SEMUANYA AKAN BAIK-BAIK SAJA

1056 Kata
Setalah mengantar Rey ke stasiun, akhirnya Sekar memutuskan untuk segera kembali ke apartementnya. Dadanya terasa begitu hampa ketika melihat Rey pergi ke tempat ia bekerja. Ingin rasanya Sekar ikut pergi bersama Rey, tetapi apa daya Sekar tidak bisa mengikuti Rey pergi karena ada studi yang harus segera ia selesaikan. “Rey sampai kapan kita harus begini,” keluh Sekar kepada dirinya sendiri sambil ia menunggu traffic light berubah warna menjadi hijau. Selama menunggu traffic light berubah warna, tiba-tiba perhatian Sekar tertuju kepada sepasang kekasih yang sedang bercendau gurau di panasnya terik matahari. Melihat sepasang kekasih itu membuat Sekar bernostalgia pada kenangannya dulu bersama Rey yang lebih banyak mereka habiskan di sepeda motor bebek milik Rey. Hujan, panas mereka lewati berdua dengan tawa, bahkan sampai motor mogok karena kehabisan bensin pun mereka lalui dengan canda tawa. Memang cinta itu adalah hal yang meng ngembirakan dan semenyenangkan itu, asalkan di lewati dengan bersama-sama apapun rintangannya pasti bisa di lewati. Memang sejak dulu hubungan Rey dan Sekar di penuhi oleh rintangan yang begitu banyak tetapi bedanya dulu mereka tidak memikirkan hubungan mereka kedepannya asalkan bisa terus bersama tidak masalah, tetapi saat mereka sudah beranjak dewasa mereka menjadi berpikir, mau dibawa kemana hubungan ini? Di tambah lagi pertanyaan-pertanyaan yang orang-orang tujukan kepada mereka, tentang perkembangan hubungan yang mereka jalani membuat Rey dan Sekar terkadang membuat mereka kepikiran. Tetapi akhirnya mereka menganggap pertanyaan-pertanyaan itu hanyalah angin lalu saja dan sebagai bumbu-bumbu hubungan mereka berdua. “Bahagia terus ya untuk kalian berdua,” gumam Sekar di dalam mobil sambil ia melihat sepasang kekasih yang terlihat begitu bahagia. Ketika traffic light sudah berubah warna menjadi hijau, perlahan Sekar mulai memacu mobilnya dan ia berusaha untuk segera kembali semangat karena ia harus segera menyelesaikan skripsinya yang sudah tertunda lumayan cukup lama. “Makan dulu, atau ngerjain dulu ya?” pikir Sekar sambil ia melihat kanan kiri yang terdapat begitu banyak makanan yang membuatnya tergiur untuk makan terlebih dahulu, tetapi hal itu juga membuatnya galau. Karena jika sehabis ia makan ia akan merasa kantuk yang luar biasa hebatnya tetapi jika ia tidak makan ia tidak fokus. “Udah lah pergi ke apartement dulu aja lah terus ambil leptop terus cus ke café ngerjain skripsi,” putus Sekar dengan begitu mantapnya. Sesampainya di apartement Sekar merasakan kamarnya terasa begitu hampa tanpa Rey, “Kenapa ini kamar menjadi begitu sepi tanpa Rey,” keluh Sekar sambil ia melihat ke seluruh penjuru kamarnya yang terasa begitu kosong  Dan hal tersebut sukses membuat Sekar mulai menitikan air matanya. “Rey ….” Untuk beberapa saat Sekar duduk termenung mengingat hubungannya dengan Rey hingga teleponnya berbunyi dan sontak hal itu menyadarkannya. Di lihat layar ponselnya dan telepon itu berasal dari sahabatnya Becca “Sekar!!” teriak Becca ketika Sekar mengangkat teleponnya. “Astaga, kenapa nyet? Busyet emak-emak teriaknya bikin palaku pening aja ini,” banyol Sekar kepada Becca. “He He, ya maaf … namanya juga emak-emak yang excited banget dapat waktu untuk me time,” jelas Becca dengan gaya bicara yang khas. “Heleh … gayamu nyet … nyet …” “Tenanan yo, iki aku ono wektu ngo dolan-dolan. Ayo to awakdewe metu, mumpung iki anaku di mong mbi bojoku,” jelas Becca dengan logat jawanya yang kentara (Benaran ya, ini aku ada waktu untuk jalan. Ayo kita jalan, mumpung anak aku di jaga sama suamiku) “Wooo … asyem ii aku meh ngarap skripsi iki