DELAPAN

998 Kata
Di Rumah Abrar Abrar berjalan memasuki Rumahnya,rupanya sang kakak sudah menunggunya di ruang tamu. Abrar berhenti,kemudian sang kakak langsung memarahinya. “darimana aja kamu,pulang selarut ini?”Tanya sang kakak padanya “ dari ngeband bareng yang lain”jawab Abrar santai “ngeband atau tawuran kamu”Tanya Kakaknya lagi “kalo misalnya gak percaya ya udah sebaiknya gak perlu Tanya”ucap Abrar “kamu itu kenapa sih,tadi kakak di telpon sama Ravi,katanya kalian gak sengaja ketemu terus dia bilang…” kalimatnya terpotong “dia bilang apa,dia bilang kalau aku mukul dia gitu”ujar Abrar kesal “kamu itu sebenarnya kenapa sih,asal kamu tahu tadi dia itu lagi ketemuan sama klien,dan klien itu sangat penting buat kemajuan perusahaan kita”jelas Wanita yang bernama Nadya pada adiknya “bertemu klien tapi mesra-mesraan dengan Ja****” ujar Abrar remeh “jaga mulut kamu ya,ingat ya Ravi itu sebentar lagi mau jadi bagian keluarga kita”ucap Nadya marah dikala mendengar adiknya itu menjelek-jelekan tunangannya “keluarga apanya,sampai kapanpun ya kak,Abrar tidak akan pernah menyetujui cowok br****** itu sebagai tunangan kakak apalagi keluarga kita”ucap Abrar marah,sebuah tamparan mendarat mulus di pipinya “sekali lagi kamu menghina dia,kakak gak akan memberikan apa yang menjadi hak kamu dari yang ditinggalkan papa” ancam Nadya “kakak mau ambil semua hak aku,silahkan aku gak peduli karena aku punya penghasilan sendiri”tutur Abrar Geram “ sombong sekali kamu ya”ujar Nadya Remeh “iya,aku memang sombong,karena apa yang aku miliki sekarang adalah dari hasil kerja kerasku sendiri,berbeda dengan kakak yang tinggal menikmati harta warisan dari papa dan mama” ujar Abrar dingin “kamu,sudah mulai berani menentang kakak, jika tahu kalau bakalan kayak gini sebaiknya yang terbawa ombak tsunami saat itu kamu,bukannya papa sama mama”tutur Nadya tak kalah dingin “maksud kakak,lebih baik aku yang mati gitu”Tanya Abrar tak habis pikir “iya,karena kini pengorbanan mereka itu sia-sia”jawab Nadya sarkas,Abrar terdiam dan tak menyangka sang kakak berujar seperti itu. Rupanya sang kakak masih membencinya dan menganggap dirinyalah penyebab meninggalnya kedua orang tua mereka. “kakak ingin aku pergi”Tanya Abrar “iya,bahkan kalau bisa pergi dari dunia ini selamanya” ucap Nadya semakin tajam. Abrar yang sudah merasa sakit hatinya langsung pergi begitu saja,namun ia berbalik lagi dan berujar “dengar kak,disaat kakak tahu semuanya nanti,aku harap kakak tidak akan menyesal”ucap Abrar dan pergi begitu saja   Di sisi lain Mutia diantar pulang oleh Dayat dan Taufik. Keduanya tadi dijemput oleh supir mereka yang dipersiapkan khusus untuk mereka,itulah yang ia dapat tentang kedua saudara kembar itu. Merekapun banyak menceritakan tentang Abrar pada Mutia. Akhirnya mereka sampai di depan rumah Mutia,gadis itu segera turun dari mobil dan mengucapkan terima kasih. Namun ia melihat sosok tidak asing sedang menunggu tepat di depan pintu rumahnya. Ganesha sudah menunggu dan langsung segera menghampirinya saat keduanya tidak sengaja bertemu pandang. Mutia mencoba menguatkan hatinya dan tidak lupa tersenyum.   “kamu kemana tadi?”Tanya Ganesha tanpa basa-basi “tadi,saya ke taman hiburan bareng Abrar” jawab Mutia agak gugup “Abrar,siapa dia?”Tanya Ganesha sedikit sinis “oh itu, dia siswa yang les di bimbel, dan tadi saat saya keluar dari rumah anda,kebetulan ketemu dia,karena saya juga tidak ada acara,akhirnya saya ikut dia untuk lihat penampilan bandnya dia di taman bermain”terang Mutia terbata-bata seolah seperti cewek yang sedang memberi penjelasan kepada kekasihnya. “kenapa jadi kayak aku yang ketahuan selingkuh sih”ucap Mutia dalam hati “lalu tadi kamu diantar dia juga?”Ujar Ganesha semakin intens “enggak,tadi itu saya diantar Taufik sama dayat” jawab Mutia lagi “siapa lagi mereka”Tanya Ganesha marah “kenapa anda marah ?,saya mau jalan dengan siapapun terserah saya,apa hak anda memarahi saya seperti ini” ucap Mutia panjang lebar tidak terima dirinya dimarahi seperti itu. “saya yang seharusnya marah pada anda,anda datang ke rumah saya lalu memarahi saya seperti ini tanpa alasan jelas,secara tidak langsung anda menganggu orang lain, dimana etika kesopanan anda” tambah Mutia lagi. Akhirnya Ganesha mencoba mengalah dan kembali bertanya lagi pada Mutia dengan lembut. “jadi siapa taufik dan dayat itu?”Tanya Ganesha lembut “anda tidak perlu tahu siapa mereka”ucap Mutia ketus dan hendak masuk ke rumahnya,namun langkahnya terhenti saat lengannya ditarik pelan oleh Ganesha hingga membuatnya berbalik badan. “saya perlu tahu mereka Mutia”ujar Ganesha  lagi “siapa anda? Calon suami saya,jika memang begitu kenapa hari ini anda mengadakan pertunangan” Tanya Mutia hampir menangis “pertunangan,pertunangan apa “tutur Ganesha tidak mengerti apa yang ditanyakan Mutia “anda pikir saya bodoh…jelas-jelas tadi adalah acara pertunangan anda dengan wanita yang merupakan ibunya Galan kan, apa tujuan anda sebenarnya? Membuat seorang wanita seperti saya jatuh cinta pada anda karena setiap waktu selalu diberikan harapan tinggi oleh anda,kemudian anda campakkan begitu saja,apakah itu sudah menjadi hobi anda menyakiti dan mencampakkan wanita”cemooh Mutia yang sebenarnya sedang meluapkan emosi karena hatinya tidak terima akan pertunangan itu. “apa kamu cemburu?”Tanya Ganesha “iya,saya cemburu”jawab Mutia spontan dan sedetik kemudian baru sadar akan jawabannya itu. “ada apa ini,kok rebut-ribut depan rumah sih, oh nak Ganesha ayo masuk”ajak ibu arin “gak perlu bu,lagipula dia gak akan pernah datang ke sini lagi”ucap Mutia sinis, dan masuk ke rumah. “lho,ada apa nak? Kalian lagi marahan ya”ujar Ibu Arin “ enggak bu,Cuma ada sedikit kesalahpahaman aja bu” jawab Ganesha “walaupun sedikit secepatnya diselesaikan ya nak” Ibu Arin menasehati,Ganesha mengangguk dan kemudian pergi pamit pulang dengan tidak lupa mencium tangan wanita paruh baya itu. Di mobil, Ganesha terus tersenyum dikala mengingat pertengkarannya dengan Mutia tadi. Hatinya merasa senang saat Mutia bilang cemburu saat melihat dirinya dengan wanita lain. “seandainya kamu tahu siapa wanita itu,dan Acara tadi itu sebenarnya untuk kamu sayang”Gumam Ganesha sambil terus tersenyum. “jika kamu cemburu,mungkinkah rasa itu sudah ada?”Ganesha bergumam lagi. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN