“Rey, aku pakai baju apa ya?” Sambil membuka almari dan memilih baju yang ada di dalam almari, Sekar bertanya kepada Rey tentang outfit apa yang bagus dikenakan olehnya saat bimbingan nanti.
“Cari yang sopan aja Sekar.”
“Mmm … kalau yang ini bagaimana?” Sekar menunjukan sebuah kemeja berwarna army kepada Rey.
“Itu juga boleh.”
“Oke siap. Aku pakai ini saja kalau begitu.”
Sekar berlalu meninggalkan Rey yang kini sedang asyik dengan gawainya.
“Sekar … make upnya yang natural saja, jangan terlalu tebal.”
“Kenapa?”
“Karena nanti kamu bimbingan Sekarku sayang, jadi ya make upnya natural saja jangan yang terlalu gimana-gimana.”
“Lhoh … gak apa-apa kali Rey memakai make up yang terlihat waow. Teman-temanku juga banyak kok yang memakai make up yang cetar membahana.”
“Sekar … udah nurut aja. Aku itu lebih berpengalaman dari kamu.”
“Ya … ya ….” Akhirnya Sekar mengalah dan menuruti permintaan dari Rey untuk mengenakan make up yang senatural mungkin.
Tak lupa Sekar mulai menyalakan lagu kesukaanya dan ia juga ikut bersenandung dengan begitu semangatnya.
“Sekar sudah belum yang pakai make upnya? Ini udah mau jam dua belas lho.” Keluh Rey kepada Sekar yang sudah hampir satu jam merias wajahnya tetapi belum selesai-selesai juga.
“Sebentar lagi sayangku … sabar to, namanya juga wanita.” Jawab Sekar sembari ia tetap asyik berkreasi pada wajahnya yang terlihat begitu cantik dan manis.
Mendengar jawaban dari Sekar yang seperti itu, akhirnya membuat Rey hanya menghela nafas dan ia tidak lagi mem-permasalahkan lagi. Karena Rey paham betul bagaimana tabiat sang kekasihnya itu.
Dua puluh menit kemudian ….
“Rey! Ayo, aku sudah siap ini.” Ajak Sekar yang kini sudah terlihat begitu cantik dengan kemeja berwarna army dengan celana jins dan snekers putih.
“Ya, sebentar ya sayangku. Sepuluh menit lagi, baru perang ini.” Jawab Rey dengan santainya, tanpa melihat Sekar, ia tetap asyik bermain game.
“REY…!” Bentak Sekar.
“Oke!” Refleks Rey langsung menghentikan permainannya dan ia langsung bergegas pergi ke kampus bersama Sekar.
BLAM … bunyi pintu mobil yang di tutup dengan kencang.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, akhirnya Rey dan Sekar menerobos jalanan kota Jogja dengan begitu bersemangat.
“Astaga ….” Kata pertama yang diucapkan oleh Rey, ketika mobilnya yang ia kendarai terjebak macet tepat di depan apartement sang kekasih.
“Sabar ya Rey … namanya juga Jogja.”
“Oke … demi kekasihku, pujaan hatiku. Aku akan berjuang menerobos kemacetan kota.”
Akhirnya mereka berdua saling bertatapan dan tertawa begitu lepasnya.
Tin … Tin … suara klakson kendaraan bermotor saling sahut-sahutan, yang membuat suasana saat itu terlihat begitu riuh dan tidak tertata.
Rey dan Sekar hanya menggeleng-gelengkan kepala mereka, ketika mereka melihat para pemotor yang tidak sabar menunggu kemacetan, saling menerobos di sela-sela antara mobil yang jika salah gerak sedikit saja, bisa dipastikan mobil yang dikendarai Rey akan lecet.
Akhirnya setelah berjuang selama tiga puluh menit dalam kemacetan, mereka berdua pun sampai juga di kampus tempat Sekar menuntut ilmu.
Sebenarnya jarak antara kampus dengan apartement yang dihuni oleh Sekar hanya berjarak tiga kilometer saja, tetapi karena macet parah jadi mereka membutuhkan waktu yang lebih lama untuk sampai ke kampus.
“Sekar, aku beli minum dulu ya. kamu langsung naik saja, nanti aku susul.”
“Oke siap bossku.”
“Sekar …!” Sebuah teriakan yang tidak asing di telinga Sekar akhirnya membuatnya langsung membalikan badan.
“Tata ….”
“Kamu kemana saja? kenapa baru ke kampus sekarang? Kamu itu udah di cariin lho sama Bu Indah.” Tanpa basa-basi Tata langsung menghujani Sekar dengan beribu-ribu pertanyaan.
“Maaf … aku kemarin baru sibuk, jadi tidak sempat ke kampus.” Sambil mempertontonkan gigi putihnya, Sekar menjawab pertanyaan dari Tata sahabatnya selama ia berkuliah.
“Mmm … sibuk apa kamu?” Selidik Tata kepada Sekar yang mencium bau-bau mencurigakan.
“Ya … sibuk aja.”
Tak lama kemudian Rey datang menghampiri dua sahabat yang sedang asyik mengobrol di loby kampus.
“Yak … pantas saja Sekar tidak menjawab pesan dan teleponku. Ternyata disini ada pujaan hatinya.”
“Hallo Tata, apa kabar?” Sapa Rey kepada sahabat kekasihnya itu.
“Rey, santai saja. jangan kaku-kaku amat lah jadi orang. Aku itu sahabatnya Sekar jadi aku juga sahabat kamu. Jadi santai gitu lho.”
“Iya Ta.” Jawab Rey dengan singkat dan ia langsung duduk di samping Sekar.
“Rey, kamu udah berapa lama di sini?” Tanya Tata kepada Rey yang saat itu sedang asyik bermain gawainya.
“Mmm … hampir satu minggu ini sih Ta aku di Jogja.”
“Yak … kenapa kalian tidak memberitahu aku?”
“Buat apa coba aku kasih tahu kamu kalau Rey di Jogja?”
“Tu kan kalian pasti lupa nih janjinya sama aku?”
Rey dan Sekar saling berpandangan dan memikirkan hal apa yang sudah mereka janjikan kepada Tata.
“Tu kan … lupa ini pasti.”
“Kita lupa apa sih Ta?”
“Hih … kalian kan janji kalau mau mencarikan aku pacar dan calonnya itu adalah teman kerjanya Rey.” Jawab Tata dengan nada yang terdengar sedikit ketus.
“Oalah itu to ….” Sambil menunjuk ke arah Tata, Sekar menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh Tata kepada mereka.
“Aku udah nyomblangin kamu ya Ta ….” Sanggah Rey yang tidak setuju dengan pernyataan Tata.
“Kapan Rey kamu nyomblangin aku tu? Yang ada aku selalu menunggu orang yang akan kamu jodohkan sama aku.”
“Udah yo ta … aku itu udah nyomblangin kamu sama Widy tapi kamunya aja yang agak-agak gimana gitu jadinya Widy tidak mau sama kamu.”
“Ha? Widy? Widy siapa Rey? Aku tidak pernah berkenalan dengan seseorang yang bernama Widy.” Jawab Tata sembari ia menggaruk-garuk kulit kepalanya yang tidak terasa gatal.
“Ini lho yang namanya Widy.” Rey memperlihatkan foto Widy kepada Tata.
“Astaga … itu to yang bakal kamu jodohin sama aku tu ….”
“Tu kan kita gak bohongin kamu.” Jawab Sekar yang melihat Tata hanya tertawa.
“Habisnya, Widy gak ngaku dia itu siapa dan dapat no aku dari siapa. Ya udah aku kira Widy itu orang aneh yang suka kirim pesan acak gitu.”
“Ta … ini tahun berapa? Mana ada orang yang iseng mengirimi kamu pesan acak seperti itu?” Jawab Sekar yang tak mau kalah dari sahabatnya itu.
“Ya … maaf bossku … namanya aja orang jomblo dua puluh dua tahun.”
Mendengar jawaban dari Tata, akhirnya membuat Sekar dan Rey tertawa terbahak-bahak. Mereka berdua tidak menyangka sahabatnya itu akan mengatakan hal yang terdengar begitu lucu bagi mereka.
Tata sebenarnya adalah wanita yang cukup menarik di mata pria. Tetapi … ada satu hal yang membuat Tata tetap menjomblo. Ya, hal itu adalah Tata merupakan wanita yang sangat menggemari pria-pria dari negeri gingseng. Yang pada akhirnya membuat Tata menargetkan tipe pria sesuai dengan idolanya yang berasal dari Korea Selatan.