“Bro,” panggil Yasin sambil ia memberikan sebuah bungkusan nasi ayam penyet kepada Rey.
“Weh kok kamu udah balik aja Sin,” tanya Rey.
“Ya iyalah kan messku disini, kalau messku bukan disini aku juga gak bakal balik ke sini to.”
“Iya sih, bener juga kamu. Tapi tumben aja kamu keluar cari makannya cepet banget, biasanya kan kalau kamu baru cari makan itu lama banget lho.”
“Ebusyet ini orang ngelindur apa gimana ya? ini aku udah dua jam lho keluarnya, masa masih kurang lama.”
“Ha? Serius kamu udah dua jam yang keluar?” jawab Rey dengan nada tidak percaya.
“Nih kalau gak percaya, lihat nih udah jam berapa ini,” jawab Yasin sambil ia memperlihatkan arloji miliknya kepada Rey.
“Udah jam sebelas malam ya. aku kira itu masih jam setengah sepuluh sin.”
“Udah, makan dulu aja itu ayamnya. Mikirin Sekarnya nanti lagi habis makan, memperkuat hati yang rapuh itu memerlukan energi yang ekstra besar,” ledek Yasin.
“Kurang ajar lu Sin,” jawab Rey sambil ia tertawa.
.
.
Keesokan harinya Rey mencoba untuk menghubungi Sekar dan berharap panggilan teleponya di angkat. Tetapi harapan itu harus berbuah pahit, karena lagi-lagi Sekar tidak mengangkat panggilan telepon dari Rey, bahkan pesan yang dikirimkan oleh Rey juga tidak kunjung di balas oleh Sekar.
Rey mencoba memutar otaknya, dan ia terus berusaha mencari cara agar dapat menghubungi Sekar. Satu persatu teman yang dimiliki oleh Sekar ia coba untuk menghubunginya, tetapi hasilnya selalu nihil. Mereka semua kompak menjawab tidak tahu menahu tentang Sekar.
“Ah udah lah, nanti siang aku coba hubungi lagi,” gerutu Rey ketika ia melihat ponselnya sudah menunjukkan pukul tujuh pagi yang artinya ia harus segera berangkat bekerja.
“Semoga nanti saat aku sampai di kantor aku sudah mendapatkan kabar dari Sekar,” harap Rey di dalam benaknya.
.
.
Sesampainya di kantor, Rey langsung diberikan segudang pekerjaan yang membuatnya harus cukup banyak menguras tenaga dan pikirannya. Ia harus segera bergegas untuk menyelesaikan laporan mingguan tentang persentase kemajuan proyek yang ia pegang, dan ia juga harus mengawasi para pekerjanya di lokasi proyek.
Rey harus membagi pikirannya agar tetap bisa konsen dalam pekerjaan. Ia berusaha untuk tetap professional walaupun suasana hatinya sedang kacau memikirkan bagaimana nasib hubungannya dengan Sekar.
Di dalam benaknya, Rey berharap pekerjaanya dapat segera ia selesaikan, sehingga ia dapat langsung menghubungi Sekar.
“Ayo Rey, ayo semangat! Demi cuan, dan demi masa depan yang lebih baik lagi sama Sekar. Ya, aku harus semangat!” gumam Rey dengan penuh semangat.
Tak terasa sudah pukul dua siang dan akhirnya semua pekerjaan yang harus Rey selesaikan sudah berhasil ia selesaikan juga.
“Akhirnya, selesai juga,” ucap Rey sambil ia mengusap-ngusap wajahnya yang terasa begitu letih.
“Rey, sudah selesai laporannya?” tanya atasanya.
“Sudah pak,” ucap Rey sambil ia memberikan laporan yang sudah ia kerjakan setengah hari.
“Oke, bagus. laporannya saya terima ya Rey. Owh iya untuk bagianmu hari ini cukup disini aja dulu, soalnya barang belum datang jadi kita belum bisa melanjutkan pekerjaan kita yang kemarin.”
“Baik pak siap, jadi ini saya boleh pulang duluan pak?” tanya Rey sambil ia mengaruk-ngaruk kulit kepalanya yang sebenarnya tidak terasa gatal sama sekali.
“Enak aja kamu bilang pulang duluan, kamu mah pulangnya tetep nanti jam empat sore,” jawab atasan Rey sambil ia memukul bahu Rey dengan kertas laporan mingguan yang telah Rey buat.
“Ya kalau gitu pekerjaan saya belum selesai dong pak kalau belum boleh pulang,” goda Rey.
“Mau potong gaji kamu?” balas atasannya sambil ia memberikan sebuah nasi kotak kepada Rey.
“Ini kamu makan dulu aja, kamu tadi belum istirahat kan? Habis kamu makan baru kamu patroli sekali terus kamu dan pekerjamu boleh pulang,”
“Baik pak siap,” ucap Rey sambil ia menerima nasi kotak yang diberikan oleh atasanya.
Ketika Rey membuka nasi kotaknya, ia langsung teringat Sekar. Bagaimana tidak, lauk yang ada di dalam nasi kotaknya itu adalah lauk kesukaan Sekar.
“Sekar … kenapa kamu seperti ini?” ucap rey begitu lirih, ia sangat merindukan Sekar dan berharap dapat bertukar kabar lagi dengan Sekar.
“Ah, kenapa rasanya begitu hambar?” keluh Rey ketika ia sedang menyantap nasi kotak miliknya.
“Ada apa Rey?” tanya Yasin yang saat itu kebetulan ke kantor.
“Astaga! Sejak kapan kamu disini Sin?” tanya Rey dengan sedikit kaget.
“Udah dari tadi yo aku disini, kamu aja yang dari tadi sibuk bikin laporan mingguan sampai tidak tahu kalau aku dari tadi duduk disini.”
“Lha terus areamu gimana kalau kamu di kantor?” tanya Rey sambil ia terus memasukan makanan ke dalam mulutnya.
“Lhah kan hari ini semua bahan proyek belum ada yang datang, jadi di lapangan tidak ada pekerjaan. Makannya aku ke kantor aja sambil ngadem hehe,” ucap Yasin sambil ia mulai menurunkan temperature AC agar menjadi lebih dingin lagi.
“Ealah aku kira cuma bagianku aja yang belum ada bahanya jadi jam empat aku bisa pulang.”
Belum sempat Yasin menjawabnya, tiba-tiba saja ada sebuah notif yang keluar dari ponsel milik Rey
Ting!
Mendengar ada sebuah suara notifikasi yang keluar dari ponsel miliknya, membuat Rey langsung membukanya dan berharap notifikasi itu berasal dari Sekar.
Pucuk dicinta ulam tiba, setelah menunggu agak lama akhirnya Sekar membalas pesan dari Rey. Sontak hal itu membuat Rey begitu senang.
“Sayang, maaf ya baru menghubungimu sekarang. Hpku kemarin error dan saat ini aku pakai Hp baru,” itu lah isi pesan yang dikirimkan oleh Sekar kepada Rey.
Tak menunggu waktu yang lama, akhirnya Rey memutuskan untuk segera menghubungi Sekar, ia ingin memastikan bahwa kondisi Sekar saat ini baik-baik saja.
“Hallo Rey?” jawab Sekar ketika ia menerima panggilan telepon dari Rey.
“Hallo Sekar, gimana keadaanmu?” tanya Rey penuh dengan kekhawatiran.
“Aku baik-baik saja kok Rey,” jawab Sekar dengan begitu singkat.
“Kamu yakin kamu baik-baik saja?”
“Iya Rey, aku baik-baik saja kok.”
Hanya mendengar suara Sekar membuat Rey sangat yakin bahwa saat ini kondisi kekasihnya itu sedang tidak baik-baik saja.
“Sekar?”
“Ya Rey ada apa?”
“Kamu masih ingat tentang komitmen kita tidak?” pancing Rey
“Tentu saja aku masih ingat dong Rey, bagaimana bisa aku melupakan komitmen yang kita buat.”
“Lalu kalau kamu ingat tentang komitmen yang telah kita buat, terus kenapa masih ada rahasia di antara kita berdua?”
“Lhah, rahasia apa memangnya Rey? Aku tidak merasa sedang menyembunyikan sesuatu dari kamu kok Rey,” ucap Sekar dengan nada suara yang terdengar sedikit berbeda dari biasanya.
“Sekar … aku paham betul denganmu, jadi aku tahu jika saat ini kamu sedang menyembunyikan sesuatu dari diriku. Ayolah Sekar, katakana saja padaku,” bujuk Rey.
“Kamu sibuk gak hari ini?” tanya Sekar.
“Aku enggak sibuk kok hari ini. ini malah sebentar lagi aku mau pulang. Kenapa?”
“Oke kalau begitu kita lanjut pembicaraan kita nanti ya, setelah kamu sampai di mess,” ucap Sekar sambil ia langsung mematikan panggilan teleponnya dengan Rey.