IKATAN BATIN 2

1048 Kata
Sejak kepulangan Sekar, membuat hubungan Sekar dan Wijaya  kembali akrab. Sudah tidak ada jurang pemisah antara anak dan ayah. Melainkan sekarang hubungan mereka menjadi jauh lebih intens. dari permasalahan itu mereka sadar bahwa hubungan darah tidak akan bisa dipisahkan oleh apapun. . . “Sekar …” panggil Wijaya dari balik pintu. “Mbak! Di celuk Bapak kae lho,” ucap Gangga membangunkan Sekar dari tidur siangnya (Mbak! Di panggil Bapak itu lho). Hal tersebut sontak membangunkan Sekar dari tidurnya, “Njih pak!” jawab Sekar sambil ia mengikat rambutnya yang hitam panjang. “Mrene-mrene sik Nduk. Lungguho ning kono,” Ucap Wijaya sambil ia meminta Sekar untuk duduk di kursi kayu yang ada di ruang tamu. (Kesini dulu Nduk, duduk dulu di ditu). “Ada apa Pak, kok kayanya seperti ada pembicaraan yang serius,” tanya Sekar dengan hati yang berdebar-debar. “Enggak ada yang serius Nak. Bapak cuma ingin bertanya sama Sekar,” ucap Wijaya “Bapak mau bertanya apa Pak?” tanya Sekar tidak sabar ingin tahu apa yang akan di bicarakan oleh Wijaya. “Disini Bapak sebagai orang tua hanya ingin tahu, hubunganmu sama nak Rey itu sudah sejauh mana?” tanya Wijaya sambil ia mencicipi the panas buatan Ayu. “Maksud Bapak gimana ya?” “Gini lho Sekar … kan kamu sama Rey sudah lama menjalin hubungan, naaa … kedepannya hubungan kalian itu mau kalian bawa kemana?” Mendengar pertanyaan dari ayahnya membuat Sekar kebingungan, karena dirinya saja tidak tahu mau dibawa kemana hubungan ini. Setiap ia menuntut kepastian dari Rey, pasti ia hanya akan mendapatkan jawaban segera, jadi hal itu membuat Sekar kebingungan mau menjawab seperti apa. “Sekar belum tahu mau dimana kemana hubungan kalian?” tanya Wijaya seakan-akan ia tahu kegundahan yang sedang meyelimuti Sekar. Sekar hanya bisa menganggukan kepalanya sambil ia tersenyum getir kepada Wijaya. Wijaya yang melihat hal itu hanya tersenyum kepada Sekar sambil ia mulai memanggil Ayu agar bergabung. “Memangnya ada apa ya Pak? Kok Bapak bertanya seperti itu sama Sekar?” “Sebenarnya Bapak tidak ingin mencampuri urusan jodoh Sekar, tetapi melihat hubungan Sekar dan Rey yang tidak ada kepastian membuat Bapak merasa kasihan sama kalian berdua. Bapak sebagai orang tua hanya ingin melihat anaknya bahagia.” “Ya, pak Sekar tau.” “Apa Sekar bahagia bersama Rey?” tanya Ayu yang saat itu sudah bergabung dalam pembicaraan antara ayah dan anak. “Sekar bahagia Buk,” jawab Sekar singkat. “Syukurlah, kalau Sekar bahagia bersama Rey. Tetapi …” ucap Wijaya menggantung sambil ia melirik Ayu dan memintanya untuk melanjutkan apa yang ingin di ucapkan oleh Wijaya. Melihat hal itu Ayu hanya menggelengkan kepala sambil menyenggol kaki Wijaya untuk melanjutkan pembicaraanya. “Tetapi apa Pak? Katakan saja sama Sekar,” ucap Sekar “Sebelumnya Bapak minta maaf ya nak. Bapak tidak bermaksud untuk memisahkan Sekar dan Rey. Tetapi Bapak hanya ingin menyampaikan keinginan teman Bapak untuk berbesan sama Bapak dan menjodohkan Sekar dengan anaknya,” ucap Wijaya sambil ia terus mengamati perubahan mimik wajah Sekar. Sebenarnya Wijaya tidak ingin menjodohkan Sekar, tetapi melihat hubungan Sekar yang tidak sehat membuat hati seorang ayah menjadi teriris. Wijaya tidak membenci Rey, tetapi ia kecewa dengan sikap Ibu Rey yang merendahkan Sekar di depannya. Hati Wijaya tercabik-cabik mengetahui apa yang telah Cristy perbuat kepada Sekar, dan hal itulah yang membuat Wijaya menjadi hilang respect kepada Rey. “Tetapi Pak … Bapak kan tahu kalau saat ini Sekar sudah memiliki teman special, lalu buat apa perjodohan ini?” tanya Sekar dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca. “Bapak tidak akan memaksa Sekar untuk menerimanya, Bapak hanya ingin Sekar memikirkan masa depan Sekar kedepannya itu mau seperti apa. Apakah Sekar bahagia dengan hubungan yang Sekar jalani sekarang atau malah sebaliknya?” “Sekar bahagia Pak. Sekar bahagia bersama Rey,” ucap Sekar. “Sekar … Ibuk tahu bagaimana perasaan Sekar saat ini, Ibuk dan Bapak juga tidak ingin memaksa Sekar untuk menikah dengan pria yang tidak Sekar cintai. Tetapi kami sebagai orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya. Ibuk dan Bapak hanya ingin Sekar hidup bahagia,” timpal Ayu sambil ia memegang tangan Sekar dengan begitu lembut. “Ibuk kamu benar Sekar. Kami sebagai orang tua tidak akan membiarkan anak-anaknya hidup menderita,” ucap Wijaya yang berusaha membenarkan apa yang sedang diucapkan oleh Ayu. Mendengar hal itu membuat Sekar langsung menumpahkan air matanya. Ia tidak kuasa menahan semua beban ini. ia paham betul dengan keingin orang tuanya, tetapi ia juga tidak bisa meninggalkan Rey. Rey adalah cinta pertamanya dan sampai kapanpun akan tetap menjadi cinta pertama dan cinta sejatinya. Melihat hal itu membuat Wijaya dan Ayu menjadi tidak tega, “Sekar … maafin sikap Ibuk dan Bapak ya nak,” ucap Ayu sambil ia berusaha untuk menenangkan Sekar. “Sekar tidak apa-apa Buk, tetapi tolong berikan waktu sama Sekar untuk memikirkannya. Sekar tidak bisa menjawab Sekar,” ucap Sekar sambil ia mulai meninggalkan Ayu dan Wijaya. “Pak, gimana ini?” tanya Ayu kepada Wijaya. “Ya udah gak papa Buk, biarkan Sekar menenangkan pikirannya terlebih dahulu,” ucap Wijaya “Tapi Pak … hubungan kita baru saja membaik lho sama Sekar, masa ini mau berantakan lagi,” keluh Ayu. “Udah, Ibuk tenang aja, semuanya akan baik-baik saja dan Bapak yakin dengan keputusan yang akan di ambil oleh Sekar adalah yang terbaik untuk kita semua.” . . “Lhoh Mbak Sekar kok nangis kenapa? Mbak gak kenapa-kenapa kan?” tanya Gangga yang melihat Sekar menangis. “Mbak gak kenapa-kenapa kok Dek,” jawab Sekar sambil ia langsung membenamkan tubuhnya pada lautan kapuk. “Mbak … jangan seperti ini Mbak. Gangga jadi ikutan sedih melihat Mbak Sekar seperti ini. cerita aja sama aku Mbak, walaupun Gangga masih kecil tapi Gangga tahu kok dengan apa yang sedang Mbak pikirkan,” ucap Gangga sambil ia memeluk Sekar Melihat perlakukan manis yang Gangga berikan kepadanya, membuat Sekar menjadi terharu. “Betapa bodohnya aku selama ini yang menganggap bahwa aku sendirian di dunia ini. betapa tidak bersyukurnya aku dengan kasih sayang yang diberikan oleh keluargaku kepadaku. Kenapa aku selalu mengeluh dan mengecewakan Ibuk, Bapak, dan Gangga,” gumam Sekar. “Mbak … mbak” panggil Gangga sambil ia menggoyang-goyangkan tubuh Sekar. “Ada apa Gangga?” tanya Sekar sambil ia membalikkan tubuhnya. “Mbak kenapa?” tanya Gangga dengan suara yang parau karena ia juga ikutan menangis. “Mbak gak kenapa-kenapa kok Gangga. Mbak hanya merasa betapa beruntungnya Mbak di lahirkan di dunia ini sebagai anak Bapak dan Ibuk. Dan yang paling membuat Mbak bahagia adalah mbak lahir sebagai kakak untuk Gangga,” ucap Sekar sambil ia mengecup kening Gangga dengan begitu lembut. “Mbak yakin?” “Mbak sangat yakin sayangku … ya udah ya, Mbak mau menemui Ibuk dan Bapak dulu. Gangga tunggu disini dulu ya.”    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN