Langit Puncak menggelap perlahan, kabut turun seperti selimut tipis menutup villa yang berada di balik pepohonan pinus. Di dalam, ruangan villa terasa hangat oleh suara perapian dan aroma kopi yang diseduh Mr. X—wangi, manis, tapi juga pahit di ujung. Eva duduk di sofa panjang, mengenakan hoodie pria yang kebesaran, bagian pahanya terlihat saat ia menyilangkan kaki. Rambutnya digerai seadanya, wajah tanpa make-up, tapi justru itulah yang membuatnya terlihat paling hidup. Mr. X duduk di sebelahnya, menyodorkan cangkir kopi. “Masih dingin?” Eva mengangguk kecil sambil tersenyum. “Sedikit. Tapi sekarang udah lebih enak... dibanding kemarin-kemarin.” Mereka terdiam. Hening, tapi tidak canggung. Di antara mereka ada kenyamanan yang tidak bisa dibeli—meski dibangun dari kebohongan kecil bern

