ENAM (PART 2)

1531 Kata
Sore harinya Ganesha lebih cepat menjemput Mutia dari biasanya. Iapun mengajak Mutia pulang begitu saja,tanpa pamit pada rekan kerjanya yang lain. Mutia merasa kesal dibuatnya,hingga pada akhirnya ia harus mengirim pesan pada kak chacha dan mas Is. Untung saja kedua rekannya mengerti dan hari ini tidak ada kelas malam. Melihat tingkah aneh dari laki-laki yang kini sedang menyetir itu,akhirnya ia membuka suara untuk bertanya. “ada apa sih sebenarnya,anda mengajak saya pulang begitu saja?”Tanya Mutia kesal “saya tidak mau calon istri saya direbut oleh laki-laki lain”ucap Ganesha focus pada jalanan “anda jangan bercanda ya”ujar Mutia jengah “saya gak bercanda,saya serius”jawab Ganesha dan kemudian menghentikan mobilnya di pinggir jalan “siapa yang anda sebut laki-laki lain?”Tanya Mutia “laki-laki yang tadi pagi barengan dengan kamu” jawab Ganesha santai “maksud anda itu Rio (Ganesha mengangguk)” Mutia hanya tersenyum  “apa anda cemburu? Aneh “ ledek Mutia “iya,saya cemburu, apakah itu hal yang aneh?” Tanya Ganesha  “tentu saja itu aneh,saat pertama ketemu anda selalu bilang pada orang-orang kalau saya adalah calon istri anda, lalu sekarang anda cemburu padahal kita belum ada hubungan apapun”ujar Mutia remeh “saya tidak pernah main-main dengan omongan saya” ujar Ganesha  sambil mendekati Mutia dan langsung menatap tajam. Sontak hal itu membuat Mutia kaget dan kini keduanya saling menatap,Mutia mencoba mengalihkan pandangan namun Ganesha menahan pergerakannya. Ganesha semakin menghapus jarak antara keduanya dimana mereka bisa saling merasakan hembusan napas keduanya. Dalam pikiran Mutia sudah berlalu lalang pikiran yang tidak-tidak. Tapi ia mencoba berpikir logis seraya mencoba lepas dari kungkungang pria yang dianggapnya aneh itu. Ganesha tidak kehabisan akal membuat gadis itu salah tingkah. Ia terus merapatkan tubuhnya pada gadis itu. Perlahan gadis itu mulai menutup matanya. Ganesha hanya tersenyum melihat Mutia yang menutup matanya,baginya itu sangat menggemaskan. Kemudian ia membenarkan posisinya lagi. “kamu tenang saja,saya tidak akan berbuat itu sebelum kamu resmi menjadi istri saya”ujar Ganesha sambil menyalakan mobilnya “maksudnya?”Tanya Mutia tidak mengerti “kamu itu benar-benar tidak tahu atau pura-pura tidak tahu?” ledek Ganesha “saya benar-benar tidak tahu”ucap Mutia acuh “kalau kamu benar-benar tidak tahu,lalu tadi kenapa tutup mata?”Tanya Ganesha seraya tersenyum meledek pada Mutia,sementara Mutia hanya bisa diam seribu bahasa seperti orang yang kedapatan berbohong. Kemudian Ganesha kembali menjalankan mobilnya.     Hari Minggu siang,ibu Arin sedang sibuk di dapur menghias kue ulang tahun. Tibia-tiba sang putri muncul menghampirinya. “wah ibu sedang menghias kue ulang tahun, kue ulang tahun untuk siapa?”Tanya Mutia sambil mengambil munuman di dalam kulkas “ini kue ulang tahun special”jawab wanita paruh baya itu “kue ulang tahun special,memangnya buat siapa bu?” Tanya Mutia lagi “nanti kamu juga tahu siapa yang pesan ini” jawab ibu Arin semangat “maksudnya?”Tanya Mutia bingung “udah sekarang kamu buruan siap-siap ganti baju, pake baju yang bagus,ibu mau panggil taksi online dulu” pinta ibu arin “kenapa harus Mutia sih bu”protes Mutia “udah gak perlu protes”ucap ibu Arin pada putrinya itu “iya…..iya…Mutia siap-siap dulu”tutur Mutia kesal dan berlalu begitu saja menuju kamarnya   Mutia sudah berada di dalam taksi online yang dipesankan ibunya. Mutia duduk di bangku belakang sambil memegangi kotak kue yang ia letakkan di atas pangkuannya. Mutia masih penasaran dengan siapa yang memesan kue ini. Sebab sang ibu berkata bahwa kue ini adalah pesanan istimewa. Bahkan tadi saat hendak pergipun ia sudah berusaha memelas pada sang ibu untuk memberi tahu siapa si pemesan kue ini,tapi tetap saja sang ibu tidak mau memberitahunya. Kini ia hanya bisa pasrah  kemana taksi online itu membawanya. Taksi online itu sudah berhenti di tempat tujuannya. Sang supir langsung memberitahu Mutia jika mereka sudah sampai di tempat tujuan. Mutia hanya bisa mengangguk dan segera turun dari taksi itu sambil membawa kotak kue ulang tahun itu. Kini ia sudah berada di depan pintu pagar sebuah  rumah tipe modern yang tampaknya mempunyai dua lantai dengan cat warna klasik. Tampak sederhana tapi terlihat sangat elegan. Sambil memegang kotak kue ulang tahun itu dengan tangan kirinya,sementara tangannya yang lain mengeluarkan telepon genggamnya untuk melihat alamat rumah dari si pemesan kue ulang tahun itu. Ia menghubungi nomor yang diberikan ibunya,namun gadis itu merasa heran sebab nomor itu milik dari pria yang selalu memanggilnya calon istri. Terdengar suara yang tak asing lagi menjawab teleponnya. Pria itu langsung meminta dirinya untuk melewati pintu belakang dan langsung menutup teleponnya. Mutia langsung menuruti instruksi yang diberikan pria itu. Kini ia sudah berada di pintu bagian belakang  dari bagian rumah itu. Mutia memencet bel berkali-kali tapi tidak ada jawaban. Hingga pintu itu terbuka begitu saja. Merasa heran tapi ia tidak menanggapinya. Mutia berjalan melalui taman kecil yang dihiasi bunga yang tertata rapi. Setelah itu tampaklah sebuah pintu berwarna coklat yang terdapat di sudut di depan taman itu. Mutia kembali mengetuk pintu,tapi belum saja tangannya menyentuh gagang pintunya. Pintu itu sudah terbuka begitu saja,lagi-lagi ia tidak menanggapinya. Kini Mutia sudah berada di sebuah ruangan dari rumah itu,ruangan itu gelap dan tiba-tiba pintu yang tadi terbuka tiba-tiba tertutup, Mutia terkejut,dari sini ia mulai merasa ketakutan. Tiba-tiba ada tangan yang memegang lengannya, sontak ia langsung berteriak dan hampir menjatuhkan kotak kue itu. Untungnya dengan sigap tangan yang tadi memegang lengan Mutia itu langsung menangkap kotak kue itu. Mutia melirik pada tangan yang memegang kotak kue itu,rupanya itu adalah Ganesha yang langsung tersenyum padanya. “anda,mau apa anda ke….”ucapan Mutia terpotong karena langsung dibekap Ganesha lembut oleh tangan kirinya. Sementara tangannya yang lain memegang kotak kue yang hampir jatuh tadi. “sssstttttt……jangan berisik”pinta Ganesha sambil berbisik kemudian menurunkan tangannya dari mulut Mutia “memangnya ada apa?”Tanya Mutia sambil berbisik juga “ini adalah pesta kejutan,jadi kita tidak boleh berisik, bisa tolong nyalakan lilin ulang tahunnya”Ganesha meminta tolong,Mutia mengangguk paham. Mutia yang masih kaget berusaha menyalakan korek api berkali-kali namun gagal,tangannya gemetar tanpa sebab, keringat dingin membasahi kening dan hidungnya. Ganesha yang sedari tadi memperhatikannya tampak cemas. “Mutia,kamu tidak apa-apa kan?”Tanya Ganesha, Mutia tidak menjawab,sekali lagi Ganesha bertanya,lagi-lagi Mutia tidak menjawabnya. “Mutia kamu tidak apa-apa kan?” Tanya Ganesha yang kali ini sedikit menaikan nada suaranya dan memegang tangan Mutia “aaaaaaa…………jangan……aku mohon tolong lepaskan” ucap Mutia yang seolah ketakutan dan memandang Ganesha dengan tatapan berbeda napasnyapun memburu tak beraturan .Ganesha hendak mendekat,tapi Mutia malah mundur menjauh. “Mutia kamu kenapa?”Tanya Ganesha semakin khawatir “aaaaaaaa…….aku mohon jangan………….”teriak Mutia semakin histeris dan seketika pingsan,dengan sigap Ganesha menangkap Mutia dan langsung membopongnya. Teriakan tadi juga membuat semua orang yang ada di sana berlarian ke dapur. “ada apa ini nak?” Tanya seorang wanita paruh baya pada  Ganesha “Mutia pingsan ma”jawab Ganesha seraya membopong gadis itu ke kamar tamu. Situasi di ruang utama menjadi riuh sebab,orang-orang di sana menjadi penasaran akan siapa yang di bopong Ganesha. Sang mama meminta putrinya mengambil kotak p3k sementara Ganesha berusaha membuat Mutia sadar menggunakan wewangian yang tadi diberikan oleh Galan. Mutia tersadar namun matanya masih terpejam sambil bergumam “jangan,tolong aku mohon jangan” Ganesha berusaha menenangkan gadis itu. Akhirnya Mutia tenang dan tertidur sementara itu Rosa mengobati jari Mutia yang tadi sedikit terbakar saat mencoba menyalakan lilin. “kamu tahu kenapa dia histeris seperti itu tadi nak?” Tanya Sang Mama “aku juga gak tahu ma”jawab Ganesha “mendingan sekarang kita ke ruang tamu aja dulu dan jelasin ke para tamu,kakak yakin pasti dia gak apa-apa,nanti kalau udah sadar baru kita Tanya dia ya”Rosa menyarankan pada adik dan mamanya “iya nak,yang dibilang kakak kamu itu betul,kasihan papa sendirian”ucap sang mama lagi “iya om,biar Galan yang jaga tante Mutia di sini”ucap Galan,Ganesha tersenyum “oke,om serahin ya sama Galan”tutur Galan dan mengusap-usap rambut Galan dan pergi meninggalkan kamar itu bersama sang mama dan kakaknya. Galan kini sedang asyik bermain game pada handphonenya,tak berapa lama perutnya tidak bisa diajak kompromi dan memenuhui panggilan alam.  Setelah Galan masuk kamar mandi,Mutia sadar dan melihat sekeliling. Ia merasa heran kenapa dirinya kini berada di sebuah kamar,dan mulai mengingat apa yang sudah terjadi. Kepalanya sakit saat mencoba mengingat  lagi,badannya masih belum terlalu  kuat untuk bangkit dari tempat tidur itu. Namun gadis berpipi chubby itu tetap memaksakan dirinya. Perlahan,ia memapah dirinya sendiri ,menuju pintu kamar.   Ganesha Pov Ganesha sedang berbincang dengan para tamu,para tamu itu sibuk mempertanyakan apa yang terjadi. Ganesha mencoba menjawab seperlunya saja,namun tiba-tiba Galan menghampirinya seraya berbisik padanya. Setelah mendengar bisikan Galan,raut wajah Ganesha langsung berubah panic dan pergi begitu saja meninggalkan para tamu berlari menuju kamar tamu. Ia melihat tempat tidur yang sudah kosong,benar apa yang dibisikan Galan tadi,bahwa Mutia sudah pergi dari kamar itu. Ganesha segera berlari lagi melewati ruang tamu menuju halaman depan,sebab mengingat kondisi Mutia yang masih lemah karena pingsan tadi,ia berharap bisa menemukan gadis itu di sekitar rumahnya. Namun hasilnya nihil,ia mencoba menelpon gadis itu,tapi tidak dijawab. Ia Ganesha semakin panic. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN