Sebuah tamparan yang begitu keras mendarat di pipi mungil milik Sekar. Darahnya mulai mendidih dan ingin rasanya ia membalas tamparan Cristy tetapi lagi-lagi ia urungkan niatnya, karena membalas orang seperti Cristy bukan dengan kekerasan.
“Ibu mohon maaf silahkan pergi dari sini,” ucap security yang saat itu sedang berjaga di dalam lobby.
“Mbak Sekar gak papa kan mbak?” tanya resepsionis yang saat itu juga berusaha untuk melerai pertengkaran antara Sekar dan Cristy.
“Iya saya tidak apa-apa kok,” jawab Sekar sambil menyengirkan giginya yang tersusun begitu rapi.
Mulut bisa berbohong tetapi sorotan mata tidak bisa berbohong. Sorotan mata milik Sekar terlihat begitu pilu dan terpancar dengan begitu jelas bagaimana kekecewaanya terhadap Cristy. Ini bukanlah pertama kalinya Cristy membuatnya malu.
“Hei! Jangan sentuh aku! Kalian memang tidak tahu adab!” teriak Cristy sambil dia menepis tangan security yang berusaha untuk membuatnya keluar dari apartement.
“Maaf Ibu, tetapi keberadaan ibu disini telah menggangu kenyaman penghuni apartement disini. Jadi saya mohon Ibu silahkan pergi,” ucap Security.
“Kalian tidak tahu siapa saya? Berani-beraninya kalian mengusir saya seperti ini.”
“Tante … tante saya mohon hentikan tante, kalau tante masih ingin berbicara dengan saya, mari kita ke kamar saya. Kita bicarakan permasalahan ini dengan kepala dingin tante, bukan seperti ini tante,” ucap Sekar dengan nada bicara yang halus.
“Apa kamu bilang? menyelesaikan masalah kita di kamarmu? Ha Ha jangan harap saya mau menginjakan kaki saya di kamarmu!” teriak Cristy.
“Sekar ayo kita pergi dari sini,” ajak seorang pria misterius yang tiba-tiba saja langsung datang dan mengajak Sekar untuk pergi.
“Hah? Kamu siapa?” tanya Sekar dengan wajah kebingungan
“Udah. Nanati aja aku yang jelasin aku siapa, yang penting sekarang kita pergi dulu saja dari sini,” ucapnya sambil ia menarik tangan Sekar.
Entah kenapa Sekar ikut saja dengan ajakan pria misterius itu untuk pergi meninggalkan Cristy. Dari belakang ia tatap pria itu dengan seksama dan Sekar merasa bahwa dirinya pernah melihat pria tersebut, tetapi ia tidak tahu dimana ia melihat pria tersebut. Yang Sekar tahu ialah penolongnya untuk keluar dari kandang macan Cristy.
Setelah dirasa jauh dari Cristy dan situasi sudah aman, pria itu lantas berhenti dan melepaskan genggamannya.
“Kamu tidak apa-apa kan?” tanya pria misterius itu degan penuh kekhawatiran.
“Ya. tentu saja aku baik-baik saja,” jawab Sekar sambil ia memegangi pipinya yang masih terasa begitu perih dan panas.
“Tunggu sebentar ya, kamu duduk saja disini dan jangan pergi kemana-mana. Tunggu disini dulu ya,” ucap pria itu sambil ia berlari meninggalkan Sekar.
“Hei … tunggu!” teriak Sekar, berharap pria itu berhenti.
“Siapa pria itu? Dan kenapa aku mengikutinya? Sekar bodoh! Gimana bisa kamu mengikuti kata-kata pria asing,” gerutu Sekar sambil ia memukuli kepalanya.
Kira-kira sekitar lima belas menit Sekar menunggu pria tersebut, tetapi ia tak kunjung datang dan hal itu membuat Sekar ingin pergi meninggalkannya. Tetapi sebelum Sekar beranjak dari tempat duduknya, pria itu datang dengan kotak putih di tangannya.
Hosh … hosh … hosh … napas pria itu terdengar begitu tersenggal-senggal.
“Maaf … maaf membuatmu lama menunggu,” ucap pria itu sambil ia langsung duduk di samping Sekar.
“Ha? I-ya …” jawab Sekar dengan suara terbata-bata.
“Sini aku obati dulu lukanya,” kata pria itu sambil ia membuka kotak yang berisikan obat-obatan P3K
“Ahh … tidak usah mas, terima kasih. Lagi pula ini wajah saya tidak kenapa-kenapa kok,” tolak Sekar dengan begitu lembut, di dalam benak Sekar ia merasa tidak enak dengan pria yang baru saja ia temui tetapi ia harus menyaksikan adegan panas yang ia dan Cristy lakukan.
“Tapi Sekar itu luka di wajahmu jika tidak segera di obati akan tambah memerah lho dan ini lihat tanganmu juga terluka,” jelas pria tersebut langsung ia memegang tangan Sekar dan segera mengobatinya.
“Aow… sakit,” rintih Sekar ketika pria itu mengubati luka yang ada di tangannya. Luka akibat cakaran yang diberikan Cristy kepada Sekar ketika ia marah-marah tadi.
“Maaf … maaf … sebentar lagi juga selesai kok ini, tahan sebentar ya Sekar.”
Sekar hanya menganggukan kepalanya. Dan Sedari tadi Sekar terus memperhatikan pria tersebut dan ia selalu bertanya-tanya siapa pria ini, kenapa ia tahu nama Sekar dan kenapa ia membantu Sekar, padahal setau Sekar hampir semua penghuni di dalam apartement ini cuek-cuek jadi darimana ia bisa tahu nama Sekar.
“Naa … sudah selesai, cepat bukan,” ucap pria tersebut sambil ia tersenyum begitu manis kepada Sekar.
“Terima kasih ya mas, sudah menolong saya,” ucap Sekar.
“Iya Sekar sama-sama. Kalau ada apa-apa lagi kamu bilang aja ya sama aku,” ucap pria itu sambil ia mulai berdiri.
“Tunggu sebentar mas,” cegah Sekar sebelum pria itu benar-benar pergi meninggalkannya.
“Iya kenapa Sekar?”
“Sebelumnya saya minta maaf dulu ke masnya. Hmmm … maaf ya mas, kalau boleh saya tahu nama mas siapa? Dan darimana mas tahu kalau nama saya Sekar?” tanya Sekar penuh selidik.
“Oh iya saya lupa memberi tahu nama saya ke kamu,” ucap pria itu sambil tertawa
“Kenalin nama aku Dewa. Aku penghuni kamar no 418,” ucap Dewa pria misterius itu sambil ia menyodorkan tangannya ke Sekar.
Melihat hal itu membuat Sekar langsung menjabat tangan Dewa dan iapun mulai memperkenalkan dirinya.
“Maaf ya mas Dewa saya tidak tahu nama mas. Padahal kita bertetanggaan,” ucap Sekar sedikit malu karena ia sama sekali tidak tahu bahwa ia memiliki tetangga bernama Dewa.
“Gak papa kok Sekar santai saja, lagipula saya juga baru kok disini.”
“Oalaha, jadi mas Dewa baru saja tinggal disini ya. kerja atau kuliah mas ini?” tanya Sekar sedikit berbasa basi pada tetangga barunya.
“Aku disini melanjutkan kuliahku Sekar.”
“Ooo … ya … ya... Btw kuliah dimana mas?”
“Aku kuliah di UJM Sekar. Sekar gimana kuliahnya?” tanya Dewa balik
“Wiihh keren tuh anak UJM,” jawab Sekar sambil ia mengacungkan kedua ibu jarinya tanda ia kagum kepada Dewa, “Yaa … begini lah mas kuliahku, belum selesai-selesai,” lanjut Sekar sambil ia tertawa.
“Biasa itu Sekar kalau udah semester tua itu di pusingkan sama skripsi, tapi ndak papa yang penting tetap semangat dan jangan pernah menyerah,” ucap Dewa
“Haha iya mas, tapi tunggu dulu darimana mas Dewa bisa tahu kalau aku masih skripsian dan darimana mas Dewa tahu namaku Sekar?”
“Kan kita tetanggaan Sekar … masa sama tetangganya saja tidak tahu, lagi pula kita juga bakal bareng-bareng terus lho,” jawab Dewa sambil menyenggirkan giginya yang putih dan tersusun rapi.
“Hah? Maksudnya mas Dewa gimana ya?” tanya Sekar dengan mengerutkan dahinya
“Maksud aku kita akan sering bertemu kan kita tetangga dan lagipula aku juga belum tahu kota ini jadi kemungkinan besar aku akan sering menggangumu untuk aku ajak keliling kota Jogja. Tidak apa-apa kan?”
“Oalah … Tentu saja tidak masalah dong mas, kan sesama tetangga harus saling tolong menolong. Kalau mas Dewa membutuhkan bantuanku jangan sungkan-sungkan untuk memberitahuku ya mas,” ucap Sekar
“Tentu saja aku akan merepotkanmu Sekar,” ucap Dewa dengan diiringi suara tawa Dewa dan Sekar.