BAD NEWS

1043 Kata
Qutes : Yakinlah menjalani hubungan dengan terus berpegangan teguh pada komitmen, rasa percaya, dan saling mengkuatkan pasti akan indah pada waktunya. “Hubunganmu sama Rey gimana?” tanya Becca “Gak gimana-gimana sih, masih sama kaya kemarin,” jawab Sekar sambil ia mengaduk-ngaduk jus semangka miliknya. “Terus kamunya gimana? Masih yakin dengan Rey?” “Aku masih yakin dengan keseriusan Rey Bec. Ya mungkin saat ini hubungan kita berdua banyak banget dilanda masalah, tetapi aku yakin cepat atau lambat hubungan kita akan menjadi indah kok.” “Ya, aku yakin hubungan kalian akan mendapatkan jalan yang terbaik dari Tuhan, sekarang yang terpenting kalian tetap saling menjaga komitmen kalian, saling mendukung dan saling menjaga.” “Pasti Bec,” balas Sekar dengan mengembangkan senyumannya. Setelah mengobrol dan menghabiskan waktu seharian bersama Becca membuat hati Sekar menjadi sedikit lega. Beban yang begitu berat kini terasa begitu ringan karena semuanya ia bagi dengan orang yang ia percaya. Hubungan yang begitu rumit, kuliah yang tidak kunjung selesai, tekanan dari masyarakat membuat kepala Sekar ingin meledak. Tetapi setelah ia bertemu dengan sahabatnya yang sudah lama tidak ia jumpai semua bebannya itu terasa terbang begitu saja. “Sekar, kalau kamu butuh apa-apa jangan sungkan untuk menghubungi aku ya. aku akan ada untukmu,” kata Becca sebelum ia meninggalkan Sekar sendirian di apartement miliknya. “Iya Bec pasti,” jawab Sekar sambil ia keluar dari mobil Becca dan ia langsung berlalu meninggalkan sahabatnya itu. Setelah seharian menghabiskan waktu untuk bersenang-senang membuat badan Sekar terasa begitu penat dan lengket. Ingin rasanya ia segera membersihkan badannya yang sudah terasa begitu lengket. Ketika ia memasuki kamar mandi, tiba-tiba saja Sekar teringat dengan Rey. Ia merasa bahwa waktu yang ia habiskan dengan Rey berlalu dengan begitu saja dan terasa begitu cepat. “Ayo Sekar. Ayo! Kamu tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihan tak berguna seperti ini, toh Rey juga akan menikahimu bukan. Jadi stop galau mikirin Rey terus, tetapi yang terpenting sekarang adalah kamu harus segera menyelesaikan skripsi dan deadline tulisanmu,” ucap Sekar pada pantulan dirinya di cermin. Tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan akhirnya membuat Sekar langsung bergegas untuk segera mandi dan berendam dalam larutan air garam yang begitu mengasyikkan. “Nyaman sekali,” ucap Sekar ketika ia mulai membenamkan tubuhnya pada rendaman air garam yang telah dicampur oleh rempah-rempah. Uap air yang di hasilkan oleh rendaman air garam dan rempah-rempah sukses membuat Sekar merasakan rileks dalam dirinya. Hal tersebut membuat Sekar merasakan kantuk yang luar biasa hebatnya sehingga membuatnya tertidur di bathup. . . “Sekar … Sekar …” sebuah suara seorang perempuan yang terdengar begitu lembut sukses membuat Sekar terbangun dari tidurnya. Perlahan Sekar mulai membuka kudua bolanya yang terasa begitu berat dan ketika Sekar melihat suara siapa yang berhasil membangunkannya sontak membuatnya begitu terkejut. “Ibuk!” pekik Sekar ketika melihat wanita paruh baya sedang berjongkok di sampingnya. “Bagaimana bisa ibuk datang ke apartement Sekar? Dan bagaimana caranya Ibuk masuk ke dalam?” tanya Sekar sambil ia mulai membetulkan posisi duduknya. “Sudah kamu bangun dan segera kenakan pakaianmu, kita bicarakan hal itu di luar. Ibuk tunggu kamu di ruang tamu,” ucap Ayu ibu Sekar yang langsung berlalu meninggalkan Sekar. Sekar masih termenung di dalam bathup, ia merasa aneh dan bingung. Bagaimana bisa ibunya datang dan masuk ke dalam apartemennya sedangkan ia selama ini tidak pernah mengatakan berapa sandi apartementnya. “Bagaimana caranya ibuk bisa masuk? Dan kenapa ibu tiba-tiba datang ke apartementku?” gumam Sekar pada dirinya sendiri. “Sekar!” teriak Ayu dari ruang tamu. “Iya Buk! Sebentar,” jawab Sekar sembari ia langsung mengenakan pakaiannya. Ketika Sekar keluar dari dalam kamar mandi ia terlihat begitu terkejut karena di dalam ruang tamunya tidak hanya ibunya saja tetapi ada beberapa orang yang sedang duduk menungu kehadirannya dan Sekar tidak tahu siapa orang-orang itu. “Kene cah ayu lungguh ning kene,” ucap Ayu ketika melihat Sekar berjalan ke arahnya – (Sini nak duduk disini). “Njih Buk,” jawab Sekar sambil ia menganggukan kepalanya. “Ayo Sekar salaman dulu sama om dan tante,” pinta Ayu sebelum Sekar duduk di sampingnya. “Sekar udah besar ya, dan cantik sekali lho kamu nak. Pasti jadi primadona ini,” puji wanita paruh baya yang tidak di ketahui identitasnya oleh Sekar. “Iya lho, padahal dulu kamu itu kecil banget lho nak dan dulu sukanya ngikutin masnya pergi kemana-mana,” ucap pria paruh baya yang duduk di samping wanita misterius itu. Sekar yang mendengar sanjungan dari kedua orang tua yang tidak ia kenal hanya bisa tersenyum malu, tetapi jauh di dalam benaknya Sekar merasakan ada sebuah keganjilan dalam pertemuan ini dan ia juga merasa aneh dengan sebutan masnya. Sedangkan Sekar itu adalah anak pertama jadi tidak mungkin ia memiliki seorang kakak laki-laki, lalu siapa itu mas? “Ayo sini nak duduk sini,” ucap Ayu sambil ia memegang tangan Sekar. “Sekar udah semester berapa?” tanya wanita itu. “Saya mau semester delapan tante,” jawab Sekar singkat sambil ia menyungingkan senyumannya yang terlihat begitu manis. “Berarati baru skripsian ya ini?” timpal lelaki paruh baya itu. “Iya om, saat ini saya sedang skripsian.” “Ambil judul apa?” tanya wanita itu. Belum sempat Sekar menjawab pertanyaan dari wanita itu, tiba-tiba saja bel pintunya berbunyi. “Ah itu pasti mereka sudah datang,” ucap Ayu dengan penuh semangat. “Iya jeng, pasti itu mereka,” timpal wanita tersebut. “Sekar tolong bukakan pintunya ya,” perintah Ayu kepada Sekar. Tanpa menunggu perintah Ayu untuk kedua kalinya akhirnya membuat Sekar langsung bergegas membukakan pintu, walaupun segala pertanyaan menghantui pikirannya. “Bapak?” panggil Sekar ketika ia membukan pintu kayu berwarna coklat tua itu “Sayangku …” panggil Wijaya ayah Sekar ketika melihat anaknya yang saat ini sedang berdiri di hadapannya. “Bapak kok bisa ada disini?” tanya Sekar sambil ia mengaruk-ngaruk kulit kepalanya yang sebenarnya tidak terasa gatal. “Ini kan kediaman anak bapak kan? Jadi ya suka-suka bapak dong mau datang ke sini,” ucap Wijaya sambil ia berlalu meninggalkan Sekar berdiri mematung di depan pintu. “Woo … woo … kamu siapa?” ucap Sekar kepada seorang lelaki yang ingin masuk ke dalam apartementnya. Lelaki itu tak menjawab Sekar melainkan ia hanya menunjuk ke arah kedua orang tua Sekar yang saat itu sedang melihat ke arah mereka. “Sekar, Dewa, ayo sini nak,” panggil Ayu sambil ia mulai berjalan ke arah Sekar dan Dewa. “Lhoh buk, ini siapa? Kok main masuk aja ke apartement Sekar?” tanya Sekar tak terima apartement miliknya di masuki oleh orang-orang asing yang tidak ia kenali. “Udah kamu itu nurut aja apa kata Ibuk,” ucap Ayu sambil ia meminta Dewa segar masuk ke dalam. “Ada apa ini? kenapa semua orang berkumpul disini? Dan siapa mereka semua?” gumam Sekar dari dalam hati. “Sini Dewa duduk disini,” pinta Ayu. Sekar hanya melihat dengan tatapan aneh kepada ibunya karena memperlakukan pria asing baginya dengan begitu baik dan ramah. “Sekar sini kamu duduk samping Dewa ya,” perintah Ayu sambil ia memegang kedua bahu milik Sekar dan memaksanya untuk mau duduk di samping Dewa.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN