bc

Cerita Sang Antagonis

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
forced
counterattack
badgirl
drama
heavy
campus
school
punishment
victim
villain
like
intro-logo
Uraian

Sebenarnya siapa yang bodoh disini? Aku atau mereka? Aku merelakan masa depan hanya untuk cinta yang membawaku ke dalam lembah penuh kesakitan. Sekarang pada siapa aku melampiaskan kecewaku pada takdir. Bahkan sekedar tangan untuk digenggam aku tidak punya. Apakah sapuan kasar tanganku begitu membekas di ingatannya? hingga aku harus membayarnya kontan seperti ini.

Kenapa mereka menjatuhkanku secara bersamaan. Apakah janin ini belum bisa menjadi bukti seberapa menderitanya aku setelah mengemban kata perebut suami orang? Naka sialan itu, bahkan tidak pernah mau melihatku yang telah bersimpah air mata. Dia yang telah menyeretku ke situasi ini. Lantas, mengapa tidak mau menjadi perisaiku barang sejenak?

Meskipun maaf sudah ku sebut berulang kali untuk masa lalu. Tapi, nyatanya tidak mengubah sudut pandang siapapun. Karena semua orang, hanya melihatku dengan sifat egoisku, bukan Ruina beserta lukanya. Hingga kemunculan Gumelar yang entahlah, apakah dia bisa disebut penambah suram atau penyelamat kelam?

chap-preview
Pratinjau gratis
Tambatan Hati
Rui's point of view “Rui,tungguin woi!” teriak seseorang berjarak beberapa meter dari tempatku berdiri. Begitu menyadari bahwa namaku yang menjadi sasarannya, langsung saja kuarahkan wajah menghadap sumber suara. “kenapa pakai teriak-teriak sih malu tau dilihatin orang…,” cicitku begitu Naomi selesai berlari menghampiri. “Sejak kapan, seorang Ruina Jatayu punya rasa malu hah?” sarkasnya yang membuatku tidak bisa berkutik. Memang benar sih, aku terkenal di sekolah sebagai gadis yang terlalu percaya diri dan tidak memiliki rasa malu. Lebih tepatnya aku enggan punya malu. Menurutku, semua yang aku lakukan tidak memiliki kekeliruan sama sekali. Karena pada dasarnya akulah ratu di Universitas Cakrabrata ini. Cantik, tubuh yang proposional, pintar, rajin, bahkan kemampuanku dalam public speaking dapat diacungi dua jempol. Semua perihal tadi berada tepat digenggaman tanganku. Ada saatnya kesempurnaan-kesempurnaan tersebut menjadi senjata ampuh, agar semua orang lebih dan lebih tunduk lagi padaku. Tetapi, rasanya hal itu tidak berlaku untuk seseorang yang tengah berpegangan tangan dengan lawan jenisnya di depan sana. “Lo denger enggak sih gue lagi ngomong?” kesal Naomi yang sejak tadi tidak aku dengar sama sekali. “Curhatan lo itu enggak penting. Yang terpenting sekarang adalah, kenapa calon suami gue gandengan sama Yasmin kayak gitu hah?” tanyaku pada Naomi, sudah jelas bahwa dia juga tidak tahu jawabannya. “Gue mau nyamperin Raham dulu. Hari ini dia harus pulang sama gue. Bye bestie,” pamitku sambil beranjak, yang sontak mengundang gerutuannya . “Woi, kita udah ditungguin Aya, lu malah mau ngapelin Raham. Gila lo udah ditolak seribu kali juga masih aja kegatelan. Teman tidak berakhlak emang”. Tanpa menanggapi ketidaksukaannya, dengan langkah pasti aku menuju kearah pujaan hatiku selama 2 tahun terkahir, Dratanu Abraham Pratama. *** Kibasan tangan yang aku pegang menjadi sambutan Raham, begitu jemariku berhasil menyetuh tangan liatnya. “Sayang,ayo kita pulang. Kamu udah ditungguin mama loh di rumah. Oh iya,sebelum pulang kita mampir beli makan dulu yuk. Aku laper banget nih.” Tak mudah putus asa akan penolakan sebeumnya, aku kembali mengajaknya dengan wajah memelas. “Ayo Yasmin kita pulang. Aku anter kamu ke toko buku. Katanya mau beli novel. Apa tadi judulnya aku lupa.” Sialan, bisa-bisanya dia malah mengajak cewek itu. “Enggak usah Ham. Aku beli bukunya sendirian aja, atau nanti aku bisa minta anter kak Naka. Kamu pulang sama Ru-.” “Raham ayo kita pulang sekarang,” potongku dengan penekanan pada akhir kalimat. Tanpa persetujuan, aku menarik tanganya menuju ke mobil yang terdiam tidak jauh dari sini. Dengan kekuatan penuh dan tanpa pemberontakan akhirnya aku berhasil mendudukan sang empunya mobil dan diriku dengan apik. Menyadari mobil tak kunjung melenggang. Aku meliriknya sambil menyentuh tangan yang berpegang pada roda kemudi itu. “Ayo jalan.” Entah jin apa yang merasuki Raham yang terpenting baru pertama kali ini dia mau menuruti perintahku. Tetapi, Belum 2 menit keluar dari gerbang kampus. Matanya yang selalu mengamati spion dan pandanganya yang tidak bisa fokus membuatku yakin bahwa ia masih mengkhawatirkan si Yasmin jelek itu. “Kamu enggak usah lirik-lirik kebelakang deh. Aku cemburu tau. Kamu selalu lebih mentingin dia daripada aku. Apasih yang kamu lihat dari dia. Cantik? Masih cantikan aku. Pinter? perasaan enggak juga. Minggu Kemarin dia dapat nilai 40 di mata kuliah sejarah dunia. Dasar Yasmin enggak tahu diri. Sukanya caper sama cowok orang. Mentang-mentang kamu ganteng, langsung dia bisa nempel terus sama kamu. Atau jangan-jangan dia pake pelet makanya selama ini kamu selalu lebih milih dia daripada aku. Awas aja, besok aku hajar dia sampai mampus. Dasar cewek ga-.” Seakan dapat mengetahui perkataanku selanjutnya, Raham dengan tiba-tiba menginjak rem. Hal itu sontak membuatku terhantuk dashboard mobil. Beruntung benturan itu tidak terlalu keras karena sabuk pengaman, tapi lumayan sakit sih. “Kalau mau berhenti bilang-bilang dong.sakit tau. Emang kita udah sampai di restoran ya?” Aku celingak-celinguk melihat situasi sekitar yang terbilang cukup sepi karena sang sumber kehangatan yang hendak bersembunyi di peraduan kembali. “Kok kita berhenti disini sih sayang.kamu ada urusan di daerah sin?” tanyaku sambil menatap kedua matanya yang memerah. Bukan, dia bukan menahan air mata kesedihan. Tapi menahan pancaran emosi yang hendak meluap saat ini juga. Ditatap begitu rasanya mentalku yang tadi menumpuk tak terhingga sekarang menciut hingga kenyal seperti jeli. “Gatel? Lo tadi mau bilang kalau Yasmin itu cewek gatel? iya?” Tanyanya yang semakin membersihkan jarak diantara kami. Aku yang selalu tidak mau kalah dalam sebuah perdebatan lantas menimpali dengan perkataan yang mantap “Memang Yasmin itu gatel dan juga ganjen, Raham. Dia bahkan udah mau ngerebut kamu dari aku.” Tanganya yang berotot itu mencengkram kedua pipiku. Ini sangat sakit astaga. Selama ini Raham tidak pernah melakukan kekerasan fisik seperti ini padaku. Biasanya dia hanya membentak dan berbicara pedas. “Yasmin bukan ganjen. Dia perempuan baik-baik. kata itu lebih pantas untuk gelar lo yang punya sifat menjijikan kayak gini. Dan sekali lagi jangan panggil gue sayang. Najis banget. Oh ya, dan apa tadi? lo mau hajar Yasmin? Sampai gue tau dia celaka segores aja dan itu gara-gara lo. Bakal gue bikin bonyok wajah cantik lo ini,” jelasnya tepat disamping telingaku. “Ra-ra-raham. Kamu tega banget ngomong gitu. Aku itu pacar kamu loh.” “Cukup Rui. Cukup. Lo tuh enggak ada kapok-kapoknya. Berkali-kali gue tegasin kalau kita enggak punya hubungan apapun. Bahkan gue enggak sudi lihat muka lo tiap hari kayak gini. Sekarang, keluar dari mobil gue detik ini juga,” perintahnya dibarengi tangan yang lepas dari pipiku dengan kasar. Pipiku sekarang pasti sudah sangat merah. Dasar Raham jahat. “Tapi ini masih jauh dari rumah aku. Ham aku mohon.” “keluar sekarang juga Rui. Sebelum gue bawa pulang lo ke akhirat dengan mobil ini. Cepetan.” Dengan sekuat tenaga dia mendorongku agar segera keluar dari mobil yang pintunya sudah terbuka ditengah-tengah perdebatan tadi. Ketika seluruh anggota tubuhku sudah tak berpijak pada mobil mewahnya barulah suara debuman pintu mobil mulai terdengar disusul melajunya mobil hitam itu, menjauh dari pandanganku yang mulai kabur karena terhalang air mata. Aku bukan gadis yang cengeng. Aku bahkan tidak pernah menangis selama di universitas Cakrabrata. Atau, karena selama ini tidak pernah ada yang berani denganku ya, makanya aku tidak pernah menangis. Yasmin sialan, gara-gara dia aku jadi berantem sama Raham dikatain jalang pula. Dan sekarang aku harus jalan kaki sampai rumah. Yang bener aja dong. “Halo” “Ada apa Na?” “Di mana Lo?” “Di rumah Fatih ada apa?” “Jemput gue dong.” “Posisi?” “Di jalan gagak hitam deketnya jembatan kecil.” “Oke tunggu disana. Gue otw.” “Buruan ya. Gue kepanasan nih.” “Iya,” tuturnya dengan nada jengah. “Oke bye” Berkat otak cerdasku, sebentar lagi Bhanu pasti akan datang. Untung saja tidak ada adegan baterai handphone yang habis ditengah kegentingan seperti ini. Hanya perlu 20 menit untuk sahabatku tiba dengan montor matic kesayangannya. Ya meskipun nanti tetep kepanasan tapi enggak apa-apa deh yang penting pulang. Begitu aku memasang pelindung kepala yang ia berikan. Langsung saja aku memberi tahunya, “Turunin gue di tempat biasanya ya.” “Lo kenapa sih selalu minta diturunin disana.gue kan juga pengen tahu rumah lo,” tanyanya begitu kita membelah jalan yang sepi. “Enggak usah banyak Tanya deh. Fokus nyetir aja aelah.” “Ngomong-ngomong kok lo bisa dijalan tadi deh?” “Gara-gara temen lo si Raham tuh,” cibikku kesal mengingat kejadian tadi. “Gue harus bilang berapa kali sama lo sih Na. Jauhin Raham. Dia itu sukanya sama Yasmin, bukan sama lo,” Bicaranya dengan enteng, sembari fokus ke jalan raya di depan kami. “Enggak usah ceramah deh Nu. Gue capek. Gue mau cepet-cepet kerjain PR terus tidur,” pintaku yang menjadi akhir perdebatan di atas montor kali ini.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Hati Yang Tersakiti

read
8.3K
bc

MY LITTLE BRIDE (Rahasia Istri Pengganti)

read
19.6K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
43.3K
bc

Menikah, Karena Tak Sengaja Hamil

read
1.0K
bc

Pawang Cinta CEO Playboy

read
1.4K
bc

Mantan Sugar Baby

read
8.4K
bc

I Love You Dad

read
297.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook