CHANGE

1190 Kata
“Rey,” panggil Yasin ketika mereka sedang push rank bersama. “Ha, kenapa?” tanya Rey dengan pandangan masih di layar ponsel miliknya. “Kamu baru berantem pho sama Sekar?” “Enggak kok,” jawab Rey singkat “Yakin kamu gak berantem sama Sekar?” tanya Yasin sekali lagi berusaha untuk mencari informasi tentang kondisi hubungan sahabatnya itu. “Iya Sin …  hubunganku sama Sekar baik-baik aja kok. emangya kenapa to, kok tumben banget kamu tanya tentang hubunganku dengan Sekar.” “Ya, tumben aja kalian berdua kok gak telponan dan video call, kan biasanya tiap pulang kerja kamu dan Sekar pasti nyempetin untuk telponan,” jelas Yasin sambil ia melihat raut wajah Rey yang mulai berubah. “Perasaanmu aja itu Sin, aku sama Sekar baik-baik aja kok. ini aja aku juga masih bertukar kabar dengannya lewat pesan kok,” jelas Rey sambil ia mulai menaruh ponselnya di lantai. “Oalah, ya udah kalau hubungan kalian itu baik-baik aja. Aku kira kalian baru ada masalah.” “Santai saja Sin, hubunganku sama Sekar baik-baik aja kok,” jawab Rey dengan begitu lirih. Perkataan yang terlontar dari mulut sabatnya itu ada benarnya juga, karena sudah beberapa hari ini ia dan Sekar tidak saling bertukar kabar via telepon, sehingga hal itu  membuat hati Rey bertambah gelisah. Rey tahu betul bahwa hubungannya dengan Sekar sedang tidak baik-baik saja, karena baru kali ini Sekar tidak meneleponnya dan ketika Rey mencoba untuk menelepon Sekar dan berharap dapat saling bertukar kabar. Tetapi harapannya itu harus pupus karena Sekar akan selalu menolak panggilan Rey dan selalu mengatakan bahwa ia sedang mengerjakan skripsi dan tidak bisa di ganggu. “Sin, push ranknya nanti lagi ya,” usul Rey “Lhah kenapa Rey? Baru aja push rank kok ini udahan aja?” “Hehe aku baru ingin telpon Sekar,” jawab Rey sambil ia menunjukan no telpon Sekar yang tertera di layar ponsel miliknya. “Oh, oke deh gak papa. Kalau gitu aku mau cari makan dulu, kamu mau titip bungkus gak?” “Boleh Sin, kamu mau makan apa?” “Hmmm … mungkin penyetan kaya biasanya Rey. Gimana kamu mau titip gak?” tanya Yasin sambil ia mulai siap-siap untuk mencari makan. “Boleh Sin, aku ayam penyet paha atas cabe tiga ya, sama minunya es nutrisari rasa manga aja,” pinta Rey sambil ia mengulurkan satu lembar uang berwarna biru kepada Yasin. “Oke siap bossku. Tak berangkat dulu ya,” pamit Yasin. “Oke bro, ati-ati ya,” ucap Rey. Setelah Yasin pergi, Rey mulai menelepon Sekar tetapi teleponnya tidak segera Sekar angkat, dan hal itu membuat hati Rey bertambah gelisah, ia takut jika terjadi sesuatu dengan Sekar tetapi kekasih hatinya itu tidak memberitahunya. “Sekar kemana sih, kok gak di angkat-angkat teleponnya,” gumam Rey sambil ia terus mencoba untuk menelepon Sekar. Sudah lima kali Rey mencoba untuk menelepon Sekar, tetapi hasilnya nihil. Sekar tidak mengangkat telepon darinya. “Tenang Rey … mungkin saat ini Sekar baru tidur, istirahat, jadi tunggu aja dulu lah. Jangan kaya gini Rey, kalau kamu kaya gini berarti kamu tidak percaya sama Sekar,” ucap Rey pada dirinya sendiri yang sudah mulai merasa tidak tenang. Rey berusaha untuk tetap tenang dengan cara mulai bermain mobile legend lagi, tetapi tetap saja pikirannya ke Sekar. Ia tahu betul bahwa sikap Sekar ke dirinya berubah drastis tidak seperti biasanya. Karena Rey tidak ingin terus-terusan memiliki pikiran buruk terhadap Sekar, maka ia putuskan untuk mencoba menghubungi Becca sahabatnya dan Sekar. Tutt … Tutt … Tutt … “Ayo to Bec angkat teleponnya,” gumam Rey saat ia menunggu jawaban dari Becca. “Hallo,” sebuah suara yang sudah Rey tunggu-tunggu, ya akhirnya teleponnya di angkat juga sama Becca. “Hallo Bec,” jawab Rey dengan penuh semangat. “Iyo Rey, piye?” tanya Becca dengan bahasa jawa yang menanyakan alasan Rey meneleponnya itu apa, karena tidak biasanya Rey menelepon Becca, kecuali memang ada hal penting yang ingin ia sampaikan kepada Becca. “Anu … kamu sibuk gak ini Bec?” tanya Rey. “Enggak sih Rey, emangnya kenapa to kok tumben banget kamu nelpon aku dan nanyaain aku sibuk gak.” “Ini Bec, aku cuma mau tanya sama kamu.” “Iyo, kamu mau tanya apa? Masalah Sekar pho?” tebak Becca “Lhah kok dirimu ngerti nik aku arep takon bab Sekar ning koe?” (lhah kok kamu tahu kalau aku mau tanya tentang Sekar ke kamu?) “Ya elah Rey, aku udah kenal kamu dari SD dan aku juga saksi hidup perjalanan hubungan kalian dari SMA jadi aku tau lah, apa alasanmu menghubungiku kalau bukan masalah Sekar,” Jelas Becca. Rey yang mendengar jawaban Becca hanya bisa tertawa canggung karena niatannya sudah terbaca oleh Becca. “Malah ketawa ilho …” protes Becca ketika mendengar Rey hanya tertawa. “Sorry Bec, Sory Bec.” “Hmmm, dah cepetan omong sebelum anak-anakku bangun ini,” ucap Becca “Gini Bec, aku cuma mau tanya ke kamu tentang keadaan Sekar sekarang itu bagaimana.” “Lhoh kok kamu malah tanya ke aku? Kan pacarnya Sekar itu kamu Rey.” “Iya sih Bec, pacarnya Sekar itu aku. Tapi aku merasa akhir-akhir ini sikap Sekar ke aku itu beda banget Bec, jadi aku mau tanya ke kamu. Kamu tau gak Sekar sekarang gimana kok dia beda banget.” “Bentar, beda gimana maksudmu?” “Ya, beda Bec. Kaya komunikasi kita jadi jarang, Sekar aku telpon kadang gak di angkat, aku chat juga jawabannya singkat banget dan bilang gak papa gitu. Aku kan jadi bingung to, sebenere Sekar itu kenapa,” jelas Rey singkat kepada Becca. “Ya, sebelumnya aku minta maaf ke kamu ya Rey. Untuk masalah itu aku kurang tahu, karena aku juga akhir-akhir ini jarang komunkasi dengan Sekar.” “Kamu yakin gak tahu apa-apa tentang Sekar Bec?” tanya Rey sekali lagi, karena ia sedikit tidak percaya dengan jawaban yang diberikan Becca kepadanya. “Iya Rey aku benar-benar tidak tahu.” “Oalah, ya udah kalau gitu Bec,” jawab Rey dengan nada yang terdengar sedkit kecewa. “Maaf ya Rey, aku gak bisa bantuin kamu. Tapi kalau boleh aku kasih saran ke kamu, mendingan kamu temui aja Sekar dan ajak ia bicara dari hati ke hati. Karena aku tahu betul sebenarnya benang merah dalam hubungan kalian itu apa dan untuk menyelesaikannya kalian memang harus ketemu Rey,” usul Becca. “Iya Bec, gak papa kok. makasih ya Bec untuk sarannya, nanti aku coba cari cara untuk menemui Sekar.” “Oke Rey, goodluck ya.” “Oke Bec,” jawab Rey sebelum ia menutup teleponnya. . . “Siapa ma yang telpon?” tanya Luke kepada istrinya Becca. “Reynald pa yang telpon,” jawab Becca dengan menghela nafas. “Reynald pacarnya Sekar?” “Iya Pa, Rey pacarnya Sekar.” “Kamu udah kasih tau Rey?” “Belum, biarkan Sekar yang memberitahu Rey sendiri pa. aku tidak tega melihat hubungan mereka yang penuh dengan lika liku, dan kalau kita yang memberitahu Rey, aku takut akan memperkeruh suasana, jadi biarkan Sekar yang memberitahu Rey,” jelas Becca sambil ia meminta untuk dipeluk oleh Luke suaminya.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN