IKATAN BATIN

1019 Kata
Setelah berbincang-bincang cukup lama dengan Dewa, akhirnya Sekar memutuskan untuk segera pergi dan pulang ke kampung halamannya yang sudah sangat ia rindukan. Selama di dalam perjalanan Sekar terus memikirkan segala hal mulai dari hal yang paling mengembirakan bahkan sampai ke hal yang paling menyedihkan baginya. Ia takut jika kehadirannya akan membuat suasana rumah menjadi semakin kacau. Sekar juga takut kalau ayahnya tidak akan mau menerimanya sebagai anaknya lagi. kesalahannya cukup besar sehingga hal yang wajar jika ayahnya kecewa dengan keputusan yang di pilih oleh Sekar. Sejenak Sekar berhenti di tepi lapangan sepak bola yang begitu hijau. Sekar berhenti dengan harapan ia bisa menenangkan pikirannya kembali. Melihat hamparan rumput yang begitu hijau mengingatkan Sekar akan sosok ayahnya yang begitu lembut, penyayang, penyabar dan orang yang akan selalu berada di barisan paling depan jika ada orang yang ingin menyakiti Sekar. “Bapak …” rintih Sekar ketika ia mengingat moment-moment yang membahagiakan untuknya. Moment dimana Sekar pertama kali belajar naik sepada roda dua di lapangan. Dengan sabarnya Wijaya ayah Sekar membantu Sekar belajar naik sepeda roda dua. Sekar begitu merindukan masa kecilnya yang begitu bahagia, tidak ada beban pikiran yang harus ia tanggung. Dulu ia hanya tahu main, makan, sekolah, nonton film kartun dan semua hal yang ia lakukan semasa kecil terasa begitu membahagiakan, tetapi saat Sekar menginjak usia yang sudah dewasa satu persatu masalah datang menghamtamnya. Sekar selalu berusaha untuk tetap tegar dan kuat. Terkadang permasalahan yang ia hadapi akan ia simpan sendiri dan hal itulah yang membuat Sekar mengalami depresi dan gangguan kecemasan yang terlalu berlebihan. Bahkan penyakitnya itu ia sembunyikan dari keluarganya, karena Sekar tidak mau kedua orang tuanya menjadi sedih melihat kondisi anak perempuannya yang seperti ini. Ingin rasanya Sekar berteriak, menangis di pangkuan kedua orang tuanya, tetapi semua itu tidak bisa ia lakukan hanya karena satu kata “TAKUT”. Ya Sekar takut membuat kedua orangnya sedih. Takut membuat kedua orang tuanya menangung malu karena memiliki anak yang memiliki gangguan pada kesehatan mentalnya. “Ibuk … Bapak …” lirih Sekar sambil ia melihat sebuah keluarga kecil yang sedang berpesta di tanah lapang yang begitu luas. Dilihatnya kebahagian dan kegembiraan yang ada dalam keluarga tersebut. Perlahan Sekar menarik napas yang begitu dalam, “Oke Sekar, sudah ya bersedihnya. Sekarang saatnya kamu pergi menemui Ibuk, Bapak dan jalinlah hubungan yang baik lagi pada kedua orang tuamu,” ucap Sekar pada dirinya sendiri sembari ia mulai memacu gas. . . Setelah sampai di kediamannya, perlahan Sekar mulai membuka gerbang kayu berwarna coklat dengan ukiran di sekelilingnya. Dilihatnya keluarga kecilnya sedang melakukan ibadah bersama, dan hal itu membuat Sekar tak kuasa menahan tangis, karena sudah lama ia tidak pergi menemui Tuhan dan mengadukan semua beban yang ia pikul kepadaNya. Tetapi ia terlalu sibuk untuk meratapi semua bebannya tanpa ia sadari bahwa ia memiliki Tuhan yang akan selalu menjaganya dan menemaninya. “Mbak Sekar!” teriak si kecil Gangga ketika melihat kakak perempuannya akhirnya kembali juga. Melihat Sekar yang berdiri membatu di pintu gerbang, membuat Gangga langsung berlari dan memeluk Sekar dengan begitu kuatnya. “Mbak Sekar … kenapa Mbak baru pulang sekarang? Gangga udah kangen Mbak lho,” rengek Gangga sambil ia terus bergelendotan pada tubuh Sekar. “Gangga maafin Mbak ya, maafin Mbak Sekar yang baru pulang sekarang. Mbak minta maaf ya,” ucap Sekar sambil ia memeluk Gangga. Melihat kepulangan anak perempuannya membuat Wijaya langsung masuk kedalam rumah. Entah apa yang ada di dalam benak Wijaya melihat kepulangan Sekar. Melihat respons Wijaya yang langsung masuk kedalam rumah membuat hati Sekar teriris. Ia merasa kehadirannya tidak diharapkan oleh Wijaya. “Sekar …” panggil Ayu ibu Sekar dengan begitu lembutnya. “Ibuk …” lirih Sekar sambil ia berjalan menghampiri Ibunya dan ia langsung memeluk Ayu dengan begitu erat. Ya, pelukan inilah yang Sekar harapkan. Pelukan dari seorang Ibu membuatnya begitu nyaman. “Kenapa tubuhmu begitu kurus nak? Apakah kamu disana kekurangan uang sehingga kamu menghemat makanmu?” tanya Ayu dengan suara yang terdengarh begitu parau. “Sekar tidak kekurangan uang sama sekali Buk … Sekar hanya sedang berdiet saja,” ucap Sekar berusaha membuat Ibunya tetap tenang. “Udah … kamu jangan berdiet lagi. lihat tubuh kamu hanya tersisa tulang saja, sedih lho Ibuk lihat Sekar yang sekarang bertambah kurus. Udah ayo sekarang masuk dan makan dulu,” ajak Ayu sambil ia menuntun tubuh Sekar agar masuk ke dalam rumah. “Tidak usah Buk, Sekar hanya mampir saja dan sekarang Sekar ingin pulang lagi ke Jogja,” tolak Sekar karena ia tidak ingin membuat hubungan kedua orang tuanya menjadi rengang akibat kedatangannya. “Sekar, kamu baru aja datang lho masa mau pergi lagi?” protes Ayu kepada Sekar. “Iya lho Mbak, masa Mbak Sekar mau pergi lagi padahal baru datang,” renggek Gangga. “Lain kali Sekar akan menginap disini Buk, tapi saat ini Sekar harus kembali lagi ke Jogja. Ada beberapa hal yang harus Sekar urus disana,” ucap Sekar sambil ia membalikan badannya dan perlahan mulai berjalan meninggalkan pekarangan rumahnya. “Sekar!” teriak Wijaya. Mendengar namanya di panggil oleh Wijaya membuat Sekar langsung menoleh dan dilihatnya ayahnya sudah berdiri sambil meminta peluk kepada Sekar. “Bapak …” teriak sekar sambil ia berlari dan langsung memeluk Wijaya “Maafin Sekar Pak … maafin Sekar …” ucap Sekar dengan terisak-isak. Tanpa bisa berkata-kata, Wijaya hanya bisa terus memeluk putrinya. Ia ikut merasakan kesedihan dan beban yang ada dalam benak Sekar. Di dalam benaknya ia ingin sekali mengambil semua beban yang ada  di dalam putrinya yang masih ia lihat sebagai putri kecil yang begitu cantik seperti malaikat. “Buk, tolong siapin makanan ya untuk Sekar,” pinta Wijaya kepada Ayu. “Ya Pak, segera Ibuk siapkan. Gangga ayo bantuin Ibuk nyiapin makanan untuk Mbak Sekar dan kita semua,” ucap Ayu sambil ia mengusap air matanya “Mmm …” ucap Gangga sambil ia menganggukan kepalanya. “Gimana kabarmu nak?” tanya Wijaya sambil ia meminta Sekar untuk masuk kedalam rumah. “Kabar Sekar baik Pak.” “Ya, baguslah kalau begitu,” ucap Wijaya dengan tatapan mata yang begitu sedih karena ia tahu bahwa kondisi putrinya saat ini sedang tidak baik-baik saja, tetapi ia berusaha untuk tampil bahwa kehidupannya tidak ada masalah dan berjalan dengan begitu sempurna. “Bapak …” “Iya Nak, ada apa?” “Maafin Sekar ya Pak, Sekar banyak sekali membuat kesalahan sama Bapak dan Ibuk. Sekar benar-benar menyesali perbuatan yang Sekar lakukan kepada Ibuk dan Bapak,” ucap Sekar dengan begitu tulus.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN