“Sekar, nanti temenin aku ke amplaz yuk,” ajak Tata
“Yah Ta, aku udah ada janji sama temenku.”
“Yah … terus aku ke amplaznya sama siapa dong. Temenmu siapa Kar?”
“Temen apartement sih Ta, soalnya tadi aku berangkat bareng sama dia jadi gak enak kalau tiba-tiba aku bilang gak bisa pulang sama dia.”
“Yaudah kalau begitu ajak aja itu temenmu kan lebih seru tu kalau rame-rame ke mallnya,” usul Tata
“Pengennya sih gitu Ta, tapi masalahnya temenku itu cowok jadi gak mungkin kan kalau aku ajak dia.”
“Ha? Serius? Sejak kapan kamu punya temen cowok yang bisa kamu ajak berangkat bareng?” tanya Tata dengan raut wajah yang kaget karena mendengar sahabatnya itu berangkat dengan pria lain.
“Ya elah Ta, kaya aku hidup di jaman apaan aja. Masa aku gak punya temen cowok, terus selama ini kalau kita kerja kelompok, pratikum, makan bareng itu si Fahrun dkk kamu anggap cewek gitu?” protes Sekar.
“Ya enggak gitu juga maksudku nde … maksudku tu, aku baru kali ini tahu kamu berangkat bareng cowok gitu lho, soalnya setauku kamu itu anti banget yang namanya nebeng cowok lain selain Rey,” ucap Tata dengan menggebu-gebu.
Sambil menarik nafas yang begitu dalam, Sekar mencoba untuk menceritakan hubungannya dengan Tata, “Ta, aku sama Rey itu udah game over,”
“Sik … sik … maksudmu ii opo game over ii? ojo omong koe bubaran mbi Rey?” (Bentar … bentar … maksudmu itu apa game over? Jangan bilang kalau kamu dan Rey pisah)
“Iyo Ta, hubunganku sama Rey udah selesai,” kata Sekar dengan mata berkaca-kaca. Ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis.
“What?? Kamu serius Sekar? Gak … gak … aku gak percaya kalau kamu dan Rey putus, aku yakin kamu dan Rey akan balikan lagi kaya biasanya,” ucap Tata yang tidak menyangka bahwa hubungan sahabatnya itu harus kandas begitu saja.
“Aku dan Rey gak akan balikan lagi Ta,” kata Sekar dengan nada suara yang mulai parau dan berat.
“Kok bisa? Memangnya kalian itu ada masalah apa? Bukannya kalian itu saling mencintai kan, terus kenapa kalian harus memilih untuk pisah?” tanya Tata sambil ia memberikan sebuah tissue kepada Sekar yang mulai menangis.
“Aku di jodohin dengan pria pilihan kedua orang tuaku Ta,” isak Sekar sambil ia menundukan kepalanya.
Melihat kondisi Sekar yang kacau seperti ini membuat Tata berhenti bertanya lebih lanjut kepada Sekar, karena ia tahu betul bagaimana rasanya di posisi Sekar. Pasti sakit banget harus melerakan orang terkasih demi kebahagian kedua orang tua.
Tata tahu betul kalau Sekar itu sangat mencintai Rey, bahkan ia mengesampingkan harga dirinya yang selalu di injak-injak oleh ibunya Rey. Kalau mengingat hal itu membuat Tata merasa sedih, harga diri seorang wanita harus di jatuhkan oleh seorang yang bertitle Ibu.
Hampir setiap hari Sekar mendapatkan hinaan, cacian oleh ibunya Rey, tetapi ia selalu berusaha untuk tetap sabar dan menghormatinya sebagai seorang ibu, tetapi wanita tua itu yang mengaku sebagai seorang ibu, tidak pernah menghargai dan menghormati Sekar sebagai seorang wanita.
“Gak papa Sekar, gak papa. Menangislah, menangislah Sekar,” ucap Tata sambil ia memeluk Sekar dengan begitu tulus.
“Tata … kenapa harus aku dan Rey yang mengalami perpisahan ini? aku cinta dan sayang sama Rey Ta, tetapi kenapa Tuhan memisahkan kita? Apa kesalahanku dan Rey?” keluh Sekar dengan deraian air mata yang jatuh dengan begitu derasnya.
“Tuhan tahu mana yang terbaik untukmu Sekar, mungkin saat ini Rey bukanlah yang terbaik untukmu tetapi yakinlah bahwa pilihan Tuhan adalah yang terbaik untukmu. Percayalah badai akan berganti dengan pelangi yang begitu indah di hidupmu, dan aku yakin kamu pasti kuat menjalaninya,” ucap Tata sambil ia memegangi tangan Sekar dengan begitu kuat dan tulus.
.
.
“Tata … aku di acc Bu Indah,” ucap Sekar dengan begitu girang ketika ia keluar dari ruangan Bu Indah.
“Akhirnyaa … hal yang paling kita tunggu-tunggu menjadi kenyataan juga Sekar … wisuda sudah di depan mata,”
“Iya Ta bener banget, gak sia-sia kita selalu begadang dan menunggu Bu Indah dari pagi sampai magrib. Sekarang skripsi kita di acc juga.”
“Memang usaha tidak pernah mengkhianati hasil kok. oke kalau begitu bagaimana kalau kita shoping? Urusan temenmu itu serahkan sama aku, biar aku yang mengurusnya,” usul Tata.
“Oke, setuju,” kata Sekar dengan mantapnya.
“Ya udah, kalau begitu sekarang kamu coba hubungi itu temenmu tanya posisinya dimana.”
“Oke, kalau begitu aku nyalain dulu ya ponselku,” ucap Sekar sembari ia mencari ponselnya yang terselip di dalam tas.
“Lhoh ponselmu lowbat pho? Kok baru kamu nyalain sekarang?”
“He he, sebenarnya gak low bat sih Ta, cuma aku matiin aja biar Rey gak gangguin aku.”
“Oalah aku kira kenapa sis … sis ….”
“Ya udah yuk kita jalan dulu aja ke pakiran, siapa tahu Dewa ada di pakiran,” ucap Sekar sambil ia mulai menyalakan ponselnya.
“Ooo … jadi nama pria misterius itu Dewa to. Hmm … bagus juga namanya,” goda Tata dengan senyuman jahilnya.
“Kenapa Ta? Mau aku kenalin pho kamu sama Dewa?” balas Sekar.
“Ya kalau Dewa mirip oppa-oppa Korea mah gak papa sih kalau mau di kenalin ke aku,” celetuk Tata sambil ia menggandeng tangan Sekar.
Ketika mereka sedang menyusuri koridor kampus, tiba-tiba saja ada sebuah teriakan yang memanggil nama Sekar, sontak hal itupun langsung membuat Sekar dan Tata melihat ke sumber suara.
Terlihat ada seorang pria dengan setelan kemeja biru laut dengan celana jins hitam sedang berdiri di ujung koridor kampus sambil ia melambaikan tangannya kearah Sekar dan Tata.
“Astaga naga dragon, itu siapa Sekar? Kok ganteng banget …,” tanya Tata yang begitu kagum dengan kegantengan pria tersebut.
“Ta, biasa aja ah. Malu tau Ta,” ucap Sekar sambil ia menyentil tangan Tata.
“Mas Dewa,” lanjut Sekar sambil ia mempercepat langkahnya.
“Gimana Sekar, udah selesai belum bimbingannya?” tanya Dewa dengan intonasi suara yang begitu berwibawa.
“Udah kok Mas, malahan ini juga udah di acc sama dosen pembimbingku,” ucap Sekar dengan begitu semangatnya.
“Wah selamat ya Sekar, akhirnya di acc juga. apa aku bilang jika kamu terus berusaha dan pantang menyerah pasti skripsimu akan di acc juga sama dosbimmu,”
“Iya Mas, makasih ya Mas untuk doanya.”
“Owh ini to. Mas-mas yang bisa membuat Sekar mau di antar jemput. Ganteng juga sih, memang Sekar gak salah pilih pasangan,” gumam Tata di dalam hati.
“Ini siapa ya Sekar?” tanya Dewa yang melihat Tata sedari tadi melihat Dewa dari ujung kepala sampai ujung kaki.
“Oh ini kenalin Mas, ini Tata sahabatku.”
“Hallo, kenalin ya aku Dewa, tetangga apartementnya Sekar,” ucap Dewa sambil ia mengulurkan tangannya ke Tata.
“Tata Mas, salam kenal ya,” ucap Tata.
“Ya udah kalau gitu, gimana kalau kita makan bersama? Aku yang traktir deh,” ajak Dewa.
“Aku setuju Mas, sebenarnya sih kita berdua juga mau ngajak Mas Dewa untuk makan bersama di mall gitu sambil refreshing mata,” ucap Tata.
“Oke, kalau begitu let’s go.”
“Ayo Sekar,” ajak Tata sambil ia menarik tangan Sekar.
“Iya Ta, sebentar ya aku mau ngechek ponselku dulu. Kok ini dari tadi banyak banget notif yang masuk.”
“Udah … ngecheknya nanti aja di mobil. Palingan itu juga chat dari Rey yang nyariin kamu,” bisik Tata sambil ia terus memaksa Sekar untuk buru-buru.