Pada sakit yang sama, aku menjelma sebagai si pura-pura menerima. Membiarkan itu pada ruang yang masih sama. Lalu terhimpit pada sesak yang semakin nyata. Luka yang kau beri menyadarkan, bahwa tidak ada bahagia yang bertahan selamanya. *** Sejak tadi, setelah Altair meninggalkannya sendirian di apartemen. Lea juga tidak jadi melanjutkan makannya. Lea membiarkan makanannya itu hingga dingin di atas meja. Ini sudah pukul dua belas malam, tapi Altair belum juga kembali. Semua pesan yang Lea kirimkan, tidak satupun menemukan jawaban. Jika memang Altair tidak berniat menganggunya, bukankah ini saja tidak wajar? Akhirnya meringkuk diujung ranjangnya, Lea memusatkan perhatiannya pada pemandangan dari kamarnya seperti biasa. Tapi pikirannya kosong, semuanya terasa sulit untuk diterim

