KEPUTUSAN

699 Kata
“Ibuk, Bapak,” panggil Sekar pada orang tuanya yang masih mengobrol di ruang tamu. “Ya Nak, ada apa?” tanya Wijaya Sambil menghela napas yang panjang, akhirnya Sekar memutuskan untuk memberikan jawabannya pada Ayu dan Wijaya. “Buk, Pak. Untuk pertanyaan yang Ibuk dan Bapak berikan tadi, Sekar mau menjawabnya sekarang,” ucap Sekar sambil ia menatap kedua orang tuanya dengan penuh keseriusan. Melihat hal itu membuat Ayu dan Wijaya saling berpandangan penuh arti. Entah jawaban apa yang akan Sekar berikan kepada mereka, tetapi sebagai orang tua Ayu dan Wijaya berharap jawaban yang diberikan Sekar adalah jalan yang terbaik untuk anaknya. Sekar mulai duduk di sebuah kursi kayu berwana coklat tua, ia melihat guratan-guratan halus pada wajah kedua orang tuanya. Sedih rasanya melihat kedua orang tuanya sudah mulai menua sedangkan Sekar belum bisa melakukan sesuatu hal yang membuat kedua orang tuanya bahagia. Untuk sementara waktu Sekar tertunduk dan ia mulai mencoba memikirkan keputusan yang akan ia ambil apakah tepat atau salah. Ia tidak ingin keputusan yang ia ambil kali ini adalah keputusan yang salah tetapi ia berharap keputusan yang ia ambil kali ini adalah keputusan yang terbaik dan tepat untuk dirinya dan kedua orang tuanya. “Sekar?” panggil Ayu yang membuat Sekar mulai tersadar dari lamunanya. “Ya Ibuk?” jawab Sekar sambil ia mendongakan wajahnya. Hanya senyuman yang terukir indah di bibir Ayu yang membuat hati Sekar gundah, ia mulai merasa takut jika keputusan yang ia ambil adalah keputusan yang salah. Ia tidak ingin membuat senyuman yang begitu indah dan cantik sirna dari ibunya. “Ibuk, Bapak,” ucap Sekar “Ya Nak,” jawab Ayu dengan sedikit mengeser tempat duduknya agar lebih dekat lagi dengan Sekar. Sedangkan Wijaya hanya berdiam diri sambil sesekali ia akan mencecep teh manis buatan istrinya tercinta. Sambil menghela napas Sekar mulai berbicara,”Bapak, Ibuk. Sekar ingin menjawab persoalan perjodohan yang akan Bapak dan Ibuk lakukan kepada Sekar. Dan Sekar paham betul dengan apa yang dilakukan oleh Bapak dan Ibuk adalah untuk kebaikan Sekar. Tetapi Sekar ingin mengajukan 1 syarat kepada Bapak dan Ibuk sebelum Sekar menerima lamaran pria pilihan Bapak dan Ibuk.” “Syarat apa itu Nak?” tanya Ayu yang lebih tertarik dengan pembicaraan tersebut daripada Wijaya yang sedari tadi hanya berdiam diri sambil sesekali akan mencecep teh. “Sebelumnya Sekar meminta maaf kepada Bapak dan Ibuk jika keputusan yang Sekar ambil menyakiti hati Ibuk dan Bapak, tetapi ini lah keputusan yang Sekar ambil. Sekar ingin meminta waktu dua minggu kepada Ibuk dan Bapak untuk membuktikan keriusan Rey kepada Sekar, tetapi jika dalam waktu dua minggu ini Rey tidak memberikan bukti keseriusannya maka dengan iklas Sekar menerima perjodohan ini,” ucap Sekar dengan mantap. “Baiklah kalau itu keputusanmu tidak apa-apa, Bapak dan Ibuk menghormatinya karena kamu sudah Dewasa tetapi kamu harus tahu setiap keputusan yang kamu ambil pasti akan ada sisi positif dan negatifnya. Apakah kamu sudah siap menerima konsekuensi negatifnya dari keputusan yang kamu ambil? Kalau positifnya tidak usah kita bahas ya, karena pasti semua orang akan merasa senang dan setuju dengan konsekuensi yang positif,” ucap Wijaya. “Iya pak, Sekar siap dengan apapun konsekuensi yang akan Sekar terima,” ucap Sekar dengan mantap. “Sekar yakin tidak akan kecewa dengan keputusan yang Sekar ambil?” tanya Wijaya sekali lagi untuk memastikan keputusan yang di ambil oleh anaknya adalah yang terbaik untuk semuanya. “Sekar sangat yakin Bapak.” “Oke baiklah tidak apa-apa kalau itu adalah keputusan yang Sekar anggap adalah keputusan yang terbaik untuk Sekar. Bapak dan Ibuk sebagi orang tua Sekar hanya bisa mendukung dan mendoakan semoga keputusan yang Sekar ambil adalah keputusan yang tepat.” “Ya Pak,” jawab Sekar singkat dengan senyuman terukir dengan jelas di bibir mungil miliknya. “Ya udah kalau gitu mari kita makan, Bapak sudah lapar sekali dan habis itu Sekar istirahat yang cukup karena besok Sekar harus balik lagi ke Jogja kan?” tanya Wijaya. “Iya Pak, besok Sekar harus balik lagi ke Jogja karena ada beberapa urusan kampus yang belum Sekar selesaikan.” “Ya udah gak papa, pelan-pelan saja dan jangan terlalu dipaksa untuk cepat selesai, tetapi selesaikan tugasmu di waktu yang tepat.” “Ya Pak, siap.”      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN