RINTIK HUJAN

1082 Kata
“Busyet Rey, ini kamar kenapa gelap banget,” tanya Yasin kepada Rey saat ia baru saja memasuki kamar. “Rey … Reynald?” panggil Yasin ketika ia melihat Rey hanya duduk termenung di atas kasur tanpa mengeluarkan sepatah katapun kepadanya. Hanya pandangan kosong yang terpancar dari kedua bola Rey. “Rey?” panggil Yasin sekali lagi sambil ia mengoyangkan tubuh Rey dengan perlahan. Belum sempat Yasin bertanya lebih lanjut kepada Reynald, ada sebuah suara yang memanggil dirinya dan Rey, “Rey! Sin!” Tidak ingin mengacaukan suasana hati Rey, membuat Yasin langsung berlari keluar kea rah sumber suara tersebut. “Hei bro … aku udah pulang nih,” ucap Rendy dengan begitu bahagianya ketika ia kembali ke mess. “Ren, jangan rame-rame to,” pinta Yasin kepada Rendy yang saat itu baru saja pulang dari kampung halamannya. “Lhoh lha kenapa to?” tanya Rendy sambil ia menaruh tas gendongnya yang terasa begitu berat. “Sini ikut aku dan lihat sendiri,” ajak Yasin sambil ia menarik tangan Rendy. “Lhoh itu Rey kenapa Sin, kok kaya gitu. Kaya gak ada harapan hidup,” tanya Rendy ketika ia melihat kondisi Rey yang benar-benar terlihat begitu kacau. “Aku juga gak tau Ren, tadi itu dia bilang mau pulang duluan soalnya mau telponan sama Sekar, eee … aku pulang udah liat dia kaya gitu.” “Baru berantem pho sama Sekar?” tanya Rendy. “Kayaknya sih iya, soalnya tadi itu si Reynald happy-happy aja kok di kantor tapi kok ini dia jadi seperti itu.” “Ya udah Sin, kita jangan masuk kamar dulu, kita biarkan Rey dulu untuk menenangkan pikirannya jika memang ia baru ada masalah.” Rendy dan Yasin akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkan Rey sendirian di kamar dengan harapan dapat memberikan waktu kepada Rey untuk menjernihkan pikirannya. Sedangkan di dalam kamar, hati Rey benar-benar terasa begitu hancur, Rey merasa kehidupannya sudah berakhir. Ia benar-benar tidak bisa menjalankan kehidupan tanpa Sekar disampingnya. Hidupnya seperti kapal tanpa nahkoda yang terombang ambing di lautan lepas tanpa harapan dapat bersandar di pelabuhan impian. Badan kapal yang terlihat begitu kokoh lama-lama akan rusak juga ketika di terjang oleh ombak yang begitu besar. terjangan ombak yang tidak tahu kapan akan berhenti. “Sekar … kenapa kamu meninggalkan aku seperti ini? bagaimana dengan janji dan komitmen yang telah kita buat bersama?” ucap Rey dengan deraian air mata yang tak kunjung berhenti. Berkali-kali Rey mencoba untuk memukul-mukul dadanya yang terasa begitu sesak yang terasa begitu sakit luar biasa dalamnya. Tubuhnya meringkuk di bawah selimut yang begitu tebal, tetapi bukan rasa hangat yang ia dapatkan melainkan rasa dingin yang luar biasa sampai-sampai selimut yang begitu tebal tidak bisa memberikan kehangatan . Perlahan-lahan kenangannya bersama Sekar mulai muncul dalam pikirannya. Kenangan bagaimana pertama kali mereka bisa bertemu dan mulai pertemuan itulah yang membuat Rey jatuh hati kepada Sekar. Sekar adalah wanita pertama yang bisa menaklukan hati Rey. Dimata Rey, Sekar adalah wanita yang paling sempurna. Wanita pertama yang bisa membuat Rey lebih menghargai kehidupannya, wanita yang bisa membuat Rey terus semangat menjalani hari-harinya yang begitu berat. Disaat Yasin dan Rendy sedang asyik bermain game di ruang tamu, tiba-tiba saja mereka mendengar sebuah teriakan dan suara pecahan kaca yang begitu keras. “Sin, apa itu?” tanya Rendy sambil ia mendongakan wajahnya. “Aku juga gak tahu Ren, tapi kayaknya suaranya itu berasal dari kamar kita,” ucap Yasin dengan raut wajah yang berubah khawatir. “Ya udah, ayo kita lihat Sin, takutnya terjadi sesuatu dengan Rey,” ucap Rendy sambil ia mengajak Yasin untuk segera pergi ke kamarnya dan memastikan asal usul suara teriakan dan pecahan kaca tersebut Akhirnya Rendy dan Yasin langsung bergegas pergi menuju kamarnya, dan betapa terkejutnya mereka ketika melihat kondisi kamar yang begitu kacau, banyak pecahan kaca yang berserakan dan yang membuat mereka tambah panik adalah ketika mereka melihat banyak sekali darah yang berceceran di lantai. “Ren, Ren,” panggil Yasin sambil ia menepuk-nepuk tangan Rendy dengan begitu kerasnya. “Ihh, sakit tau Sin, kenapa to?” tanya Rendy “Ren … li-hat itu, Reynald Ren … Reynald,” ucap Yasin dengan suara yang terbata-bata sambil ia menunjuk ke sudut kamar mereka. Betapa terkejutnya Rendy ketika ia melihat kondisi Reynald yang terbaring tak berdaya dengan darah yang mengucur dengan begitu derasnya dari pergelangan tangannya, “Sin, panggil ambulance sekarang juga,” ucap Rendy sambil ia langsung memberikan pertolongan pertama kepada Rey. “Oke, Oke,” ucap Yasin sambil ia langsung menghubungi rumah sakit yang terdekat dengan tangan yang gemetaran. Ia sangat takut jika terjadi sesuatu dengan Rey, karena berkat Rey lah Yasin bisa bekerja dan Rey juga sudah ia anggap sebagai saudaranya. Selang beberapa menit setelah Yasin menghubungi rumah sakit terdekat, akhirnya mobil ambulance pun datang dan dengan sigap perawat langsung membawa Rey ke rumah sakit. Sedangkan Rendy dan Yasin mengikutinya dari belakang. . . Sedangkan di Jogja, Sekar sedang merenungkan apakah keputusan yang ia ambil itu adalah keputusan yang terbaik untuk mereka semua atau tidak. Berat sekali rasanya meninggalkan orang yang sangat di cintai karena keadaan. Bagi Sekar delapan tahun adalah waktu yang cukup singkat untuk ia habiskan bersama orang yang ia cintai. Selama delapan tahun ini ia bisa belajar tentang ketulusan, kesabaran, dan kesetiaan. “Rey, aku minta maaf telah membuatmu kecewa. aku minta maaf Rey, aku mohon maafkan aku. Aku sudah tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk mempertahankan hubungan ini. hubungan kita sudah terlalu banyak menyakiti orang lain dan diri kita sendiri,” ucap Sekar dengan deraian air mata. Aura kesedihan terpancar di seluruh penjuru ruangan. Dinding-dinding kamar adalah saksi bisu perjalanan cinta Sekar dan Rey. Perjalanan cinta yang dipenuhi oleh lika-liku kehidupan, asam, manis, pahit kehidupan adalah rasa yang mereka lalui selama ini. Deraian air mata, canda tawa, kebisuan, amarah, keputusasan adalah warna-warna yang selalu menghiasi setiap perjalan cinta Sekar dan Rey. Warna-warna yang selalu sukses membuat kisah cinta mereka menjadi lebih kuat. Tetapi untuk pertama kali warna-warni itu gagal memperkuat hubungan Sekar dan Rey. . . “Sin, kamu udah nyoba ngehubungi Sekar belum?” tanya Rendy setelah mereka mengurus semua administrasi Rey. “Udah Ren tapi gak ada balasan apapun dari Sekar,” keluh Yasin ketika ia kesulitan menghubungi Sekar. “Ya udah kalau gitu, kita hubungi aja keluarganya Rey,” usul Rendy “Aku juga gak tahu no telpon keluarganya Reynald Ren,” “Astaga, terus ini gimana nasibnya Rey?” tanya Rendy “Ya, satu-satunya cara kita harus menunggu sampai besok pagi Ren, biar pihak kantor yang mencoba menghubungi keluarga Rey.”    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN