KETAKUTAN

1164 Kata
Gemricik air menyamarkan tangis Rey. Ia menangis di bawah guyuran air yang mengalir dalam shower yang begitu dingin. Berkali-kali ia memukul dadanya dengan harapan dapat menghilangkan rasa sesak di d**a tetapi hal itu sia-sia belaka karena bukan kelegaan yang ia dapat, melainkan rasa sesak yang semakin menjadi-jadi. Seketika ingatan Rey kembali pada masa kanak-kanak, dimana masa-masa terkelam dalam hidupnya.  Di saat teman-teman sebayanya asyik bermain dengan kedua orang tuanya, dan mereka juga memiliki kenangan yang begitu indah dengan kedua orang tuanya. Tetapi hal itu tidak berlaku untuk Rey yang hari-harinya harus di hiasi oleh suara isak tangis adik-adiknya, suara piring pecah, teriakan dari ibunya, dan Rey kecil juga tak luput dari pukulan Ibu dan Ayahnya yang dengan sadar memukul Rey kecil dengan membabi buta. Entah setan apa yang merasuki kedua orang tua Rey sehingga tega memperlakukan Rey seperti itu. Rey kecil hanya bisa berdiam diri tanpa bisa melakukan perlawanan terhadap perlakuan kasar kedua orang tuanya. Perlakuan kasar yang dilakukan oleh kedua orang tuanya menimbulkan luka fisik dan batin pada Rey. Sikap Rey kecil juga sangat berbeda dengan sikap anak-anak kecil pada umumnya yang aktif, yang ceria, yang hari-harinya dipenuhi oleh canda tawa, mereka juga memiliki sinar yang begitu cerah pada wajahnya, sedangkan Rey hanya memancarkan kesedihan yang terpancar dari kedua bola matanya, tidak ada kecerian yang terpancar oleh kedua bola matanya. . . “Ren!” panggil Yasin pada Rendy yang masih asyik push rank. “Opo to sin,” jawab Rendy tanpa memalingkan pandanganya dari layar smartphone miliknya. “Itu lho, si Reynald kok gak keluar-keluar dari kamar mandi, ini udah satu jam lho,” keluh Yasin. “Halah, koe ii ngopo to kok ngegeri banget ilho. Wong yo jenenge lagi adus kok yo mesti suwi to,” jelas Rendy dengan logat jawanya yang medok (Halah, kamu itu kenapa to kok tergesa-gesa seperti itu. Namanya juga baru mandi pasti lama) “Eee .. bro, tapi ini udah satu jam lho. Rey itu gak pernah mandi selama ini. kamu itu lho sama teman kok gak peka sama sekali,” ucap Yasin sambil ia menunjuk ke arah kamar mandi yang letaknya tepat di samping ruang tamu. “Ya udah, ya udah … ayo kita lihat Rey. Cerewet banget ilho kamu iii kaya anak gadis aja cerewetnya,” keluh Rendy sambil ia berdiri dan segera bergegas berjalan menuju kamar mandi yang langkahnya di ikuti oleh Yasin. Sesampainya di depan kamar mandi, Rendy dan Yasin hanya saling tatap-tatapan, sambil menunggu salah satu diantara mereka ada yang berani mengetuk pintu kamar mandi. “Sin sana panggil si Reynald,” pinta Rendy sambil ia menyengol bahu  Yasin. “Yaelah, kenapa harus aku? Kenapa gak kamu aja sih Ren?” tolak Yasin sambil ia mengelengkan kepalanya. “Tadi yang minta buat manggil Rey siapa? Kamu kan yang minta, terus sekarang kenapa harus aku yang manggil Rey?” protes Rendy sambil memutarkan kedua bola mata. “Ren,” panggil Yasin. “Aelah, kelamaan kamu tu ... dah sini aku aja yang manggil Rey,” putus Rendy sambil ia mulai mengetuk pintu kamar mandi. Tok … Tok … Tok … bunyi ketukan pintu “Rey … Rey … Reynald?” panggil Rendy sambil ia mempercepat dan memperkeras ketukan pintunya. “Tukan Ren, apa aku bilang si Rey pasti kenapa-kenapa ini,” ucap Yasin dengan nada bicara yang terdengar begitu khawatir. Rendy mencoba tak menghiraukan perkataan Yasin yang semakin lama semakin ngacau saja. “Sin.” “Ya, Ren gimana?” “Kamu bisa diam dulu gak? Kalau kamu kaya gini malah bikin suasanya tambah runyam,” jelas Rendy yang mulai merasa khawatir tapi masih berusaha untuk menyembunyikannya. “Oke Ren, aku minta maaf,” ucap Yasin “Dah, sekarang kamu mundur aja dulu. Ini aku mau dobrak pintunya, soalnya ini aku yakin si Rey pasti kenapa-kenapa di dalam sana, soalnya kita panggil-panggil tapi dia tidak ada respon sama sekali.” Pinta Rendy sambil ia meminta yasin untuk mundur dan menjauh dari pintu. Mendengar perintah dari Rendy membuat Yasin langsung sedikit menjauh dari pintu kamar mandi. Sambil mengambil ancang-ancang Rendy mulai menghitung satu … dua … ti- Belum genap hitungan ketiga ada sebuah suara dari atas tangga samping kamar mandi, yang sontak membuat Rendy dan Yasin kaget bukan main. “Rey!” teriak Rendy dan Yasin secara bersamaan, ketika melihat Rey berjalan menurunin anak tangga secara perlahan. “Wohoo … santai, santai, santai bossku. Ada apa ini?”tanya Rey dengan polosnya. “Heh! Kamu itu habis darimana?” tanya Rendy. “Ya dari atas lah, dari mana lagi aku,” ucap Rey dengan entengnya. “Lhaya, kamu ngapaian di atas? Terus kenapa kamu gak jawab waktu kita panggil?” tanya Yasin tak mau kalah. “Ya ngapain lagi di atas kalau bukan jemurin baju, aneh-aneh ini kalian yang tanya.” “Terus kenapa kamu gak jawab waktu kita panggil kamu?” “Lhah, mana saya tau kalau kalian manggil saya. Saya kan di atas baru jemurin baju,” jawab Rey sambil memperlihatkan ember kosong miliknya. “Woalah, Yasin semprul … marai uwong keweden wae, tak pikir iii ono opo-opo mbi awakmu lho Rey,” ucap Rendy dengan logat jawanya (Oalah, Yasin kurang ajar … bikin orang ketakutan aja, aku kira ada apa-apa lho sama dirimu Rey) “Yo, sapurane Ren. Jenenge wae konco kentel, mesti yo wedi to nik ono opo-opo mbi koncone,” ucap Yasin sambil menangkupkan kedua tangannya di depan d**a, (Ya, maaf Ren. Namanya aja juga teman dekat, pasti ya takut to kalau ada apa-apa dengan teman kita) “Uwes-uwes rasah dho ribut, ra penak di rungoke konco mess liyane,” ucap Rey sambil ia menaruh ember plastik miliknya, (Udah-udah jangan berantem, gak enak di dengar teman mess lainnya) “Lhayo kamu ii yo semprul tenan kok Rey. Di teriaki tapi gak jawab ilho,” ucap Rendy sambil disusul dengan gelak tawa Yasin dan Rey. Melihat perhatian yang diberikan oleh temannya, sejenak membuat Rey merasa di anggap oleh lingkungannya. Setidaknya masih ada orang yang menyayanginya kecuali Sekar. “Owh iya besok kan kita libur, gimana kalau kita main billiard?” usul Rendy dengan senyuman jahil terukir dengan jelas di bibirnya. “Gila ya kamu Ren, ini udah jam berapa boss. Mending kita tidur menikmati waktu libur kita, kapan lagi kita bisa libur dan tidur dengan nyenyak tanpa beban kerja,” tolak Yasin sambil ia memukul kepala Rendy dengan tangannya. “Cupu … ini masih sore boss,” ucap Rendy. “Udah, kita tidur aja Ren. Lagi pula aku juga capek banget ini dan inget ibu negara kita udah melarang kita main billiard lho,” ucap Rey yang mendukung pendapat Yasin. “Betul itu, kita harus menjaga hati pasangan kita masing-masing. Walaupun kita bertiga ini LDRan tapikan kita tidak boleh semena-mena dan merasa bebas disini, kasihan lho kesehatan pasangan kita yang selalu berburuk sangka sama kita, jadi alangkah baiknya kita menjaga perasaanya agar tenang dan percaya dengan kita disini,” ucap Yasin sambil menepuk-nepuk bahu Rendy “Mantap Jiwa … Yasin golden ways,” ucap Rey sambil memberikan tepuk tangannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN