Keesokan harinya Mutia masih sibuk memikirkan cerita yang ia dengar dari Dayat dan Taufik tentang Abrar. Ia Merasa penasaran tentang apa yang menjadi penyebab renggannya hubungan persaudaraan antara Abrar dan kakaknya itu. Saat les nanti ia berniat menanyakannya,siapa tahu ia bisa menceritakannya. Mutiapun memiliki niat untuk membantunya. Kini waktu sudah menunjukan jam 12 siang, tapi belum juga ada yang mengajaknya makan siang. “Biasanya dia jam segini dia udah, ribut ngajakin makan siang” gumam Mutia sambil memandangi handphonenya. “Eh,kok aku malah mikirin dia sih, dia kan udah punya orang lain ,gak boleh Mutia,gak boleh Mutia”ujar Mutia sambil menggelengkan kepalanya. “Apa yang gak boleh?”tanya seseorang tiba-tiba dan membuat Mutia kaget. “Anda, mau apa anda ke sini?”tanya Mutia kaget. “Saya, seperti biasanya kenapa harus tanya lagi?” ujar Ganesha santai. “Saya tidak ada minat makan siang dengan anda lagi” ucap Mutia. “Kenapa, apa karena masalah yang kemarin?” Ganesha bertanya lagi. “Tidak juga,cuma saya tidak ingin saja dimarahi oleh tunangan anda”tutur Mutia. . “Tunangan, bagaimana tunangan saya bisa marah, sementara tunangan saya ada di depan saya sendiri” tutur Ganesha sambil memandangi secara intens. “Anda jangan bercanda ya”ucap Mutia ketus. “Saya tidak bercanda”jawab Ganesha santai. Dan hal itu terlihat meyebalkan bagi Mutia. Tiba-tiba,Abrar masuk ke dalam bimbel itu. Tak ayal,Mutia langsung menarik lengan remaja itu untuk ikut dengannya. Abrar merasa heran, tapi ia tidak mau ambil pusing dan memilih mnegikuti keinginan Mutia. Kini keduanya sudah berada di café terdekat, keduanya sedang menyeruput minuman masing-masing selagi menunggu makanan mereka datang. “Ada apa sih sebenarnya kak?” tanya Abra.r “Enggak ada apa-apa kok” jawab Mutia seraya menyeruput minumannya. “Sebaiknya kakak jujur kemarin itu kakak kenapa?” tanya Abrar penasaran. “Gak ada apa-apa kok”jawab Mutia gugup. “Ayolah kak, sebenarnya ada apa antara kakak dengan calon suamiya “ tanya Abrar agak sedikit memaksa. “Oke, tapi kamu harus janji”pinta Mutia. “Janji, janji apa?” tanya Abrar bingung. “Kamu bakalan jawab pertanyaan apapun dari kakak” jawab Mutia, sambil menjulurkan kelingkingnya pada Abrar. “Deal”desak Mutia. “Oke Deal”sahut Abrar sambil mengaitkan kelinkingnya ke jari kelingking Mutia. “Jadi sebenarnya ada apa ?” tanya Abrar tanpa basa-basi. Mutia menghela napas dalam “ Awalnya kakak bingung kenapa tiba-tiba dia bilang kakak itu calon istrinya. Tapi dari perlakuannya yang manis dan romantic akhirnya hati kakak yang dulu sempat trauma akan sebuah hubungan perlahan mulai bisa menerima, atau mungkin kakak saja yang baper ya (menerawang memandang pemandangan di luar café). Hati wanita mana yang tidak jatuh hati saat ada pria bersikap semanis itu. Akhirnya apa yang kakak duga selama ini terjadi” cerita Mutia panjang lebar. “Seperti yang kakak duga ? memang seperti apa yang kakak duga?” tanya Abrar pada Mutia. “ Yaaaaa, pada akhirnya dia cuma mempermainkan kakak saja, apa dia sudah tahu ya kalau kakak sudah mulai menerima dia, sehingga dia dengan mudahnya mempermainkan perasaan orang seperti itu” tambah Mutia. “Maksudnya apa sih kak?” tanya Abrar semakin penasaran. “Dia dengan mudah bilang pada semua orang bahwa kakak adalah calon istrinya, tapi kemarin dia mengumumkan pertunangannya dengan wanita lain” ujar Mutia sendu. “apa kakak tahu wanita yang menjadi tunangannya itu?” tanya Abrar dan Mutia mengangguk. “Siapa kak?” tanya Abrar semakin pensaran . “Dia itu mama dari salah satu wali murid dari siswa yang bimbel” jawab Mutia. “Kakak yakin mereka bertunangan?” tanya Abrar. Mutia mengangguk. “memangnya sudah Kakak tanya sama mereka gitu?” ujar Abrar, Mutia menggeleng. “Tapi sekalipun gak ditanya, acara kemarin itu sudah menjelaskan semuanya Brar, lagipula apa hak kakak menanyakan hal pribadi itu sama dia, gak ada untungnya” tutur Mutia. “Hmmm, gini nih cewek, suka sok kuat, menyimpulkan situasi dan keputusan sendiri padahal belum jelas, Kak, denger ya, kita itu punya mata dan telinga jadi kalau ada sesuatu yang belum jelas sebaiknya kakak itu tidak hanya percaya dari apa yang dilihat, tapi harus juga mendengar dari yang bersangkutan langsung, begitu juga sebaliknya kak, kita gak bisa mendengar saja, tanpa melihat yang sebenarnya terjadi” Abrar menasehati. Mutia tertegun “Ah… gak tahu ah, semua laki-laki sama aja, sukanya sama cewek yang cantik, langsing, ditambah lagi kaya. Mana ada sih yang suka sama cewek kayak kakak, yang biasa aja, gendut dan gak punya apa-apa” ucap Mutia merendahkan dirinya sendiri. “kata siapa semua laki-laki begitu kak, lagipula kata siapa kakak gak cantik, kakak cantik kok, aku malah suka cewek berisi kayak kakak, kakak tahu kenapa? (Mutia menggeleng) karena enak dipeluk” terang Abrar. “Kamu mau ngegombal atau mau ngeledek, enak dipeluk maksudnya apa tu” ucap Mutia agak kesal. “Aku serius kak, asal kakak tahu aku itu suka sama kakak” ucap Abrar tiba-tiba. Mutiapun kaget akan pernyataan Abrar yang tiba-tiba itu. Makanan mereka datang, Mutia langsung menyantap makanan itu yang kemudian diikuti oleh Abrar. “Tapi kakak tenang aja, aku bukan tipe orang yang suka mengambil milik orang lain” tambah Abrar lagi. “Maksud kamu?” tanya Mutia. “Udah kakak makan aja” pinta Abrar. Kemudian Mutia dan Abrar melanjutkan makan mereka. Tak lama mereka sudah menghabiskan makanan mereka. Mutiapun menagih janji Abrar tadi. Mutia bertanya pada Abrar tentang masalahnya kemarin. Abrar sudah menduga akan hal itu, dan hanya tersenyum santai. “Cerita apa lagi mereka sama kakak?” tanya Abrar. “Mereka gak ada cerita apa-apa kok, mereka Cuma bilang kalau orang tua kamu udah gak ada” terang Mutia. Abrar pun mulai menerawang memandang langit-langit. Abrar mulai bercerita tentang kejadian dua tahun lalu. Flashback On “Pa, Ma jadikan besok kita pergi ikutan family gatheringnya?” tanya Abrar pada kedua orangtuanya yang sedang duduk santai di teras rumah mereka. “Iya jadi, anak Mama ini gak sabar ya pengen ketemu idolanya” ujar sang Mama pada putra kesayangannya itu. “Ma, aku gak ikut ya, soalnya besok mau ketemu dosen pembimbing” sela Nadya yang langsung ikutan nimbrung. “Memangnya ada perlu apalagi dosen pembimbing itu sama kamu nak?” kali ini sang Papa yang bertanya. “Enggak tahu juga si Pa,palingan diminta kumpulin tugas mahasiswa baru” jawab Nadya. “Gimana sih dosen kamu itu, orang udah mau tahun baruan gini masih kasih tugas ke mahasiswanya” ucap sang Papa jengkel “Ya udah gak apa-apa, tapi nanti kamu bersih-bersih rumah ya nak” pinta sang Mama. “Tumben Mama nyuruh Kakak bersih-bersih memangnya mau ada siapa?” tanya Abrar. “Yaa enggak, Mama cuma ngerasa bakalan banyak tamu nanti yang datang ke rumah kita, kan gak enak kalau rumah kita gak rapi” tutur sang Mama lembut, sang putri mengangguk. Keesokan paginya mereka bertiga siap-siap untuk berangkat ke tempat acara. Ia dengan berat hati melepas kepergian keluarganya itu. Dirinya merasa bahwa hari ini adalah hari terakhir bagi dirinya untuk melihat mereka terlebih lagi kedua orangtuanya. Meskipun hatinya merasa gelisah tapi ia tak mau ada yang tahu sebab ia tak mau merusak kebahagiaan orang tua dan adiknya. Hati Nadya semakin tidak tenang saat ketiga anggota keluarganya itu tidak bisa dihubungi semenjak siang. Hanya sebuah pesan singkat dari sang adik yang mengatakan bahwa mereka sudah sampai. Namun ia memilih untuk selalu menampik perasaan gelisahnya. Tiba-tiba handphonenya berdering tanpa melihat nama yang tertera di layar ia langsung mengangkat. Rupanya yang menelpon adalah sang kekasih. Keesokkan paginya Nadya masih merasa gelisah,dan tiba-tiba ia mendapat telpon dari nomor tak dikenal. Rupanya yang menelpon adalah pihak kepolisian. Bak di sambar petir,Nadya mendapatkan berita bahwa adik dan kedua orangtuanya menjadi korban tsunami. Nadya langsung ke lokasi yang diberitahukan oleh pihak kepolisian tadi. Sesampainya ia di rumah sakit yang dijadikan pusat penanganan korban di daerah itu. Dirinya melihat orang-orang yang mungkin bernasib sama dengan dirinya. Dia melihat seorang wanita yang bertanya pada pihak yang berwenang sambil tak kuasa menahan tangisnya. Melihat seorang pria yang sedang berbincang dengan paramedis seolah mencari kepastian tentang keberadaan keluarganya. Nadya berjalan di lorong rumah sakit itu. Ia dihampiri paramedis yang kemudian bertanya padanya. Lalu menjelaskan Informasi yang diterimanya tadi. Kemudian paramedis itu mengantarnya ke sebuah ruang perawatan yang terdiri dari beberapa bangsal. Ia melirik kiri dan kanan seolah sedang mencari seseorang,hingga ia berhenti di bangsal yang terdapat di paling ujung sebelah kiri. Kakinya langsung lemas saat melihat adiknya itu terbaring tak berdaya dengan tangannya yang di infus,dan kaki yang di kebat oleh perban. Tak lama setelah itu,ada beberapa orang yang sudah meminta data keluarganya tadi, memberitahu dan meminta dirinya ikut ke ruangan yang lain. Kakinya berjalan perlahan ke ruangan itu, petugas tadi memintanya membuka kain yang menutupi dua jenazah. Nadya berhenti sejenak untuk menyiapkan hatinya dan berharap hal ini bukanlah apa yang diapikirkan dan takutkan. Perlahan ia membuka penutup kain itu, matanya menangkap sosok yang sangat ia kenal, air matanya mengalir deras begitu saja,ia menjerit histeris saat membuka kain yang satu lagi. Hatinya semakin hancur, beberapa petugas di sana menghampirinya dan berusaha menenangkan wanita yang kini kehilangan kedua orang tuanya sekaligus. Flashback off