Dinginnya hembusan angin malam lautan membuat Rey ingin segera mengakhiri pekerjaanya, tetapi hal itu cuma angan saja karena saat itu perusahaan tempat ia mengais rejeki dituntut untuk segera menyelesaikan proyek raksasa PLTU untuk wilayah Jawa dan Bali.
Entah kenapa sejak dari tadi pagi perasaanya sudah tidak menentu, pikirannya melayang kemana-mana tetapi anehnya pikiran-pikiran negatif itu selalu datang dari kekasihnya Sekar. Entah masalah apalagi yang akan datang dalam hubungan mereka.
“Selamat malam Pak Rey,” sapa salah satu pekerja disitu yang menyadarkan Rey dari lamunannya.
“Selamat malam Pak Ujang, ada apa?” jawab Rey dengan sopan.
“Maaf Pak Rey, ini pekerjaan kita sudah selesai dan mobil jemputan kita juga sudah sampai.”
“Oh begitu, oke gak papa. Ya udah kalau begitu kalian pulang saja, saya akan berkeliling terlebih dahulu,” ucap Rey sambil ia mulai bergegas untuk melihat hasil pekerjaan yang dilakukan oleh pekerjanya.
“Pak Rey maaf sebelumnya, tetapi tadi Bapak sudah mengechek semuanya dan kita juga tidak bisa pulang tanpa Pak Rey, karena ini adalah mobil jemputan terakhir,” jelas Ujang dengan tatapan penuh selidik, karena baru kali ini ia melihat bossnya tidak konsen dalam bekerja dan baru kali ini ia melihat bossnya banyak menghabiskan waktunya untuk melamun.
“Oh iya ya, tadi saya sudah mengechek pekerjaan kalian. Tapi ya sudah tidak apa-apa kalian pulang saja terlebih dahulu saya akan mengecheknya sekali lagi untuk memastikan pekerjaan yang kalian kerjakan sesuai dengan SOP yang ada,” jelas Rey sambil ia tersenyum kepada Ujang.
“Tapi bagaimana dengan Bapak? ini mobil jemputan terakhir Pak.”
“Tenang saja, saya bisa kok nanti jalan kaki lagipula dari site ini sampai kantor tidak terlalu jauh,” jelas Rey sambil ia meminta pekerjanya itu untuk segera pulang.
“Tapi Pak ini sudah pukul dua belas malam dan tidak bagus jika Pak Rey jalan kaki sendirian. Lagian jarak site dengan kantor itu lima kilometer Pak. Apa Bapak tidak merasa capek jika harus jalan sejauh itu?” tanya Ujang sekali lagi.
“Tentu saja saya tidak merasa capek. Sudah kamu pulang saja terlebih dahulu saya mau berkeliling terlebih dahulu,” ucap Rey sambil ia berlalu meninggalkan Ujang sendirian dengan seribu pertanyaan yang menyelimuti pikirannya.
Perlahan Rey mulai berjalan mengelilingi site tempat ia melakukan pekerjaanya hari itu. Dirasakanya kekosongan yang teramat dalam, kekosongan yang membuat hatinya terasa begitu tersakiti. Dilihatnya lampu kapal-kapal pembawa batu bara yang silih berganti.
Kapal-kapal itu akan singgah di dermaga untuk beberapa hari dan setelah itu mereka akan pergi dan setelah kepergianya akan ada kapal lain yang bertugas membawa batu bara yang baru.
Akankah hubunganya dengan Sekar juga akan seperti itu? Apakah akan ada kapal baru yang akan singgah di hati Sekar untuk menggantikanya.
“Ah, tidak mungkin akan ada kapal lain yang akan singgah di hati Sekar. Ya! hal itu tidak akan terjadi. Aku tahu Sekar sangat mencintaiku jadi tidak mungkin jika Sekar akan berpaling dari diriku. Sadar Rey! Sadar!” ucap Rey sambil ia menghapus air matanya yang tanpa ia sadari mulai jatuh membasahi pipinya.
Rey mulai menghapus pikiran-pikiran buruknya tentang hubunganya dengan Sekar dan ia berdalih pikiran-pikiran buruk yang menyelimuti hatinya saat ini adalah efek ia dan Sekar yang sudah dua hari ini tidak berkomunikasi.
Entah kenapa sejak kepulangan Sekar dari rumah kedua orang tuanya, membuat sikap Sekar berbeda. Ia sudah tidak rewel lagi jika Rey tidak memberikan kabar kepadanya, Sekar tidak lagi akan menuntut Rey untuk selalu membalas setiap pesan yang ia kirimkan kepada Rey.
.
.
“Bro, kamu kok baru pulang?” tanya Rendy teman mess Rey yang melihat Rey berjalan memasuki kamar mess mereka dengan langkah yang gontai.
“Iyo eee… tadi itu kerjaan di cerobong banyak banget jadine baru pulang jam segini,” jawab Rey sambil ia berlalu meninggalkan temannya yang saat itu sedang mencecap rokok.
“Mau kemana kamu bro?” tanya Rendy.
“Mau mandi, gerah banget ini rasanya,” kata Rey sambil ia langsung nyelonong pergi ke kamar mandi.
“Ren, Reynald kenapa?” tanya Yasin yang saat itu melihat tingkah Rey yang sangat berbeda dari biasanya.
“Baru ribut kali sama Sekar,” jawab Rendy dengan santainya.
“Kayaknya gak mungkin deh bro kalau Rey baru berantem sama Sekar,” sanggah Yasin.
“Ya elah, kaya belum kenal Rey sama Sekar aja kamu tu.”
“Tenan yoo … kalau menurutku mereka itu gak berantem kok.”
“Sotoy lu.. darimana coba kamu tahu kalau mereka baru gak berantem?”
“Ya elah, kamu kan tau sendiri kalau mereka berantem itu pasti Sekar ngehubungi kamu atau aku, lha ini Sekar sama sekali tidak menghubungi kita berdua lho. Jadi hubungan mereka kan baik-baik saja.”
“Halah, ya udah biarin. Mungkin Rey baru kecapekan kerja kali jadinya kaya gitu. Ntar juga kalau kita ajak push rank paling juga semangat lagi. udah tenangin saja pikirmu.”
Sedangkan di dalam kamar mandi, Rey mulai menumpahkan semua kegundahan hatinya. Dengan menangis ia berharap dapat meringankan beban pikiranya.
Hatinya terasa begitu sesak jika memikirkan betapa rumitnya hubungan yang ia jalani. Rey sadar betul dengan apa yang ia lakukan kepada Sekar akan membuat Sekar berlari meninggalkan dirinya, tetapi ia juga belum bisa memberikan kepastian kepada Sekar karena tanggung jawab yang ia pikul masih terlalu berat untuk ia bagi dengan Sekar.
Lahir dari keluarga yang serba pas-pasan dan tidak ada cinta di dalamnya membuat Rey harus dirawat oleh pamannya. Secara material memang semua kebutuhan Rey dapat tercukupi tetapi tidak dengan kekosongan hatinya.
Ia merindukan sebuah kasih sayang dari kedua orang tuanya, ia merindukan belaian cinta dan ketulusan dari kedua orang tuanya. Terkadang melihat sebuah keluarga yang begitu lengkap membuat hatinya terasa begitu sakit. Rasa sakit yang tidak akan bisa ia ungkap dengan sebuah kata-kata.
Sampai pada akhirnya kekosongan yang selama ini menemaninya dapat terisi dengan kehadiran sesosok wanita yang begitu mencintai Rey dengan begitu tulus. Ya, wanita itu adalah Sekar, cinta pertamanya.
Wanita yang bisa menerima semua kekuranganya, wanita yang selalu menemaninya disaat ia terpuruk sekalipun, wanita yang membuatnya bisa merasakan apa itu kehangatan sebuah cinta dalam kehidupan ini.
Sejak kehadiran Sekar dalam kehidupannya, membuat kehidupan Rey menjadi lebih berwarna. Hari-hari yang selama ini ia jalani dengan penuh kekosongan kini berhasil ia jalani dengan penuh warna dan semangat hidup untuk merubah nasib hidupnya menjadi lebih berwarna lagi.
Tetapi hal itu tidak membuat Rey berani memberikan kepasatian kepada Sekar. Ia takut jika masa-masa kelam yang ia lalui dengan kedua orang tuanya akan menimpa kehidupannya bersama Sekar.
Rey tidak ingin jika kehidupan yang ia jalani bersama Sekar akan berakhir sama dengan kehidupan yang dijalani oleh kedua orang tuanya.