WANITA TERDEPAN

995 Kata
“Ta, kamu beneran gak mau ikut pergi sama kita?” Ajak Sekar. “Gak usah Sekar. Aku tidak mau menjadi obat nyamuk kalian berdua. Lagi pula aku juga mau nonton oppa-oppaku.” Jawab Tata dengan suara yang terdengar begitu lantang, sehingga membuat beberapa orang yang ada di sekitar mereka langsung menatap wajah mereka. “Beneran lho ya, jangan nyesel lho gak ikut kita jalan-jalan.” “Iya … Sekarku sayang … aku tidak akan menyesal, lagi pula aku juga sudah lama tidak melihat drama korea.” “Oke. Kalau gitu kita duluan ya Ta.” “Oke, bye.” Blam …. Bunyi pintu mobil yang di tutup. “Jadinya kita mau kemana ini?” Tanya Rey kepada Sekar yang terlihat begitu sibuk dengan alat-alat make upnya. “Ke Mall saja gimana?” “Mmm … boleh juga. Sekalian  kita makan siang di sana saja bagaimana?” “Boleh. Kalau gitu ke Amplaz saja bagaimana?” “Oke, siap bossku.” Tanpa menunggu lebih lama lagi, akhirnya mereka berdua memutuskan untuk pergi ke Amplaz. Di sana mereka bisa makan dan tentu saja akan melakukan hal yang paling di sukai oleh kebanyakan kaum hawa yaitu shopping. “Rey nanti lewat perumnas saja yang tidak terlalu macet. Soalnya jam segini di selokan mataram pasti macet.” “Oke siap bossku.” “Ingat lewat Perumnas bukan Selokan Mataram!” “Iya sayangku ….” Bukan Jogja namanya jika di saat jam-jam pulang kantor seperti ini tidak terjebak dalam kemacetan kota. Tetapi hal itu tidak terlalu di pusingkan oleh Rey maupun Sekar, karena menurut mereka berdua macet maupun tidak adalah hal yang menyenangkan untuk saling bertukar pikiran. Rey dan Sekar sudah berkomitmen untuk saling terbuka, sehingga di dalam hubungan mereka tidak ada yang namanya rahasia-rahasian. Rey sangat paham betul dengan kepribadian Sekar. Begitu pula dengan Sekar yang sudah paham dengan seluk beluk Rey. Tidak terasa mereka sudah terjebak dalam kemacetan selama dua puluh lima menit.dan selama itu pula mereka habiskan untuk saling mengobrol kesana kemari, sehingga membuat mereka tidak menyadari bahwa saat itu telah turun hujan dengan sangat lebat. “Sekar ….” “Ya, Rey.” “Kamu masih ingat tidak waktu kita pertama kali menjadi mahasiswa dan kita sama-sama kehujanan naik motor?” “Yang mana Rey? Kan kita juga sering naik motor kehujanan, kelaparan, kehabisan bensin.” “Yak … kenapa kamu mengingat momen menyedihkan dalam hubungan kita sih?” “Lhoh itu bukan momen yang menyedihkan lho Rey, tetapi momen yang sangat special untuk kita berdua. Momen dimana kita berdua sama-sama merasakan kesusahan dan kita selalu menguatkan satu sama lain.” “Kalau teringat masa-masa itu, aku seperti tidak percaya kalau kita sekarang bisa sampai di titik seperti ini.” “Semua masa-masa susah kita dulu sudah kita lewati dengan begitu baik Rey. Jadi tugas kita sekarang adalah untuk berusaha sekuat tenaga untuk menjaga semua rejeki yang diberikan tuhan kepada kita.” “Ya, Sekar kamu benar.” Sekar membalas perkataan Rey dengan senyuman yang terlihat begitu meneduhkan hati. Senyuman yang di pancarkan oleh Sekar bagaikan cahaya penyemangat dalam hidup Rey. Mungkin tanpa Sekar, Rey bukanlah sapa-sapa. Rey tumbuh dalam keluarga yang begitu kacau sehingga membuatnya harus di rawat oleh pamannya sendiri. Sempat terbesit dalam pikiran Rey bahwa Sekar adalah wanita yang tidak mungkin ia dapatkan. Sekar adalah sosok wanita yang sangat di idam-idamkan oleh hampir seluruh siswa waktu itu. Rey tidak menyangka bahwa cintanya akan terbalaskan oleh Sekar. Wanita