BAD NEWS 2

1116 Kata
“Buk ono opo iki?” tanya Sekar kepada Ayu untuk meminta kejelasan kepada ibunya. “Gini lho Sekar, ini itu temannya Ibuk dan Bapak terus ini namanya nak Dewa. Dulu kamu sering banget lho main sama Dewa waktu kita masih tinggal di Jakarta,” Jelas Ayu “Iya Sekar … dulu kamu sama Dewa itu sering  main bareng,  sampai dulu Dewa itu gak mau pulang dan maunya main terus sama kamu,” timpal Kadek ibu Dewa Perlahan Sekar mulai mengingat-ingat kenangan kecilnya, tetapi ia sama sekali tidak ingat dengan teman sepermainannya dulu di Jakarta. Yang ia ingat hanyalah ia tinggal di sebuah rumah gedongan yang dimana rumah itu ada pura kecil untuk beribadah dan ia juga sering sekali jalan-jalan pagi dengan sang ayah. Tetapi tidak ada ingatan sama sekali tentang Dewa di memori Sekar. “Iya bener sekali Mbok (nama panggilan untuk kakak perempuan di Bali) … dulu waktu Mbok Kadek datang dan pengen jemput Dewa, nanti Dewa dan Sekar pasti lari ke gudang dan bersembunyi disana,” timpal Ayu dengan sesekali ia akan menepuk paha milik Sekar. Sekar yang melihat keakraban yang terjalin di antara ibunya dan ibu Dewa hanya bisa cengar-cengir. Ia merasa tidak nyaman dengan pertemuan ini dan ia merasa ada sesuatu hal yang mencurigakan dengan pertemuan ini. “Tante dan Om mau minum apa? Biar Sekar siapkan,” tawar Sekar yang berusaha untuk menghindari pembicaraan yang aneh ini. “Ya ampun nak Sekar … gak usah repot-repot bikinkan om dan tante minuman,” jawab Kadek dengan senyuman yang mengembang di bibirnya. “Tidak apa-apa tante, Sekar tidak merasa keberatan kok. lagi pula tante dan om adalah tamu dan sudah selayaknya Sekar memberikan jamuan kepada om dan tante,” jawab Sekar sembari ia mulai bangkit dari tempat duduknya dan ia mulai berjalan menuju dapur. “Mbok saya ke dapur juga ya, mau bantuin Sekar,” ijin Ayu kepada Kadek. “Kalau begitu saya ikut juga Mbok. Saya juga ingin melihat calon mantuku,” pinta Kadek kepada Ayu. “Jangan Mbok … Mbok Kadek di sini saja dulu, biarkan saya yang membantu Sekar sekalian saya akan memberikan kabar yang mengembirakan ini kepada Sekar,” jelas Ayu kepada Kadek yang berusaha untuk ikut dengannya. “Iya Mah, biarkan Ayu dan Sekar bicara dulu dan kita tunggu saja mereka disini,” kata Ketut ayah Dewa yang menyetujui usulan Ayu untuk berbicara terlebih dahulu kepada Sekar. “Baiklah kalau begitu gak papa, saya tunggu kabar baiknya ya Mbok,” ucap Kadek dengan penuh semangat. Ayu hanya tersenyum dan ia mulai berlalu meninggalkan ruang tamu mungil tersebut. “Lhoh Ibuk, kenapa Ibuk kesini? Bukannya Ibuk tadi sedang asyik mengobrol dengan teman lama Ibuk kan,” tanya Sekar dengan sambil ia terus menata cangkir cantik miliknya di atas nampan. “Nak …” “Iya Buk, ada apa?” tanya Sekar sambil ia menghentikan aktifitasnya. “Bisa kita berbicara sebentar nak?” ajak Ayu. “Iya Buk. Ibuk bisa berbicara sekarang sama Sekar.” “Tidak disini nak,” tolak Ayu. Sekar mengeryitkan dahinya, “Kenapa tidak disini saja Buk?” “Kita ke balcon dulu yuk Nak, Ibuk ingin berbicara serius dan hanya kita berdua saja,” ucap Ayu sembari ia berjalan menuju balcon di kamar Sekar. Perasaan Sekar mulai tidak enak ketika ia melihat gerak gerik ibunya yang sudah tidak mengenakan. “Hal penting apa yang ingin Ibuk katakana kepadaku? Kenapa Ibuk harus membicarakan hal itu di balcon, seakan-akan hal itu sangatlah rahasia,” gumam Sekar dalam hatinya sambil ia mengikuti langkah kaki Ibunya. “Sekar sini duduk di sini,” pinta Ayu kepada Sekar untuk duduk di ayunan yang ada di balcon. “Buk, ada apa ini? kenapa sikap Ibuk begitu aneh?” tanya Sekar dengan tatapan yang penuh selidik. “Sekar … sebelumnya Ibuk minta maaf dulu ya sama Sekar karena mengatakan hal ini secara mendadak, tetapi tolong dengarkan terlebih dahulu penjelasan Ibuk dan Bapak mengambil keputusan ini,” ucap Ayu sambil ia memegang tangan Sekar dengan begitu lembutnya. Sekar tidak menjawab apa-apa selain ia hanya menganggukan kepalanya sembari ia berharap apa yang ia pikirkan tidak menjadi kenyataan. “Nak … Ibuk dan Bapak sudah bertekad untuk menjodohkanmu dengan Dewa.” Bagai tersambar petir di siang bolong, Sekar sangat terkejut dengan perkatan yang di ucapkan oleh Ibunya itu. “Bagaimana bisa Ibuk menjodohkan Sekar dengan seorang pria yang belum pernah Sekar kenal? Dan Ibuk juga tahukan bahwa Sekar itu sudah memiliki seorang kekasih yang sangat Sekar sayangi Buk,” ucap Sekar sambil ia menepis pegangan tangan Ibunya. “Iya Sekar, Ibuk tahu. Ibuk tahu betul bahwa kamu sudah memiliki seorang kekasih.” “Lalu apa maksud Ibuk dengan menjodohkan Sekar dengan pria yang tidak Sekar cintai.” “Sekar! Buka pikiranmu, buka mata kamu lebar-lebar. Apa yang kamu harapkan dari Seorang Rey? Lihat kondisi keluarganya yang berantakan, kehidupannya saja di biayai oleh orang lain, dan coba kamu lihat Ibunya saja juga tidak benar.” “Ibuk! Sekar mencintai Rey dan sampai kapanpun Sekar tidak akan pernah menerima perjodohan ini! di hati Sekar hanya ada Rey dan sampai kapanpun hanya ada Rey di dalam hati Sekar.” “Sekar! Kamu jangan bodoh nak … tolong lihatlah Dewa. Dia pria yang baik-baik, dia berasal dari keluarga yang terpandang, dia mapan, dan yang terpenting adalah ia seiman dengan kita. Tidak ada yang kurang dari dalam diri Dewa!” ucap Ayu tak kalah tinggi dengan nada bicara Sekar. “Tapi Sekar tidak mencintai Dewa Ibuk! Ibuk paham tidak sih kalau Sekar itu tidak mencintai Dewa dan sampai kapanpun Sekar tidak akan pernah mencintai Dewa,” bentak Sekar sambil ia mulai berdiri dan berusaha untuk meninggalkan Ayu. “Sekar! Kamu jangan kurang ajar ya sama Ibuk! Ibuk tidak pernah mendidik kamu untuk berbicara sekasar ini kepada orang tua.” “Ibuk dulu yang memulainya, jadi jangan salahkan Sekar dong kalau Sekar berani kepada Ibuk,” kata Sekar yang berusaha untuk membela dirinya. “Ibuk tidak peduli dengan penolakanmu terhadap Dewa, toh cepat atau lambat kamu juga akan mencintai Dewa dengan sendirinya. Jadi perjodohan ini akan tetap berjalan. Wanita terpandang dan baik-baik harus berjodoh dengan pria yang terpandang dan baik-baik juga,” ucap Ayu sambil ia mulai berdiri di hadapan Sekar. “Cih … ibuk bilang wanita baik-baik harus bersanding dengan pria baik-baik juga? Jadi itu tidak berlaku untuk Sekar yang bukan wanita baik-baik seperti yang Ibuk lihat!” “Apa maksud kamu?” tanya Ayu sambil ia mulai meremas tangan Sekar dan berharap anaknya tidak akan mengucapkan hal-hal yang tidak baik kepadanya. “Sekar bukanlah wanita baik-baik. Karena Sekar sudah berani tidur dengan pria yang Sekar cintai tanpa ikatan pernikahan!,” timbal Sekar dengan tatapan yang begitu tajam. “Hah? Apa maksud kamu?” “Maksud Sekar adalah, Sekar bukanlah wanita baik-baik karena Sekar sudah tidur bersama dengan pria yang bukan suami Sekar,” ucap Sekar dengan begitu entengnya Mendengar perkataan yang di ucapkan oleh Sekar membuat tubuh Ayu mulai terasa begitu lemas, jantungnya perlahan terasa begitu lemah dan tiba-tiba saja tubuhnya jatuh tersungkur di hadapan Sekar. Ayu tidak pernah menyangka bahwa putrinya yang selama ini ia sayangi dan ia bangga-banggakan ternyata dengan teganya menghancurkannya dengan begitu kejam. Semua harapan yang ia taruh kepada Sekar harus ia kubur dalam-dalam 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN