Mutia terlarut dalam kesedihan saat mendengarkan cerita dari Abrar. Ia tidak percaya bahwa sosok yang sangat actrative di atas panggung saat bernyanyi menyimpan kesedihan yang cukup mendalam. Di usianya yang masih muda harus kehilangan orang tua yang menjadi sandaran dalam resah dan gelisah. Gadis berpipi chubby merasa bersyukur sebab dirinya masih punya ibu yang begitu menyayanginya, dan menjadi contoh dalam menjalani setiap sesi kehidupannya, walaupun tanpa ayah yang sudah meninggalkannya tiga tahun yang lalu, karena sebuah kecelakaan. “Dan semenjak saat itu, Kak Nadya jadi dingin, gak pernah senyum sama aku lagi kak”. “Aku juga gak paham kenapa dia jadi kayak gitu, yang lebih parahnya, dia lebih percaya sama tunangannya daripada sama aku adiknya” ucap Abrar sendu membuyarkan lamunan Mutia. “Kira-kira kamu tahu penyebab Kakak kamu jadi seperti itu?” tanya Mutia. “Ya mungkin ia berpikir bahwa penyebab kepergian orang tua kami itu adalah aku, sebab saat itu akulah yang memaksa mereka pergi” ucap Abrar. “Padahal dulunya Kak Nadya itu sangat periang, selalu senyum dan anggap aku sebagai adiknya yang sangat berharga” tambah Abrar lagi. “Hmmmm kamu cemburu ya, karena sekarang kakak kamu sudah punya laki-laki lain alias tunangannya itu” ledek Mutia. “Mungkin(tersenyum miris), sebab aku gak rela kak, kalau Kak Nadya itu nikah dengan cowok bre***** itu” jawab Abrar. “Kamu tenang aja, kakak bakal bantuin kamu kok” ujar Mutia seraya menggenggam tangan Abrar. “Makasih atas tawaran bantuannya kak, tapi aku juga gak mau jadi bulan-bulanan dari tunangan kakak itu, yang dari tadi terus-terusan ngeliatin kita, apalagi kakak pegang-pegang tangan aku segala lagi, sekarang tunangan kakak itu lagi berjalan ke arah kita, sebaiknya aku kabur ya kak” terang Abrar pada Mutia dan langsung pergi meninggalkan Mutia. Kini Ganesha sudah berada di hadapan Mutia. Mutia yang tadinya hendak pergi langsung dipaksa duduk lagi oleh Ganesha. “Mau kemana kamu? Duduk!” titah Ganesha dingin yang membuat Mutia bergidik. “Ma-au makan?” tawar Mutia tergagap saat melihat tatapan dingin dari Ganesha. “Ada apa?” tanya Mutia singkat. “Sepertinya kamu itu adalah tipe yang tidak mau mendengarkan ya, baik kalau begitu, hari minggu nanti ikut dengan saya” terang Ganesha. “Kenapa saya harus ikut?” tanya Mutia. “Sudah jangan banyak bertanya, cukup ikut saja” jawab Ganesha dingin kemudian pergi begitu saja. Setelah makan siang tadi, tidak ada lagi suara notifikasi pada telepon genggam Mutia. Dimana seperti biasanya handphonenya itu selalu bising dengan pesan-pesan yang masuk dari pria yang dianggapnya aneh itu. Apakah itu menanyakan sudah makan atau belum, dan sekedar bertanya kabar serta mengingatkan untuk melaksanakan sholat. Entah kenapa kini bagi gadis berambut pendek itu terasa sunyi dan sepi, hampir setiap saat ia memeriksa handphonenya. Dirinya menjadi tidak bersemangat bekerja, dan mulai memikirkan apa yang dikatakan Abrar tadi, soal untuk mendengarkan apa yang hendak dijelaskan Ganesha padanya. Mutia pun mulai memandangi handphonenya lagi. “Dipandangin aja terus HPnya, lagi ngapain sih Kak” tanya Yopi tiba-tiba dan membuat Mutia kaget dan hampir menjatuhkan handphonenya. “Apaan sih Pi, kaget tahu” ucap Mutia dan menangkap handphonenya yang hampir jatuh. “Ya ampun Kak, gitu aja kaget, memang kakak itu lagi nungguin pesan dari siapa sih, sampai segitunya?” tanya Yopi lagi. “Enggak kok, gak ada nungguin pesan dari siapa-siapa” jawab Mutia cepat, sementara Yopi hanya menjawab oke saja dan kemudian beralih ke komputernya untuk mengetik beberapa berkas yang diperlukan untuk seminar di sekolah besok. Melihat Yopi tidak seperti biasanya, Mutia pun menjadi penasaran dan malah balik bertanya pada Yopi. “Tumben kamu gak banyak tanya kayak biasanya Pi?” tanya Mutia. “Aku gak mau penasaran lagi Kak” jawab Yopi seraya mengetik. “Kenapa?” Mutia bingung. “Ya karena aku lebih ingin menghargai pirvacy Kakak dan aku lebih suka menunggu kapan Kakakku yang manis ini bercerita” terang Yopi, Mutia hanya mengangguk paham. “Eh pi boleh Kakak tanya?” ujar Mutia. Kini gantian Yopi yang mengangguk. “Pi, kalau misalnya ada seseorang yang bersikukuh merasa dirinya tidak salah apa yang bakalan kamu lakuin?” tanya Mutia. “Hmmm (menepukan jari telunjuk pada dagunya), kalau benar seperti itu, Yopi bakalan coba mendengarkan dia dulu, setelah itu tergantung kita mau percaya atau tidak oleh penjelasannya itu” jawab Yopi. “Iya juga ya” Mutia bergumam dan menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. “Memangnya ada sih Kak?” Mutia hanya menggelengkan kepalanya. “ Kak jika ada seseorang yang bersikukuh mengatakan bahwa dirinya itu tidak bersalah, coba petimbangkan lagi penjelasannya itu, sebab biasanya orang itu tidak bersalah” tambah Yopi.