BADAI KEHIDUPAN

1162 Kata
Entah kenapa perasaan Rey bertambah tidak enak ketika Sekar ingin berbicara sesuatu kepadanya. Ia takut jika hal yang ingin dibicarakan oleh Sekar adalah hal yang paling ia takutkan. Tapi ia berharap semoga hal yang ia takut-takutkan tidak akan pernah terjadi. “Rey ayo habis ini nongkrong dulu di pantai,” ajak Yasin. “Waduh, aku skip dulu ya Sin. Aku langsung pulang ke mess aja,” tolak Rey. “Lhoh lha kenapa Rey? Kok tumben banget kamu langsung pengin pulang,” tanya Yasin kepada Rey yang tidak seperti biasanya ingin langsung pulang ke mess jika tidak ada lemburan. “Mau telponan sama Sekar aku Sin, soalnya tadi Sekar bilang pengin ngobrol-ngobrol sama aku,” jelas Rey kepada Yasin. “Oalah ya udah kalau gitu, aku ke pantai dulu ya sama anak-anak” ucap Yasin sambil ia mulai meninggalkan Rey yang masih siap-siap untuk pulang ke mess. “Oke bro ati-ati ya, langsung ke pantai aja gak usah mampir di gubuk karaoke,” goda Rey “Ya enggak lah bro, aku kan anak polos jadi gak mungkin mampir ke tempat kaya gitu,” balas Yasin sambil ketawa-ketawa. . . Sesampainya di mess, Rey langsung bergegas menuju kamarnya dan ia pun langsung mencoba menghubungi Sekar. Tutt … tutt … “Hallo?” jawab Sekar dengan suaranya yang terdengar begitu lembut. “Hai sayangku … aku udah di mess nih,” kata Rey memberitahu Sekar bahwa ia sudah berada di mess. “Iya Rey aku udah tahu kok kalau kamu sudah di mess.” “Lhah, kok bisa kamu udah tahu kalau aku udah di mess?” tanya Rey sambil ia mencoba untuk mengajak Sekar video call. “Iyalah aku tahu kan tadi kamu udah bilang sama aku kalau nanti kita bakal telponan habis kamu pulang kerja,” ucap Sekar sambil ia menolak video call dari Rey. “Lhoh kok kamu tolak kenapa Sekar?” “Maaf Rey, aku baru tidak ingin melakukan video call,” jawab Sekar dengan suara yang terdengar begitu lirih. “Lhoh kenapa kok kamu gak mau vc sama aku? Bukannya kita hampir tiap hari  pasti vc kan Sekar. Kamu kenapa to Sekar? Kok aku merasa sikapmu ke aku itu berubah dan berbeda sekali.” “Rey … sebenarnya ada hal penting yang harus aku bicarakan sama kamu.” “Hal penting apa Sekar?” tanya Rey dengan perasaan yang tak menentu. Untuk beberapa saat tidak ada jawaban dari Sekar, melainkan yang ada hanyalah suara isak tangis Sekar. “Sekar? Kamu kenapa? Kamu nangis?” tanya Rey dengan nada bicara yang terdengar  khawatir dengan kondisi Sekar saat ini. “Rey …” panggil Sekar dengan suara yang terdengar begitu parau. “Iya Sekar ada apa? Cerita saja ke aku,” bujuk Rey agar kekasihnya itu mau menceritakan kegundahan hatinya. “Rey, aku ingin kita putus,” ucap Sekar. “Ha … Ha … Sekar … jangan bercanda ah, kamu itu lho pasti suka banget omong kaya gitu, pamali tau omong kaya gitu,” ucap Rey. “Aku gak bercanda Rey. Aku serius, aku ingin kita putus.” “Lhoh, memangnya kenapa kok kamu ingin putus? Bukannya hubungan kita baik-baik saja kan.” “Rey, aku capek menjalani hubungan yang seperti ini, aku capek kita LDRan seperti ini. aku juga capek tentang status hubungan kita kedepannya ini bagaimana,” ucap Sekar dengan sesekali ia akan menarik nafas yang begitu dalam. “Lhoh kan udah jelas to Sekar, kalau kita akan menikah tahun depan dan udah jelas juga kalau aku yang akan mengikutimu. Apalagi permasalahannya?” tanya Rey, dengan suara yang terdengar tak kalah paraunya dengan Sekar. “Rey, aku minta maaf aku tidak bisa menunggumu lagi.” “Lhoh lha kenapa kok kamu tidak bisa menungguku lagi? kan baru kemarin kita sepakat kalau kamu akan menunggu aku sampai tahun depan.” “Aku gak bisa Rey. Aku –“ jawab Sekar dengan suara terbata-bata. “Kamu kenapa Sekar?” “A-ku mau di jodohin Rey,” jawab Sekar dengan deraian air mata membasahi pipinya. Dadanya terasa begitu sesak ketika harus mengatakan perjodohan ini kepada Rey, laki-laki yang sangat ia cintai. “Maksud kamu apa Sekar?” tanya Rey dengan suara yang terdengar begitu parau dan berat. “Aku mau di jodohin dengan pria pilihan Bapaku Rey.” “Terus kamu terima perjodohan itu? Kamu tidak lihat gimana perjuangan kita selama ini? Sekar … kita udah delapan tahun menjalani hubungan ini, tapi kenapa kamu segampang itu melepaskan aku?” “Aku juga tidak ingin menerima perjodohan ini Rey, tapi sampai kapan hubungan kita akan seperti ini? aku juga capek Rey. Aku juga tidak ingin mengecewakan kedua orang tuaku lagi.” “Gak! Aku tidak mau hubungan kita berakhir seperti ini Sekar! Aku tidak mau dan aku tidak akan terima keputusanmu yang konyol ini.” “Ini bukan keputusan yang konyol Rey! Ini keputusan yang terbaik untuk kita berdua.” “Terbaik kamu bilang? Terbaik untuk kita berdua? Ha Ha jangan munafik kamu Sekar,” ucap Rey dengan nada yang terdengar sedikit tinggi. “Rey, aku tau kamu pasti kecewa dengan keputusan yang aku ambil. Tapi aku mohon kamu juga ngertiin aku Rey.” “Aku harus ngertiin kamu gimana lagi Sekar? Aku harus gimana? Aku cuma minta ke kamu tolong tunggu aku satu tahun lagi, aku akan menikahimu Sekar.” “Kamu selalu mengatakan hal itu dari tahun lalu Rey, tapi nyatanya gimana? Kamu tidak pernah membuktikannya. Kamu itu cuma omong tok Rey,” jawab Sekar dengan suara yang tak kalah tingginya dengan Rey. “Aku mohon Sekar tolong tunggu aku. Tolong berikan aku waktu sampai tahun depan dan akan aku buktikan omonganku ke kamu Sekar, aku mohon Sekar jangan seperti ini. tolong ingat perjuangan kita selama delapan tahun ini,” pinta Rey kepada Sekar. “Gak Rey, aku tidak bisa menunggumu lagi. aku minta maaf telah membuatmu kecewa,” ucap Sekar sembari ia langsung memutuskan panggilan telponnya dengan Rey. “Hallo Sekar? Sekar?” panggil Rey sambil ia melihat layar ponselnya. “Gak … aku gak akan melepaskanmu Sekar! Aku gak mau kita putus,” ucap Rey kepada dirinya sendiri dengan deraian air mata yang membasahi pipinya. Hatinya terasa begitu sakit mendengar ucapan Sekar. Rey tidak percaya bahwa Sekar akan benar-benar meninggalkannya, delapan tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menjalin sebuah hubungan, susah senang ia lalui bersama Sekar, bahkan luka batinnya terhadap perilaku kedua orang tuanya kepada dirinya semasa kecil bisa hilang begitu saja ketika ia mengenal Sekar.  Sekar yang mengenalkan ia apa itu cinta, apa itu sebuah ketulusan. Dari Sekarlah hatinya yang begitu dingin perlahan berubah menjadi begitu hangat. Hidupnya yang begitu kelam berubah menjadi begitu berwarna ketika ia mengenal Sekar. Sekar adalah wanita pertama yang membuatnya bertekuk lutut dan membuatnya memiliki sebuah motivasi hidup. Tetapi wanita itu telah pergi meninggalkannya dengan segudang luka yang tidak akan bisa sembuh. “Sekar …” teriak Rey dengan terus mencoba untuk menghubungi Sekar, ia tidak ingin hubungannya dengan Sekar berakhir seperti ini. ia ingin menikahi Sekar dan menghabiskan waktunya bersama Sekar cinta pertamanya.      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN