“Tapi Ta, ini kayaknya penting deh soalnya dari tadi notif chatnya masuk terus.”
“Udah, santai aja to. Kaya kamu gak tau Rey aja, itu pasti Rey baru ngeboom chat kamu,” ucap Tata sambil ia menggandeng Sekar untuk segera masuk ke dalam mobil Dewa.
Karena desakan dari Tata, akhirnya membuat Sekar pasrah aja dan menuruti perkataan Tata.
“Ini kita jadinya mau makan di mana?” tanya Rey sambil ia mulai menyalakan mesin mobilnya.
“Kita makan di amplaz aja gimana Mas?” tanya Sekar.
“Boleh, aku juga udah lama gak ke amplaz,” jawab Dewa yang menyetujui ajakan Sekar untuk makan di amplaz saja.
Entah kenapa perasaan Sekar menjadi semakin tak menentu, ia benar-benar merasa takut jika ada sesuatu hal yang buruk menimpa Rey. Walaupun hubungannya dengan Rey sudah berakhir tetapi tetap saja Rey adalah laki-laki pertama yang membuat Sekar benar-benar jatuh hati dan merasa nyaman untuk menjadi dirinya sendiri.
“Sekar?” tanya Dewa yang sedari tadi melihat Sekar hanya melihat ke luar jendela mobil dengan tatapan kosong.
“Sekar?” panggil Dewa untuk kedua kalinya, karena panggilan yang pertamanya tidak di gubris oleh Sekar.
“Hah? Kenapa Mas?” tanya Sekar sedikit kaget.
“Kamu kenapa?”
“Aku gak kenapa-kenapa kok Mas,” ucap Sekar sambil ia mempertontonkan senyumannya.
“Kamu yakin? Kamu baru gak enak badan pho,”
“Enggak kok Mas. Aku sehat kok Mas,” jawab Sekar sedikit canggung.
“Kamu yakin Sekar? Kalau kamu memang baru gak enak badan kita periksa saja dulu,” tawar Dewa yang merasa kasihan kepada Sekar yang terlihat begitu lemas dan pucat.
“Iya Mas aku yakin kok.”
Sedangkan di kursi belakang Tata hanya diam saja sambil memperhatikan interaksi antara Dewa dan Sekar. Tata sangat yakin jika Dewa menaruh hati kepada Sekar, tetapi ia juga melihat kesedihan yang sangat mendalam di diri Sekar.
“Mas Dewa, nanti pakirnya di hotel ambarukmo aja Mas. Soalnya jam segini pasti susah cari pakiran di dalam,” usul Tata ketika melihat mobil yang di kemudikan oleh Dewa akan memasuki area mall.
“Oke, gak papa. Kalau begitu kalian aku turunin di lobby dulu ya, terus aku cari pakiran,” ucap Dewa.
“Lhah Mas, gak bareng aja yang masuk kedalam?” tanya Sekar sambil ia melepas sabuk pengaman yang ia kenakan.
“Hoo Mas, mending kita bareng aja yang masuk,” sahut Tata yang setuju dengan usulan Sekar untuk memasuki area mall secara bersamaan.
“Gak papa, kalian turun aja dulu di loby, aku tak cari tempat pakir. Ini juga gerimis lho dan aku juga Cuma punya satu paying kecil jadi gak mungkin kan kalau satu paying kecil buat kita bertiga,” jelas Dewa sambil ia mengemudikan mobilnya menuju loby mall.
“Ya udah kalau gitu kita tunggu Mas Dewa di lobby ya,” usul Tata.
“Oke siap,” jawab Dewa.
Akhirnya dengan berat hati Tata dan Sekar turun di loby terlebih dahulu. Sebenarnya Tata dan Sekar tidak enak juga karena mereka hanya nebeng aja tapi malah turun lebih dulu dan yang punya mobil harus muter-muter cari pakiran lebih dulu.
“Sekar kamu gak papa kan?” tanya Tata yang sedari tadi melihat muka Sekar yang terlihat begitu sedih.
“Ta … kok perasaanku gak enak ya Ta. Aku takut jika terjadi sesuatu dengan Rey,” keluh Sekar dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Ya udah, kamu buka aja hpmu. Bukannya tadi kamu mau buka hp kan?”
“Iya sih sebenarnya tadi di dalam mobil aku pengin banget buka hp, tapi kok rasanya berat banget ya buat buka hp. Aku takut jika perasaanku goyah lagi,” ucap Sekar.
“Ya udah gini aja, kalau habis makan perasaanmu masih gak enak kamu buka aja hpmu tapi kalau udah tenang ya bukanya besok-besok saja gak papa,” usul Tata.
“Tapi aku juga takut Ta,”
“Udah, kamu tenang aja kan ada aku. kalau nanti semisalnya kamu pengin nangis lagi ada bahuku yang dengan iklas menerimamu kok Sekar, jadi jangan takut ya beb,” ucap Tata sambil ia merangkul tubuh mungil Sekar.
“Makasih ya Ta.”
.
.
“Sekar? Kamu kenapa kok nangis?” tanya Dewa ketika melihat Sekar menangis setelah mereka selesai makan.
Tata yang melihat Sekar menangis, refleks langsung mengambil hp milik Sekar dan ia pun langsung melihat isi hpnya. Betapa terkejutnya Tata melihat ada seratus lima puluh satu panggilan tak terjawab da nada lebih dari seratus pesan dari Rey.
Tetapi pandanganya tak bisa lepas dari sebuah pesan dari seseorang yang bernama Yasin.
“Sekar, yuk kita ke Batang aku temenin,” ucap Tata.
“Tata …” panggil Sekar dengan isak tangis yang sontak membuat orang-orang yang berada di resto tersebut langsung melihat ke arah Sekar, Tata, dan Dewa makan.
“Gak papa, gak papa. Aku yakin Rey kuat,” ucap Tata
“Ini semua salahku Ta, ini salahku. Aku yang terlalu gegabah mengambil keputusan, aku memang wanita yang kejam.” Isak Sekar yang tambah membuat Dewa semakin kebingungan.
“Mas Dewa, sebelumnya kita minta maaf ya Mas. Tapi ini ada urusan yang benar-benar mendesak jadi kami pamit pulang dulu ya Mas,” pamit Tata sambil ia membantu Sekar untuk berdiri.
“Ya udah kalau gitu ayo kita pulang bersama,” kata Dewa sambil ia ikut berdiri.
“Gak usah Mas, kita gak langsung pulang ke apartement kok,” tolak Tata.
“Ya udah kalau begitu aku anterin aja kalian, lagi pula kalian kan berangkatnya bareng aku jadi gak mungkin kan kalau kalian pergi sendiri,” ucap Dewa.
“Ya udah kalau begitu gak papa, sekarang ayo kita pergi dulu ke Batang dan untuk kenapa-kenapanya nanti saja yang cerita,” ucap Tata sambil ia mengajak Dewa untuk segera pergi meninggalkan Resto tempat mereka menyantap makan siang.
Sesampainya di dalam mobil Sekar langsung menangis secara histeris, ia benar-benar tidak kuat menghadapi kenyataan jika Rey akan pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya.
“Tata … aku harus gimana kalau terjadi sesuatu yang buruk dengan Rey? Aku jahat Ta … aku kejam … bagaimana bisa aku membuat Rey terluka,” keluh Sekar sambil ia memeluk tubuh Tata dengan begitu erat.
“Sekar … Sekar … aku mohon tenanglah, aku yakin jika Rey gak akan kenapa-kenapa. Percaya sama aku, Rey pasti baik-baik aja,” hibur Tata.
Dewa yang tidak tahu menahu tentang duduk permasalahan yang menimpa Sekar hanya bisa diam saja sambil ia tetap fokus mengemudikan mobilnya.
Tetapi hatinya juga merasa begitu sedih melihat Sekar menangis seperti itu, ia seperti merasakan kesedihan yang sedang menimpa Sekar. Tetapi ia juga merasa patah hati karena wanita yang dicintainya sudah jatuh hati kepada pria lain.