nyet, malah mbok jak dolan. Kapan skripsiku rampung iki,” keluh Sekar kepada Becca yang ingin mengajaknya untuk keluar dan menikmati waktu Girls Time bersama – (Woo … asem iii aku mau mengerjakan skripsiku ini nyet, malah kamu ajak main, lalu skripsiku kapan selesainya ini.) “Santai to bossqu, nanti aku bantuin kamu ngerjain skripsinya. Tenang saja dan serahkan semuanya kepada mamanya Adelio, Adelia semuanya pasti beres,” ucap Becca dengan penuh semangat dan berharap sahabatnya itu mau keluar bersamanya. “Mmm … oke deh, ayo kita keluar dan kita habiskan waktu kita sesama perempuan,” jawab Sekar yang menyetujui ajakan Becca untuk menghabiskan waktu berdua bersama. “Naaa … gitu dong. Kita sebagai perempuan itu harus sering-sering keluar bersama untuk melepaskan penat kita. Kalau begitu aku jemput kamu ya nyet,” ucap Becca dengan backsound suara tangisan anak-anaknya. “Lhoh itu kenapa Adelio, Adelia? Kamu yakin gak ini keluar bareng aku?” tanya Sekar yang khawatir dengan kondisi Adelio dan Adelia yang terdengar sedang menangis dengan begitu kencangnya. “Santai saja. biasalah Adelio dan Adelia berantem rebutan mainanan. Namanya juga anak-anak. Dah kamu gak usah mikirin anak-anaku yang penting saat ini adalah waktunya kita berdua untuk bersenang-senang,” jelas Becca berusaha untuk menenangkan Sekar yang terlihat tidak enak kepada dirinya “Mmm … oke deh kalau begitu aku siap-siap dulu ya,” “Oke sayang … mahmudcan segera meluncur ya …” ucap Becca sambil ia mematikan teleponnya. Setelah obrolan wanita di dalam telepon tadi selesai, Sekar pun memutuskan untuk segera bersiap-siap dan tak lupa ia juga membawa leptop beserta kertas coretan-coratan pembimbing skripsinya tersebut. Selama menunggu Becca datang, Sekar memutuskan untuk mencoba menelepon Rey, tetapi belum sempat ia menekan tanda call, Rey sudah meneleponnya terlebih dahulu. Melihat nama Acar Timun tertera pada layar ponselnya membuat Sekar begitu sumingrah dan ia langsung mengangkat telepon tersebut. “Hallo …” sapa Rey dengan suara yang dibuat seperti anak kecil. “Rey! Kenapa baru nelpon sekarang?” tanya Sekar “Tadi aku udah coba telpon kamu yo … tapi kamu baru di panggilan lain, ya udah aku tunggu aja kamu selesai yang telponnan,” jelas kepada Sekar dengan begitu lembut. “Oalah, He He. Maaf ya Rey, tadi aku baru telponan sama Becca jadi aku gak tahu kalau kamu nelpon aku. Maaf ya sayangku …” ucap Sekar sambil ia tersenyum-senyum sendiri. “Pantesan tadi lumayan lama yang telponan, orang telponannya sama Becca. Pasti kalian mau keluar bareng ya ini,” tebak Rey “Lhoh kok kamu bisa tau Rey kalau aku mau keluar bareng Becca?” “Ya taulah. Kan aku pacar kamu dan aku sudah lama mengenal kamu. Dan aku juga tahu kalau kamu itu sama Becca sering banget keluar berdua.” “Iya juga sih. Owh iya BTW gimana Rey perjalananmu? Udah sampai mana?” “Perjalannku enak kok nyaman, ini aja aku baru aja dapat makan dari keretanya.” “Wih enak tuh, makan sambil melihat pemandangan desa.” “Mana ada pemandangan desa, yang ada ini hutan-hutan semua yo Sekar,” jelas Rey sambil ia mulai meminta panggilan by video call “Mana coba aku lihat,” pinta Sekar ketika panggilan mereka berdua sudah berubah menjadi video call “Nii … kamu lihat, iya kan Cuma hutan belantara,” ucap Rey sambil ia memperlihatkan pemandangan yang ia dapatkan selama di dalam perjalanan. “Wihhh … ada kembaranmu itu Rey,” goda Sekar sambil ia menunjuk segerombolan kambing yang dilepas oleh pemiliknya untuk mencari makan di dalam hutan. Mendengar hal itu membuat Rey tertawa dan ia berharap bahwa Sekar tetap baik-baik saja saat ia mulai bekerja nanti.      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN