"Eh, mau kemana?" Dava tergesa-gesa menahan lengan Helen, saat mendapati gadis itu berniat bangkit dari duduknya, usai menghabiskan bubur satu mangkuk yang awalnya ditolak. "Balik! Apalagi?" Sekarang sudah cukup siang dan matahari mulai menyengat. Tak sehangat tadi pagi. Membuat Helen ingin segera pergi. Mengelap peluh yang membasahi kening, Helen berusaha melepaskan tangan Dava yang masih menahannya. "Apalagi sih? Lepas!" "Itu," meringis canggung, Dava menatap Helen yang melempar tatapan kesal padanya. "Bayar dulu. Lo kan tau, tadi gue pergi nggak bawa apa pun selain bawa diri." "Yaudah, lo gadai aja diri lo buat bayar." "Astaga itu mulut. Perlu di ruqyah gue rasa." "Lo yang harusnya di ruqyah. Biar nggak bawa masalah terus buat gue." "Duh, Len, serius ini. Yaudah deh! Ngutang dul

