TUJUH

1953 Kata
Mutia Pov                 Mutia berjalan menuju ruang tamu tempat,meskipun tidak terlalu banyak orang,tapi situasi itu bisa dikatakan cukup untuk sebuah perayaan. Hal ini tampak dari dekorasi ruangan yang dipenuhi dengan balon,barisan kursi yang di susun rapi  berkelompok di sudut kiri dan sudut kanan. Mutia memperhatikan lagi dekorasi yang berada di bagian depan yang bertuliskan ‘selamat berbahagia’. Gadis itu berpikir bahwa acara itu bukan hanya perayaan biasa,melainkan perayaan yang istimewa. Samar-samar ia tidak sengaja medengarkan beberapa perbincangan para tamu.                 “acaranya jadi kacau gara-gara perempuan tadi”ujar wanita bergaun warna coklat muda pada rekannya yang lain                 “iya,sebenarnya perempuan itu siapa sih,?”ujar wanita yang bergaun biru langit                 “iya betul,perempuan itu udah mengacaukan semuanya,padahal tadi pak Hari baru saja mau mengumumkan calon menantu perempuannya,ini acara penting tapi kacau gara-gara orang asing yang asalnya entah darimana,Cuma kurir pembawa kue doing lagi”ujar wanita yang lain julid dan kesal                 Mutia yang mendengar itu langsung merasa bersalah, karena telah mengacaukan acara penting keluarga ini. Entah kenapa ia merasa sedih dan sakit pada hatinya,mungkinkah karena pria yang selama  ini selalu mengatakannya calon istri sudah mempunyai calon istri yang sebenarnya, karena itu acara ini ada. Dirinya yang sudah mulai terbiasa akan panggilan itu terlalu takut tidak bisa mendengarnya lagi,atau memang sudah ada rasa dalam hatinya dan kini merasa sakit lagi. Airmata Mutia mengalir begitu saja saat dari kejauhan melihat Ganesha sedang bercengkrama dengan tamu lainnya,ia tampak bahagia,sementara di sisi lain Ia melihat Wanita yang ia duga sebagai tunangan dari Ganesha,sebab mereka mengenakan baju dengan warna senada,wanita itupun tampak sangat akrab dengan para tamu. Mutia hanya tersenyum seraya menghapus air matanya dan berujar ‘selamat berbahagia untuk anda’. Dan pergi begitu saja.                 Ia berlari keluar dari rumah itu,hingga tidak menyadari ada sebuah motor sport yang hampir menabraknya. Untung pengendara motor sport itu sigap mengerem motornya,hingga tabrakanpun terelakkan. Mutia yang merasa lega langsung terduduk dan semakin menumpahkan air matanya. Benar hatinya sakit,karena sudah mulai berharap pada pria yang selama ini dianggapnya aneh itu. Entah kenapa hatinya bisa begitu mudah terbawa perasaan,apakah Karena pria itu tampak begitu tulus saat mendekatinya. Padahal mereka baru berkenalan,namun pria itu sudah bisa membuat pertahanan hatinya perlahan runtuh. Jika dulu hatinya sakit karena cintanya mengkhianati,tapi kini hatinya sakit saat belum memulai apapun dengan pria itu.                 “kak Mutia,ngapain kak?”Tanya pengendara motor itu pada Mutia. Mutia menengadah,dan terkejut saat melihat pengendara motor itu.                 “abrar,ngapain kamu di sini?”Tanya Mutia                 “justru aku yang harusnya nanya sama kakak,kakak kenapa,kok kayaknya habis nangis ya”ujar Abrar                 “hmmm kakak tadi antar kue ulang tahun ke rumah itu” ucap Mutia menunjuk rumah Ganesha kemudian menghapuas air matanya. Tiba-tiba terdengar suara Ganesha yang memanggil namanya. Mutia tampak terkejut,dan langsung naik ke motor Abrar,dan meminta si pengendara motor pergi secepat mungkin.                 “ayo cepaaat”pinta Mutia                 “iyaaaa kak,emangnya kenapa sih kak?”Tanya Abrar sambil menyalakan motornya                 “udah gak usah banyak Tanya,buruan”buru Mutia                 “iya..iya kak…eh tapi kita mau kemana dulu nih”Tanya Abrar lagi                 “kemana aja deh,ke tempat tujuan kamu juga boleh” jawab Mutia asal. Motor sport itu melaju cepat.                 Ganesha kini sudah berdiri di depan gerbang rumahnya, dengan perasaan khawatir ia mencoba menghubungi Mutia,namun hasilnya nihil,gadis itu tidak mengangkatnya.                 Selama perjalanan Mutia hanya diam dan tak menggubris segala omongan Abrar. Mendapat tanggapan yang seperti itu Abrarpun berhenti bicara dan lebih focus mengendarai motornya. Selang 15 menit berlalu,keduanya sudah berada di sebuah taman bermain.                 “taman bermain mau ngapain ke sini?”Tanya Mutia heran                 “tadi katanya mau ikut ke tempat tujuan aku,ya tujuan aku ke sini”ujar Abrar santai                 “iya….tapi mau ngapain ke sini?”Tanya Mutia lagi                 “udah ikut aja”pinta Abrar,Mutia mengangguk dan hendak berjalan menuju tempat pembelian tiket. “mau ngapain ?” Tanya Abrar                 “mau beli tiket”jawab Mutia                 “udah,kita gak perlu beli tiket”ucap Abrar                 “kok gitu”Mutia bingung                 “makannya ikut aja kak”tutur Abrar yang mulai kesal,dan Mutia langsung menurut karena melihat ekpresi wajah Abrar yang mulai menakutkan. Mutia mengikuti Abrar yang mengambil pintu masuk khusus.                 “kok,kita lewat pintu masuk khusus sih?”Tanya Mutia                 “udah kakak diem aja,ikuti aku aja”pinta Abrar. Setelah berjalan lima menit,keduanya sudah berada di dalam taman bermain itu,Mutia semakin bingung dan ingin bertanya lagi,tapi ia mengurungkan niatnya itu karena melihat wajah Abrar yang sudah mulai tampak kesal. Abrar tampak menelpon seseorang,dan setelah itu ia meminta Mutia untuk ikut dengannya. Mereka berjalan lagi,tak berselang lama keduanya sudah berada di sebuah tempat diadakan sebuah festival,tiba-tiba suara yang tidak asing memanggil keduanya.                 “gue kira lo gak jadi pergi,soalnya kan jarang lo telat”tutur dayat pada Abrar setelah saling memberi salam khas mereka                 “ya enggaklah gue yang ngajak,masa gue gak jadi ikut sih”ucap Abrar                 “emang ada apa sampai telat gini?”Tanya Thoriq                 “ada orang ilang yang gak sengaja ketemu gue,trus karena dianya gak mau pulang,terpaksa deh,gue bawa ke sini” terang Abrar sambil melirik pada Mutia.                 “maksud orang ilang itu kakak,keterlaluan kamu ya” ujar Mutia kesal                 “ya habis siapa lagi”ledek Abrar                 “kamu tu ya,”ujar Mutia geram                 “apa mau pukul,kalau kakak pukul aku sekarang,pulangnya gak bakalan aku anter” ancam Abrar, mendengar hal itu Mutia langsung diam,mengingat dia sendiri yang minta ikut kemana aja Abrar pergi tadi. Sekarang ia berada di tempat yang begitu asing baginya,tentu saja saat pulang ia harus ikut lagi dengan Abrar,sebab ia tidak tahu jalan pulang.                 “udah,udah jangan diledekin lagi kak Mutianya, mendingan sekarang kita  siap-siap”Pinta Thoriq                 “siap-siap buat apa?”Tanya Mutia                 “kakak tinggal tunggu dan lihat aja” pinta Rafa dan pergi mengikuti temannya yang lain                 Mutia menunggu di dekat panggung yang sepertinya akan digunakan untuk berbagai acara guna menghibur penonton festival. Tampak sesorang menaiki panggung itu dan mencoba mic, dan membuka acara itu. Orang itu bercuap-cuap sampai pada akhirnya ia memanggil sebuah nama yang kemudian di sambut riuh oleh penoton yang ada di sana,di mana pada umumnya adalah anak-anak SMA.                 “Baiklah,tidak perlu berlama-lama lagi,kita panggil the pandava’s”seru MC itu bersemangat yang di sambut riuh para penonton. Musik mulai menghentak panggung saat kelima sahabat memainnkannya. Thoriq pada keyboard,dayat pada bass,sementara Taufik pada melodi,Rafa pada drum dan Abrar pada vocal. Mereka memainkan lagu yang sempat tenar di era 2000,lagu itu mereka aransemen hingga terdengar lebih kekinian. Semua orang berjingkrak-jingkrak mengikuti irama. Pertunjukan sudah berakhir,namun para penonton berteriak encore berkali-kali. Mau tak mau kelima sahabat itu kembali menaiki panggung.                 “encore?”Tanya Abrar                 “yaaaaaaaa”teriak penonton                 “oke kalau gitu teriak dulu yang keras…..aaaaaaa” pinta Abrar yang langsung diikuti oleh penonton,apalagi para gadis yang berteriak histeris                 “oke…mainkan bro”pinta Abrar pada rekan-rekannya                 “kak…ini buat kamu”teriak Abrar dan menatap serta tersenyum sekilas pada Mutia. Penonton yang merasa dipanggil kakak langsung teriak histeris.  Sementara Mutia hanya bisa tersenyum. Wajahnya berubah sumringah saat mendengar music yang tidak asing di telinganya. Mutia bahkan memastikan berkali-kali akan music yang dimainkan, penontonpun semakin histeris dibuatnya. Grup band itu memainkan lagu terbaru dari boyband asal Korea Selatan yang sedang  begitu terkenal saat ini.                 “Cause I-I-I'm in the stars tonight” Abrar memulai lagunya sambil tersenyum dan disambut teriakan histeris dari para penonton yang mengetahui lagu itu. Para penonton begitu fasih mengikuti setiap lirik yang dinyanyikan,begitu  juga dengan Mutia,ia begitu merasa begitu senang dan bahagia. Bahkan sampai ikut-ikutan berjingkrak-jingkrak dengan penonton yang lain. Penonton semakin riuh saat Thoriq dan dayat secara bergantian menyanyikan bagian rap-nya. Mutiapun tidak mau kalah dari penonton yang lainnya juga ikutan bersorak-sorai.             Kini Mutia dan band the pandava’s sedang asyik menyantap makan siang yang disiapkan oleh panitia festival di sebuah café yang tak jauh dari tempat mereka manggung tadi. Mutia sedang asyik berbincang dengan kelimanya,             “jadi kalian itu grup band, kenapa gak bilang-bilang sih kalau kalian seterkenal itu”ucap Mutia             “ah,enggak kok kak,kami tidak seterkenal yang kakak bilang”ujar Thoriq merendah             “hebat banget kalian,kalau kayak gini rasanya kakak bangga punya anak murid kayak kalian”tutur Mutia bangga “eh ngomong-ngomong kalian tahu darimana lagu yang kalian mainkan tadi?”Tanya Mutia             “lagu yang mana kak?”Taufik balik Tanya             “yang itu,yang pertama kalian mainkan tadi,secara pas lagu itu rilis tahun 2001,kalian semua belum pada lahir,kalian tahu darimana lagu itu”             “zaman sekarang apa sih yang gak mungkin kak” tutur Dayat             “ada,yat yang gak bisa kita ketahui”potong Abrar             “apaan tu brar?’tanya Dayat             “perasaan sama isi hati wanita”seloroh Abrar             “setuju sob”dukung Thoriq             “kamu ngeledek kakak ya brar”ujar Mutia merasa tersindir             “enggak,siapa juga yang ngeledek kakak,aku itu Cuma bilang sebuah fakta kak”elak Abrar             “fakta.fakta apa?”Tanya Mutia             “fakta bahwa hal yang paling gak bisa tahu adalah perasaan dan isi hati wanita” jawab Abrar             “tuh kan bener,kamu ngeledek kakak ya”tutur Mutia sewot                 “ah…gak tahu ah….gue ke toilet dulu ya”ucap Abrar lalu pamit pergi                 Hampir 10 menit kelimanya menunggu Abrar dari toilet,tapi remaja itu belum juga menampakkan batang hidungnya. Terdengar oleh mereka,suara rebut yang berasal dari meja yang berada tak jauh dari mereka. Tampak di sana seseorang sedang memukuli pria berjas hitam dan seorang wanita yang tampak diam saja tanpa berusaha melerai keduanya. Mereka tampak tak peduli awalnya,tapi sejenak mereka berpikir dan saling menatap,hingga akhirnya bahwa pria yang sedang memukuli pria berjas itu adalah Abrar,sontak mereka kaget dan berlari ke meja itu. Thoriq dan Rafa mencoba memisahkan Abrar dan pria itu,setelahnya Mutia mencoba menenangkannya.                 “mau apa lo di sini hah?bareng Ja****sialan ini”ucap Abrar emosi seraya menunjuk wanita yang kini sedang menyangga pria baru saja dipukuli Abrar                 “siapa lo,dan apa hak lo ngelarang gue” Tanya Pria itu pada Abrar juga tak kalah emosi                 “gue berhak ngelarang lo,dan gue pantas ngelakuin itu sama lo bre*****,karena gue adik dari tunangan lo” ucap Abrar emosi                 “oooh jadi lo yang namanya Abrar itu,lo mau ngancem gue,silahkan gue takut,sebab kakak lo itu lebih percaya sama gue daripada sama lo adiknya”ujar pria itu yang semakin menyulut emosi Abrar Mutia melerai dan mengingatkan Abrar,namun remaja itu tidak mau dengar dan malah hendak memukul lagi pria itu. Akhirnya Mutia berteriak yang sontak membuat semuanya kaget. Ia meminta Thoriq dan Rafa membawa Abrar keluar dari tempat itu sementara ia,dayat dan taufik mendatangi pihak café untuk meminta maaf karena sudah berbuat ulah. Setelah Abrar tenang, ia memilih langsung pulang dan meminta dayat dan taufik mengantarkan Mutia. Abrar pergi begitu saja,tanpa mengobati lukanya dulu. “sebenarnya pria yang tadi itu siapa sih?”Tanya Mutia pada Thoriq “dia Ravi kak,tunangannya kak Nadya kakaknya Abrar” terang Thoriq “tapi sebenarnya yang dilakukan Abrar tadi itu bener kak” ujar Rafa “bener darimananya,dia mukulin calon kakak iparnya sendiri”ujar Mutia “kak,ini bukan yang pertama kalinya Abrar memergoki kak Ravi lagi berduaan dengan perempuan lain kak”jelas Thoriq “iya kak,betul kak,sebenarnya Abrar selama ini udah menahan kak,dan mencoba memberi tahu kakaknya kalau tunangannya itu main serong,tapi kakaknya itu malah lebih percaya sama tunangannya itu”sambung Rafa “terus kalian gak coba kasih tau juga kakaknya Abrar itu” Tanya Mutia “omongan Abrar aja gak di denger apalagi omongan kita kak” ujar Dayat “Abrar itu sayang banget sama kakaknya kak,bahkan bisa dikatakan posesif kak”tambah Taufik “ya mungkin karena mereka tinggal berdua kak” ucap Thoriq lagi “berdua,emang orangtua mereka kemana?”Tanya Mutia “udah gak ada kak”jawab keempatnya  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN