SURPRISE

1092 Kata
Hari yang di tunggu-tunggu pun datang, hari dimana Sekar memberanikan dirinya untuk pulang dan menemui kedua orang tuanya.  Sekar mulai mengemasi pakaiannya dan tak lupa ia juga membawakan oleh-oleh untuk kedua orang tuanya. “Ibuk dan Bapak pasti suka sama bakpia mutiara,” ucap Sekar sambil ia memasukkan oleh-olehnya pada sebuah papper bag besar miliknya Tetapi rasa bahagia itu mulai memudar ketika ia menerima sebuah pesan dari Cristy ibu Rey. Pesan yang tidak pernah Sekar harapkan. Pesan yang berisi ujaran kebencian, cacian yang selalu Cristy berikan kepada Sekar. Air mata Sekar mulai jatuh ketika ia membaca tiap baris pesan yang Cristy kirim kepadanya. “Dasar anak tidak tahu diri! Wanita tidak tahu malu! Tidak punya tata karma.  Kau apakan anak saya sampai ia tidak mau menerima telepon dan membalas pesan dari saya? Kamu taukan kalau saya itu ibunya Rey, wanita yang melahirkannya. Kamu kan pasti yang membujuk Rey untuk membenci saya. Dasar anak durhaka!” pesan dari Cristy yang sukses membuat hati Sekar merasa tersakiti lagi. Ini bukanlah pertama kalinya ia mendapatkan terror dari Cristy. Bahkan saat Sekar tidak tahu apa-apa tiba-tiba saja Cristy selalu memakinya bahkan Cristy sampai hati memaki-maki kedua orang tuanya juga. Ingin rasanya Sekar memberontak kepada Cristy, tetapi niat itu  ia urungkan karena ia  masih menghormati Cristy sebagai orang tua dari kekasihnya tetapi semakin kesini sikap Cristy semakin melunjak. Bukannya ia menunjukkan sikap sebagai seorang ibu tetapi ia menunjukkan sebuah sikap yang sangat kekanak-kanakan dimana sikapnya itu membuat anak-anaknya menjauhinya, tetapi hal itu tidak membuatnya sadar akan kesalahannya melainkan ia akan meneror orang-orang yang sedang dekat dengan anak-anaknya. “Apa lagi ini …” keluh Sekar kepada dirinya sendiri. ia tidak tahu harus berbuat seperti apa lagi, mengadu kepada Rey bukanlah solusi yang tepat karena akan memperkeruh suasana, tetapi Sekar membutuhkan tempat untuk bercerita. Jika ia mendiamkan pesan Cristy maka bisa di pastikan ia akan di terror dengan spam chat dan telepon dari Cristy. Dan benar saja Cristy mulai menelepon Sekar dan terus-terusan mengiriminya pesan yang sama. “Sekar … kamu harus tegas, kamu tidak bisa begini terus. Ingat harga dirimu dan kedua orang tuamu Sekar … kamu pasti bisa Sekar,” ucap Sekar pada dirinya sendiri dan untuk pertama kalinya ia berani untuk mereject dan memblokir nomer telepon Cristy. Ada sedikit rasa lega yang Sekar rasakan ketika ia bisa memblokir nomer telepon Cristy. Dan mulai saat itu Sekar mulai memberanikan dirinya untuk berani speak up dan jangan pernah takut untuk membela dirinya sendiri ketika harga dirinya mulai di injak-injak oleh orang lain. “Oke, semuanya sudah siap saatnya pulang ke rumah,” ucap Sekar dengan penuh semangat ketika ia sudah mulai mengemasi barang-barang miliknya. Tak lupa sebelum ia pulang ke rumah, Sekar mencoba untuk menelepon Rey untuk  memberikan kabar kepadanya bahwa kemungkinan ia akan sibuk dengan quality time bersama kedua orang tuanya yang sudah lama tidak ia jumpai. “Hallo Sekar,” ucap Rey ketika ia menerima panggilan dari Sekar. “Hai Rey … kamu sibuk gak ini?” tanya Sekar. “Enggak kok, ada apa emangnya?” “Gini Rey … aku cuma ingin bilang sama kamu kalau aku jadi pulang ke Klaten.” “Bagus itu Sekar, kamu hati-hati ya nanti di jalan dan jangan ngebut-ngebut yang bawa mobilnya,” ucap Rey dengan nada suara yang begitu antusias. “Mmm .. kamu gak papa kan nanti jika aku menghabiskan waktuku bersama keluargaku?” “Tentu saja aku tidak keberatan Sekar, toh itu juga keluargamu dan sudah saatnya juga kamu berdamai dengan ayahmu Sekar.” Ucap Rey “Iya Rey kamu benar.” “Sekar …” panggil Rey dengan suara yang lirih “Ya Rey ada apa?” “Maafkan aku ya Sekar, gara-gara aku hubunganmu dengan kedua orang tuamu menjadi rengang dan seharusnya ini aku juga ikut bersamamu pergi menemui kedua orang tuamu dan meminta maaf kepada mereka.” “Rey … sudahlah, kita semua juga tahu kalau kamu tidak bersalah dalam hal ini.” “Tetapi ini semua akibat dari olah ibuku Sekar.” “Sudah Rey, tidak apa-apa kan yang terpenting sekarang aku sudah mulai berani untuk menemui kedua orang tuaku. Jadi untuk masalah yang kemarin kita lupakan saja ya Rey dan kita fokus saja dengan hubungan kita,” ucap Sekar. “Ya Sekar. Owh iya nanti kamu jangan lupa minum obatmu lho Sekar. Ingat kamu harus selalu meminum obatmu. Kalau kamu takut ketahuan kedua orang tuamu, kamu bisa minumnya di dalam kamar, pokoke kamu harus selalu memimun obatmu ya Sekar,” ucap Rey yang merasa khawatir dengan kondisi Sekar jika kekasihnya itu tidak meminum obat miliknya. “Iya Rey, aku pasti akan meminumnya secara tepat waktu kok, jadi kamu jangan khawatir ya Rey,” ucap Sekar berusaha untuk menenangkan Rey. “Beneran lho Sekar.” “Iya Rey …” “Oke nanti aku pantau terus kok kamu, ya udah kalau begitu kamu buruan berangkat. Nanti kalau sudah sampai kabari aku ya Sekar,” ucap Rey “Siap bossku … ya udah kalau gitu I Love You.” “I Love You too sayangku,” ucap Rey sambil ia memanyungkan bibirnya. Setelah panggilan teleponnya selesai, Sekar langsung bersiap-siap untuk pergi ke klaten. “Oke … semuanya sudah siap dan gak ada yang ketinggalan, tinggal berangkat ini,” gumam Sekar pada dirinya sendiri. Ketika Sekar sampai di lobby, ia sangat terkejut ketika ia melihat seorang wanita paruh baya sedang marah-marah di lobby. Suasana hati Sekar yang semula begitu bahagia karena akan bertemu dengan kedua orang tuanya, kini hatinya langsung berubah menjadi kesedihan dan ketakutan. Perlahan Sekar mulai berjalan mundur dan berharap ia tidak bertemu dengan wanita itu, tetapi naas belum sempat ia membalikan badannya dan pergi, wanita itu sudah menatapnya. Dan refleks wanita paruh baya itu langsung berteriak kepada Sekar yang sukses membuat situasi di lobby menjadi bertambah kacau. Wanita itu langsung berjalan ke arah Sekar dengan raut wajah yang dipenuhi oleh amarah yang begitu besar. “Tan-te … kenapa tante bisa berada disini?” tanya Sekar kepada Cristy dengan suara terbata-bata. “Kau apakan anak saya!” teriak Cristy tepat di depan wajah Sekar. “Maksud tante apa?” tanya Sekar dengan nada bicara yang sudah mulai serak dan berat. “Dimana harga dirimu hahh! Dimana!! Apakah kamu tidak punya hati memisahkan seorang ibu dan anaknya?” “Apa maksud tante? Siapa yang memisahkan hubungan ibu dan anak? Saya tidak paham dengan maksud pembicaraan tante,” ucap Sekar. “Halah … pura-pura tidak tahu kamu. Wajahmu saja yang terlihat begitu lugu, tetapi hatimu begitu busuk. Memang ya kalau ibunya tidak benar maka anaknya juga tidak benar!” vonis Cristy yang begitu sarkas dan sontak hal itu membuat Sekar menjadi naik pitam. Untuk kesekian kalinya Cristy menghina kedua orang tuanya dan kali ini Sekar tidak akan tinggal diam. Ini menyangkut harga diri kedua orang tuanya yang selalu di rendahkan oleh Cristy dan sudah sepantasnya Sekar membela harga diri ibu dan ayahnya. “Tante STOP!!”  teriak Sekar yang diiringi oleh sebuah tamparan yang begitu keras PLAKKK !!!      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN