LIMA (PART 2)

1411 Kata
                Waktu sudah menunjukan pukul tiga sore,ini adalah waktunya kelima remaja yang baru mendaftar tadi akan belajar dengan pengajar piket. Mutia merasa agak sedikit kesal,sebab seharusnya pengajar itu datangnya lima belas menit sebelum jam mengajarnya. Ditambah lagi kelima remaja tadi sudah menunggu,Mutia jadi merasa tidak enak pada mereka. Sebab,pelayanan pertama tidak memberikan kesan yang baik. Tiba-tiba pintu terbuka menandakan ada orang yang masuk ,rupanya itu adalah seorang pria yang tampak cemas seraya meminta maaf.                 “maaf saya terlambat,karena saya baru saja datang dari luar kota tadi pagi”ujar pria itu pada Mutia                 “ya sudah tidak apa-apa,setelah ini usahakan jangan terlambat lagi”ujar Mutia namun pandangannya terpaku saat melihat sosok pria yang meminta maaf tadi. Begitupun si pria,bahkan si pria tampak sangat senang saat melihat Mutia. Tapi Mutia tampak menghindar dari pria itu.                 “sebaiknya segera di mulai saja belajarnya,sebab anak-anak ini sudah lama menunggu anda”ujar Mutia agak gugup                 “oh baiklah kalau gitu”ucap si pria itu dan meminta kelima remaja itu mengikutinya.                 Mutia yang sudah menyelesaikan pekerjaannya, sesekali mencuri pandang pada sosok pria yang kini sedang  mengajar kelima remaja itu. Pria itu adalah sosok masa lalunya, sosok yang selama ini berusaha ia lupakan,sosok yang merupakan cinta pertamanya,walaupun pria itu hanya menganggapnya sebagai bahan taruhan dengan teman-temannya. Waktu sudah menunjukan pukul enam sore,seperti biasa Ganesha menjemput Mutia di tempat kerjanya. Meskipun ia akan diomeli oleh wanita itu,namun pada akhrinya Mutia ikut pulang dengannya. Ia sedang menunggui wanita itu di dalam mobilnya. Sementara di sisi lain Mutia sedang berpesan pada mas Is.                 “aduh maaf ya mas,aku gak bisa lembur hari ini,soalnya ada urusan penting nih”ujar Mutia pada Mas Is                 “iya mbak gak  apa-apa”ucap Mas Is                 “mas,udah ngerti kan yang aku bilang tadi?” Tanya Mutia,dan Mas Is mengangguk                 “kamu gak perlu khawatir Mutia,saya nanti yang akan bantu Mas Is”timpal seseorang yang sedang berjalan menghampiri keduanya                 “maksudnya apa?”Tanya Mutia bingung                 “maksudnya saya nanti yang akan membantu Mas Is kalau-kalau dia minta bantuan”terang pria itu lagi                 “gak perlu mas Rio,Insyaallah saya sudah paham   kok apa yang dibilang mbak Mutia”ujar Mas Is tidak enak hati.                 “ya terserahlah,yang penting kalau ada apa-apa jangan lupa telepon ya mas” pinta Mutia dan pergi begitu saja,namun langkahnya terhenti saat Ganesha menghampirinya.                 “kenapa lama sekali,katanya tadi gak ada lembur” ucap Ganesha pada Mutia lembut                 “aah…ini juga udah selesai kok”jawab Mutia agak kaget                 “oh gitu,ya udah yuk kita pulang”ajak Ganesha pada Mutia seraya menggandeng tangan Mutia. Lalu keduanya pergi dari Bimbel itu.                 “aduh romantis kali mereka”ujar Mas Is                 “yang tadi itu siapa ?”Tanya Rio penasaran                 “oh,yang tadi itu namanya Mas Ganesha,kata Mbak chacha dan Mbak Yopi,dia itu calon suaminya Mbak Mutia” terang Mas is dan Rio hanya bisa ber-oh ria saja.                 “tampaknya kamu baik-baik saja ya”ucap Rio dalam hati                 “Mari,mas,saya mau siapkan kelas dulu”pamit Mas Is dan hanya di balas anggukan oleh Rio                 “dan hanya aku yang tidak baik-baik saja di sini”sambung Rio dalam hati                   Di   sisi lain,dalam mobil Ganesha ,Mutia tampak sedang termenung,setelah tadi sebelumnya mampir ke toko kue untuk membeli kue ulang tahun.                 “ada apa?”Tanya Ganesha,Mutia hanya diam,sekali lagi Ganesha memanggil gadis itu.                 “Sayang”sebut Ganesha pada Mutia                 “iya kenapa?”sahut Mutia                 “hmmm rupanya udah ingin di panggil sayang ya” ledek Ganesha                 “apa,siapa yang ingin dipanggil sayang” elak Mutia                 “iya,buktinya dari tadi saya panggil kamu gak nyahut, tapi giliran saya panggil kamu sayang kamunya nyahut” tutur Ganesha                 “anda jangan buat hari saya semakin buruk lagi ya” Mutia geram                 “memangnya ada apa,boleh saya tahu,mungkin dengan kamu ngomong dengan saya bisa sedikit mengurangi beban kamu,itupun kalau kamu mengizinkan”ucap Ganesha, kemudian Mutia kembali diam sambil memperhatikan jalanan yang dilewati.                 “jika ada seseorang dari masa lalu yang sudah terlupakan,namun tiba-tiba ia hadir lagi dan berkata maaf ,apa yang harus di lakukan?” Tanya Mutia                 “maafkan walaupun itu sulit” jawab Ganesha                 “tapi,orang itu adalah orang yang menggoreskan luka yang begitu membekas bahkan sampai hari ini”ujar Mutia tanpa sadar                 “masalahnya apa?” Tanya Ganesha                 “hah….enggak kok gak ada”ujar Mutia. Ganesha memberhentikan mobilnya di tempat makan pinggir jalan yang menjual makanan seperti martabak,roti cane dan nasi goreng.                 “ngapain kita berhenti di sini?”Tanya Mutia heran, tanpa menjawab pertanyaan Mutia tadi,Ganesha langsung turun begitu saja. Setelah lima belas menit,Ganesha sudah berada di dalam mobilnya sambil menjinjing bungkusan makanan berwarna jingga dan langsung melahapnya tanpa menawarkan pada Mutia. Melirik itu ,Mutia  tergiur dan berharap Ganesha memberinya satu potong martabak saja. Ganesha melihat sekilas dan menahan senyum melihat gadis itu menahan seleranya                 “mau?”tawar Ganesha dan menyodorkan martabak itu pada Mutia                 “enggak,itu buat anda saja”elak Mutia                 “beneran gak mau nih”ucap Ganesha menarik martabak itu perlahan dan menyuapkan satu potong martabak ke dalam mulutnya seolah sedang meledek Mutia                 “kalau gak mau kasih,kenapa beli banyak coba,dasar” ucap Mutia kesal dalam hati                 “gak perlu kesal,kalau mau tinggal bilang kan”tutur Ganesha lembut                 “siapa juga yang ma….”sepotong Martabak sudah masuk ke dalam mulutnya                 “Nah makan ya”pinta Ganesha                 Ekpresi Mutia yang tadinya kesal,langsung berubah menjadi happy saat menyantap Martabak itu. Ganesha merasa gemas melihatnya,setidaknya martabak itu sukses mengubah mood gadis itu dari yang murung menjadi seperti anak-anak yang baru mencoba makanan enak. Ia tidak ingin bertanya lebih jauh lagi tentang masalah apa yang dialami gadis itu. Ia hanya bisa menunggu gadis itu menceritakannya sendiri suatu saat nanti. Keduanya sudah sampai di rumah Mutia,Ganesha segera pamit pada ibunya Mutia selepas mengucapkan selamat ulang tahun. Wanita paruh baya itu mengucapkan terima kasih dan mengantar Ganesha masuk ke mobilnya dan pergi.                 Dalam rumah,Mutia yang baru saja datang langsung diamuk kedua adik laki-laki kembarnya. Mutia hanya bisa berujar maaf dan langsung menyiapkan cake ulang tahun yang dibelinya tadi. Kini keempatnya duduk di ruang tamu sambil bernyanyi lagu selamat ulang tahun untuk ibu mereka. Sang ibu meniup lilin dan disambut meriah oleh anak-anaknya.                 “bu,terima kasih ya sudah menjadi ibu terbaik untuk kita semua”ujar Mutia tulus                 “iya,terima kasih untuk selalu menjadi kuat,walaupun bapak sudah pergi ninggalin kita untuk selamanya,tapi Ihsan yakin,bapak di sana juga pasti bahagia”tutur salah satu adik kembar Mutia. Mutia hanya tersenyum dan tanpa ia sadari air matanya jatuh begitu saja.                 “kamu kenapa nak?”Tanya sang ibu pada Mutia                 “enggak bu,Mutia Cuma kangen aja sama bapak,biasanya kalau ada yang ulang tahun kayak gini bapak yang paling sibuk,nyiapin kue ulang tahun,makanannya, pokoknya rumah jadi gak rapi, nanti ujung-ujungnya bapak lagi yang ngerapihin semuanya.                 “gak perlu melow deh kak,bapak udah tenang di sana, mendingan sekarang kita potong kuenya dan makan nasi kuningnya”tutur adik kembar Mutia yang lain                 “ahsan kamu ini senang kali sih,ganggu kakaknya gitu” ucap sang ibu                 “iya nih,perusak suasana aja”ucap Mutia tak terima sambil memeluk sang ibu                 “bukannya perusak suasana bu,Ahsan udah laper bu” keluh ahsan, dan tiba-tiba ketiganya mendengar suara perut keroncongan yang berasal dari perut ahsan. Sontak suara itu membuat semua yang ada di sana tertawa.                 “itu suara apa?”ledek Mutia                 “gak usah ngeledek deh kak,cepat buruan potong kuenya”pinta Ahsan                 “iya….iya….”ucap Mutia sambil tersenyum. Malam itu keluarga Mutia diliputi kebahagiaan. Walaupun sederhana tapi penuh dengan makna. Ibu Arin memandangi satu persatu anak-anaknya. Senyumnya berubah menjadi wajah bersalah saat memandangi kedua putra kembarnya itu. Seketika ia menangis dan Mutia yang mendengarnyapun langsung merasa khawatir.                 “bu…..ibu kenapa?”Tanya Mutia khawatir                 “iya bu,kok tiba-tiba menangis”sambung ihsan                 “enggak kok ibu gak apa-apa” jawab Ibu Arin kemudian menghapus air matanya                 “ibu yakin gak apa-apa?”Tanya Mutia lagi                 “iya,ibu gak apa-apa kok”  jawab Ibu Arin meyakinkan putrinya itu                 “ibu lagi kangen bapak kali”jawab Ahsan                 “iya…ibu kangen bapak nak” jawab Ibu Arin                 “ya udah,nanti hari minggu kita nyekar ya bu” ajak Mutia,dan kemudia diangguki oleh sang ibu.                 “maaf nak,ibu belum bisa beritahu kamu yang sebenarnya,ibu belum cukup kuat menceritakan rahasia besar ini”ucap Ibu Arin dalam hati sambil memandangi paras putrinya itu. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN