“Plok ceplok ceplok plok plok plok–” “Kamu ngapain, Ki?” Kikan menoleh saat Kaisar angkat suara, ia dengan wajah polosnya hanya mampu menjawab pertanyaan Kaisar dengan santai. “Ini … niruin suara aku ngocok, aku kok ngocoknya bersuara kaya gini, beda sama yang lain?” Wajah Kaisar bersemu merah, dia menenggakkan wajahnya sambil mengulum mulut, berupaya untuk berpikir positif dan menghilangkan pikiran-pikiran kotor di pagi hari. Jangan sampai ada bagian dari tubuhnya yang menegang hanya karena salah kaprah dengan tingkah laku Kikan. “Bang, ini bener gak ngocoknya?” tanya Kikan gregetan sebab dari tadi dia rasa apa yang dilakukannya sia-sia saja. Kaisar menghempaskan napasnya dengan berat, lalu melihat Kikan dengan seksama. “Ya pantesan, kamu salah megangnya itu, sini deh Ki! Mau saya aj