yang pertama kali bisa menyembuhkan lukanya dan wanita pertama kali yang bisa membuatnya jatuh cinta berkali-kali. “Sekar … terima kasih ya untuk semuanya. Tanpa kamu mungkin aku tidak akan menjadi seperti ini.” “Iya Rey.” Tin … tin … suara klakson mobil menyadarkan Rey dan Sekar. Mengingat hal itu membuat Rey dan Sekar tertawa terbahak-bahak, bagaimana bisa mereka hanyut dalam kenangan terdahulu mereka dan akhirnya membuat mereka tak sadar bahwa posisi mereka saat itu sedang di jalan. “Kamu sih Rey … pakai acara melamun, jadinya kita di marahi sama pengendara mobil lainnya kan.” “Ih malah nyalahin aku. Kan kamu yang salah bikin kita jadi bernostalgia.” “Sekarang yang nyupir siapa? Kamu atau aku? Kamu kan …?” “Ya, aku sih tapi kan ….” “Tapi apa coba? Aku yang salah gitu?” “Ya … ya … aku yang salah tidak fokus sama kondisi jalan, makannya sampai di klaksoni orang.” “Na … gitu dong jadi  cowok itu harus gentle mengakui kesalahannya.” Mereka berdua pun tertawa terbahak-bahak. “Owh iya Rey, nanti kita pakir di VIP saja, soalnya takut di basement pakirannya udah penuh.” Sekar mulai mengalihkan topik pembicaraan. “Ya gak papa sih. Tapi kalau nanti semua penuh ya udah kita pakir di hotelnya saja bagaimana?” “Mmm … boleh.” Sekitar lima belas menit kemudian akhirnya mereka pun sampai juga di amplaz dan tepat sekali tebakan mereka berdua. Saat itu mall terlihat begitu ramai sehingga membuat mereka berdua harus memakirkan kendaraan mereka di hotel samping mall itu berada. “Akhirnya sampai juga ya Rey.” “Kamu udah lapar sekali ya?” “Hoo aku udah sangat lapar ini Rey, perutku rasanya melilit gitu.” “Ya udah yuk kita turun terus kita langsung makan dulu baru kita shopping.” Rey mulai turun dari mobil dan tak lupa ia juga membukakan pintu mobil untuk Sekar. Dengan cekatan Rey juga memayungi kekasihnya itu agar tidak kena hujan. Rey tidak ingin kekasihnya itu sampai sakit karena keteledorannya. Cukup hal kemarin saja yang membuat Sekar sakit. “Pelan-pelan Sekar yang jalan. Ini licin sekali lho.” Rey terus memegangi tangan Sekar dengan begitu kuatnya. Rey tidak ingin Sekar jatuh karena jalanan yang licin akibat guyuran air hujan yang begitu derasnya. Di dalam mall mereka berkeliling terlebih dahulu mencari spot makanan yang enak. “Rey!” “Ya, ada apa?” “Bagaimana kalau kita makan buffet dan grill aja?” “Boleh, enak itu kayanya. Kamu mau makan buffet dan grill yang mana beb?” Sambil mempertontonkan giginya yang tersusun begitu rapi dan putih, sekar menunjukan sebuah resto yang cukup terkenal dengan buffet dan grillnya yang begitu enak. “Les’t go beb ….” Tarik Rey kepada Sekar yang masih berdiri mematung. Setelah memilih menu yang mereka pilih, akhirnya mereka memutuskan untuk makan all you can eat dengan durasi waktu makan adalah Sembilan puluh menit. Mereka begitu menikmati hidangan yang telah disajikan oleh pramusaji restoran tersebut. Daging premium yang mereka pilih terasa begitu nikmat dan meleleh di dalam mulut. “Ini all you can eat terenak yang pernah aku makan beb.” Puji Sekar kepada resto yang sedang mereka kunjungi tersebut. “Iya kamu benar sekali beb. Kenapa tidak dari dulu ya kita mampir kesini?” “Kan kita hidup enaknya baru sekarang beb, jadi baru bisa makan enak sekarang. Dulu mah kita cukup makan di warung kaki lima saja sudah bahagia.” Jawab Sekar dengan di iringi oleh suara tertawa yang terdengar begitu renyah.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN