita.”
“Kalau menikah itu adalah hal yang mudah, sudah dari dulu aku menikahi kamu Sekar.”
“Lhoh menikah itu gampang lho, kita tinggal daftari diri aja ke catatan sipil selesai.”
“Eee tapi kan kita belum seiman jadi tidak bisa lah.”
“Ya udah kalau begitu kamu cepetan ikut keyakinanku biar urusan pernikahan kita di permudah dan lancar.”
“Iya, segera ya Sekar.”
“Dari dulu kok jawabanya cuma segera segera melulu, lama-lama aku keburu dinikahin orang lain baru tahu rasa kamu.”
“Enak aja orang lain yang menikahi kamu ya gak bisa lah.”
“Ya bisa aja, orang kamu terlalu lama dan tidak tegas dalam hubungan kita kok.”
“Pokoke kamu Cuma hanya bisa menikah denganku dan hanya bisa menjadi istriku titik gak pakai koma,” jelas Rey sambil ia mulai ndusel ndusel ke Sekar.
Berat rasanya meninggalkan Sekar di kota tercinta ini, tetapi apa boleh buat. Kalau ia tetap stay di jogja bersama Sekar maka ia harus bersiap-siap untuk kehilangan pekerjaan dan ia harus mencari pekerjaan lagi di jogaja, sedangkan untuk mencari pekerjaan tentang K3 di jogja juga susah susah gampang.
Akhirnya hari esok pun tiba, hari dimana Sekar dan Rey harus melakukan LDR lagi.
“Rey, pulangnya nanti malam aja ya,” pinta Sekar sambil gelendotan di tubuh bidang milik Rey.
“Tidak bisa Sekar. Jadwal kereta ke Batang Cuma ada di waktu pagi har saja, kalau nanti malam aku Cuma sampai di Semarang,” jelas Rey
“Ya udah kalau gitu aku ikut kamu ya ke Batang.”
“Ya, gak bisa seperti itu Sekar … kamu disini saja dulu dan selesaikan kuliahmu terus kita menikah baru kamu bisa ikut aku kemana saja,” jelas Rey sambil ia memberikan kecupan yang hangat kepada Sekar.
“Aku sayang kamu Rey,” ucap Sekar dengan suara yang terdengar begitu berat.
“Aku juga sayang kamu Sekar, dan bersabar lah untuk beberapa waktu karena aku akan segera menikahimu,” ucap Rey sebelum ia pergi meninggalkan Sekar.
“Ya udah yuk antarkan aku ke stasiun, keburu aku ketinggalan kereta ini,” ucap Rey sambil ia mengajak Sekar untuk mengantarnya ke stasiun.
Sekar pun mengikuti langkah kaki Rey dengan begitu beratnya. Ia pandangi tubuh atlentis milik Rey dari belakang yang ia merasakan kesedihan yang amat mendalam.”
“Kapan kapal kami akan berlabuh di dermaga terakhir kita,” gumam Sekar dalam hati sambil ia terus mengikuti langkah kaki Rey.