MIMPI BURUK

1064 Kata
Perlahan penglihatan Ayu mulai menghitam dan perlahan ia mulai kehilangan kesadarannya. “Ibuk … Ibuk … Ibuk kenapa? Buk?” tanya Sekar sambil ia terus menggoyang-goyangkan tubuh ibunya yang terbujur kaku di hadapannya. “Ibuk, maafkan Sekar maafkan Sekar! Ibuk, bangun Ibuk … bangun…” isak Sekar melihat Ibunya. Karena kegaduhan yang berasal dari teriakan Sekar membuat  Wijaya ayah Sekar, Kadek, Ketut, dan Dewa berlari menuju balcon. Betapa terkejutnya Wijaya melihat kondisi istrinya yang terbujur dengan tak berdaya di lantai. “Sekar ada apa ini? ada apa dengan Ibukmu?” tanya Wijaya sembari ia langsung memeriksa kondisi Ayu. “Ayo cepat kita bawa Ayu ke rumah sakit,” ucap Kadek sambil ia meminta Dewa untuk membopong Ayu ke mobil mereka dan segera membawanya ke rumah sakit. “Tidak! Tidak perlu,” ucap Wijaya dengan linangan air mata yang membasahi pipinya. “Bapak! Kenapa Ibuk tidak boleh dibawa ke rumah sakit? Ayo to Pak,  bawa Ibuk ke rumah sakit. Kasihan Ibuk pak,” bujuk Sekar. “Iya om, apa yang dikatakan Sekar itu benar. Lebih baik kita segera membawa tante Ayu ke rumah sakit sebelum semuanya terlambat,” timpal Dewa “Semuanya sudah berakhir … semuanya sudah berakhir …” ucap Wijaya sambil ia terus meremas rambutnya dengan begitu kuat. “Apa maksud Bapak?” tanya Sekar yang melihat kesedihan yang terpancar begitu jelas dari kedua bola mata Wijaya. “Ibuk kamu nduk … ibuk kamu sudah tiada,” “Gak … gak mungkin Pak! Ibuk gak mungkin ninggalin kita dengan begitu saja, aku yakin Ibuk hanya pingsan saja, jadi aku mohon pak ayo kita segera membawa Ibuk ke rumah sakit,” ucap Sekar Mendengar Sekar terus memohon kepadanya untuk membawa Ayu ke rumah sakit, membuat Wijaya menjadi naik pitam. “Ini semua salahmu! Ini semua salahmu!,” teriak Wijaya tepat dihadapan Sekar. “Tidak! Tidak … ini bukan kesalahan Sekar Pak! Ini bukan kesalahan Sekar. Dan Sekar yakin bahwa Ibuk baik-baik saja,” “Ini semua gara-gara kamu anak pembawa sial! Anak tidak tahu di untung! Kamu telah membunuh Ibumu, wanita yang sangat berjasa dalam hidupmu. Kamu membunuhnya! Kamu pembunuh Sekar!” teriak Wijaya sebari ia mencekik Sekar dengan begitu kuat dan berharap Sekar menyusul Ibunya. Melihat hal itu membuat Kadek sekeluarga hanya bisa menatap sinis Sekar dan mereka terlihat juga ingin menghabisi Sekar karena telah mencemarkan nama baik keluarga sehingga membuat Ibunya tiada. “Mati kau! Mati kau dasar anak sialan,” umpat Wijaya sambil ia terus mencekik Sekar sampai tubuh Sekar terasa begitu lemas karena kekurangan oksigen. “Ma-afkan Sekar Bapak … maafkan Sekar,” ucap Sekar dengan suara terbata-bata. Karena cekikkan yang diberikan oleh Wijaya kepada Sekar membuat Sekar kehilangan kesadarannya dan tiba-tiba saja … Hosh … hosh … hosh .. nafas Sekar terasa begitu tersenggal- senggal. “Ibuk? Ibuk,” kata pertama yang Sekar ucapkan ketika ia mulai tersadar dari tidurnya. Tidur yang membuatnya harus mengalami hal yang begitu mengerikan dalam kehidupannya. Tubuh Sekar terasa begitu lemas karena mimpi buruk yang ia alami, jantungnya berdetak begitu kencang, keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya, air matanya tidak bisa ia bendung lagi. semuanya pecah begitu saja,yang tersisa hanyalah rasa ketakutan yang luar biasa besar akan kehilangan sosok seorang ibu yang sangat ia cintai dan sayangi. Sekar langsung bangkit dari bathup tempat ia ketiduran saat sedang asyik berendam. Ia langsung mengenakan handuk dan ia segera mencari ponsel miliknya. Dengan kondisi tubuh yang terasa begitu lemas tidak mematahkan semangat Sekar untuk segera menelepon Ibunya dan memastikan bahwa kondisi Ibunya baik-baik saja. Sekar juga berharap bahwa mimpinya hanya mimpi belaka yang tidak akan pernah terwujud. “Hallo?” jawab Ayu “Hallo, Ibuk!” “Iya Sekar, ada apa?” “Gak apa-apa Buk, Sekar Cuma kangen aja sama Ibuk, Bapak. Udah lama Sekar tidak bertemu dengan kalian,” ungkap Sekar dengan suara yang terdengar sedikit parau. “Kamu kenapa nak? Kok sepertinya suara kamu terdengar berbeda,” “Aku gak kenapa-kenapa kok Buk, aku Cuma sedikit flu saja,” ucap Sekar sambil ia menyeka air matanya “Beneran kamu tidak apa-apa?” “Iya Ibuk … Sekar tidak apa-apa kok Buk. Ibuk sama Bapak gimana kondisinya?” “Ibuk sama Bapak baik-baik saja nak, kamu di sana gimana Nak?” “Syukurlah kalau Ibuk dan Bapak baik-baik saja. Sekar baik-baik saja Buk,” “Syukurlah kalau gitu nak, owh iya gimana skripsimu nak?” “Ya … begini Buk, susah-susah gampang,” “Ya udah gak papa nak, namanya juga jalan mau jadi orang sukses kan memang tidak mudah. Yang penting kamu tetap semangat ya nak. Ibuk yakin kamu pasti bisa.” “Iya Buk, Sekar pasti selalu semangat. Minta doanya ya Buk biar Sekar segera lulus,” pinta Sekar sambil ia berusaha menahan tangisnya. “Iya pasti Nak, pasti Ibuk selalu mendoakan Sekar. Ya udah kalau begitu, Ibuk matiin ya teleponnya.” “Ah .. iya Buk.” Sekar merasa lega setelah ia menelepon Ibunya, hatinya yang gundah memikirkan kondisi kedua orang tuanya akhirnya sirna juga setelah ia mengetahui kondisi ibunya baik-baik saja. Memang sudah lama Sekar tidak pulang ke rumah kedua orang tuanya. Bukan jarak yang jauh yang memisahkan mereka melainkan hubungan antara Sekar dan ayahnya mulai retak setelah kejadian itu. Ya … kejadian yang tidak pernah Sekar pikirkan akan terjadi menimpa dirinya dan kedua orang tuanya. Jika mengingat hal itu membuat hati Sekar merasa begitu sakit dan ingin rasanya ia membalas kejahatan orang itu, tetapi semua itu hanyalah angan semata karena untuk melakukan hal itu Sekar tidak kuasa. Ada sebuah rasa ketakutan yang luar biasa besarnya jika ia membalas kejahatan orang itu maka ia akan kehilangan seseorang yang sangat ia cintai dan sayangi. Dan hal itulah yang membuat Ayah Sekar menjadi tidak respect lagi kepada Sekar. Ia merasa bahwa anak gadisnya sudah tidak peduli lagi dengan kondisi dan harga diri kedua orang tuanya yang direndahkan oleh seseorang yang seharusnya tidak pernah Sekar hormati. Dan sejak kejadian itu Wijaya ayah Sekar tidak ingin melihat putrinya lagi, bahkan untuk menyebut namanya saja membuat Wijaya menjadi naik pitam. Rasa sakit yang ditorehakan oleh Cristy ibu Rey masih membekas di d**a Wijaya. Tetapi rasa sakitnya bertambah menjadi luka besar yang menganga adalah di saat putri kecilnya hanya berdiam diri saja dan hanya melihat semua kejadian itu tanpa melakukan sesuatu hal yang bisa membantu kedua orang tuanya. “Bapak … Ibuk … Sekar kangen … Sekar pengen banget pulang dan bertemu dengan kalian, tetapi Sekar terlalu penakut untuk menghadapi kalian. Sekar takut akan penolakan yang Ibuk dan Bapak berikan kepada Sekar,” ucap Sekar sambil ia memeluk bingkai foto keluarganya yang di ambil sewaktu mereka sekeluarga berlibur di Bali. “Sekar ingin… sekali memeluk Ibuk dan Bapak dan mengatakan bahwa Sekar sayang sama kalian berdua. Tetapi semua kata-kata itu seperti tertahan di relung hatiku yang paling dalam … aku ingin pulang Buk, Pak,” isak Sekar.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN