SELALU MENCOBA

1142 Kata
“Hallo Sekar selamat pagi,” sapa seorang pria yang melihat Sekar di koridor apartement. “Hai mas Dewa, selamat pagi,” ucap Sekar sambil ia tersenyum begitu manis kepada Dewa. “Rapi sekali kamu Sekar, mau pergi pho?” tanya Dewa tanpa berbasa-basi. “Iya Mas, aku mau ke kampus ini.” “Oalah, kamu mau bimbingan pho?” “Iya Mas, mumpung dosen pembimbingku ada di kampus jadi ini mau bimbingan. Siapa tau hari ini skripsiku langsung di acc,” ucap Sekar sambil ia menunjukan tas jinjing yang ia bawa. “Amin … kalau begitu ayo kita ke kampus sama-sama,” ajak Dewa “Ha? Maksudnya mas apa ya? bukannya kampus kita itu berbeda ya mas,? Tanya Sekar dengan wajah polosnya “Sebenarnya aku juga ada urusan di kampusmu Sekar jadi lebih baik kita berangkat bersama kan,” bujuk Dewa. “Oh, oke kalau begitu,” ucap Sekar tanpa pikir panjang. “Ya udah yuk kita berangkat sekarang,” ajak Dewa sembari ia langsung memegangi tas jinjing milik Sekar. “Mas gak usah, aku bisa membawanya sendiri kok,” tolak Sekar sambil ia menepis tangan Dewa yang berusaha untuk mengambil tas jinjingnya. “Sekar udah santai aja, lagipula kita kan tetanggaan jadi sudah sewajarnya dong kalau kita itu saling tolong menolong,” jawab Dewa tanpa ia mempedulikan sikap Sekar yang kurang nyaman dengan sikap Dewa yang seperti itu. “Sekar, ayo masuk liftnya udah terbuka itu,” ucap Dewa sembari ia menarik tangan Sekar agar segera masuk kedalam lift. Selama di dalam lift Dewa berusaha untuk mengajak Sekar berbicara dan berharap Sekar dapat meresponnya. Tetapi yang ia dapatkan hanyalah senyuman saja, tapi hal itu tidak membuat Dewa patah semangat. Sikap Sekar yang begitu dingin kepadanya membuat Dewa merasa semakin tertantang untuk menaklukan hati Sekar. “Kabar Rey gimana ya? kenapa perasaanku dari tadi malam tidak enak, kenapa aku merasa ada hal buruk yang menimpa Rey. Apa aku harus menghubungi Rey? Tapi … kalau aku menghubungi Rey malah jadinya nanti balikan dan gak jadi putus, tapi kalau aku gak menghubungi Rey perasaanku gelisah,” keluh Sekar di dalam hati, pikirannya benar-benar hanya tertuju kepada kondisi Rey yang menurut perasaannya ada hal buruk yang sedang menimpa Rey. “Sekar … ayo to Sekar kamu harus bisa move on, ayo Sekar ini demi kebaikan semua orang. Kamu pasti bisa,” gumam Sekar sambil ia memegangi dadanya yang terasa begitu sesak. “Sekar, kamu gak papa kan?” tanya Dewa ketika melihat Sekar yang hampir jatuh saat keluar dari lift. “Aku gak papa kok  mas,” ucap Sekar “Kamu yakin kamu gak papa? Muka kamu itu pucat sekali lho Sekar, kalau kita pergi ke dokter dulu gimana?” “Mas, aku gak papa kok. udah yuk kita ke kampus sekarang.” “Oke kalau itu maumu ya gak papa tapi kalau nanti kamu tiba-tiba jatuh sakit kamu harus mau aku bawa ke dokter lho,” ucap Dewa sambil ia terus menggandengan tangan Sekar sampai di pakiran mobil. . . “Sin, Sekar gimana? Udah bisa di hubungi belum?” tanya Rendy sambil ia duduk di samping Yasin. Yasin hanya menjawab dengan gelengan kepala yang artinya ia belum bisa menghubungi Sekar sama sekali. “Ya udah kalau gitu gak papa, mungkin ponselnya Sekar baru drop jadi gak bisa kita hubungi.” “Aku kasihan sama Rey, di saat seperti ini tidak ada orang terkasihnya yang datang untuk menjaganya,” ucap Yasin sambil ia menghela nafas begitu panjang. “Kan ada kita bro. kita kan tiga sekawan yang tak terpisahkan.” “Ya bedalah Ren, kita kan cuma teman. Yang aku maksud itu orang yang benar-benar special di hati Rey.” “Kan ini nanti aku ke kantor, jadi otomatis nanti keluarganya Rey juga bakal tahu kalau saat ini Rey sedang di rawat di rumah sakit.” “Oke, semoga keluarganya Rey dapat dihubungi ya Ren dan semoga nanti siang Sekar juga bisa di hubungi,” ucap Yasin sambil ia berlalu meninggalkan Rendy di ruang tunggu. . . “Sekar boleh aku minta no telponmu?” pinta Dewa sambil ia menyodorkan ponsel miliknya kepada Sekar. “Ha? Buat apa emangnya mas?” “Ya kan kita tetanggaan masa gak saling tukar no hp, terus kan ini kita berangkat bareng nanti kalau aku gak tau no hpmu terus nanti gimana caranya aku ngehubungi kamu?” “Oke, sini ponselnya,” ucap Sekar sambil ia meminta ponsel milik Dewa. “Aku coba miscall ya,” “Ya mas.” “Lhoh kok ini nomu gak bisa di telpon ya Sekar,” tanya Dewa sambil ia memperlihatkan layar ponselnya yang sedari tadi terus memanggil Sekar. “Owh iya mas aku lupa, hp aku baterainya lowbat jadi ini mati. Nanti ya waktu nungguin dosen pembimbingku aku charge dulu hpku,” ucap Sekar sambil ia menempelkan tangannya di dahi. Dewa hanya bisa tertawa melihat kepolosan dan tingkah lucunya Sekar. “Inilah wanitaku,” gumam Dewa di dalam hatinya, ia benar-benar jatuh hati kepada Sekar dan ingin rasanya Dewa memiliki Sekar seutuhnya. “Mas, kalau gitu aku turun dulu ya mas,” pamit Sekar ketika mereka sudah sampai di pakiran mobil milik fakultas Sekar. “Oke, tetap Semangat ya Sekar. Nanti kalau udah selesai yang bimbingan langsung hubungi aku ya,” “Oke Mas siap,” ucap Sekar dengan senyumannya yang begitu manis. Senyuman yang bisa membuat orang-orang jatuh hati kepada Sekar. Senyuman itu terlihat begitu tulus dan manis. “Sekar … Sekar … bagaimana bisa kamu secantik itu sih,” ucap Dewa saat ia melihat Sekar mulai pergi meninggalkannya. Di pandanginya tubuh mungil Sekar yang perlahan-lahan mulai menghilang di antara pepohonan yang ada di fakultas Sekar. Ranting-ranting pohon seperti cemburu melihat Sekar di kagumi oleh pria seperti Dewa. “Sekar!” teriak tata yang melihat Sekar berjalan ke arahnya. “Tata …” panggil Sekar sembari ia langsung duduk di samping Tata. “Kamu udah di acc Bu Indah belum?” tanya Tata tanpa berbasa basi terlebih dahulu. “Ya, menurutmu kalau aku masih suka mondar mandir disini itu artinya apa?”tanya balik Sekar kepada Tata. “Santai bossku, aku cuma tanya kok Ha .. Ha ..,” jawab Tata sambil ia tertawa dan memukul bahu Sekar. “Opo to ta … ta … Ha Ha,” ucap Sekar yang di ikuti oleh canda tawanya, “Owh iya kamu urutan keberapa Ta?” lanjut Sekar. “Tentu saja yang pertama dong,” “Wihh mantap … pejuang skripsi ini” “Kamu juga kan pejuang skripsi nde,” “Memang ya, nasib mahasiswa tua itu kaya gini, tapi ya udahlah di nikmati saja.” “Iyo Kar bener banget, nikmatin saja lah prosesnya dan yakin kalau skripsi kita pasti selesai kok.” “Iyo Ta bener banget, pokoke kita harus tetap semangat lah,” ucap Sekar sambil ia mengepalkan kedua tangannya yang menggambarkan kobaran api pejuang skripsi 45.        
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN